
Setelah selesai membeli semua kebutuhan yang diminta mama nya,Aneska langsung bergegas pulang ke rumah karena ia kerepotan membawa tiga kantong besar belanjaan nya.Namun saat dirinya keluar dari supermarket,tidak sengaja ia menabrak seorang pria yang sedang menunduk untuk mencari dompetnya.Seketika semua barang belanjaan Aneska jatuh berantakan,merasa bersalah pria itu langsung membantu Anes untuk memasukkan kembali barang nya.
"Maaf ya kak" kata Aneska.
"Aku yang seharusnya minta maaf" kata pria tersebut yang masih membereskan barang belanjaan. "Belanja sebanyak ini cuma sendirian?"
"Iya"
"Pulang nya naik apa?Mobil pribadi atau taxi?" tanya pria itu lagi.
"Kebetulan naik taxi"
Pria itu langsung berjalan ke tepi jalan untuk menghentikan taxi yang lewat.Setelah dapat,ia langsung berjalan kembali menghampiri Aneska dan membawakan barang belanjaan nya ke dalam bagasi. "Gak apa-apa aku aja"
"Gak apa-apa,sebagai bentuk minta maaf saya"
"Terimakasih ya kak" kata Anes.
"Iya sama-sama"
Setelah mobil taxi itu pergi,pria tersebut masuk ke dalam supermarket untuk membeli barang yang ia butuhkan.Sepuluh menit kemudian,ia kembali keluar dan menaiki motornya untuk pergi ke tempat tujuan selanjutnya.
Dari kejauhan Rizan melihat Gio yang baru saja keluar dari supermarket.Ya,pria yang membantu Aneska adalah Gio. "I-itu si Gio kan?Ketua geng nya Aries dulu?"
"Lah iya,ikutin ikutin!" ucap Nicholas.Mereka langsung membuntuti kemana Gio pergi dari jarak yang cukup jauh.Karena mereka merubah penampilan dan tidak mengendarai motor yang biasanya,maka Gio tidak mengenali mereka sedikitpun.
Mereka terus mengikuti kemana Gio pergi,sampai akhirnya motor Gio berhenti di salah satu rumah yang terletak di pinggiran kota dan jauh dari keramaian.Mereka terus memantau dengan siapa Gio akan bertemu.Setelah melihat dua teman Gio keluar dari markas tersebut,mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu karena tahu bahwa tempat tersebut adalah Markas mereka.
"Ka" ucap Rizan yang menghubungi Arkana di tengah-tengah perjalanan menuju markas.
"Kenapa?Udah ada info?" tanya Arkana.
"Kita berhasil temuin dimana markas mereka,kita liat Gio di jalan pas kita ikutin ternyata dia pergi ke markas buat ketemu sama temen-temennya yang lain"
"Yaudah sekarang kalian balik lagi ke sini,kita beraksi nanti malam"
"Oke" ucap Rizan. "Kita balik sekarang" lanjutnya kepada yang lain.
...•••...
"Serang lawan yang kalian liat" ucap Arkana sambil memakai jaket hitam khas COZTRA.
"Waktunya gue balas dendam sama mereka" gerutu Arsenio.
"Cabut!!" teriak Arkana yang berjalan keluar markas diikuti oleh para anggotanya.
"BERANGKAT!!" seru Rizan menyemangati mereka.
Seketika malam yang sepi itu di ramaikan oleh suara motor anggota COZTRA yang berjumlah lebih dari dua puluh orang.Suara derungan semakin menghilang saat mereka sudah meninggalkan markas yang berubah menjadi sangat sunyi.
Mereka mengendarai motornya di keramaian jalanan ibu kota.Arkana dan Rizan berada di posisi paling depan,sementara Marvel sebagai panglima berada di posisi kedua dan sisa nya berada di posisi ketiga.
Semua mata tertuju pada rombongan motor gede tersebut,mereka bersedia untuk menepi dari pada berurusan dengan mereka.Aneska,wanita itu berada di salah satu mobil yang sedang menepi.Ia bingung apa yang terjadi,tidak sengaja Anes melihat Arkana di salah satu gerombolan pemotor itu.Anes berfikir seperti nya kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja.Seharusnya Anes akan pergi ke rumah Divia untuk menemui nya,namun hati Anes berkata bahwa dirinya harus mengikuti mereka secara diam-diam.
Anes mengendarai mobilnya tepat di belakang mereka dengan jarak yang sedikit jauh agar mereka tidak curiga.Sampai akhirnya semua motor itu memasuki gang sempit menuju pemukiman sepi penduduk.
