
Malam sudah sangat larut tapi Arkana bertekad datang kembali ke tempat itu untuk mencari beberapa bukti dan informasi yang bisa ia temukan disana.Arkana sangat yakin ada sesuatu yang tidak beres pada diri Aditya si laki-laki gila itu.
"Lo mau kemana?" tanya Rafael saat melihat Arkana berjalan meninggalkan mereka.
"Gue mau ke rumah itu"
"Mau ngapain?Ini udah malem, rumahnya juga udah di pasang garis polisi"
"Terus?"
"Ya sebaiknya Lo jangan kesana" tak memperdulikan perkataan Rafael, laki-laki itu hanya terdiam dan langsung melanjutkan langkahnya kembali.
"Biar gue pergi sama dia" ucap Rafael kepada teman-temannya.
"Gue ikut" sahut Rizan.
"Gue juga" timpal Arsenio.
"Jan Lo disini aja,temenin Divia.Biar Axel yang ikut" kata Rafael.
"Yaudah,tapi kalau ada apa-apa kabarin kita ya"
"Iya"
...•••...
Sambil menunggu informasi dari Alfredo,Arkana juga harus mencari tahu tentang kehidupan Aditya walaupun hanya tipis-tipis.
Suasana rumah itu terlihat sangat gelap ditambah dengan garis polisi yang melintang dan mengelilingi setiap penjuru halaman rumah tersebut.
Arkana menerobos masuk ke dalam, diikuti oleh tiga temannya di belakang.Mereka sangat terkejut karena tidak melihat keberadaan satupun barang atau benda di dalam rumah tersebut.Setiap penjuru ruangan terlihat tampak kosong.
"Kemana barang-barang nya?Apa polisi amanin barang sebanyak itu?" tanya Arkana.
"Biar gue tanya yang lain" Axel mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi anggota geng uang lain.
"Gak perlu,gak penting juga"
Setelah hampir 30 menit pencarian,mereka tidak menemukan bukti atau barang apapun karena semua barang benar-benar habis tidak tersisa satupun.
"Sialan" gerutu Arkana. "Si brengsek, ngomong-ngomong kemana perginya si brengsek?"
"Bukannya kita tinggal disini,Lo gak kasih perintah apapun jadi kita juga gak lakuin apapun" kata Arsenio.
"Apa di bawa sama polisi?"
"Ngga, kalaupun polisi bawa dia pasti lo sekarang udah kena masalah karena gak mungkin dia bakal diem aja" ucap Axel.
"Terus dia pergi kemana?Semua barang-barang nya juga pergi kemana?" tanya Rafael.
"Udah gue duga pasti ada yang gak beres"
"Maksud Lo?" tanya Rafael.
"Gak usah peduliin maksud gue,mending sekarang kita balik ke rumah sakit"
...•••...
Aneska masih tertidur meskipun matahari sudah menembus masuk ke ruangan tersebut.Teman-temannya masih menunggu sama seperti semalam.Divia melihat pergerakan jari telunjuk Aneska,dengan cepat ia dan Arkana langsung berjalan menghampiri wanita tersebut.
Aneska membuka matanya perlahan dengan ketenangan,namun ia kembali menutup mata karena cahaya yang begitu terang di dalam ruangan tersebut. "Nes" panggil Arkana dengan suara lembutnya tetapi wanita itu tidak menghiraukan.
"Nes lo baik-baik aja kan?" tanya Divia sambil menggenggam erat lengan Aneska,namun wanita itu langsung melepas genggaman Divia dan menggeser kan sedikit posisinya seolah-olah ia sedang berjaga-jaga jika mereka akan melakukan suatu kejahatan.
Arkana dan Divia hanya saling menatap satu sama lain karena bingung dengan tingkah Aneska yang begitu terlihat asing kepada mereka.
