
Hari demi hari berlalu dan kondisi Aneska sudah benar-benar membaik.Ia di perbolehkan untuk pulang,namun harus tetap menjaga aktivitas agar luka operasi nya tidak terbuka lagi.
Aneska sangat senang karena bisa kembali kerumah dan bercengkrama dengan teman-teman nya di sekolah.Tetapi mungkin rasa bahagia nya akan menghilang kembali saat mengetahui kabar bahwa kedua orang tua nya telah meninggal dunia sejak beberapa hari yang lalu.
"Makasih ya om,tante.Kalian udah repot-repot buat jagain aku sampai aku pulang ke rumah" ucap Erika saat mereka sedang berkumpul di ruang tamu.
"Iya sama-sama,kamu gak ngerepotin kok"
"Kamu gak bilang terimakasih sama aku?" tanya Arkana cemburu,wanita itu langsung tersenyum malu dan memalingkan wajah nya.
"Makasih"
"Cih!Gitu doang"
"Ya terus kamu mau apa?Gak usah kode-kode yang aneh-aneh" ucap Bintang kesal.
"Dih kok malah papa yang sensitif?"
"Udah,kenapa sih kalian berantem terus?" tanya Erika yang berusaha untuk mengakhiri perdebatan mereka.
Seketika suasana menjadi sangat hening,Arkana bingung harus menceritakan dari mana.Ia takut jika kondisi Aneska akan memburuk lagi ketika mendengar kabar tidak mengenakkan tersebut.
"Nes" panggil Arkana.
"Iya?"
"Emmm..." menatap kedua orang tuanya dengan wajah bingung.Sementara itu Erika dan Bintang hanya menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Arkana.
"Ekhemm!"
"Kenapa sih?Ada apa?" tanya Aneska bingung.
"Janji gak boleh sedih ya?" tanya Arkana.
"Kamu kenapa sih?Kok tiba-tiba jadi aneh kayak gini"
"Janji!"
"Ya kenapa?Kami cerita dulu"
"Janji" Arkana terus mengulangi perkataan nya.
"Iya janji"
Arkana menarik nafas panjang untuk memulai pembicaraan tersebut,ia benar-benar sangat gugup dan tidak tega saat harus memberikan kabar buruk itu kepada Aneska. "Mama papa kamu udah gak ada"
Deg!
"Apa maksud kamu?Mereka emang lagi gak ada di rumah" wajah Aneska mulai memias,ia sangat mengerti dengan apa yang Arkana katakan.Namun ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal itu tidak benar-benar terjadi.
"Bukan gitu-"
"Apa maksud kamu?" tanya Aneska lagi.
"Biar aku ceritain dulu"
"Oke" ucap Aneska dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Beberapa hari yang lalu waktu kamu masih belum siuman,Divia dapet kabar dari salah satu staff perusahaan papa kamu.Orang itu bilang kalau mama dan papa kamu jadi korban kapal tenggelam,mereka dinyatakan meninggal karena sampai saat ini jasad nya belum ketemu" kata Arkana.
"Aku gak ngerti maksud kamu" Aneska mulai mengeluarkan seluruh air mata yang sudah ia tampung sejak tadi di dalam kantung matanya.Erika ikut menangis,begitu juga dengan Arkana namun tidak dengan Bintang.
"Anes jangan nangis" bisik Arkana.
"Kamu jahat banget,mamah sama ayah belum meninggal!Mereka ada di luar kota!" Teriaknya.
"Anes,Anes harus sabar.Kamu harus bisa terima kenyataan kalau mereka udah gak ada di dunia ini,kamu gak boleh nangis karena mereka udah bahagia disana" Erika berjalan mendekati Aneska lalu memeluknya.
"Tante gak mungkin"
"Semua orang punya takdir nya masing-masing dan jalan takdir kamu udah seperti ini"
"Gak,kalau mereka pergi aku sama siapa" tangisan Aneska semakin menjadi-jadi di dalam pelukan Erika.
"Kamu jangan merasa sendiri,kan ada kita.Ada Arkana,om dan Tante yang bisa kamu anggap sebagai keluarga sendiri.Kalau kamu kesepian kamu bisa dateng ke rumah kita,kalau kamu sedih atau bahagia kamu bisa cerita sama Tante.Kalau kamu ketakutan kamu bisa minta perlindungan om dan Arkana"
"Tapi rasanya beda,aku mau ikut aja sama mereka" rengek Aneska.
"Anes gak boleh ngomong kayak gitu" ucap Arkana kesal.
"Kamu gak boleh teriak-teriak Aneska,luka di perut kamu belum sembuh total" omel Erika. "Kamu harus percaya atau perlu kamu tinggal satu rumah dengan kita?Kamu mau?"