Karena jalanan yang cukup rusak,Anes tidak bisa mengikuti mereka.Maka ia turun dari mobilnya dengan menggunakan Hodie oversize berwarna hitam dan masker wajah untuk menutupi identitas nya.Ia berjalan menyusuri tempat yang sangat sepi itu.Setelah hampir 10 menit berjalan,Aneska melihat segerombolan geng Arka berhenti di depan rumah yang cukup ramai.
Kebetulan malam itu Gio bersama teman-teman satu geng nya sedang berkumpul seperti biasanya.Mereka langsung waspada saat melihat banyak motor datang ke markas,mereka berfikir pasti akan terjadi sesuatu yang membuat tidak baik-baik saja.
"Ada apa nih?" tanya salah satu dari mereka.
"Siapa mereka?" tanya yang lainnya.Gio sebagai ketua langsung berdiri menghampiri mereka untuk bertanya.Ia sangat terkejut saat melihat wajah Arkana setelah membuka helm nya.
"A-Arkana,kalian ngapain disi-"
BUGGHHH!!!
Belum selesai mengucapkan kalimat nya,Arkana langsung menghajar Gio dengan sekuat tenaga.Diikuti oleh anggota nya yang menghajar satu persatu dari mereka. "Ka,kasih tau gue dulu ada ap-"
"Gak usah banyak bacot Lo anjing!" ucap Arkana dengan wajahnya yang penuh amarah.
"Kasih tau dulu apa salah gue" ucap Gio sambil mendorong tubuh Arkana agar ia mendapatkan kesempatan untuk berbicara.
"Masih nanya Lo?"
"Gue nanya karena gue gak ngerasa buat kesalahan sama kalian"
"Gak ngerasa?Gak ngerasa lo bilang!" teriak Arkana yang kembali menghajar wajah tampan Gio.Seluruh anggota Arka sangat murka,mereka melimpahkan amarahnya kepada mereka semua hingga jatuh tak berdaya.
"Kalian udah bikin temen gue mati bangsat!!" teriak Arkana yang menduduki tubuh Gio dan menghajar wajahnya berulang kali tanpa ampun.
"Temen?" gumam Gio bingung,ia tidak merasa telah membunuh siapapun.
"Hah? Salah paham?Tadinya gue cuma mau bikin lo koma di rumah sakit.Tapi karena denger omongan lo yang seolah-olah gak berbuat apa-apa sama temen gue,rasanya gue jadi pengen bawa lo ke liang kubur" ucap Arkana yang memberhentikan aksinya lalu berdiri di hadapan Gio yang sedang terkulai lemas tak berdaya.
Arkana mengeluarkan pistol,menarik pelatuk nya dan menempatkan tepat di hadapan Gio hingga laki-laki itu langsung membelalakkan matanya. "Bunuh lo cukup buat balas dendam Ivan"
"Ka,Lo salah paham.Temen mana yang Lo maksud,gue sendiri aja gak tau!" teriak Gio. "Heh lo semua!Siapa yang kalian hajar?" tanya Gio kepada teman-teman nya.
"Mana gue tau Gi,muka nya aja gue gak tau" ucap salah satu dari mereka.
"Dua hari yang lalu" ucap Arkana.
"Sekali lagi lo ngelak,gue bantai Lo anjing!!" teriak Arsenio yang sudah sangat emosi sejak tadi.
"Hah,dua hari yang lalu?" tanya Gio kepada dirinya sendiri sambil berfikir keras.
"Gak usah banyak mikir" ucap Arka yang menempelkan ujung pistol nya tepat di dahi Gio.
"Tapi sumpah gue gak tau Ka!" teriak Gio.
"Hhh!Gak tau,terus ini apaan?" Rafael melemparkan dompet milik Gio ke wajahnya.Pria itu langsung membuka dompet tersebut,ia mengernyitkan dahi nya saat melihat fotonya di kartu tanda penduduk yang ada.
"T-tapi" ucap Gio sambil merogoh saku celananya. "Dompet gue ada disini" Gio memperlihatkan dompet miliknya. "Ini bukan punya gue",
Arka langsung mengambil dompet kedua dompet yang sedang Gio genggam lalu membandingkan nya.Dompet yang mereka temukan hanya berisi KTP dan uang senilai dua ratus ribu rupiah.Sedangkan dompet yang ada pada Gio berisi KTP,kartu kredit,uang tunai dan surat-surat kepentingan nya yang lain.
