I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 23



Di pagi harinya beramai-ramai siswa SMA GAMA berjalan menuju lantai tiga untuk menyaksikan hal lucu sekaligus menjijikkan di kelas 12 IPA 1.Seorang siswa yang pertama datang di kelas itu sangat terkejut saat melihat banyaknya kotoran yang berceceran di lantai kelas nya disertai bau yang sangat menjijikan membuat siapapun yang menciumnya pasti ingin muntah.


"Ada apaan nih?" tanya Faranisa yang baru datang bersama kedua sahabatnya.


"Itu liat,gimana bisa kelas kita ada kotoran gini mana bau banget lagi" Faranisa hanya terperangah saat melihat kondisi ruang kelasnya yang sangat berantakan dan kotor.Ia baru mengingat akan satu hal,bagaimana bisa Arkana benar-benar melakukan apa yang ia katakan kemarin.


"Hah,gimana bisa" gumamnya.


"Dih bau banget!Cabut cabut yuk!" ajak Kamala dan mereka pergi ke lantai satu.


"Ada apaan sih?" tanya Rizan kepada Arkana dan Rafael saat mereka baru saja sampai di depan kelas.


"Gak tau.Eh bro ada apa kok rame-rame?" tanya Rafael kepada salah satu siswa laki-laki.


"Itu El,di kelas 12 IPA 1 bau banget spiteng.Kotoran berceceran dimana-mana,hihh!"


"Spiteng?" tanya Rafael.


"Iya"


"Yaudah makasih ya bro"


"Iya sama-sama"


Arkana hanya menyeringaikan bibir nya dan berjalan masuk kedalam kelas dengan sangat angkuh.Kedua sahabat nya hanya saling menatap saat melihat tingkah Arkana,mereka langsung menduga bahwa itu semua adalah ulah Arkana. "Lo gak macem-macem kan?" tanya Rafael yang menyusul Arkana masuk ke dalam kelas.


"Macem-macem gimana?Dari kemarin kan gue sama kalian terus"


"Ah tapi tingkah lo itu"


"Suuttt!!!Udah duduk duduk" ucap Arkana.


Aneska masuk ke dalam kelas,sebelum duduk ia menatap Arkana terlebih dahulu dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal.Ia menghembuskan nafas dan langsung duduk di tempatnya sedangkan Arkana hanya tersenyum kecil.Aneska menatapnya seperti itu karena ia tahu bahwa semua itu adalah ulah Arkana.


Jam istirahat tiba, seperti biasa seluruh siswa bergegas menuju kantin karena tidak mau mengantri terlalu lama.Aneska dan Divia sudah duduk nyaman di tempatnya sambil menikmati bakso buatan Bi Diah. "Kepedesan nih punya gue,minta kecap dong!" ucap Divia.


Tiba-tiba Aditya datang menghampiri mereka dan duduk di samping Aneska karena tidak ada kursi yang kosong.Aneska hanya menatap Adit sekilas lalu tersenyum kecil dan kembali menikmati makanan nya lagi.Aneska berusaha untuk sedikit mengindari Aditya karena ia tidak mau berurusan lagi dengan Faranisa dan kedua sahabatnya.


"Latihan kalian udah sampai mana?" tanya Aditya kepada Anes.


"H-hah?"


"Latihan kalian udah sampai mana?" Adit mengulangi pertanyaan nya lagi.


"Oh,lumayan padahal baru beberapa kali"


"Nanti pulang sekolah latihan lagi?"


"Iya"


Entah hanya kebetulan atau memang di sengaja, Lagi-lagi Faranisa dan kedua sahabatnya memergoki Aneska yang sedang duduk berdekatan dengan Aditya.Tanpa berkata apapun Faranisa langsung menghampiri mereka dan menarik rambut Anes dengan sangat kasar.


"AUUU!!" teriak Aneska refleks.


"Eh Anes!" ucap Divia.


"Kemarin gue udah kasih peringatan buat lo,tapi gue rasa lo gak perduli sama peringatan itu!" ucapnya dengan tangan yang belum melepaskan rambut indah Aneska.


"Sakit!!" bisik Anes yang berusaha melepaskan genggaman tangan Faranisa.Semua mata tertuju pada mereka berdua,mereka tidak tahu tentang permasalahan diantara keduanya.


"Ikut gue Lo!" ucap Faranisa yang hendak membawa Aneska ke suatu tempat namun dengan cepat Anes langsung mendorong tubuh Faranisa hingga terjatuh.


"Apa masalah nya sih?" tanya Aditya yang berusaha melerai mereka berdua.


"Dia suka sama Lo,tapi selalu suruh gue buat jauh-jauh dari Lo" bisik Aneska. "Mau gimanapun kita kan satu kelas"


"Lo gila?" tanya Aditya kepada Fara.


"Hah gila?Gue suka sama Lo!" Teriaknya.


"Lo punya urat malu gak sih?Ini kantin lagi rame-ramenya,Lo gak malu di liatin sama mereka semua?" tanya Aditya kepada Faranisa.