"Nes,ini aku.Kamu gak perlu takut" kata Arkana.Tapi wanita itu hanya menatap wajah Arkana kebingungan,Arkana sendiri bisa merasakan jenis tatapan yang Aneska berikan.
"Apa ini?Tatapan apa itu?" tanya Arkana.
"Jangan jangan..."
"Jangan-jangan apa?" tanya Arkana kepada Divia.
"Nes,ini gue.Lo tau kan siapa gue?" Divia langsung memberikan pertanyaan seperti itu kepada sahabat nya hanya untuk memastikan apakah yang dia pikirkan benar atau hanya firasat nya saja.
Tapi sialnya Aneska masih terdiam dan memberikan ekspresi wajah seolah-olah ia tidak mengenal orang-orang yang sedang berada di dekatnya.
"Nes ini gue,Divia" wanita itu langsung duduk di bibir kasur dan menggenggam erat tangan Aneska.
"Jangan deket-deket" ucap Aneska tiba-tiba. "SIAPA KALIAN!" teriak nya dengan wajah ketakutan.
Kelima teman Arkana langsung beranjak dari duduknya saat mendengar perkataan Aneska, sementara laki-laki itu hanya berdiam diri dengan mata nya yang mulai berkaca-kaca.
"Nes,ini gue" rengek Divia.
"Nes,ini aku.Kamu harus minum dulu supaya bisa lebih tenang" Arkana memberikan segelas air mineral kepada Aneska,namun wanita itu langsung terdiam dengan matanya yang menatap lekat segelas air tersebut.
Mengingat sesuatu Aneska langsung berteriak histeris dan melemparkan segelas air itu hingga jatuh dan pecahan kaca berserakan dimana-mana.
"Jangan,tolong jangan pukul gue" ucap Aneska yang langsung beranjak dari kasur dan duduk terkapar di lantai rumah sakit yang cukup dingin.
"Hah?" gumam Divia dengan tangisannya yang masih terisak. "Ki-kita gak akan pukul lo,kita orang baik".
"Udah cukup jangan pukul gue terus,sakit!" Teriak Aneska dengan kedua tangan menutup erat kepalanya yang sedang menunduk di lantai
"Kenapa ini?" tanya Rizan terkejut.
"Panggil dokter,panggil buruan!" ucap Rafael,sontak Arsenio dan Bagas langsung berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.
"Nes,ini gue.Lo gak boleh takut sama gue" ucap Divia sambil berjalan menghampiri Aneska,tetapi wanita itu terus berteriak setiap kali ada orang yang hendak berjalan mendekat kearahnya.
"Div,Div udah Div.Kalau lo terus mendekat,kasian Aneska malah semakin ketakut" ucap Rafael dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Divia agar wanita itu menjauh dari Aneska.
Arkana, laki-laki itu sejak tadi belum mengeluarkan kata-katanya.Ia masih berdiri kebingungan dengan mata yang terus berair.Memikirkan bahwa Aneska tidak mengingatnya bahkan takut kepadanya saja sudah membuat Arkana sakit hati.
Tak lama dokter berlarian masuk ke dalam ruangan bersama satu orang wanita yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Kamu gak boleh duduk di lantai,dingin" ucap dokter tersebut.
"Stop!Jangan mendekat!" teriak Aneska.
"Sebaiknya kalian menunggu di luar,biar kami bisa mengatasi kecemasan pasien dengan leluasa"
"Iya dok"
Mereka semua menunggu di luar ruangan,entah apa yang dilakukan oelh wanita di dekat dokter itu hingga Aneska mau menuruti perintah nya untuk tetap tenang dan tidak boleh terus menerus merasa cemas.
"Dok Aneska kenapa?" Tanya Arkana saat dokter tersebut baru saja menutup pintu ruangan.
