
Divia dan Arkana berjalan beriringan menuju kelas mereka, sepanjang perjalanan beberapa siswa perempuan hanya menatap Divia dengan tatapan kesal dan penuh kebencian terhadapnya.
Sepulang latihan,Aneska dan Arkana menepi terlebih dahulu di salah satu mall terdekat untuk membeli setelan pakaian yang akan mereka kenakan di hari acara tersebut.
"Dek,jas warna hitam cocok kalau di pakai sama pacarnya" kata pramuniaga cantik itu,mereka yang sedang sibuk memilih langsung menoleh ke arah wanita tersebut dengan tatapan kebingungan.
"Pa-pacar?" tanya Aneska gugup.
"Iya,kalian pacaran kan?Saya rasa iya"
"Kita gak pacaran kok,sumpah" ucap Aneska.
Arkana yang mendengar pembicaraan mereka langsung berjalan menghampiri lalu merangkul Aneska. "Kamu ngomong apa sih sayang?Kita pacaran loh"
"Hah?"
"Saya benar kan?" tanya pramuniaga tersebut.
"Arka apaan sih?" bisik nya.
"Gak usah malu-malu gitu dong.Maaf ya kak, kebiasaan dia emang selalu malu-malu kayak gini" kata Arkana. "Kalau gitu saya ambil yang ini ya" memberikan kartu kredit nya.
"Kalau begitu tunggu sebentar"
Setelah pramuniaga itu pergi,Aneska langsung mendorong tubuh Arkana agar menjauh darinya. "Lo apaan sih? Kebiasaan deh,lo kan udah punya Divia"
"Ssuuttss!!Udah diem aja"
"Ini, terimakasih sudah berbelanja di toko kami"
"Sama-sama kak" kata Aneska.
"Yuk sayang,kita beli makan" Arkana kembali merangkul Aneska lalu pergi untuk membeli makanan.
Setelah berjalan cukup jauh,Aneska kembali mendorong tubuh Arkana hingga laki-laki itu hampir terjatuh namun Aneska berhasil meraih lengannya. "Kebiasaan lo!"
"Tega banget Lo sama gue"
"Dasar Playboy!" Aneska memalingkan wajahnya kesal.
"Bukan playboy.Andai tadi Lo bilang kalau kita gak pacaran,malu lah gue.Masa ganteng-ganteng gini dikira gak punya pacar"
"Tapi bisa aja kan lo bilang kalau pacar Lo lagi dirumah?"
"Emang lo mau di kita jadi selingkuhan gue? Gini-gini gue menyelamatkan harga diri lo" ucap Arkana angkuh.
"Bodo amat deh,mending sekarang kita cari makan.Laper nih" Aneska langsung berjalan meninggalkan Arkana.
...•••...
Karena beberapa Restoran disana sangat ramai,terpaksa mereka hanya membeli makanan dan menikmati nya di luar Restoran.Karena pikirannya sedang suntuk,Aneska mengajak Arka untuk menikmati makanan tersebut di lantai atap sambil menikmati pemandangan kota di malam hari.
"Ngapain sih kita ke sini?" tanya Arkana kesal.
"Disini sejuk, pemandangan nya juga bagus" Aneska tidak mengakui pandangan nya dari pemandangan tersebut.
"Masuk angin tau rasa Lo"
"Gue suka banget sama pemandangan di ketinggian gini,Lo suka gak?" tanya Aneska, seketika Arkana langsung terdiam karena teringat satu hal.
"Kok diem,suka gak?" tanya Aneska lagi.
"Enggak" jawabnya singkat. "Gue gak suka"
"Cih!Kenapa gak suka?Padahal bagus banget"
"Ya,karena gue gak suka ketinggian" Perkataan nya hanyalah alasan,sejak kecil ia sangat suka dengan ketinggian terlebih lagi sambil menikmati pemandangan indah seperti ini.Ia berbohong karena perkataan Aneska mengingatkan nya pada mendiang Lily.
"HAHA!Gengster,sangar,galak.Tapi takut sama ketinggian" ejek Aneska.
