I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 64



Aneska tidak tertidur lelap,ia hanya memejamkan matanya untuk memastikan apakah Arkana dan Divia ada maksud jahat kepadanya atau tidak.Namun sudah satu jam berlalu dan ia mulai merasa sangat bosan dengan aktingnya itu karena tidak memperlihatkan gerak-gerik mencurigakan dari keduanya.


Arkana mendapatkan panggilan dari pihak kepolisian yang telah meringkus Aditya bersama komplotan nya itu,entah dari mana pak polisi tersebut bisa mendapatkan nomor telpon pribadinya.


Polisi itu mengatakan bahwa mereka telah bekerja sama dengan agen rahasia dari badan intelijen untuk menyelidiki dimana keberadaan kedua orang tua Aditya berada.Mereka tidak menemukan nya di selat Malaka,tetapi agen rahasia lain berhasil meringkus sang ayah yang sedang berada di daerah pertambangan miliknya.


Polisi juga mengatakan bahwa mereka telah menemukan jejak bahwa Resya pergi meninggalkan selat Malaka satu hari yang lalu,bukti nyata itu mereka dapatkan dari kamera cctv yang berada di bandara penerbangan.


"Gue harus pergi dulu,pasti nanti balik lagi.Jaga Aneska ya" ucap Arkana kepada Divia dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.


...•••...


"Aku udah sampai,pabrik tua ditengah-tengah lahan tandus" ucap Bintang.


"Tunggu,kamu harus tetap tinggal di rumah itu.Kalau tiba-tiba kamu denger suara teko bunyi,kamu boleh pergi dari rumah"


"Apa maksudnya?Kenapa kode nya rumit banget?Teko bunyi?Apa sih?"


"Kamu pasti ngerti dengan kondisi aku sekarang.Udah dulu ya,aku harus pesan ayam goreng karena udah lapar" kata Erika. "Inget satu hal,tetap di rumah itu dan jangan pergi dulu sampai terdengar suara teko berbunyi"


Erika langsung mematikan panggilan tersebut saat mengetahui bahwa Bintang sudah berada didekat lokasinya saat ini.


"Lo gila ya?Ah lupa,orang yang mau mati emang suka bicara sesukanya" kata Resya. "Mana sini hp gue"


"Nanti dulu"


"Apalagi??" tanya Resya kesal.


"Seenggaknya biarin gue makan ayam goreng untuk terakhir kalinya"


"Apa?Apa maksud lo?Lo beneran gila ya?"


"Gue masih manusia,masih punya rasa lapar.Biarin gue makan ayam goreng dulu,Lo mau gue mati jadi arwah ayam goreng?" tanya Erika.


"Hashh,yaudah buruan"


Bukannya menekan nomor pemesanan ayam goreng,Erika malah menghubungi kantor polisi agar mereka bisa datang ke lokasi tersebut untuk membantu Bintang dan membawa semua penjahat ini untuk ditindak lanjuti.


"Halo selamat malam" sapa polisi tersebut.


"Halo,saya Erika.Mau memesan dua paket ayam goreng yang berukuran jumbo" kata Erika.


"Maaf,tapi ini bukan tempat penjualan ayam goreng.Anda salah menghubungi"


"Nggak,ini bener kok" kemudian Erika memberikan alamatnya kepada polisi tersebut. "Saya pesan yang berukuran jumbo"


"Tunggu,apakah anda sedang dalam bahaya?" tanya polisi tersebut yang mulai curiga.


"Ya,sekarang saya lapar banget.Makanya antar pesanan saya secepatnya ya"


"Siapa saja yang ada di sekitar anda?"


"Saya pesan cola ukuran 500 ml dan ayam goreng jumbo tapi yang saya mau hanya berisi 8-10 ayam"


"Apakah mereka membawa senjata tajam atau sebagainya?"


"Ayam itu harus ditembak menggunakan api pemanas agar kulitnya terasa lebih renyah"


"Baik,kami akan datang dalam waktu 10 menit dari sekarang"


"Nih,sepuluh menit lagi ayam goreng datang" ucap Erika sambil memberikan ponsel tersebut kepada Resya.


