I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 33



Di gerbang sekolah,tidak sengaja mereka bertemu.Wajah Divia terlihat lebih bahagia dari sebelum-sebelumnya,hingga membuat Aneska menjadi bingung.


"Kenapa Lo?Tumben banget,ada berita bagus ya?" tanya Aneska penasaran.


"Ada,baguss banget!"


"Apa?Berita apa?Kasih tau gue dong"


"Ada deh" ucap Divia yang sengaja untuk membuat Aneska semakin penasaran.


"Ck!Sekarang gitu lo ya"


"Iya deh,gue kasih tau tapi lo jangan kaget ya"


"Apa?" tanya Aneska.


"Gue...Gue udah resmi jadian sama Arkana!!" bisik Divia,ia tersenyum bahagia sambil terus meloncat-loncat di hadapan Aneska.Aneska bingung harus bagaimana menanggapi berita itu,di satu sisi itu merupakan berita bagus karena Divia terlihat sangat bahagia tetapi di sisi lain itu juga termasuk berita buruk baginya karena ia takut Arkana hanya akan mempermainkan hati Divia.


"Kok lo diem aja sih?Gak seneng ya kalau gue jadian sama Arka?"


"Wa-waahh,Waahhh!" Aneska pura-pura takjub dengan hal tersebut. "Waah selamat ya semoga langgeng sampai kakek nenek"


Aneska benar-benar malas jika harus mengatakan hal itu,karena ia tahu bahwa hubungan mereka hanya akan bertahan beberapa hari saja.


"Kenapa?Dari sekian banyak laki-laki baik dan ganteng,kenapa harus Arkana Melviano?"


"Arka!!" teriak Divia sambil melambaikan tangannya saat melihat Arkana sedang berjalan bersama teman-teman satu geng motor nya dari kejauhan.


"Divi!" bisik Aneska sambil menarik lengan Divia. "Jangan teriak-teriak.Nanti kalau mereka tau,Lo bisa di serang tau gak?"


"Apaan sih,biarin aja kalau mereka mau serang gue.Kan ada Arkana yang bakal jagain" Divia langsung melepaskan genggaman tangan Aneska lalu berlari menghampiri Arkana.


"Kok jadi ninggalin gue sih?" bisik Aneska kesal.


"Lah,ngapain lo pegang-pegang tangan Arkana?" tanya Bagas dengan wajah kesal nya.


"Lepasin,nanti ngamuk tau rasa Lo" bisik Rizan.


"Dih!Kenapa harus ngamuk? Kamu gak akan marah sama aku kan sayang?" tanya Divia sambil menggandeng lengan Arkana.


"HAH!" teriak Rizan terkejut.


"Heh,jangan sembarangan Lo" sahut Rafael.


"Cabut cabut deh sana,huuus!!husss!!" timpal Bagas mengusir.


"Kita udah jadian,iya kan sayang?" tanya Divia.


"Dia bohong kan?" tanya Rizan kepada Arkana.


"Gak mungkin kan?" tanya Rafael.


"Enggak lah gak mungkin" sahut Bagas.


"Kamu bilang dong sayang!" ucap Divia.


"Iya" ucap Arkana dengan singkat hingga membuat mereka langsung terdiam.


Aneska masih berdiri dari kejauhan sambil menatap mereka,Setelah mendengar perkataan Arkana ia langsung pergi menuju kelasnya.


"Yaudah sana gih ke kelas" bisik Arkana.


"Yaudah aku duluan ya,awas kamu jangan sampai terlambat"


"Iya". Teman-teman Arkana hanya menatap kepergian Divia dengan tatapan Aneh,Aneh mengapa Arkana mau berpacaran dengan Divia.


"Serius Lo?" bisik Rizan sambil merangkul Arkana.


"Kenapa harus dia?Kan masih banyak cewek lain" ucap Rafael.


"Dia suka sama gue,terus gue harus gimana?"


Tentu saja tidak hanya teman-teman Arkana yang terkejut dengan perkataan Divia dan Arkana barusan,tetapi siswa lain yang berada di sekitar sana pun juga sangat terkejut.Bagaimana bisa Arkana berpacaran dengan Divia yang menurut mereka tingkat kepopuleran nya tidak sebanding dengan Arkana.


"*Serius nih?"


"Lah, bukannya kemarin sama si Anes?Kok sekarang sama si Divia?"


"Dia sahabat nya Anes kan?Kok bisa sih?"


"Definisi teman makan teman nih"


"Ribut gak ya mereka*?"


...•••...


"Nes ke kantin yuk!" ajak Divia saat jam istirahat tiba.


"Ayo,tapi anter gue ke ruang guru dulu ya buat simpen buku ini.Gue gak mampu bawa sendiri soalnya" kata Aneska.


"Yah sekarang aja"


"Iya sebentar lagi"


"Ayo dong sekarang aja"


"Arkana udah duluan soalnya,nanti kalau gue terlambat dia keburu pergi ke belakang sekolah" Aneska langsung terdiam saat mendengar alasan Divia.