"Pasien mengalami gangguan kecemasan,semalam dokter spesialis saraf memberitahu bahwa otak pasien mengalami sedikit cedera akibat pukulan benda tumpul yang cukup keras.Tetapi tidak berdampak buruk bagi organ tubuhnya yang lain",
"Tapi kenapa Anes gak tau siapa saya,bahkan dia tatap saya kaya orang asing dok" saat Divia mengatakan hal itu,dokter langsung terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa dok?" tanya Arkana.
"Tapi tetep aja dia amnesia dok,kenapa harus amnesia" ucap Divia yang mulai menangis kembali.
"Syukur seenggaknya Anes masih bisa hidup" bisik Rafael.
Tiba-tiba Arkana mendapatkan panggilan dari nomor yang tidak dikenal,awalnya ia tidak mau menerima panggilan tersebut tetapi setelah mengangkatnya ia mengetahui bahwa orang itu adalah Alfredo.
Alfredo memberitahukan kepada Arkana bahwa dirinya telah berhasil mendapatkan berbagai macam informasi tentang kehidupan Aditya,dari hal-hal besar hingga hal yang paling kecil sekalipun.
"Dimana sekarang?" tanya Arkana.
"Saya saja yang datang ke tempat tuan,sekarang tuan sedang berada di dimana?"
Hanya butuh waktu 20 menit bagi Alfredo untuk sampai di halaman rumah sakit tersebut setelah Arkana mengirimkan lokasi kepadanya.Arkana masuk ke dalam mobil tersebut untuk membicarakan hal lebih Lanjutnya.
"Ini semua informasi yang tuan minta" ucap Alfredo sembari memberikan satu tas berukuran sedang yang berisikan beberapa map.
"Apa aja yang bapak dapat?" tanya Arkana.
"Siapa orang tuanya,dimana dia tinggal,apa makanan favoritnya bahkan ukuran ****** ******** saya cari"
"Saya ngga bercanda" ucap Arkana dengan wajah ketus nya.
"Tuan pikir saya bercanda?" tanya balik Alfredo.
"Beneran?"
"Hmm,saya tau itu dari saudara laki-laki nya"
"Siapa?Siapa saudara nya?" tanya Arkana penasaran.
"Buka saja,saya kan sudah bilang tadi kalau semua informasi itu ada di dalam sana", dengan cepat Arkana langsung membuka satu persatu berkas tersebut.
Berikut informasi yang Alfredo dapatkan:
Nama asli Raditya Ilham,kelahiran Jakarta.
Ayahnya bernama Rukmana Ilham seorang pengacara,namun itu tiga tahun yang lalu.Rukmana di berhentikan karena menerima suap dari berbagai klien nya.
"Suap?" tanya Arkana.
"Iya,dia sering menerima suap dari berbagai kliennya"
Kini profesi Rukmana adalah sebagai pengusaha tambang batubara di daerah timur Indonesia.Aditya tidak tinggal bersama orang tua,ia tinggal di salah satu unit apartemen elite di Jakarta.
Selain profesi nya sebagai pengusaha tambang,ia juga berperan aktif dalam pengedaran obat-obatan terlarang termasuk sebagai bandar narkoba di perbatasan laut timur Indonesia.
"Apa masih zaman jadi bandar narkoba sekarang?" tanya Arkana.
"Narkoba tidak akan pernah lenyap,jadi profesi itu masih aktif hingga saat ini",
Raditya Ilham merupakan mempunyai club' motor dengan anggota yang berjumlah lebih dari lima belas orang.Tidak ada nama dalam gang tersebut.
"Geng motor?Dia punya kumpulan geng motor?" tanya Arkana tercengang.
"Itu berdasarkan apa yang saya dapatkan,dia mempunyai kumpulan pemuda bermotor namun anehnya tidak ada nama dalam geng tersebut",
"Gak ada nama?"
"Iya"
Gang motor yang dijalankan nya selama dua tahun kebelakang ini sudah memakan banyak korban.Gelandangan lansia di jembatan penyeberangan, pengamen muda,penjual bakso,dan satu anggota gang motor lainnya.