Lima mobil polisi datang tanpa menyalakan sirine nya,hal itu sengaja mereka lakukan agar Resya dan para anak buahnya tidak akan sempat melarikan diri.


"Sampai kapan kita harus menunggu disini?" tanya Alfredo.


"Saya rasa sekarang,ayo" dengan cepat Bintang dan Alfredo langsung berlari menuju pabrik tua tersebut.


"Siapa kalian?" tanya salah satu polisi tersebut.


"Bapak gak kenal saya?" tanya Bintang.


"Ah pak Bintang,tapi kenapa bapak ada disini?"


"Berhenti nanya,istri saya ada di dalam.Ayo buruan" mereka mendapati beberapa laki-laki sedang berdiri di hadapan Erika dengan pistol di tangannya.


"Angkat tangan!" teriak salah satu polisi.


"Ada apa ini?" tanya Resya terkejut.


"Amankan seluruh senjata yang mereka bawa"


"Baik pak"


"Pesanan ayam sudah datang" seru Erika dengan wajahnya yang masih tertutup kain itu.


"Lo,sialan!" gerutu Resya kesal.


"Kami gak apa-apa?" tanya Bintang sambil membukakan ikatan di tangan dan kaki serta penutup wajah tersebut.


"Gak apa-apa" ucapnya. "Tapi..."


"Kenapa?" tanya Bintang lagi.


"Sepatu edisi terbatas buat Aneska jadi ilang gara-gara si cewek sialan ini" dengan kesal Erika langsung berjalan menghampiri Resya dan menendang tubuh wanita tersebut,namun rencana nya tidak berhasil karena Bintang langsung mencegah tindakan istrinya.


"Bawa mereka sekarang" ucap salah satu polisi.


"Baik pak"


"Mereka pasti di penjara kan pak?" tanya Bintang.


"Ya, mengingat beberapa dari mereka adalah mantan narapidana yang terjerat kasus serius.Ditambah lagi dengan banyaknya kasus yang terkait dengan wanita tersebut,jika dilihat pasti hukumannya tidak akan bisa ditangguhkan"


"Hanya hakim yang bisa memutuskan nya.Kalau begitu kami permisi"


"Makasih banyak pak" ucap Alfredo.


"Ayo kita pulang" ajak Bintang.


"Tapi kan kita harus ke rumah sa-"


"Masih ada besok" karena Bintang memotong perkataan nya,maka Erika hanya bisa pasrah untuk menuruti perkataan sang suami.


...•••...


Arkana sedang berdiam diri di halaman rumah mewah tersebut.Ia sedang berfikir apakah akan melanjutkan niatnya atau tidak.Arkana ragu dan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit menemui Aneska.


Tapi baru saja ia membalikkan tubuhnya, seorang pria menyapa Arkana dengan sangat ramah dan bertanya apa tujuan ia datang ke rumah itu di malam hari.


"Den Arka" panggil salah satu satpam penjaga rumah tersebut.


"Mang Diman"


"Ada apa?Kenapa cuma berdiri disini saja?Ayo masuk"


"Ngga mang" ucap Arkana dengan cepat.


"Terus kenapa ada disini malem-malem?" tanya Mang Diman kebingungan.


"Itu...Keysha nya ada?" niat Arkana datang ke rumah Keysha adalah hanya untuk meluruskan dan meminta maaf atas kesalahpahaman ini.Ia merasa sangat bersalah karena telah memberikan perkataan kasar kepada sahabat itu.


"Ada,ayo silahkan masuk" ucap mang Diman lagi yang hendak membuka pintu gerbang rumah mewah tersebut.


"Gak usah mang,disini aja"


"Yaudah kalau gitu saya panggil dulu non Keysha nya"


"Jangan,biar saya telpon aja mang"


Mang Diman merasakan ada sesuatu yang berbeda,ia mengerti bahwa mereka sedang berada dalam masalah nya masing-masing.Maka dengan itu mang Diman memutuskan untuk membiarkan apa yang akan Arkana lakukan dan kembali masuk ke dalam pos jaga nya.