"Oh,yaudah duluan aja"


"Serius?Boleh nih?"


"Yaudah,duluan aja.Takut Arkana nya pergi"


"Yaudah,gue duluan ya.Bye!!" teriak Divia yang langsung berlari keluar kelas.


Aneska merasakan perubahan yang begitu berbeda setelah Divia berpacaran dengan Arkana.Bahkan kini Divia lebih sering meninggalkan nya hanya karena alasan ingin terus bersama-sama dengan Arkana.


Begitu banyak buku yang harus di bawanya,tetapi terpaksa ia harus membawa sendirian karena tidak ada orang lain di dalam kelas selain dirinya.


Dengan susah payah Aneska berjalan menyusuri lorong kelas untuk menuju lantai satu, tiba-tiba seseorang menyentuh bahu Aneska agar ia berhenti berjalan lalu pria itu mengambil sebagian besar buku yang sedang Aneska bawa.


Aditya.Aneska hanya terdiam saat melihat pria yang membantu nya ternyata Aditya, laki-laki yang ia sukai.


"Biar gue bantu"


"Gue bisa kok sendiri" ucap Aneska sambil berusaha untuk mengambil kembali buku tersebut.


"Lo kenapa sih jadi menghindar gini sih Nes?" tanya Aditya.Tidak mau menjawab,Aneska langsung berjalan meninggalkan Aditya.


Setelah menaruh buku di Ruang guru,Aneska langsung berjalan menuju kantin dengan Aditya yang masih terus mengikuti langkah Aneska di sampingnya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue"


"Apa?" tanya Aneska tanpa mengalihkan pandangannya.


"Kenapa Lo menghindar dari gue?"


"Karena gue gak mau ribut lagi sama Faranisa"


"Tapi gue gak ada hubungan apapun sama dia"


"Terus?"


"Ya terus kenapa Lo terus menghindar dari gue?" tanya balik Aditya.


"Cuma mau aja,jauh lebih aman kalau gue gak deket-deket sama Lo" ucap Aneska. "Lo mau kemana?"


"Ke kantin,kenapa emang?"


"Nanya aja"


Aneska duduk berhadap-hadapan dengan Aditya karena bangku yang tersedia sangat terbatas mengingat ramainya kantin ketika jam istirahat.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh,Arkana sedang duduk bersama Divia dan teman-temannya.Mereka sangat terganggu dengan kehadiran Divia yang terus berbicara tanpa mengenal batasan.


Arkana tidak sengaja melihat Aneska sedang duduk bersama Aditya, tiba-tiba hati nya terasa panas.Ia langsung berjalan menuju mereka dan meninggalkan Divia yang sedang mengoceh dengan topik yang melenceng.


"Eh Arkana mau kemana?" tanya Divia.


"Nah kan di tinggalin,makanya gak usah bawel" ucap Rizan kesal.


"Cabut lah, berisik anjing disini" ucap Arsenio yang langsung berjalan meninggalkan Divia, diikuti oleh semua teman-temannya.


"Assalamualaikum cantik" bisik Arkana yang langsung menarik kerah seragam salah satu siswa laki-laki yang sedang duduk di samping Arkana. "Eh ada Abang ketos"


"Ngapain sih Lo?" tanya Aneska.


"Galak banget si,ya gue kesini mau makan dong" ucap Arkana dengan suaranya yang lembut lalu mengambil bakso yang sedang Aditya nikmati.


"Ini apaan nih?Waah enak kayaknya"


"Itu kan punya gue" ucap Aditya dengan wajahnya yang tidak rela saat Arkana mengambil makanannya.


"Bagi yaelah gak usah pelit"


"Arka apaan sih,kasih gak!"


"Apa sih?orang mau nyobain" kata Arkana. "Oh iya,Lo kan masih dalam masa hukuman.Seharusnya sekarang lo lagi bersih-bersih di lapangan"


"Ya nanti,gue juga mau makan dulu kali"


"Gak bisa,ayo bersih-bersih sekarang.Bawa makanannya"


"Arkana!" teriak Aneska kesal hingga membuat seluruh siswa yang berada disana langsung menoleh ke arahnya. "Maaf"


"Bisa gak sih gak usah ganggu gue,Divia sendirian disana.Kalau dia berfikir tang macem-macem gimana?" bisik Aneska.


"Berisik dia,ngomong terus.Udah sekarang Lo ke lapangan" Ucap Arkana sambil menarik lengan Anes. "Lo juga,ketua OSIS bukan kasih kebijakan yang bener malah biarin anggota nya ngelanggar peraturan"


"Ya kan dia laper,mau makan dulu katanya"


"Udah udah cabut buruan"


"Yaudah lepasin!Gak usah pegang-pegang" Aneska langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan perasaan nya yang sangat kesal.


Setelah Aneska pergi,Arkana langsung menatap Aditya dengan tatapan tajam dan menaruh kembali mangkuk bakso milik Aditya, mengeluarkan kembali bakso yang sudah ia makan lalu pergi meninggalkan nya.