Aditya yang merupakan topik permasalahan sejak tadi tidak bertindak,ia malah terus memperhatikan perbincangan mereka berdua.Bahkan saat Faranisa hendak melemparkan kursi kepada Anes ia hanya terdiam saja.


"AUU!!!" teriak Faranisa saat cairan sambal mengenai wajah nya.


"Fara!!!" teriak Helia yang langsung berlari menghampiri Faranisa.


"Lo gak apa-apa?" tanya Kamala.


"perih mata gue perih!!!" Teriaknya.Sontak seluruh siswa yang ada di kantin langsung berteriak histeris saat Aneska melemparkan sambal dan mengenai wajah Faranisa.Mereka tidak menyangka bahwa Aneska akan melakukan hal kejam seperti itu.Padahal Aneska sendiri sangat terkejut karena ia tidak sengaja melakukan hal itu karena refleks dirinya akan di serang.


"Kak!Maaf gue gak sengaja" ucap Aneska yang langsung berjalan menghampiri Faranisa untuk membantu nya.


"Ngapain Lo! Jauh-jauh!" bentak Helia.


"Bawa ke toilet sekarang!" teriak Aditya dan beberapa siswa membantu Faranisa untuk membersihkan wajahnya di toilet.


Aneska masih berada di tempatnya sambil duduk di lantai karena mereka menolak pertolongan Anes. "Lo apa-apaan sih?Tindakan Lo itu termasuk kriminal tau gak!" teriak Aditya kepada Aneska hingga membuat wanita itu langsung terdiam karena tidak menyangka bahwa Aditya akan membentaknya seperti itu.


"Kalo ada apa-apa Lo harus tanggung jawab Nes" lanjut Adit yang langsung pergi meninggalkan Aneska.


"Lo gak apa-apa Nes?Tangan Lo juga kena sambel,cuci sekarang yuk nanti panas loh" ucap Divia yang membantu Aneska beranjak dari duduknya.


Seluruh siswa hanya saling berbisik untuk membicarakan tentang keburukan Aneska,rasanya semua prestasi yang Anes dapatkan langsung tertutup oleh satu kesalahan nya di mata siswa lain.


"*Gue gak nyangka ya dia kayak gitu"


"Gue pikir dia anak baik-baik,ternyata sama aja"


"Anak kesayangan guru kok gitu kelakuan nya*?"


"Jangan di dengerin" bisik Divia dan Aneska hanya terdiam sambil terus berjalan menuju toilet.


Di pintu kantin mereka berdua berpapasan dengan Arkana dan para anggotanya,Arka menatap Anes dengan Terheran-heran karena wajahnya yang murung dan juga baju seragam nya yang berantakan di serta beberapa noda.


"Lo kenapa Nes?" tanya Rizan,Anes masih terdiam dan semakin menundukkan kepalanya malu.


"Tadi ada masalah" jawab Divia mewakilkan.


"Masalahnya separah apa sampe penampilan Lo berantakan kayak gini?" tanya Rafael.


"Lo di bully?" tanya Arkana.


"Dia siapa?" tanya Axel tiba-tiba karena dia belum mengenal Aneska.


"Temen sekelas gue" kata Rizan.


"Oh"


Tanpa berkata apapun Aneska langsung berjalan meninggalkan mereka semua karena ia malas berbicara dan juga tidak mau menjawab semua pertanyaan yang mereka katakan.


"Nes,loh Anes tungguin!" teriak Divia. "Maaf ya,dia lagi sensitif.Kalo gitu gue duluan"


"Kalian duluan aja,nanti gue nyusul" ucap Arkana kepada teman-temannya.


"Yaudah buruan lah laper gue" kata Arsenio.


Arkana berjalan cepat untuk menghampiri Aneska dan Divia yang sudah berjalan semakin menjauh. "Lo kenapa?" tanya Arkana tiba-tiba hingga mengejutkan keduanya.


"Tangan Lo..." Arkana menyentuh lengan kiri Aneska menggunakan telunjuknya lalu mencium bau cairan sambal yang menempel di tangan Aneska. "Sambel?Lo perang sambel sama siapa?" tanya Arkana mengejek.


Aneska hanya menatap Arkana dengan kesal lalu mendorong tubuh Arka menggunakan tangan kanannya hingga laki-laki itu langsung sedikit menjauh dari Aneska. "Gak usah muncul di depan gue kalo lo cuma mau ngejek" kata Aneska yang kembali melangkahkan kakinya.


"Gue serius.Lo di bully?" tanya Arakan yang mengikuti langkah Aneska lagi. "Kenapa hm?"


Divia hanya menatap keduanya dengan tatapan curiga karena sikap Arkana yang sangat berbeda kepada Anes.Melihat wajah Anes yang sangat merasa tidak nyaman,Divia langsung membawa sahabat nya menuju toilet untuk membersihkan kotoran tersebut.


"Sorry nih Ka,tapi kayaknya Lo tanya nanti aja deh.Soalnya Anes harus buru-buru bersihin tangannya sebelum kepanasan" kaya Divia.


"Yaudah" jawabnya singkat.