"Yasudah kalau begitu,saya masuk dulu"


"Iya mang"


Berkali-kali Arkana menghubungi nomor Keysha,namun wanita itu tak kunjung menerimanya.Saat Arkana memberikan pesan singkat,sontak Keysha langsung menelpon balik Arkana dengan suaranya yang terdengar panik sekaligus kebingungan.


"Ngapain lo disana?" tanya Keysha,Arkana bisa melihat wanita itu sedang mengintip dibalik kaca kamarnya yang berada di lantai dua.


"Turun sekarang,gue mau bicara"


"Gak,udah malem.Gue ngantuk"


"Kalau gitu gue bakal tunggu disini,sampai besok juga gak perduli" ucap Arkana.Keysha tahu betul bahwa laki-laki itu tidak hanya asal bicara.Jika ia memberikan nya,maka Arkana akan benar-benar menunggu di depan sana hingga keesokan harinya.


Setelah menutup panggilan,lima menit kemudian wanita itu keluar rumah dan berjalan menghampiri Arkana yang sedang berdiri di luar gerbang.


"Kenapa?" tanya Keysha dengan wajahnya yang tidak menatap Arkana sedikit pun.


Laki-laki itu melihat bahwa mang Diman diam-diam sedang berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka,maka dengan itu Arkana langsung menarik lengan Keysha untuk membawanya ke tempat yang sedikit jauh dari keberadaan gerbang tersebut.


"Kenapa sih?" tanya Keysha lagi.


"Gue kesini mau minta maaf"


"Buat?"


"Buat yang kemarin,gue tau kalau gue salah.Makanya gue mau minta maaf sama Lo" ucap Arkana lagi.


"Berarti kalau gue gak salah,Lo gak mau minta maaf?"


"Udah,cuma itu aja.Mau maafin atau ngga,itu terserah Lo yang penting gue udah minta maaf dengan tulus" Setelah mengucapkan perkataan maaf nya,Arkana langsung kembali berjalan menghampiri motor untuk pergi dari wilayah tersebut.


"Seharusnya Lo gak usah repot-repot kesini buat minta maaf,bikin sakit hati aja tau gak?" tanya Keysha.


"Gue cuma aku lurusin kesalahpahaman,jadi mulai sekarang kalau Lo mau ke rumah dateng aja"


"Gak bisa"


"Kenapa?" tanya Arkana.


"Dua hari lagi gue sama nyokap bokap bakal pindah dari rumah ini,gue harap semoga kita bisa ketemu lagi" kata Keysha.


"Pindah.Kemana?"


"Amerika.Gue mau sekolah dan kuliah disana,bokap gue juga lagi jalanin bisnis disana"


"Jauh ya" ucap Arkana dengan singkat. "Tapi jaman sekarang teknologi udah maju,Lo bisa hubungi nyokap gue kalau kangen sama mereka.Kalau gitu gue pergi dulu"


"Lo gak mau peluk gue?Kita bersahabat dari kecil,sekarang gue mau pergi ke tempat yang jauh apa Lo gak mau peluk gue?" tanya Keysha.Perkataan wanita itu membuat Arkana langsung menghentikan langkahnya lagi.


Perlahan Arkana mengulurkan tangannya untuk mengajak Keysha berjabat tangan.Hanya itu yang bisa Arkana berikan,ia tidak mau lebih.


"Padahal gue pengen banget peluk Lo" ucap Keysha.


"Kita emang bersahabat.Tapi ketika gue peluk Lo,yang ada di fikiran Lo adalah gue ini sebagai pacar bukan sahabat.Kalau Lo gak mau berjabat tangan sama gue juga gak apa-apa"


Karena tidak ada pilihan lain,Keysha terpaksa harus memilih untuk berjabat tangan dengan hatinya yang terasa begitu berat dan juga mata yang tidak kuasa menahan tangisannya.


"Kalau gitu gue pergi dulu.Salam buat om Gibran dan Tante Novia.Jangan nangis" dengan cepat Arkana langsung pergi meninggalkan Keysha yang masih berdiri di tempatnya.


Bukannya tega dan jahat,justru jika Arkana semakin lama berada disana maka Keysha akan semakin memiliki harapan yang lebih terhadap Arkana.Ia tidak mau jika sahabat nya merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya.