
Mereka sudah berada di depan pintu unit apartemen milik pria bernama Gio tersebut.Sepertinya Alfredo sudah mengabari Guo bahwa mereka akan bertemu,sekali Alfredo menekan bel seseorang langsung membuka pintu tersebut.
"Lo?" tanya Arkana dengan wajah nya yang sangat terkejut saat melihat bahwa ternyata laki-laki itu adalah Gio yang ia kenali.
"Arka?Lo kok.." ucap Gio kebingungan.
"Ini pria yang saya ceritakan,tuan Arkana adalah putra bos saya" kata Alfredo.
"O-oh kalau gitu silahkan masuk,bicara di dalem biar lebih santai"
"Lo kok gak pernah cerita atau bawa gue kesini sebelumnya?" tanya Arkana dengan wajahnya yang terlihat sinis.
"Ya,dulu gue gak mau terlalu umbar jati diri"
"Lupain,lo saudara Aditya?"
"A-adit?" tanya balik Gio.Sontak Arkana langsung memperlihatkan foto laki-laki sialan tersebut.
"Dimana dia?" tanya Arkana.
"Gue gak tau.Tapi kenapa Lo cari dia?" tanya Gio.
"Dia udah bikin Aneska Aneska amnesia.Dimana?Dimana Lo sembunyiin saudara Lo itu?"
"Gue gak tau,gue beneran gak tau"
"Kenapa Lo gak pernah cerita ke gue tentang manusia sampah itu?"
"Karena dia gak mau identitas nya ke bongkar,gue juga gak mau urusin hidup orang lain" ucap Gio.
"Orang lain?"
"Dia dan nyokap nya bukan keluarga gue,mereka orang lain buat gue"
"Terus sekarang dia dimana?Dia dimana??!!" teriak Arkana yang langsung menghampiri Gio dan menarik kerah baju laki-laki tersebut dengan sekuat tenaga.
"Tuan tuan,jangan terbawa emosi.Kita harus mencari kebenaran nya terlebih dahulu" Alfredo berusaha untuk menyurutkan emosi tuannya.
"Ngomong-ngomong soal Aneska,ini bukan untuk yang pertama kalinya" kaya Gio.
"Gue tau.Tapi kenapa Lo dan keluarga Lo malah biarin tingkah nya sampe separah itu?" tanya Arkana.
"Gue gak pernah mau punya saudara yang perilaku nya buruk kayak dia,tapi nyokap nya selalu hasut otak bokap gue buat amanin bocah tengil itu kalau dia berbuat kesalahan.Baik kesalahan kecil atau fatal sekalipun",
"Dan..."
"Apa?" tanya Arkana.
"Soal Lily,bukan gue Ka.Gue harus lurusin kesalahpahaman ini"
"Terus siapa kalau bukan Lo?" tanya Arkana lagi.
"Gue beneran gak tau"
"Jangan jangan..."
"Apa?c tanya Gio.
"Jangan-jangan ulah dia juga?iya kan,Lo tau kan?"
"Gue gak tau,sumpah gue gak tau!"
"Lupain, sekarang kasih tau gue dimana dia?"
"Udah berapa kali gue bilang,gue gak tau Arkana" ucap Gio dengan nada suaranya yang ditekankan karena kesal dengan pertanyaan Arkana yang terus diulang berkali-kali.
"Kalau gitu Lo pasti tau betul kemana biasanya dia pergi"
"Ada satu tempat,tapi gue gak yakin" kata Gio ragu.
"Bawa gue sekarang kesana" mendengar perkataan Arkana,Gio langsung menatap Alfredo seolah-olah tidak mengizinkan jika pria berumur tersebut harus ikut dengan nya untuk menuju tempat yang dirahasiakan itu.
"Bantuan bapak cukup sampai sini, makasih banyak ya pak" ucap Arkana.
"Tuan yakin hanya sampai sini?" tanya Alfredo.
"Iya".
"Baik,jika ada lagi segera hubungi saya"
"Iya makasih pak"
"Apa saya harus mengantar tuan ke tempat tujuan itu?"
"Gak perlu, saya bareng sama dia"
"Yasudah kalau begitu saya permisi"
"Makasih banyak ya pak" ucap Gio.
Dengan cepat mereka langsung menuju tempat yang Gio ketahui.Namun saat mereka sampai di sana, suasana tempat tersebut terlihat sangat sepi.Tida ada satupun orang disana.
"Kemana mereka pergi?" tanya Gio kepada dirinya sendiri.
"Lo nipu gue?" tanya Arkana.
"Gak,gue serius.Setiap hari mereka kumpul di sini"
"Kalau gitu sekarang mereka kemana?"