"Gak usah banyak gaya Lo,sepi nih" kalimat terakhir Arkana membuat seluruh tubuh Aneska langsung terasa merinding.
"Ekheem!!Apa maksud lo?" tanya Aneska gugup tetapi Arkana tetap terdiam sambil menatap wajah Aneska dengan ekspresi mesumnya. "Ya-yaelah,bercanda kali.Kaku banget Lo,Ha-HAHAHA!"
"Gak lucu ya?" tanya Aneska. "Jangan gitu dong,gue jadi takut nih"
"Makanya gak usah banyak gaya" Arkana langsung memalingkan wajahnya untuk melihat pemandangan tersebut. "Lo sengaja ya pilih tempat ini buat mancing-mancing gue?"
"Dih, kepedean banget Lo!"
"Udah pulang yuk,udah malem dingin"
"Sebentar,dua puluh menit lagi" kata Aneska.
"Asal Lo tau ya, semakin malam semakin dingin.Semakin dingin semakin ngaco pikiran gue" ucap Arkana.
"Yaudah yaudah!Ayo pulang sekarang" Aneska langsung berjalan meninggalkan Arkana dengan ekspresi wajah nya yang ketakutan.
Karena Arkana masih terdiam di tempatnya,Aneska langsung berjalan kembali dan menarik lengan Arka. "Ayo buruan!"
...•••...
Pagi harinya,dari kejauhan Aneska mendengar suara keramaian dari kelasnya.Dengan segera ia berjalan cepat untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Ia mendapati Divia yang sedang menangis tersedu-sedu di meja nya dengan Salsabila yang terus berusaha menenangkan hati Divia.
"Loh Div lo kenapa?" tanya Aneska yang berlari menuju Divia.
"Nes-"
"Dia kenapa Sal?" tanya Aneska kepada Salsa dan wanita itu hanya menggelengkan kepalanya karena tidak mengetahui apa yang sedang Divia tangisi.
"Lo kenapa?Cerita sama gue"
"Arka"
"Kenapa Arkana?" tanya Aneska lagi.
"Hah?Putus?Baru juga kemarin pacaran" kata Aneska.
"Emang kalian pacaran?" tanya Salsabila.
"Iya"
"Ah gak mau tau pokoknya kita harus balikan,gak rela gue!!!!" Teriaknya.
Aneska langsung pergi keluar kelas meninggalkan Divia yang masih terisak tangis.Dengan amarah nya yang memuncak,ia memutuskan untuk mencari keberadaan Arkana dan menyeretnya untuk meminta alasan kenapa ia memutuskan Divia.
"Eh ngapain lo kesini?Mau caper Lo?" tanya Helia saat Aneska sedang berjalan menuju kelas Arsenio di lantai tiga.
"Minggir" Aneska langsung mendorong tubuh Helia lalu kembali melanjutkan langkahnya dengan amarah yang berkobar-kobar.
Tanpa rasa malu Aneska menerobos masuk ke dalam kelas tersebut,ia tidak melihat keberadaan Arkana disana.Hanya ada siswa laki-laki yang terlihat.
"Aneska,ada apa?" tanya Arsenio ia langsung berjalan menghampiri Aneska yang sedang berdiri mematung di ambang pintu.
"Arkana mana?"
"Gak ada,tadi dia gak ke markas makanya gak bareng" kata Arsenio.
"Yaudah makasih" Aneska langsung kembali untuk mencari Arkana di tempat lain.
Hampir semua tempat sudah Aneska datangi,tetapi tidak ada Arkana di sana.Ada satu tempat yang sangat menarik perhatian Aneska,dengan cepat ia langsung berlari menuju lantai atap karena berharap Arkana berada di sana.
BRAAKKKK!!
Pintu atap terbuka dengan kasar,Arkana dan teman-temannya langsung menoleh karena terkejut.Mereka mendapati Aneska yang sedang berdiri dengan keringat yang membasahi wajah serta suara nafas yang terengah-engah.
"Ngapain Lo?" tanya Ervan sinis sambil berjalan menghampiri Aneska.
