I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 47



Dengan tergesa-gesa Divia terus berlari sepanjang koridor rumah sakit menuju ruang rawat Aneska.Ditangan nya terdapat satu tas berukuran sedang yang berisi beberapa pakaian dan kebutuhan untuk sahabat nya.


Saat masuk kedalam ruangan,Wanita itu melihat Arkana masih duduk di samping Aneska.Arkana hanya terdiam menatap wajah Divia yang terus mengeluarkan air mata.


"Lo kenapa?Anes baik-baik aja" ucap Arkana bingung.


"Ka..." rengek nya.


"Kenapa?"


Divia ingin menceritakan tentang suatu hal buruk yang belum Arkana ketahui,namun rasanya bibir Divia sulit untuk mengucapkan kalimat demi kalimat tersebut. "Ada apa?Jangan bikin gue penasaran" kata Arkana lagi.


"Gue tadi pergi ke rumah Anes buat ambil baju sama kebutuhan nya yang lain" Divia memulai pembicaraan nya dengan kondisi yang masih terisak tangisannya.


"Terus?"


"Gue juga ambil hp nya dia"


"Terus?"


"Terus gak lama hp Aneska bunyi,ada nomor gak dikenal nelpon"


"Terus?"


"Terus...terus.." Di detik-detik terakhir ceritanya itu Divia sengat tidak bisa mengucapkan kalimat karena sangat sakit baginya jika harus mengatakan hal itu.


"Terus kenapa?Lo cerita yang bener dong" Arkana mulai emosi karena wanita itu tak kunjung menyelesaikan perkataannya.


"Sebentar,gue gak sanggup"


"Yaudah tarik nafas dulu terus cerita lagi ada apa?"


"Huffft...." setelah menarik nafas panjang, akhirnya Divia kembali menceritakan perihal tersebut kepada Arkana.


"Terus orang itu bilang kalau bokap dan nyokap nya Anes jadi korban kapal tenggelam tadi malam"


Arkana langsung hening, wajahnya pias sambil menatap lekat wajah Divia. "Lo gak bercanda kan?"


"Mana mungkin gue bercanda Arkana.Lo pikir nyawa orang bisa di jadiin candaan?" ucap Divia.


Arkana langsung menoleh ke arah Aneska yang masih belum sadarkan diri hingga saat ini,ia tidak tahu bagaimana reaksinya ketika Anes mengetahui bahwa kedua orang tuanya menjadi korban kapal tenggelam di tengah-tengah luasnya lautan.


"Kita kerja sama" ucap Arkana tiba-tiba.


"Maksud Lo?"


"Jangan kasih tau Aneska tentang rahasia ini"


"Lo gila?Gimana pun Anes harus tau kalah orang tua nya udah gak ada" ucap Divia emosional.


"Iya gue tau,tapi gak sekarang!Tunggu sampai kondisi Aneska membaik dan dia boleh pulang.Apa lo mau dia sakit lagi karena kabar buruk yang Lo kasih?" tanya Arkana.


"Engga".


"Yaudah,turutin apa yang gue bilang sama Lo.Kalau Anes udah sadar nanti,kita simpen dulu rahasia ini sampai Aneska pulang kerumah.Ngerti?"


"Iya ngerti"


...•••...


Rizan dan Rafael sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya,sementara Divia sedang menikmati makanan yang baru ia beli dan Arkana masih duduk di tempatnya yang terus menatap lekat wajah Aneska.


"Lo gak makan?Sejak malam itu gue belum liat Lo makan" ucap Divia.


"Gue gak laper"


"Lo gak nawarin gue Div?" tanya Rizan yang langsung mengalihkan pandangannya kepada wanita lucu tersebut.


"Sumpah gue lagi tidur, dari tadi lo ngomong seolah-olah gue sengaja gak angkat telpon" ucap Rizan.


"Berisik Lo pada ah!Gak liat Aneska masih belum sadar?Kalau mau berantem di parkiran sana!" ucap Rafael.