"Arrghhh sialan!" teriak Arkana sambil menendang benda apapun yang ada di hadapannya. "Kalau udah kayak gini kita harus cari kemana?Otak gue udah gak bisa mikir tau gak"
"Ya mau gimana lagi,mereka emang semacam kumpulan geng elite.Mereka bisa berbuat kejahatan tapi mereka juga bisa langsung bersihin semua kejahatan itu tanpa tinggalin bukti sedikitpun"
"Apa perkataan Lo tadi bener kalau Adit yang udah buat kecelakaan disengaja itu?" tanya Gio.
"Tapi kalau di pikirin lagi buat apa?Lily gak tau siapa Adit,bahkan mungkin liat wajahnya aja belum.Gue juga sebelum nya belum pernah kenal sama dia.Jadi buat apa kalau dia bikin kecelakaan disengaja?" tanya Arkana.
"Iya juga sih"
Tiba-tiba ponsel Arkana berbunyi dan nomor yang memanggilnya adalah Faranisa.Ia sempat bingung mengapa wanita itu menghubungi nya,namun ia harus menerima panggilan tersebut disaat situasi sedang genting seperti ini.
"Halo?" sapa Arkana.
"Lo dimana?"
"Di luar,kenapa?"
"Gue sekarang lagi otw ke rumah sakit,gue punya sesuatu yang mungkin bisa ungkap semua kejahatan Adit.Termasuk Lo juga bisa cari tau dimana keberadaan nya sekarang"
"Kenapa Lo bisik-bisik kayak gini?Apa ada orang yang kejar Lo?" tanya Arkana.
"Gak tau,gue cuma jaga-jaga aja.Karena menurt gue kalau Adit masih hidup,dia gak akan biarin bukti ini diambil sama siapapun.Mungkin dia udah kasih perintah sama anggota geng nya buat cari bukti ini,makanya gue harus hati-hati".
"Dimana Lo sekarang?"
"Udah gue bilang,gue lagi di perjalanan ke rumah sakit"
"Stop di tempat Lo sekarang,biar gue jemput lo.Kirim alamat lokasi Lo sekarang juga,usahahin buat selalu ada di tempat rame"
"Iya,gue ada di persimpangan jalan.Gue kirim lokasinya sekarang juga"
"Ayo buruan" ajak Arkana kepada Gio setelah ia menutup panggilan nya.
"Kemana?"
"Udah ayo buruan,gak usah banyak bacot"
...•••...
Arkana memutuskan untuk pulang ke rumah membawa kedua temannya tersebut karena Faranisa mempunyai bukti yang sangat berpengaruh dalam proses pencarian keberadaan Aditya saat ini.
"Arka,kamu kenapa gak pulang seharian?" tanya Erika yang cemas dengan kondisi putranya itu. "Gimana kabar Aneska? Baik-baik aja kan?Mama gak bisa jenguk Anes sekarang karena papa kamu suruh mama buat pergi sama dia"
"Iya gak apa-apa mah,kondisi Aneska membaik tapi..."
"Kenapa?Kenapa ada tapi nya?"
"Aneska Amnesia mah"
"Hah?A-amnesia?"
"Iya.Taoi dokter bilang bisa ada kemungkinan buat sembuh meskipun memakan waktu yang lama"
"Terus ini siapa?Hai Gio apa kabar?"
"Baik Tante" ucap Gio.
"Halo Tante,saya Faranisa.Temen sekolah Arkana dan Aneska"
"Oh hai Faranisa,senang bertemu dengan kamu"
"Mah,mama tau penyadap?" tanya Arkana.
"Penyadap?Tau,kenapa?"
"Aku butuh seseorang buat denger isi dari alat sadap ini"
"Kamu dapet dari mana ini?" tanya Erika terkejut.
"Ini salah satu petunjuk buat temuin lokasi orang itu secepatnya" kata Arkana.
"M-mama bisa,mama bisa"
"Mama bisa?" tanya Arkana bingung.
"Mama bisa,ayo ikut sini" Erika langsung berjalan memasuki ruang kerja,diikuti oleh ke tiga remaja itu dibelakangnya.
Erika mulai memperlihatkan pergerakan jarinya yang begitu cepat dalam memainkan papan ketik untuk meretas alat sadap tersebut.Arkana dan dua temannya hanya terdiam dengan wajah terperangah karena tidak menyangka bahwa Erika bisa melalukan hal sulit seperti itu.
"Wah,apa mama mantan hacker?" tanya Arkana dengan polosnya.
"Sembarangan,bukan lah" ucap Erika tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer sedikit pun.
"Terus kenapa tante bisa meretas kayak gini?" tanya Gio.
"Dulu tante pernah belajar sama anak bu-"
"Anak Bu?" tanya Arkana.
"Iya maksud nya dulu mama pernah belajar sama anak Bu Imas,namanya Tori"
"Tapi kenapa dia bisa meretas juga?Apa dia hacker?" tanya Faranisa.
"Emmm,kebetulan dulu dia kerja di badan intelejen.Jadi tante manfaatin ilmunya" ucap Erika dengan perkataan-perkataan bohong nya itu.