I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 29



Sebelum bergegas menuju halte busway,Aneska mampir terlebih dahulu ke salah satu supermarket terdekat untuk membeli masker karena masih ada luka memar di wajahnya.


Saat Aneska sedang membayar masker yang di belinya,ia melihat produk obat penghilang mabuk di meja kasir tersebut.Tiba-tiba Aneska teringat pada Arkana yang datang ke rumahnya dengan keadaan mabuk semalam.


Kemudian ia mengambil satu sachet obat tersebut lalu membayar nya dan segera berjalan menuju halte busway agar tidak tertinggal.


Dengan berjalan cepat Aneska bergegas menuju kelas nya agar bisa mempersiapkan presentasi di jam pelajaran pertama.Namun saat dirinya sampai di pintu kelas,ia bertabrakan dengan Arkana yang hendak keluar kelas sendirian.


"ADUH!" Aneska sibuk membenahi rambutnya yang berantakan, sementara Arkana terus menatap wajah wanita tersebut dengan ekspresi datarnya.


Aneska menatap wajah Arkana sekilas, lalu merogoh saku jaketnya untuk memberikan obat yang ia beli di supermarket tadi.


"Apaan ini?" tanya Arkana bingung.


"Lo udah keliatan lebih baik dari semalam,tapi minum aja" Arkana hanya mengernyitkan dahi nya saat mendengar perkataan Aneska.


"Maksud Lo?"


"Lo lupa?" tanya Aneska.


"Apaansi".


"Semalam Lo datang kerumah gue dalam keadaan mabuk"


"Masa?Gak mungkin lah" ucap Arkana dengan sikap angkuhnya.


"Tanya sama Gio,semalam dia yang anter Lo pulang"


"Buat apa gue ke rumah Lo?Emang gue ngomong apa sama Lo?" tanya Arkana, sementara Anes langsung terdiam.


"Gak ada" jawabnya singkat.


"Yang bener?"


"Lu beneran lupa?" tanya balik Aneska.


"Hmmm".


"Syukur" tanpa banyak bicara lagi Aneska menaruh obat tersebut di telapak tangan Arkana dan langsung masuk kedalam kelasnya.


Terukir senyuman kecil di wajah Arkana saat melihat tingkah dan ekspresi wajah Aneska tadi.Semalam dirinya memang mabuk berat,tapi ingatan Arka cukup baik.Ia tidak melupakan kejadian dan perkataan nya kepada Aneska semalam.Meskipun malam itu ia hanya asal bicara karena pengaruh alkohol.


...•••...


"Nes mau anter gue gak nanti pulang sekolah?" tanya Aditya yang menghampiri Aneska saat jam istirahat sudah tiba.


"Gak bisa" singkat Aneska.


"Sebentar aja kok,gue mau ke toko buku di deket sekolah"


"Gak bisa, sendiri juga bisa kan?Kenapa harus minta anter gue?" tanya Aneska,semakin hari Anes semakin merasa risih saat Aditya mengajaknya berbincang.


"Karena lo paling paham kalau soal buku"


Arkana hanya menyaksikan pembicaraan mereka berdua dari tempat duduknya,ia menaruh lengan di dagu dan jari telunjuk di bibirnya seolah-olah perdebatan itu sangat menarik untuk di saksikan. "Karena kemarin kita gak latihan,gak mau tau hari ini harus lembur" ucap Arkana sambil berjalan keluar kelas tanpa menatap keduanya.


"Lo denger kan?Gue harus latihan hari ini.Jadi Lo gak bisa ganggu kesibukan gue,sorry ya Dit" dengan cepat Aneska langsung berjalan keluar kelas meninggalkan Aditya yang masih berdiri di tempatnya.


Ia hanya terdiam dan menatap kemana Aneska pergi sambil sedikit menyipitkan kedua matanya.


Aneska terus berjalan menuju kantin dengan fikiran kosong di kepalanya.Ia sangat kesal kepada Aditya.Jika diharuskan untuk jujur,Aneska sangat ingin pergi bersama Aditya hari itu.Namun,Aneska tidak mau ada permasalahan lagi nantinya.


"Bukannya Lo masih dalam masa hukuman?" tanya Arkana yang tiba-tiba muncul dari lorong lain.


"ASTAGA!"


"Mau kabur?" tanya Arkana lagi.Aneska hanya memutar kedua bola matanya jengah.


"Bukan urusan Lo"


"Mau gimana pun,makasih obat nya" ucap Arkana.Aneska langsung terdiam karena ini pertama kalinya ia mendengar Arkana mengucapkan terimakasih kepada seseorang apalagi orang itu adalah dirinya. "Lo khawatir sama gue ya?"


"Dih!Kepedean"


"Gue mau tanya sesuatu sama Lo" ucap Aneska ragu.Arkana langsung berusaha menyembunyikan senyumannya karena ia sudah tahu apa yang akan Aneska tanyakan kepadanya.


"Apa?"


"Masalah semalam,Lo gak serius kan ngomong kal-"


"ARKA!" teriak seorang wanita yang langsung berlari menghampiri mereka berdua dan wanita itu adalah Keysha.


"Lo udah makan siang?" tanya Keysha.