"Iya maaf, abisnya dia ngeselin banget.Lagian Lo ngapain sih bawa dia kesini segala?Gak guna tau gak" kata Divia.


"Eh dari tadi lo maki-maki gue terus,perkara gak mau kasih makanan yaudah bilang aja gak mau.Selesai kan?" tanya Rizan.


"Berisik!" teriak Arkana kesal.Jika Rafael tidak di dengar perkataan nya oleh mereka,maka saat Arkana bertindak disitulah mereka langsung terdiam satu sama lain.


Rizan yang sedang terdiam tiba-tiba langsung membelalakkan matanya karena terkejut saat melihat sedikit pergerakan pada jari-jari tangan Aneska.Ia langsung beranjak dari duduknya dan terus menunjuk ke arah wanita itu.


"Kenapa Lo?" tanya Rafael.


"I-itu..." ucap Rizan terbata-bata.


"Kenapa sih?" tanya Divia. "Jangan mendadak jadi anak indigo deh"


"Itu,Ka...I-itu" Rizan terus menunjuk ke arah jari tangan Aneska. "Tadi gue liat jari-jari tangan Anes bergerak"


"Ya terus kenapa?" tanya Arkana dengan santainya.


"Lah kok lu nanya kenapa sih?" tanya balik Rizan kesal.


"Ya emang kenapa?" tanya Arkana lagi.


"Sebentar lagi Aneska sadar!!!" ucap Rizan sambil melompat-lompat jengkel.


"Oh bagus lah"


"Ka?" tanya Rafael.


Arkana langsung membelalakkan matanya saat mendengar perkataan Rizan,ia baru menyadari hal tersebut setelah beberapa detik lamanya. "Sadar? Panggil dokter sekarang.Buruan!" Teriaknya.


Dengan cepat Rafael langsung berlari keluar ruangan untuk menemui dokter agar mereka bisa memeriksa kondisi Aneska dengan cepat.Sementara itu Divia sibuk menekan-nekan tombol bel untuk membantu Rafael memanggil dokter tersebut.


"Demi apa si!!" seru Rizan.


Arkana terus memperhatikan gerak-gerik tubuh Aneska.Ia melihat matanya sedikit demi sedikit mulai terbuka.Arkana merasa senang,sangat senang.Ia tidak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur. "Nes,kamu bangun?" tanya Arkana.


Wanita itu masih terdiam dengan sedikit mengernyitkan matanya karena silau yang di pancarkan oleh lampu ruangan.Dengan cepat Arkana langsung meletakkan telapak tangan nya diatas mata Aneska dengan jarak beberapa sentimeter agar wanita itu bisa membuka matanya lebar-lebar.


"Kamu masih inget aku?Siapa aku?Siapa nama aku?" tanah Arkana yang sangat khawatir jika Aneska melupakan siapa dirinya.


"Arkana..." gumam wanita itu.


"Ya Allah makasih" Arkana langsung menggenggam erat tangan Aneska dan terus mencium nya tiada henti.


"Anes ini gue.." rengek Divia sambil berjalan mendekati Aneska dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Div"


"Iya Nes?" tanya Divia.


"Nyokap bokap gue,mereka gak tau tentang ini kan?" tanya Aneska dengan suaranya yang masih sedikit tidak terdengar.


Arkana dan Divia saling menatap satu sama lain, kemudian laki-laki itu sedikit menggelengkan kepalanya agar Divia tidak boleh memberitahu tentang kabar buruk tersebut saat ini.


"Me-mereka gak tau Nes,mereka belum tau" kata Divia.


"Semoga mereka gak akan pernah tau" gumamnya.


Tak lama dokter dan suster masuk kedalam ruangan,mereka langsung memeriksa kondisi kesehatan Aneska.Kabar gembira yang mereka katakan adalah bahwa kondisi Aneska sudah semakin membaik,namun ia harus tetap dirawat inap sampai luka operasi nya membaik.