
Para siswa berhamburan keluar kelas saat mendengar bel istirahat berbunyi.Arkana terus menggenggam tangan Aneska agar pergi bersamanya.Namun selang beberapa waktu ponsel semua siswa berbunyi,mereka mendapatkan pesan grup yang dikirim oleh Salsabila.
"Dateng ya,dua hari lagi" ucap Salsabila sambil berjalan keluar kelas.
"Dih cie cie ulang tahun,traktir dong traktir!" seru Rizan yang berlari keluar menyusulnya.
"Ayo kita pergi bareng" ucap Arkana dengan tatapan sendu nya dan Aneska hanya mengangguk.
"Aneska" panggil Winda sambil menarik tangan Aneska hingga genggaman tangan Arkana terlepas begitu saja.Tentu saja hal itu membuat Arkana hanya bisa terdiam karena menurutnya itu sangat merusak suasana.
"Kenapa?"
"Lo mau ke kantin kan?" tanya Winda.
"Iya"
"Gue ikut bareng lo boleh gak? Soalnya gue gak tau kantin nya ada dimana"
"Oh,boleh.Yaudah ayo" Aneska dan Arka saling menatap satu sama lain,lalu laki-laki itu mengerti apa yang diinginkan oleh kekasihnya.Ia pergi terlebih dahulu bersama Rafael disusul oleh Anes dan Winda di belakang mereka.
"Dih! Ngapain lo duduk disini?" tanya Salsabila ketus saat mendapati Rizan sedang duduk di sampingnya.
"Ya bebas dong gue mau duduk dimanapun,emang ini kantin punya lo?"
"Ya tapi kan masih banyak tempat kosong"
"Yaudah si,biar bayar nya sekalian gitu maksud gue" tanpa rasa malu Rizan tersenyum lebar hingga membuat Salsa hanya menatap sinis laki-laki tersebut.
"Lo minta traktir mulu udah kayak orang gak mampu tau gak,motor doang spart sport giliran bayar bakso gak mampu" menoyor kepala Rizan.
"Beli sendiri sama ditraktir itu beda rasanya, emang sih kalau beli sendiri rasanya tetep enak"
"Kalau di traktir?" tanya Divia.
"Ya rasanya lebih lebih enak lah!" serunya sambil memukul meja hingga mengundang perhatian banyak orang.
"Berisik! Malu-maluin tau gak Lo!" bentak Salsa.
"Makanya traktir.Traktir traktir traktir" ia terus menerus memukul meja sambil bersenandung.
"Hisss!Iya iya!Diem gak lo!"
"Wokey!Bu!Bu!Bu!Sini sini saya mau pesen bakso paling enak" teriak nya kepada ibu kantin.
"Saya juga saya juga!" seru Divia.
"Gini banget temen gue" gumam Salsabila sambil memalingkan wajahnya.
"Eh Anes Anes sini!" teriak Divia dengan lambaian tangannya.
"Arka" panggil Aneska kepada laki-laki yang sedang berjalan di depannya.
"Yaudah sana,aku mau ke mereka" menunjuk teman-temannya.
"Oke,ayo Winda"
"Kalian udah pesen?" tanya Aneska.
"Udah barusan" ucap Divia.
"Gue belum" kata Salsabila. "Lo berdua kurang ajar tau gak,kenapa tadi gue gak di pesenin sekalian?"
"Ya gue kira lo gak mau pesen bakso juga" kata Rizan. "Lagian Sal apa salah nya si tinggal pesen lagi,ribet banget lo marah-marah Mulu"
Aneska hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ia berjalan menuju keberadaan ibu kantin untuk memesan makanan. "Mau apa?"
"Samain aja" ucap Winda.
"Lo?" tanya Aneska kepada Salsa.
"Sama".
"Bu pesen bakso 3 porsi ya"
"Iya,tunggu sebentar ya"
Sementara diseberang sana kumpulan para lelaki sedang asyik berbincang sambil memberikan candaan satu sama lain.
"Lah si Ijan mana?" tanya Bagas yang mulai mengehentikan tawa nya saat menyadari Rizan tidak ada diantara mereka.
"Tuh" Rafael menoleh kearah belakang untuk menunjukkan pria yang dicari sedang berkumpul dengan para wanita.
"Ngomong-ngomong kalian dapet ini gak?" tanya Davit sembari menunjukkan ponsel nya.
"Lah,lo dapet juga?Gue pikir cuma temen satu kelas doang yang dia undang" ucap Arkana.
"Gue sama Ervan juga dapet,ya kan Van?" tanya Bagas.
"Iya"
"Kok gue ga dapet?Parah banget" ucap Arsenio.
"Cuma kelas 11 doang kali yang di undang" kata Rafael.
"Tapi kan dia kenal gue"
"Ya gak tau jangan tanya gue,tanya orang nya aja langsung" dengan cepat Arsenio langsung beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Salsabila.Aneska yang melihatnya hanya menatap kearah laki-laki itu tanpa mengetahui apa yang diinginkannya.
"Sa" panggil nya.
"Lo ko gak undang gue?Parah lo" menoyor bahu Salsabila.
"Emang lo gak dapet undangan nya?" tanya Salsabila lagi.
"Gak,gak ada"
"Masa sih?Padahal temen-temen Arka yang sekolah disini gue undang kok,sumpah"
"Mana gak ada?" menunjukkan ponsel nya kepada Salsabila.Wanita itu hanya menatap ke arah ponsel lalu melihat notifikasi yang bertuliskan bahwa Kouta internet Arsenio sudah habis.
"Liat yang bener,Butuh wifi kah?Nih gue kasih" menyalakan hospot nya.
