
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam,tetapi Aneska dan anggota OSIS yang lainnya masih berkumpul di sebuah restoran untuk membahas tentang kegiatan-kegiatan yang akan mereka lakukan setelah acara tersebut.Karena takut jika mereka pulang terlalu malam,maka Aditya memutuskan untuk menyudahi kumpulan tersebut dan menyuruh mereka untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Malam itu hujan turun dengan sangat deras disertai petir yang terus bergema membuat semua orang ketakutan.Beruntung mereka membawa kendaraan masing-masing baik mobil maupun motor, meskipun sebagian lagi ada yang menaiki angkutan umum sama seperti Aneska.
Tidak ada anggota yang jalan pulangnya searah dengan Anes,hal itu membuat ia sangat bingung harus bagaimana.Sementara hingga saat ini ia masih takut jika harus menaiki busway di tengah-tengah hujan lebat malam hari.
"Lo gak pulang Nes?Lagi nunggu jemputan?" tanya Aditya.
"H-hah,engga Dit.Dit gue boleh minta tolong sama Lo gak?"
"Apa?"
"Lo bisa kan anterin gue pulang?Sampe depan komplek aja deh gak apa-apa" ucap Anes memohon.
"Aduh gimana ya,malam ini nyokap bokap gue mau mau pergi ke luar negeri dan gue harus anter mereka ke bandara.Jadi kayaknya gue gak bisa anter Lo pulang,sorry ya"
"Oh, yaudah" Setelah mendengar penolakan Aditya,Anes hanya bisa terdiam karena tidak mungkin ia terus memohon kepada Adit untuk mengantarnya pulang.
"Yaudah kalo gitu gue duluan ya"
"Iya, hati-hati Dit"
"Sampai ketemu hari Senin" Aneska hanya mengangguk.
Ia menunggu taxi di pinggir jalan namun tak kunjung datang, pakaiannya sudah sangat basah karena terkena air hujan.Jika menaiki angkot,Aneska tidak tahu harus menaiki yang mana belum lagi sejak tadi angkot tidak terlihat juga.
Ayahnya sedang bekerja diluar kota,tidak mungkin Anes meminta mama nya untuk menjemput dia.Karena jarak halte bus dengan posisi Aneska tidak terlalu jauh,ia sedikit berjalan menuju halte dan terpaksa pulang dengan menaiki Busway.
Disana hanya ada dirinya sendiri,Jantung Aneska berdetak melebihi ritme nya.Ia mulai mengenang situasi malam itu.Anes mulai terjaga,sambil duduk dan berusaha menghangatkan tubuhnya.Matanya melihat kesana kemari karena takut ada seseorang yang tidak dikenal datang menghampiri nya.
Petir terus mengejutkan Aneska hingga tanpa sadar wanita itu meneteskan air mata ketakutannya.Ia berharap ada orang baik yang datang dan membawanya dari situasi menakutkan seperti itu.
Anes terus menundukkan kepalanya,mengapa rasanya lama sekali menunggu kedatangan busway.Tubuh Anes mulai gemetar saat bayang-bayang kakak laki-laki nya yang bersimbah darah berada di dekatnya.
"Kak Rio" bisik Anes dengan tangisannya yang mulai sesenggukan.Seseorang menghentikan motornya lalu berlari menuju halte untuk berteduh.Seorang pria yang memakai pakaian serba hitam membuat Aneska semakin terjaga.Perlahan ia menjauhkan dirinya dari pria tersebut karena Aneska takut jika kejadian beberapa tahun yang lalu akan terulang lagi.
"Huuuhhh" ucap Pria tersebut sambil membuka helm nya. "Astagfirullah!!" teriak nya ketika melihat Aneska sedang duduk termenung dengan wajah yang tertutup oleh rambut panjangnya.
Arkana, laki-laki itu melihat ke arah kaki Aneska lalu menarik nafas lega karena kakinya masih menapak dan wanita itu bukan hantu.
"Mbak jangan kayak gitu dong,nanti orang salah faham" kata Arkana. "Mana gue habis dari kuburan lagi" bisik Arka kepada dirinya sendiri.
"Jangan bunuh saya" ucap Aneska tiba-tiba.Ia masih berada dalam khayalan nya,Aneska tidak menyadari bahwa pria yang berada di dekatnya adalah Arkana.
"H-hah.Ngga kok,saya anak baik.Eh,seragam nya sama kayak gue" kata Arkana,lalu ia berjalan mendekati Aneska dengan sangat berhati-hati.
"Kamu sekolah di SMA GAMA?" tanya Arkana yang membungkukkan badannya. "Hei kenapa?"
"Saya orang baik kok,ngga juga sih" bisiknya. "Saya Arkana,kamu kenal Arkana kan?"
Mendengar nama Arkana,perlahan Anes mendongakkan kepalanya untuk melihat apakah benar laki-laki itu Arkana yang ia kenali.
"Lah,Lo ngapain disini?" tanya Arkana terkejut.
"Arka!!" tanpa basa-basi Aneska langsung memeluk Arkana hingga laki-laki itu langsung berpegangan pada kursi karena ia hampir saja terjatuh.
"Heh kenapa Lo?" tanya Arka.
"Arka gue takut Arka" pelukannya semakin erat dan tangisannya semakin menjadi-jadi.Aneska tidak mencari kesempatan,ia sangat merasa lega setelah ada orang yang ia kenali datang menemuinya.
Sebenarnya Arka sedikit risih, tetapi saat mendengar Aneska yang ketakutan ia langsung terdiam karena tidak tahu apa yang Aneska takuti. "Lo kenapa?" suara Arkana langsung berubah menjadi lebih lembut saat tangisan Aneska semakin menjadi-jadi.
