I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 44



Dengan jaket kembar khas COZTRA,mereka bertiga berjalan beriringan menuju kelasnya,Arkana sama sekali tidak berniat untuk belajar hari ini bahkan di hari biasanya pun.Ia sungguh-sungguh ingin mencari siapa dalang dari kasus penembakan Aneska hingga menyebabkan luka yang sangat serius.


"Lo semua,keluar!" perintah Arkana kepada teman satu kelasnya.


"Loh kenapa?"


"Keluar aja" ucap Rafael.


"Ada apa sih Ka?" tanya Salsabila kepada Arkana.


"Gue mau cari orang yang udah nembak Aneska"


"Di kelas ini?" tanya Salsabila lagi.


"Gue gak tau pasti,tapi gak ada salahnya coba"


"Yaudah kalau gitu gue bantu biar lebih cepet" kata Salsabila.


"Yaudah, masing-masing satu baris ya" ucap Arkana yang langsung berjalan menuju kursi untuk memeriksa isi tas teman-temannya.


20 menit berlalu, tetapi mereka tidak menemukan barang-barang yang mencurigakan. "Pelakunya bukan di kelas kita" kata Rafael.


"Belum tentu,siapa tau mereka udah bersihin buktinya duluan" ucap Salsabila.


"Yaudah kalau gitu kita cari di kelas lain, masing-masing pegang satu kelas.Biar gue suruh yang lainnya buat bantu" kata Arkana.


"Yaudah"


Seluruh anggota COZTRA yang merupakan siswa disana langsung mengikuti perintah Arkana dan bergerak menuju kelas yang berbeda untuk menggeledah seluruh ruangan kelas.


Kelas per kelas mereka telusuri namun hasilnya nihil.Karena merasa belum puas,Arkana meminta yang lainnya untuk memeriksa seluruh toilet dan lemari locker baik yang berada di luar kelas,dalam kelas ataupun yang berada di dalam ruang ganti pakaian siswa.


Arkana melihat sebuah tas berukuran sedang di dalam lemari locker salah satu siswa,karena terlihat mencurigakan Arkana langsung membukanya dengan sangat berhati-hati.


Betapa terkejutnya Arkana saat melihat isi dari tas tersebut,ia langsung menutup pintu locker dan melihat nama yang tertulis disana.Arkana terperangah tidak percaya.Kemudian ia juga melihat satu kantung kecil di antara tumpukan buku.Dan jantung kecil itu berisi amunisi yang jumlahnya lebih dari 10 buah.


Isi dari tas berukuran besar tersebut adalah senapan runduk yang memang sengaja digunakan untuk melukai Aneska.Tidak hanya itu,di dalam tas yang sama juga Arkana menemukan jaket dan penutup mata yang digunakan oleh pelaku pada hari itu.


"Mana mungkin?" tanya Arkana kepada dirinya sendiri dengan wajah yang tidak percaya.


"Gimana Ka?" tanya Rafael yang datang menghampiri Arkana. "Di locker sebelas sana gak ada bukti apapun"


"Emang gak ada" ucap Arkana.


"Apa?"


"Karena barang nya ada disini" sontak Rafael langsung menatap tas tersebut dan ikut terkejut dengan apa yang ia lihat. "I-ini?"


"Lemari siapa ini?" tanya Rafael sambil menutup pintu Locker nya. "HAAAA!"


"Tutup mulut lo,jangan sampe pihak sekolah tau.Hukumannya bakal beda kalau mereka yang tanganin"


"Oke,tapi gimana bisa dia yang ngelakuin?" bisik Rafael.


"Mana tas nya?" Arka meminta tas kosong berukuran besar.


"Ini" Dengan cepat Arkana langsung memasukkan barang-barang tersebut kedalam tas nya, menghilangkan jejak lalu pergi dari tempat itu.


"Loh mau kemana?Udah ketemu buktinya?" tanya Salsa di dalam kelas.


"Engga"


"Terus mau kemana bawa tas segala?"


"Mau cabut.Ayo buruan" ajaknya kepada Rafael dan Rizan.


Sebelum pergi keluar kelas,Arkana menatap tajam ke arah Aditya hingga laki-laki itu hanya menundukkan kepalanya seolah-olah sedang merasa tidak nyaman dengan tatapan Arkana kepadanya.


Mereka tidak pulang kerumah ataupun pergi ke rumah sakit,melainkan mereka datang ke markas untuk menyelidiki kasus itu sendiri tanpa melibatkan pihak sekolah dan kepolisian.


"Masa sih dia yang lakuin?" tanya Rizan tidak percaya.


"Mau gimana lagi Jan, buktinya ada di lemari locker punya dia" kata Rafael sambil mengeluarkan satu persatu barang-barang tersebut.


Arkana mengambil senapan tersebut dan memasukkan amunisi kedalamnya. "Heh mau ngapain Lo,awas khilaf" ucap Rizan ketakutan.


Kemudian Arkana beranjak dari duduknya dan mengarahkan senapan tersebut ke arah foto Rizan yang sedang terpajang di salah satu dinding khusus tempat penyimpanan foto anggota geng COZTRA.


PRRRAKKKK!!!!


Foto Rizan langsung hancur dan jatuh ke lantai saat Arkana menembakkan amunisi nya kearah foto tersebut. "WOY ANJING LO!" teriak Rizan terkejut.