Aneska terdiam sejenak,setelah beberapa saat ia baru menjawab tawaran Eriak dengan menggelengkan kepalanya tanda tidak mau. "Kamu perempuan kuat, berhenti nangis dan bilang sama semua orang kalau kamu mampu hidup tanpa kedua orang tua.Kamu bukan anak perempuan yang manja dan cengeng,kamu anak kuat".
Mendengar perkataan Erika, Wanita itu merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.Perlahan Aneska mulai berhenti menangis dan menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya. "Tante tau persis perasaan kamu, lebih dari siapapun"
"Janji kalau ada sesuatu kamu mau berbagi cerita sama kita?" tanya Erika dan Aneska hanya menganggukkan kepalanya.
"Senyum dulu dong" Arkana berusaha untuk merayu wanita itu agar kembali tersenyum seperti beberapa menit yang lalu. "Ayo senyum"
"Apa sih kamu,aku gak mau" ucap Aneska malu-malu dan langsung memeluk Erika agar wajah nya yang memerah dapat tertutupi.
...•••...
Divia datang berkunjung ke rumah Aneska di siang hari bersamaan dengan kedua orang tua Arkana yang baru saja pergi meninggalkan rumah Aneska. "Eh,gue ganggu ya?" tanya Divia saat melihat hanya ada mereka di dalam rumah.
"Engga apaan sih" ucap Aneska tersipu malu. "Lo udah tau?"
"Udah tau,Apa?" Divia masih belum menyadari dengan apa yang sedang Aneska pertanyakan.Saat menatap Arkana,wanita itu langsung tersadar dan berjalan menghampiri Aneska untuk memeluknya.
"Maafin gue karena gak kasih tau Lo,Arkana yang suruh" ucap Divia yang mulai terisak tangisannya.
"Jangan nangis dong,gue jadi ikutan sedih lagi"
"Tau lu ganggu aja,jauh jauh" Arkana berusaha melepaskan pelukan Divia dan menyuruhnya untuk tidak menangis karena ia takut jika Aneska ikut bersedih lagi.
"Ya sorry, habisnya gue sedih banget"
"Arka" panggil Aneska.
"Apa?"
"Boleh minta tolong?" tanya wanita itu dengan suaranya yang lembut.
"Boleh dong,kenapa?"
"Anter aku yuk!" ajaknya.
"Kemana?"
"Nanti aku kasih tau"
"Tapi kamu kan baru aja pulang dari ru-"
"Mau gak?" tanya Aneska dengan wajah datarnya hingga membuat Arkana langsung takluk untuk menuruti permintaan wanita nya itu.
"Yaudah ayo,tapi sebentar aja ya?"
"Iya" ucap Aneska. "Lo mau ikut?"
"Gu-gue?Ah engga, kayaknya gue nunggu disini aja deh" Divia memang sangat mengerti dengan apa yang Arkana inginkan.
"Bagus,yaudah yuk" Arkana mengulurkan tangannya.
1 jam kemudian mereka sampai di tempat wisata pantai terdekat.Arkana bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Aneska.Belum lagi saat dijalan tadi Aneska memintanya untuk membelikan bunga tabur di toko bunga.
"Kenapa kamu mau kesini?Ini bunga buat apa?" tanya Arkana kebingungan.
"Aku mau berkunjung ke rumah mamah dan ayah,aku gak tau harus pergi kemana.Makanya aku ajak kamu kesini"
"Oh gitu,yaudah terus sekarang kita mau ngapain?"
"Aku mau naik perahu ke tengah laut"
"Ke tengah laut ya?" tanah Arkana sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa Gatak sama sekali. "Tapi kan ditengah lau anginnya kenceng banget,aku takut kamu sakit lagi"
"Gak bakal,cuma sebentar kok"
Arkana paling tidak bisa jika harus menolak permintaan wanita yang ada di hadapannya.Maka dengan berat hati ia menuruti permintaan Aneska untuk pergi ke tengah laut.
Perahu berukuran sedang yang mereka naiki berhenti di sekitar laut lepas,tanpa menunggu lama Aneska langsung menaburi bunga itu di air laut yang terlihat sangat tenang.
"Aku gak tau kalian masih hidup atau enggak,semoga mamah dan ayah tenang di alam sana.Aku berharap ada keajaiban yang datang, aku berharap kalian masih hidup dan terdampar di suatu tempat.Meskipun gak akan pernah bisa bertemu lagi,aku berharap kalian masih hidup dengan layak dan sehat.Aamiin"
"Udah yuk,anginnya kenceng banget" kata Arkana.
"Iya,ini udah"