"Takut...Gue takut" Aneska mengulangi perkataan yang sama.
"Takut kenapa?ada yang jahatin Lo?"
"Gue takut Arka"
Karena kesal mendengar perkataan yang sama,Arkana melepas paksa pelukan Aneska dan wanita itu kembali menundukkan kepalanya ketakutan.
"Gue tau lo takut,tapi kasih tau gue apa yang Lo takutin?" tanya Arkana kesal.
Bukannya menjawab,tangisan Aneska sangat menjadi-jadi dan sesenggukan nya tak kunjung berhenti karena mendapatkan bentakan kecil dari Arkana.
Arkana bingung, disituasi seperti itu ia harus mengalah.Arkana berlutut di hadapan Anes dan bertanya dengan sangat baik-baik tanpa menyinggung perasaan nya lagi.
"Udah nangis nya,sekarang cerita sama gue Lo kenapa?Apa yang lo takutin?" tanya Arkana sambil mengelus-elus lutut Aneska.
"Gue takut"
"Iya takut apa?"
"Gue takut-gue takut hujan malam" ucapnya dengan suara yang masih sesenggukan.
"Terus kenapa jam segini lo masih diluar?Masih pake baju sekolah lagi"
"T-tadi g-gue b-baru selesai k-kumpulan O-OSIS"
"Emang gak ada anggota cowok?", tanya Arkana.
"Ada"
"Kenapa gak minta anter mereka pulang?" Aneska hanya menggelengkan kepalanya.
"Mana baju lo basah kuyup gini,kalo sakit lo juga yang rugi" ucap Arkana yang melepaskan jaket lalu memakaikannya ke tubuh Aneska.Wanita itu hanya melirik aneh ke arah Arkana karena sikapnya sangat berbeda,tidak seperti biasanya.Aneska berfikir jika sifatnya seperti ini maka ia layak disukai oleh banyak wanita.
"Mana hujannya belum reda juga lagi, gimana ya?" tanya Arkana kepada dirinya sendiri.Arka menatap Anes sekilas lalu kembali menatap air hujan yang turun dengan sangat deras.
"Lo kuat dingin gak?" tanya Arkana.
"Hah?"
"Kuat dingin?"
"Lumayan"
"Dari pada Lo nungguin hujan reda yang gak tau kapan,mending gue anter lo pulang sekarang.Mumpung baju lo masih basah juga" kata Arkana.
"Yaudah,tolong bawa gue pulang.Gue mohon sama Lo jangan terlalu lama disini" ucap Aneska yang langsung beranjak dari duduknya.
"Yaudah pake jaket gue yang bener,kebetulan ada helm Rizan"
Arkana berhasil membawa Anes dari tempat yang sangat menyeramkan menurutnya,dalam hati ia tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur dan berterimakasih kepada Allah yang sudah mengabulkan doanya dengan mendatangkan orang baik untuk membantu dirinya.
"Peluk gue aja gak apa-apa" ucap Arkana.
"H-hah" refleks Aneska.
Arka langsung menarik satu persatu lengan Aneska untuk memeluk tubuhnya agar bisa mengurangi kedinginan yang ia rasakan. "Kalo Lo pacar gue,gue bakal marah banget sih sama cowok yang gak mau nganter lo pulang"
"Untungnya lo bukan pacar gue" balas Aneska, sementara Arkana hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Anes yang kembali berbicara seperti biasanya.
"Makanya cari pacar,biar ada yang anter jemput kalo lagi hujan malam kayak gini" kata Arkana.
"Lo pikir pacar gue tukang ojek?Gue bakal perlakuin pacar gue dengan baik suatu saat nanti" ucap Aneska.
"Kenapa kemarin lo tinggalin gue?" tanya Arkana,ia berusaha membuat suasana agar tidak terasa canggung.
"Terus gue harus tungguin kalian selesai ribut? Bisa-bisa dia salah faham sama gue"
"Bakal lebih baik kalo lo terus disana,biar gue kenalin kalo ini pacar gue" ucap Arkana.
"Dan gue bakal langsung bilang kalo lo cuma ngaku-ngaku aja" Arkana tertawa.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Aneska.Hujan sudah mulai reda meskipun masih ada sedikit gerimis kecil. "Makasih banyak ya,gak tau gimana nasib gue kalo gak ada lo"
"Sama-sama.Lain kali kalo ada di posisi kayak gitu lagi,Lo bisa hubungi gue buat minta tolong.Gue emang bukan orang baik,tapi gue bisa kok bantuin Lo" kata Arkana.
"Lo orang baik,kalo lo bukan orang baik mungkin tadi Lo bakal tinggalin gue disana"
"Yaudah masuk sana,nanti Lo sakit.Btw gue cuma ngingetin kalo itu bukan helm gue,tapi helm Rizan" ucap Arkana.
"Oh iya,sorry gue lupa" dengan cepat Aneska langsung melepaskan helm tersebut dan memberikan nya kepada Arkana. "Gimana kalo lo mampir dulu buat minum teh?"
"Gak usah,gak enak udah malem.Gue langsung pulang aja"
"Oh iya ini jaket lo,Lo harus pake biar gak sakit juga" Anes memberikan jaket itu kepada Arkana.
"Sekali lagi makasih banyak ya"
Arkana hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Aneska yang masih berdiri di tempatnya.Ia tersenyum kecil dengan perlakuan Arkana malam ini.Aneska merasa akan lebih baik jika Arkana terus berada di sifat aslinya.