I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 57



Nicholas,Marvel,Davit,Axel dan Galen terus memacu kendaraan nya dengan kecepatan diatas rata-rata.Bagaimana pun situasi jalanan saat itu,mereka harus berhasil mengawal Aneska untuk sampai di rumah sakit dengan waktu yang jauh lebih cepat.


Namun perlahan satu persatu motor mereka mulai melambat karena kondisi jalan yang sedang macet parah.Tentu saja mereka frustasi karena tidak mungkin jika harus berbalik arah yang akan memakan waktu lebih banyak lagi.


"Gimana ini?Macet banget" ucap Galen bingung.


"Apa kita puter arah aja terus cari jalan lain?" tanya Marvel.


"Gak bisa,butuh waktu lama lagi.Kita harus cepet-cepet bawa Anes ke rumah sakit" ucap Axel dengan sikap tegasnya.


"Gimana mau puter balik?Dibelakang udah banyak kendaraan.Bakal lebih banyak makan waktu lagi".


"Gue punya ide" diamnya Nicholas adalah emas, begitulah yang mereka tahu. "Kita semua turun dan kasih tau sama mereka semua buat kasih jalan dulu karena keadaan darurat"


"Pinter Lo.Yaudah ayo buruan"


Dengan cepat mereka langsung menjalankan aksinya dengan berteriak sekeras mungkin agar para pengguna jalan bisa memberikan lahan untuk mobil tersebut melintas.


Beruntung nya para pengguna jalan sangat mengerti dengan kondisinya genting yang sedang mereka hadapi.Saat jalan sudah terbuka, tiba-tiba Arkana datang bersama yang lainnya dan memimpin perjalanan agar bisa berjalan dengan lancar sampai tiba di rumah sakit nanti.


Suara derungan motor tersebut semakin meramaikan suasana kota di siang hari,ditambah dengan kecepatan mereka yang diatas rata-rata.


Sesampainya di sana,Aneska langsung di bawa menuju ruang IGD untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.Suara decitan brankar bergema di sepanjang koridor rumah sakit, bersamaan dengan suara langkah kaki para tenaga medis dan Arkana yang ikut membantu mereka.


Arkana harus bersabar untuk menunggu di luar,karena tenaga medis akan menangani luka parah yang Aneska dapatkan.


Laki-laki itu hanya bisa menendang kursi yang ada di hadapannya dengan sekuat tenaga,lalu melepaskan kedua sarung tangan yang ia pakai dan melemparkannya ke sembarang arah.


Tak lama tim inti datang menghampiri Arkana dengan wajah cemas.Rafael,Rizan,Arsenio,Axel dan Bagas hanya bisa duduk terdiam karena tidak tahu Haris berbuat apa.


"Gue udah suruh yang lain buat balik ke markas" ucap Rafael sambil merangkul sahabat nya itu sedangkan Arkana hanya mengangguk.


"Tapi gue-" ucap Rizan. "Gue masih gak habis pikir aja, kenapa si anak kesayangan guru itu ternyata sikapnya brengsek kayak gini.Kalian liat kan tadi? Barusan itu,gue liat jelas kalau dia ci-"


"Apa Lo belum makan malam?" tanya Arsenio yang memotong perkataan Rizan karena sengaja.Jika diingatkan lagi dengan apa yang mereka lihat,maka amarah Arkana pasti akan memuncak lagi.


"Bangsen,ini bukan saat nya lo tanya gue udah makan malam atau belum.Ini saatnya kit-"


"Ayo gue traktir" potongnya lagi.


"Serius?" tanya Rizan yang langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Arsenio dengan wajah berbinar-binar. "Serius gak nih?"


"Ayo" tanpa banyak bicara lagi,Arsenio langsung berjalan pergi mendahului dan Rizan terus mengikuti nya dari belakang.


"Apa mungkin pelaku penembakan itu ternyata bukan Eca?" tanya Rafael dengan sangat berhati-hati.


Arkana menoleh dengan sorot mata tajamnya hingga laki-laki itu langsung menundukkan pandangan nya. "Apa Lo berfikir kayak gitu?" tanya Arkana.


"Gue juga masih keliru,itupun karena omongan Rizan tadi" kata Rafael.


"Kita semua kan tau kalau dia suka asal bicara,kalau ternyata dia salah gimana?" tanya Arkana.


"Sorry ya Ka,bukan bermaksud buat ikut campur.Tapi menurut gue,pelaku penembakan itu Adit.Lo liat sendiri kan gimana brutal nya dia ninggalin luka parah di tubuh Aneska?" ucap Axel.


"Gimana Anes?Dokter udah kasih kabar?" tanya Faranisa yang ikut masuk kedalam pembicaraan mereka.


"Lo masih disini" tanya Rafael.


"Gue mau tau dulu kondisi Aneska"


"Ngomong-ngomong Lo baru kasih cerita versi pendek.Menurut gue sekarang ada waktu luang sambil nunggu kabar Aneska di dalem,sekarang Lo bisa ceritain versi panjang nya ke gue sekarang juga" kata Arkana.


"Sini duduk" Bagas mempersilahkan Faranisa untuk duduk di tempatnya.