"Anes" ucap Arkana.Evan yang hendak berjalan langsung menghentikan langkahnya dan menatap wajah Arkana.
Arkana mematikan sumbu rokok nya lalu berjalan menghampiri Aneska dengan pakaiannya yang terlihat sangat berantakan. "Kenapa lo kesini?"
"Cuma mau,ada yang mau gue omongin sama Lo" ucap Aneska sambil tersenyum manis.Arkana bingung,mengapa sikap Aneska hari ini sangat hangat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya.
"Apa?" tanya Arkana,Aneska terdiam.
Melihat Aneska hanya terdiam, teman-teman Arkana langsung berinisiatif untuk pergi meninggalkan mereka berdua disana.Karena mereka tau bahwa keduanya membutuhkan privasi.
"Yaudah kalau gitu kita cabut duluan ya Ka,kita tunggu di bawah" kata Rafael.
"Iya"
Setelah melihat pintu lantai atap tertutup,Aneska langsung menampar wajah Arkana dengan ekspresi datarnya yang terlihat sangat kesal.
"Kok nampar?" tanya Arkana.
"Lo gila?" tanya balik Aneska.
"Apa maksud lo?"
"Kenapa lo putusin Divia?"
"Ya cuma mau"
"Cuma mau?" tanya Aneska, amarahnya semakin memuncak saat mendengar jawaban Arkana.
"Dari awal gue gak suka,gak cinta sama dia.Terus apa lagi yang mau di pertahanin?" tanya balik Arkana.
"Ya tapi kenapa harus satu hari Arkana?" Rengek Aneska.
"Terus mau kapan?Satu Minggu?Satu bulan?Atau satu tahun?Kalau terlalu lama makin sakit hati dia"
"Kalau Lo gak suka,kenapa lo malah mau jadian sama Divia??"
"Karena gue kasian"
"Kasian?Emang dasarnya lo Playboy ya,nyesel banget gue gak cegah dari awal" kata Aneska.
"Udah tau playboy,mereka aja yang sok-sokan mau pacaran sama cowok badboy" Arkana memalingkan wajah sambil memainkan rambutnya seperti sedang tebar pesona.
"Arrghhh!!!Kesel banget gue sama Lo!" teriak Aneska sambil memukul lengan dan tubuh Arkana.Pukulan itu tidak sakit baginya,namun ia hanya risih.
"Andai lo tau apa alasan gue putusin temen lo itu" ucap Arkana tiba-tiba hingga Aneska langsung menghentikan pukulannya.
"Gue udah tau,gue udah hafal banget" kata Aneska.
"Apa?"
"Pasti lo lagi ngincer cewe lain kan buat disakitin lagi?Udah ketebak jalan otak picik Lo itu" Aneska bertolak pinggang lalu memalingkan wajahnya.
"Lo betul,tapi bukan buat disakitin lagi" ucapnya sambil tersenyum.
"HAHAHA! mustahil"
"Lo mau tau gak siapa cewek nya?" tanya Arkana.
"Gue gak mau tau,tapi lo bikin gue jadi penasaran.Siapa?" tanya Aneska.
"Sini gue bisikin"
"Yaudah ngomong aja sih,kan cuma kita berdua"
"Udah sini" Aneska langsung mendekatkan telinganya ke arah wajah Arkana dengan ekspresi masam.
"Aneska Rabella" bisikan itu langsung membuat seluruh tubuh Aneska terasa merinding.Wajahnya laku membeku karena ia bingung perkataan nya hanyalah candaan atau memang serius.
Sontak Aneska langsung mendorong tubuh Arkana hingga laki-laki itu memundurkan langkahnya dan menjauh dari Aneska. "Gue rasa Lo udah gila beneran,gak usah bercanda Lo!" teriak Aneska.
"Gue rasa lo yang udah gila,gue gak bercanda" ucapnya datar.Aneska terdiam sejenak karena melihat ekspresi wajah Arkana yang benar-benar terlihat serius.
Karena gugup,ia langsung berlari meninggalkan Arkana karena tidak mau terhasut oleh rayuan-rayuan maut laki-laki tersebut.