"Oh iya ini ada,hehehe"
Salsabila yang muak dengan tingkah Arsenio langsung beranjak dari duduknya lalu memukul pelan lengan pria tersebut. "Malu lo hah?"
"Iya sorry sorry,lanjut lanjut semuanya"
"Beli kuota makanya,gak usah kayak orang susah deh bang" ucap Rizan.Tanpa berkata apapun Arsenio langsung menarik telinga pria tersebut agar berpindah tempat bersama mereka.
"Aduh sakit sakit!"
"Dilanjut Win,jangan heran mereka emang kayak gitu" ucap Aneska saat melihat Winda sedang terdiam sambil memperhatikan tingkah keduanya.
...•••...
Pembelajaran dimulai kembali saat mereka sudah mengisi amunisi masing-masing.Beberapa siswa wanita sibuk merapihkan make up mereka,sebagian siswa laki-laki sibuk dengan game nya,Arkana dan Aneska sibuk berfoto dengan Rizan yang terus mengganggu keduanya,Rafael sibuk memperhatikan foto perempuan seksi dengan Divia yang berusaha untuk melihat apa yang dilihat oleh Rafael, sementara Winda sendiri hanya diam memperhatikan aktivitas teman-teman satu kelasnya.
"Ijan bisa diem gak?" tanya Aneska.
"Mau ikutan"
"Yaudah nanti dulu,ini mau foto berdua dulu sebentar" ucap Aneska kesal karena sejak tadi Rizan terus mengganggu nya.
"Yaudah deh" Rizan kembali duduk di kursinya.Namun saat Aneska menekan tombol pengambilan gambar, laki-laki itu dengan cepat muncul kembali hingga membuat kekesalan Aneska semakin menjadi-jadi.
"Iiiiiiii Ijan!" ucap nya kesal.
"Gue timpuk lo lama-lama Jan" Arkana melayangkan ponselnya kearah pria tersebut.
"Lagian jangan foto berdua,nanti yang ketiga nya setan tau gak?" tanya Rizan.
"Iya lo setannya" cetus Arkana.
"Ayo lagi lagi,sekarang dia gak akan ganggu" bujuk Arkana.
"Gak mau,males" duduk membelakangi Arkana.
"Ck!Bangsat emang" melirik kan sorot mata tajam sambil menendang Rizan,namun tidak berhasil.
"Marah marah Mulu heran gue" gumam Rizan.
"Ngapain si lo?" tanya Rafael kepada Divia.
"Liatin apaan lo,dih El diem-diem suka liat cewe seksi" goda nya.
"Eh liat cewe seksi itu wajar ya, berarti gue masih normal.Yang perlu dipertanyakan itu kalau gue liatin foto Ijan tanpa baju baru lo boleh curiga sama gue" menyembunyikan ponselnya.
"Bisa aja lo jawabnya"
"Selamat siang semua!" sapa guru biologi yang baru saja memasuki ruang kelas.
"Siang Bu"
"Gimana kabarnya hari ini?Semoga semuanya baik-baik aja ya.Langsung aja karena ibu mau ada urusan mendadak,boleh tolong kumpulkan terlebih dahulu tugas kelompok yang pernah ibu katakan sebelumnya?" beberapa siswa langsung maju ke depan kelas untuk mengumpulkan tugas tersebut.
"Oke,yang kedua ibu mau membentuk kelompok baru.Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang,satu orang laki-laki dan satu orang perempuan.Ibu mau kalian membuat percobaan apapun itu dengan memanfaatkan tikus putih sebagai bahan percobaan nya"
"Ih kok tikus putih Bu?Jijik" ucap salah satu siswa perempuan.
"Tikus putih berbeda ya dengan tikus-tikus yang sering kalian temui sehari-hari, pokoknya kerjakan saja apa yang ibu perintahkan.Ibu tunggu hasil nya Minggu depan"
"Bu,untuk kelompoknya kita bebas pilih sama siapapun yang kita mau?" tanya Divia.
"Oh ngga,ibu sudah menyiapkan kelompok nya tadi karena ibu baru tau kalau ada siswi baru disini.Ini kertas nya ibu tempel disini,kalian bisa lihat sendiri siapa teman kelompok kalian" menempelkan kertas tersebut di Mading kelas.
"Dih gue sama dia lagi" ucap Salsabila sambil menatap kearah Rizan. "Kenapa harus dia si dari sekian banyaknya orang" mendengus kesal.
"Wah!Untung gue sama si ambis pintar!!" seru Divia sambil berlari kearah salah satu siswa laki-laki yang cukup pintar dikelas itu.
Giliran Aneska yang melihat dengan siapa ia berkelompok nanti,ia berharap teman kelompoknya adalah Arkana.Tetapi wajah nya pias saat mendapati dirinya satu kelompok dengan Rafael sedangkan Arkana dengan Winda.
Rafael dan Aneska saling menatap satu sama lain,lalu laki-laki itu hanya menepuk-nepuk bahu Aneska karena tahu betul bahwa wanita itu sangat ingin satu kelompok dengan kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Arkana.
"Gak apa-apa" merasa ada yang tidak beres,Arkana langsung melihat kertas tersebut lalu ia kembali menghampiri Aneska.
"Mau kalau aku bilang sama guru itu biar kita jadi satu kelompok?" tanya Arkana.
"Ih jangan,gak usah tau"
"Yaudah kamu jangan cemberut kayak gitu dong,kan cuma kelompok lagi pula kita bisa kerja bareng-bareng kan?" Aneska mengangguk.
"Gak usah macem-macem ya lo" menatap Rafael sementara laki-laki itu hanya memutar kedua bola matanya karena jengah dengan ucapan Arkana yang seolah-olah ia akan melakukan sesuatu kepada Aneska.