"Belum"


"Kalo bareng aja gimana?Kebetulan temen gue juga udah duluan jadi gue sendirian"


"Tapi gue-"


"Udah ayo" paksa Keysha. "Ini siapa?temen sekelas Lo?" tanah Keysha saat melihat Aneska yang sedang berdiri di dekat Arkana.


"Iya".


"Yaudah kalo kita bareng aja gimana?" tanya Keysha kepada Aneska.Wanita itu langsung menatap wajah Arkana sekilas lalu menolak tawaran Keysha.


"O-oh,kalian duluan aja.Gue harus kerjain tugas harian dulu" ucap Aneska sambil tersenyum kikuk.Tugas harian yang ia maksud adalah hukuman nya setiap jam istirahat.


"Makan siang aja dulu" kata Arkana dengan nada bicara yang ditekankan seolah-olah ia sedang memaksa Aneska untuk makan siang terlebih dahulu.


"Gak apa-apa kok,duluan aja" setelah tersenyum palsu,Aneska langsung pergi meninggalkan mereka berdua untuk memulai aktivitas nya seperti biasa.


Arkana tidak henti-hentinya menatap kemana Aneska pergi, sementara Keysha langsung menatap Arkana dengan tatapan curiga karena ia mengira ada sesuatu yang berbeda diantara mereka berdua.


"Kenapa?Berat banget kayak nya" ucap Keysha.


"Biasa aja"


"Lo suka sama dia?"


"Ngaco,ngarang aja terus" ucap Arkana yang langsung berjalan meninggalkan Keysha yang masih berdiri kebingungan di tempatnya.


...•••...


Aneska membersihkan sampah demi sampah di depan kelas yang ada di lantai dua.Lingkungan yang cukup luas membuat dirinya benar-benar sangat merasa kelelahan.


"Azab wanita perebut laki-laki orang"


"Emang enak dihukum"


Perkataan demi perkataan itu hanya Aneska tolak mentah-mentah dari telinga nya.Ia sama sekali tidak perduli dengan perkataan busuk yang mereka ucapkan.


Tiba-tiba seseorang melemparkan gulungan kertas kepada Aneska sebagai bentuk penghinaan kepada nya.Ia membuat semua siswa yang lainnya mengikuti apa yang ia lakukan tadi.


"Punya akhlak gak sih Lo semua?" tanya Aneska kesal. "Punya otak gak??Oh iya lupa gak punya"


"Songong lo,pelakor aja bangga!"


Lemparan demi lemparan itu semakin menjadi-jadi sampai akhirnya Arkana berjalan mendekati Aneska dan berdiri dihadapan wanita itu agar sampah yang mereka lempar mengenai tubuh Arkana.Bisa dikatakan hal itu sebagai bentuk perlindungan.


Keysha yang sedang berjalan bersama Arkana langsung memasang wajah masam saat melihat tindakan Arkana yang begitu manis kepada Aneska.


Para siswa itu langsung berhenti melemparkan kertas kepada Aneska karena Arkana menghalangi nya.


"Ngapain lo buang-buang kertas?" tanya Arkana sinis. "Lo semua gak punya mata?Dia lagi bersihin sampah yang ada,lo pada malah nambah-nambahin kerjaan orang.Punya otak gak Lo semua?!" teriak Arkana dan mereka semua memilih untuk diam.


"Kenapa pada diem?Ayo koar-koar lagi di depan gue!"


"Udah udah" bisik Aneksa yang sedang berdiri di belakang Arkana sejak tadi.


"Diem" bisiknya.Arkana langsung berjalan menghampiri tempat sampah yang berukuran cukup besar lalu membawa nya masuk kedalam ruang kelas para siswa itu.Tanpa berkata lagi Arkana langsung menumpahkan sampah-sampah yang ada di dalam hingga jatuh berserakan didalam kelas.


Bukannya meminta maaf atau merasa bersalah,Arkana justru melempar tong sampah tersebut dan menendang nya ke sembarang arah hingga membuat mereka terdiam dengan kepanikan yang membabi buta.


Arkana kembali keluar kelas untuk menghampiri Aneska,ia melihat Anes yang sedang terperangah karena tidak percaya bahwa Arkana melakukan hal seperti itu kepada mereka.


"Mampus kan,Lo pada si!"


"Mati gue,mana hari ini gue yang piket lagi"


"Siapa si yang kompor-komporin?"


"Lemah banget si jadi cewek" ucap Arkana. "Nyesel kan lo nolak gue?" mendengar perkataan Arkana,Keysha langsung membelalakkan matanya karena terkejut.


"Oh iya gue lupa,Lo kan gak nolak.Berarti sekarang kita pacaran gak?" tanya Arkana.


"Engga!Apaan sih kecilin suara lo,kalo mereka denger mati gue" Arkana hanya menyeringaikan bibir nya karena puas mengusili Aneska.


Keysha masih berdiam diri di tempatnya,darah nya sudah mulai mendidih saat melihat tingkah mereka berdua.Selama bertahun-tahun mereka selalu bersama,Arkana tidak pernah melakukan hal-hal kecil yang menyenangkan atau mengusili dirinya sebagai bentuk rasa perhatian.