"Ini dompet gue,yang itu gue gak tau" kata Gio.
Arkana langsung mendorong kembali pelatuk dan menjauhkan pistolnya dari Gio. "Lo gak memanipulasi kan?" tanya Arkana curiga.
"Buat apa si?Sumpah itu bukan punya gue dan gue gak ngebunuh temen Lo.Dua hari yang lalu, seharian gue ada di rumah sakit buat temenin adil perempuan gue.Kalo Lo gak percaya,Lo bisa cek cctv sama data kunjungan di sana" kata Gio.
"Kalo lo gak ngelakuin,gimana sama temen-temen Lo?" tanya Rizan.
"Kita gak ngelakuin,sumpah!" ucap mereka.
"Terus kenapa markas kalian pindah ke tempat yang kayak gini?Belum lagi..." Tiba-tiba Arkana mengingat sesuatu dan emosi nya kembali memuncak. "Lo,Lo yang udah bunuh Lily bangsat!!!" teriak Arkana sambil menarik jaket Gio.
"Lo nyuruh Aries buat tabrak cewek gue!!!" teriaknya.Dari kejauhan Aneska terus memperhatikan mereka meskipun ia tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
"Lily?Eh Ka,gue juga sayang sama Lily tapi sumpah bukan gue yang tabrak dia!!" ucap Gio yang langsung mendorong tubuh Arkana karena dia juga sangat emosi saat membicarakan tentang Lily. "Mana mungkin gue tabrak orang yang gue sayang"
"Aries" panggil Arkana.
"Lo kenapa harus bohong sih?Lo sendiri yang suruh gue buat tabrak cewek nya Arka" kata Aries.
"Kapan gue nyuruh lo hah?"
"Lo nyuruh gue buat tabrak cewek itu.Setelah gue lakuin apa yang Lo minta,gue kena masalah karena Arka berhasil temuin gue.Apa lo semua peduli sama gue?Lo semua pergi ninggalin gue!" teriak Aries.
"Kita gak pergi,Lo yang ngilang gitu aja!" teriak Gio.
"Hh!Apa perlu gue kasih liat pesan perintah Lo buat gue?Ini apa?" ucap Aries sambil menunjukkan pesan di ponselnya kepada Gio.
Wajah Gio langsung pias,ia sama sekali tidak pernah memberikan pesan itu kepada Aries.Ia tidak pernah melakukan hal kotor yang sangat menjijikan seperti itu,apalagi kepada wanita yang sangat ia cintai.
"Sumpah gue gak pernah kasih perintah kayak gini,apalagi buat bikin Lily celaka" ucapnya kepada Aries.
Arkana menodongkan pistol dan menarik pelatuk nya kembali.Sepuluh detik sebelum Arka menekan pemicu nya,mereka semua mendengar suara sirine mobil polisi yang berbunyi dari kejauhan.Tetapi suara itu seperti semakin mendekat ke wilayah tempat mereka berada.
Aneska langsung berlari keluar gang untuk menghentikan mobil polisi yang ia hubungi saat beberapa menit yang lalu.Di pinggir jalan Aneska terus melambaikan tangannya dan mobil polisi berhenti di dekat mobil Aneska yang sedang terparkir.
"Disana pak" ucap Anes.
"Berpencar!!" teriak Arkana dan mereka langsung menaiki motor untuk melarikan diri.
"Lewat sana,ada jalan pintas!" teriak Gio kepada Arkana dan teman-temannya.
"Hei!!!Jangan lari!! teriak salah satu polisi.Melihat semua sudah melarikan diri,para polisi tersebut kembali berlari menuju mobilnya untuk mengejar mereka dari jalan lain.
"Mereka melarikan diri melalui jalan lain,kami membutuhkan lebih banyak bantuan karena jumlah mereka yang sangat banyak" ucap salah satu polisi yang menghubungi rekannya untuk mengerahkan lebih banyak petugas lagi.
"Terimakasih atas laporan yang kamu berikan, sebaiknya kamu pulang sekarang karena malam sudah semakin larut" ucap polisi wanita kepada Aneska.
"Iya terimakasih Bu atas bantuannya"
"Perlu kami antar?"
"Tidak Bu,saya bisa pulang sendiri"
Aneska mengendarai mobilnya dengan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya.Ia bingung harus berbuat apa.Jika tidak menghubungi polisi maka pasti akan ada banyak korban yang berjatuhan.Tapi disisi lain ia merasa bersalah jika Arkana berhasil tertangkap oleh pihak kepolisian.