"Satu anggota gang motor lainnya, maksud nya apa pak?"
"Mereka pernah membantai habis-habisan satu pemuda yang di yakini sebagai anggota gang musuhnya"
"Bapak tau dari mana?" tanya Arkana bingung.
"Saya mempunyai mata dan telinga dimana-mana.Lagi pula pria ini selalu menuliskan apa saja yang telah ia perbuat di dalam buku catatan hariannya.Beruntung ia mencatat semua itu dalam laptop sehingga bisa dengan mudah membajak semua isi rahasianya" kata Alfredo.
"Maksudnya,pake jasa hacker gitu? Diretas?"
"Mungkin seperti itu"
"Wah,gak salah sih papa saya tunjuk bapak.Terbaik memang",
"Terimakasih"
Tak hanya itu, selain membantai para rakyat kecil Aditya juga sering melakukan perbuatan kriminal dan tidak senonoh kepada wanita khususnya.Beberapa korban pelecehan seksual sudah bertebaran dimana-mana akibat ulahnya.Pegawai bar,siswi SMA Tirta,siswi SMA Erlangga,siswi SMA GAMA,dan wanita malam yang bekerja di pub juga menjadi korban kekerasannya serta korban tabrak lari yang merupakan siswi SMA Tadikara.
"Brengsek" gumam Arkana dengan wajah terperangah. "Dia lecehin semua perempuan ini?"
"Ada satu kalimat yang tertinggal" Alfredo menunjukkan kalimat akhir yang tertinggal dari paragraf tersebut.
Raditya Ilham menyakiti mereka semua karena alasan para perempuan itu menyukai nya.
"Sialan,andai gue bisa temuin dimana dia sekarang.Mati lo di tangan gue"
"Polisi juga sedang mencari keberadaan nya karena kasus ini beberapa orang yang pernah terkena kejahatan nya baru berani membuka mulut"
"Tapi kenapa dia berani banget lakuin hal-hal sampah kayak gini?Pasti ada dukungan dari keluarga nya kan?" ucap Arkana kesal. "Mama nya juga kemana?Apa dia gak punya mama sampe-sampe berani sakitin perempuan?"
"Masih ada banyak hal yang harus tuan baca" Arkana kembali membaca berkas itu lagi.
Nama ibu:Resya Radinda.Tinggal di selat Malaka untuk mengedarkan berbagai macam jenis narkotika dan senjata secara ilegal.Meskipun begitu,hampir setiap hari mereka berkomunikasi dengan aman.
"Sialan dia masih punya mama ternyata,terus saudara laki-laki nya?" tanya Arkana.
"Ini.Ternyata hubungan mereka hanya sebatas saudara tiri.Aditya putra dari ibu nya dan saudara laki-laki ini putra kandung dari ayahnya"
"Oh iya paham-paham"
"Tapi sejak ayahnya menikah,dia tidak pernah mau tinggal bersama ibu dan saudara tiri.Dia memutuskan untuk tinggal sendiri di Jakarta
Nama saudara:Gio Rukmana.Berselolah di SMA taruna bakti.Namanya bersih,tidak pernah terlibat kasus kejahatan sedikit pun.
"Tunggu" gumam Arkana.
"Ada apa tuan?"
"Gio?"
"Iya,pria yang saya tanyai seluk beluk pria yang bernama Aditya ini"
"Bawa saya buat temuin dia sekarang juga" kata Arkana.
"Maaf?Apa tuan mengenal laki-laki tersebut?"
"Gak tau,gak tau Gio mana yang dimaksud tapi bawa saya sekarang buat ketemu sama dia"
"Baik,akan saya antar sekarang juga"
Alfredo memerintahkan sopir nya untuk pergi ke alamat tempat di mana Gio tinggal.Ya,Arkana tidak salah.Laki-laki itu adalah Gio yang ia kenal.