"HAH!FOTO GUE" Dengan cepat Rizan langsung berlari menuju fotonya sambil memperlihatkan wajah yang menyedihkan. "Ya Allah,gak lucu ah mainan nya"


Arkana berjalan menghampiri Rizan, laki-laki berfikir bahwa Arkana akan meminta maaf atau membersihkan sisa-sisa pecahan kaca tersebut.Tetapi Arkana malah mendekati dinding dan menyentuh lubang yang yang disebabkan oleh tembakan amunisinya.


"Maksud Lo?"


"Engga.Gue cabut dulu" Arkana memasukkan kembali Senapan dan amunisinya. "Jaket sama yang lainnya taro disini aja,simpen baik-baik"


"Terus itu senapan buat apa?Lo gak akan berburu kan?" tanah Rizan.


"Gue cabut duluan" tidak memperdulikan perkataan Rizan,Arkana langsung pergi keluar ruangan untuk bergegas menuju rumahnya.


......•••......


Pagi itu Bintang sengaja tidak bekerja karena ingin menghabiskan banyak waktu dirumah bersama istrinya.Arkana datang memasuki rumah,ia hanya berdecak kesal sambil menggelengkan kepala saat melihat kedua orang tuanya sedang sibuk bertarung catur.


"SKAKMAT!!" teriak Erika antusias. "YEEEYYY,YUHUU BELI TAS BARU,BELI BAJU BARU,BELI SEPATU BARU!" tingkahnya semakin menjadi-jadi karena senang saat memenangkan pertarungan sengit tersebut.


"Ah gak seru lah,apaan kami curang" ucap Bintang kesal.


"Mana ada aku curang?Kamu nya aja yang gak mau menerima kekalahan" dengan angkuhnya Erika melipat kedua tangannya di dada. "Inget kan sama hadiahnya?Yeay tas baru,sepatu baru, lipstik baru" ucap Erika sambil melangkah ke kanan dan ke kiri.


"Aku ada disini loh" ucap Arkana tiba-tiba.


"Loh kok kamu ada disini?" tanya Erika yang langsung menghentikan tariannya dan berjalan menghampiri Arkana. "Kamu bolos ya?"


"Iya" ucap Arkana dengan santainya.


"Kok bolos sih?Gak boleh bolos-bolosan terus Arkana" kata Erika.


"Cuma kali ini aja,ada masalah penting soalnya"


"Ya tapi kan kamu bisa izin sama guru disana" kata Bintang.


"Oh iya pah, kebetulan ada papah disini" Arkana langsung berjalan menghampiri Bintang dan duduk di sebelahnya.


"Kenapa?"


"Ini" dengan tergesa-gesa Arkana mengeluarkan senapan tersebut dari tasnya.


"Hah!Kamu dapet dari mana itu?" tanya Erika terkejut.


"Kamu diem-diem ambil senjata papa?" tanya Bintang dengan sorot mata tajamnya.


"Papa punya yang kayak gini?" tanya balik Arkana.


"Dari mana kamu dapet ini?"


"Jadi gini pah,mah.Senjata ini bukan milik aku,tapi milik orang yang udah celakain Aneska" kata Arkana.


"Hah?Kamu dapet dari mana ini?" tanya Erika penasaran.


"Dari lemari locker..." Arkana bingung karena ia tidak mungkin harus mengatakan pelakunya di hadapan Erika dan Bintang.


"Lemari Locker?Lemari Locker siapa?" tanya Erika lagi.


"Salah satu siswa disana" ucap Arkana.


"Kamu yakin ini punya dia?" tanya Bintang.


"Awalnya aku juga gak percaya pah,tapi aku juga temuin jaket dan penutup wajah yang dia pake hari itu.Sama persis"


"Apa senjata ini bahaya banget?" tanya Arkana kepada papa nya.


"Semua senjata bahaya Arka,tapi senjata jenis ini lebih berbahaya dari senjata biasanya.Senapan runduk ini papa punya,tapi sekarang gak berani pake" kata Bintang.


"Tapi sebelumnya pernah di pake?" tanya Arkana lagi dan kedua orang tua nya hanya saling menatap satu sama lain.


"Pernah" kata Bintang.


"Bintang..." bisik Erika.


"Pernah di pake sama mama buat berburu rusa"


"Oh gitu"


"Iya" ucap Bintang dengan singkat.Rusa yang ia maksud adalah Bu Renita saat belasan tahun yang lalu.


"Kalau kita tembakin amunisi pake senapan jenis ini ke dinding,pasti bakal ninggalin lubang disana.Apalagi kalau di tembakin ke tubuh manusia?Belum lagi dia bisa berburu dari jarak jauh tapi berbeda dengan senapan-senapan sebelumnya"


"Dasar sialan" gerutu Arkana kesal.


"Sebelumnya papa udah denger dari dokter tentang penyakit yang di derita Aneska.Bisa jadi orang itu sengaja tembakin ke bagian perut Aneska,organ vital maksudnya.Dia pasti gak berniat bunuh Aneska,tapi lebih ke buat dia jadi merasa kesakitan" kata Bintang.


Arkana merenungkan perkataan papa nya tadi,ada benarnya juga dengan apa yang ia ucapkan.