Wanita itu mulai menceritakan kisah dari awal saat Aneska tidak sengaja melihatnya di jalan tadi,lalu secara diam-diam wanita itu mengikuti nya hingga ke pekarangan rumah.Sampai akhirnya Aneska bertemu dan dibawa oleh laki-laki itu dengan cara paksa.


"Tapi kenapa Aditya bisa ada di lingkungan rumah lo?" tanya Rafael.


"Sebenernya itu bukan rumah gue,itu rumah kumuh yang sengaja Aditya beli buat gue"


"Jangan buang-buang waktu,cepet kasih tau gue kenapa si brengsek itu beliin Lo rumah di lingkungan kumuh?" tanya Arkana.


"Karena gue lagi hamil anak dia" dengan rasa percaya dirinya yang pas-pasan,Faranisa memberanikan diri untuk menyatakan hal yang sejujurnya sambil menatap lekat wajah Arkana dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Mereka semua terkejut, Bagas langsung membuka mulutnya lebar-lebar karena benar-benar sangat terkejut.Melihat hal itu,Axel langsung menutup mulut Bagas menggunakan tangannya karena khawatir jika ada serangga yang akan masuk kedalam muluk busuknya itu.


"L-Lo hamil?" tanya Rafael dan Faranisa hanya mengangguk.


"Laki-laki brengsek itu udah berhasil hancurin masa depan gue,masa remaja gue" wanita itu terus menahan isak tangisnya.


"Kenapa bisa Lo dihamilin sama dia?" tanya Bagas dengan wajah polosnya.Seolah-olah sedang melupakan perjuangan tenaga medis di dalam sana,mereka terus memberikan pertanyaan seputar kebrengsekan sikap Aditya terhadap wanita.


"Awalnya gue suka sama dia karena gue fikir dia itu laki-laki baik yang pintar,penurut dan bertanggung jawab.Tapi ternyata gue salah"


"Suatu hari Aditya tau kalau gue suka sama dia,semua itu karena keributan di kantin waktu gue berantem sana Aneska" ucap Faranisa.


"Setelah dia tau tentang gimana perasaan gue ke dia,Aditya si laki-laki brengsek itu ngambil kesempatan buat hancurin hidup gue.Dia jauh lebih buruk dari kalian sebagai anak geng motor".


"Jauh lebih buruk?" tanya Rafael bingung.


"Hari itu,hari dimana kebahagiaan gue hilang secara paksa.Dia sempat bisikin kata-kata sampah yang seharusnya gak gue denger"


"Apa?" tanya Arkana.


"Dia mau tidurin semua perempuan yang suka sama dia,itu prinsip hidupnya" sontak Arkana langsung terdiam dengan wajah datarnya.


"Kayaknya Lo harus cek latar belakang keluarga nya juga,biar tau siapa dia sebenarnya" ucap Faranisa.


"Kenapa?Kenapa harus?" tanya Arkana.


"Karena waktu itu gue sempet liat beberapa orang pake jaket yang sama,gue rasa mereka antek-antek otak kriminalnya juga.Gak mungkin kan kalau dia berani bertindak lebih jauh kalau gak ada dukungan dari orang lain?" tanya Faranisa.


Setelah mendengar saran Faranisa,Arkana langsung berlari cepat untuk pulang ke rumah dan bertemu dengan papanya hanya karena ingin menanyakan hal tersebut.


"Wah gue pikir Arkana makhluk terbrengsek di bumi ini,ternyata masih ada lagi suhu nya" gumam Bagas setelah Arkana sudah tidak ada di tempatnya.


"Kalau gitu gue anter Lo pulang sekarang" ucap Rafael tiba-tiba.


"Pulang? ngedenger nya aja udah bikin gue merinding" kata Faranisa.


"Kenapa?" tanya Bagas yang langsung duduk di hadapan wanita itu karena mengasihani nya.


"Gue udah terlanjur di usir sama keluarga karena gue udah dianggap sebagai aib mereka.Kalau pulang ke rumah itu,kayaknya gue gak mau lagi.Gue rasa udah gak aman kalau harus tinggal disana"


"Yaudah Lo pulang ke rumah gue aja" kata Rafael,sontak kedua temannya langsung menatap wajah laki-laki itu.


"Apa maksud Lo? Perempuan sama laki-laki gak boleh tinggal satu rumah,apalagi bokap sama nyokap Lo lagi di Hongkong.Wah parah Lo" ucap Bagas.


"Tapi gue kan bakal balik lagi kesini,atau bisa tidur di markas"


"Gak usah El,makasih banyak bantuannya"


"Atau malam ini Lo tidur di rumah Aneska aja gimana?Di rumah dia gak ada siapa-siapa" kata Rafael.


"Bokap nyokap nya?" tanya Faranisa yang belum mengetahui tentang hal itu.


"Udah gak ada,udah meninggal"


"Oh maaf gue gak tau.Tapi gak enak juga kalau gak ada tuan rumahnya"


"Biar gue telfon Divia buat temenin Lo" Rafael langsung menghubungi sahabat Aneska itu sekaligus untuk memberitahu kabar buruk tentang sahabat nya.


"Kayaknya gak usah deh,pasti ngerepotin"


"Terus Lo mau kemana?Gue gak kasian sama lo,tapi gue gak tega aja sama anak Lo" ucap Bagas dengan emosional nya itu.