I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 66



Gio,Arkana dan kedua orang tuanya sedang duduk bersama para saksi dan juga wartawan di ruang pengadilan tersebut.Hari ini adalah hari dimana keputusan hakim terhadap kedua tersangka tersebut dikemukakan.


Tak hanya itu,bahkan beberapa guru dan kepala sekolah dari SMA GAMA juga turut ikut serta dalam kursi hadirin untuk menyaksikan keputusan hakim terhadap siswa didik kebanggaan mereka.


Proses sidang berjalan dengan lancar meskipun kedua tersangka tidak bisa menerima kenyataan atas hukuman yang telah mereka dapatkan.Aditya dan Resya menentang keras agar hukuman mereka di tangguhkan,namun pengacara mereka pun tidak bisa berbuat lebih ketika hakim sudah menyampaikan keputusan nya.


Dengan setelan khas narapidana,mereka berdua dikawal masuk ke dalam mobil mini bus untuk dibawa ke lembaga pemasyarakatan/Lapas.


"Semua ini,karena mama" ucap Aditya tanpa mengalihkan pandangannya untuk menatap Resya.


"Siapa?Mama?" tanya Resya.


Di dalam mini bus tersebut hanya ada mereka dan empat polisi yang bertugas untuk mengantar termasuk sopir.Tempat duduk ibu dan anak tersebut cukup jauh dari keberadaan empat polisi,maka jika berbicara satu sama lain pun mereka tidak akan bisa mendengarnya.


"Ya,ini semua karena mama"


"Kenapa kamu salahin mama?Kan kamu yang melakukan semua kejahatan itu" ketus Resya.


"Aku emang jahat,tapi aku udah berusaha buat berhenti jadi orang jahat.Tapi mama tiba-tiba suruh aku buat jalanin perintah-perintah busuk itu"


"Terus kenapa kamu mau?"


"Mama tanya kenapa aku mau?Mama lupa?Selama ini mama selalu ancam aku kalau aku gak mau turutin perintah mama"


"Tutup mulut kamu"


"Diam!" teriak salah satu polisi.


...•••...


"Sekarang mereka udah ditangkap,jadi gak ada lagi yang berniat untuk celakain kita,kamu ataupun Aneska" ucap Erika.


"Tapi, bukannya dia punya ayah?" tanya Arkana.


"Laki-laki itu juga udah tertangkap di daerahnya" kata Bintang.Mendengar perkataan Bintang, Gio langsung menundukkan kepalanya dengan wajah pias.Mau bagaimanapun laki-laki itu tetap ayah kandungnya.


"Lo baik-baik aja?" tanya Arkana.


"Iya,gue baik-baik aja.Lagi pula mereka pantas dapetin hukuman itu,udah banyak kejahatan yang mereka lakuin" kata Gio.


"Kalau ada apa-apa,kamu bisa datang ke rumah kita" Erika memeluk laki-laki itu seperti putranya sendiri.


"Makasih Tante,om"


"Sekarang kalian mau kemana?Kita harus ke kantor sekarang" ucap Bintang.


"Aku mau ke rumah sakit.Eh tapi Lo udah tau belum?" tanya Arkana kepada Gio.


"Apa?"


"Ingatan Aneska udah balik lagi"


"Serius?"


"Iya"


"Yaudah kalau gitu,kalian hati-hati dijalan ya.Jangan ugal-ugalan bawa motor nya"


"Iya mah,kalian juga hati-hati dijalan"


...•••...


Dengan wajahnya yang berbinar-binar,Aneska terus menatap keluar jendela sambil memakan apel utuh yang begitu segar layaknya udara di pagi hari.


Rafael sibuk dengan ponselnya sementara Rizan sedang duduk di samping Aneska dengan tangan yang sibuk mengupas kulit apel tersebut.Arkana sengaja menitipkan wanita itu kepada temannya karena ingatan Aneska pun sudah membaik.Jadi tidak perlu ada yang di khawatirkan lagi.


"Nes,stop makan yang itu.Makan yang udah gue kupas aja nih,jorok lu makan sama kulit-kulitnya" oceh Rizan yang sejak tadi terus membujuk Aneska untuk memakan apel tanpa kulit tersebut.


"Bawel Lo"


"Bukannya bawel,jorok tau gak?"


"Lo tinggal dimana si?Norak tau gak?" ketus Aneska.


"Eh makanya jangan suka bolos pas pelajarannya Biologi,jadi bego kayak gini kan"


"Apa lu bilang?Bego?" tanya Rizan. "Wah, seharusnya ingatan dia gak usah balik lagi" gumamnya.


"Apa Lo bilang?"


"Gak,siapa juga yang ngomong sama Lo"


"Yang kayak gini nih,biar gue kasih edukasi lebih lanjut.Asal Lo tau ya,kalau Lo makan apel tanpa Kulitnya itu sama aja kayak lo makan siomay tapi gak pake bumbu kacang"


"Gimana tuh?' tanya Rizan bingung. "Hambar?"


"Gak tau juga sih,intinya kayak ada yang kurang aja.Tapi kalau lo makan apel beserta kulitnya,tubuh Lo bakal dapet vitamin K yang jumlahnya 332% lebih banyak,115% lebih vitamin C,20% kalsium dan 142% vitamin A.Belum lagi bisa melindunginya kulit dari paparan sinar UV, menyembuhkan penyakit asma dan menghid-"


"Oke,oke cukup.Ngerti gue ngerti" Rizan langsung menghentikan penjelasan Aneska sebelum kalimatnya semakin bertambah panjang dan rumit.Sementara Rafael hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua temannya.


"Apa karena Amnesia sementara Lo jadi jenius kayak gini?Kalau kenyataan nya gitu,gue mau deh amnesia" beo Rizan.


"Cih,sana amnesia.Lebih bagus kalau ingatan Lo gak perlu balik lagi"


"Ini cewek siapa si? Lama-lama gue lempar juga nih dari atap gedung" gerutu Rizan.


"Coba bilang sekali lagi?" tanya Aneska.


"Sebelum Aneska,Lo duluan yang bakal di lempar sama Arkana" ucap Rafael yang masuk kedalam pembicaraan.


"Nyambung aja lo kampr-"


"ANESKA!!!" teriak Divia yang langsung berlari menghampiri Aneska dan memeluknya dengan sangat erat. "AAAA YAAMPUN MIMPI BUKAN SIH?"


Bukannya menjawab,Aneska malah terus menepuk-nepuk punggung Divia karena tak kuasa menahan sesak nafas akibat pelukannya yang begitu mematikan.


"Heh Maimunah,jangan kenceng-kenceng peluknya.Mau gue ketok pala lu" dengan cepat Rizan langsung menarik tubuh Divia sebelum Aneska benar-benar kehilangan nafasnya.


"Ya maaf maaf habisnya gue seneng banget waktu dapet kabar kalau Aneska udah balik lagi ingatannya" ucap Divia terharu.


"Lo beneran udah inget kan siapa gue?"


"Nggak,Lo siapa?" tanya Aneska dengan wajah datarnya.


"Hashsh sialan" gerutu Divia sambil mendorong tangan Aneska hingga buah apel yang sedang di nikmatnya jatuh ke lantai.


"Yah Divia....." Rengek Aneska kesal.


"Yah maaf,gue gak sengaja"


"Nah,itu artinya Allah gak meridhoi lu buat makan apel sama kulitnya.Nih,makan tanpa kulit" Rizan memberikan Apel yang sudah ia kupas kepada Aneska,tapi wanita itu menolaknya begitu saja.


"Gak,buat Lo aja"


"Yaudah Alhamdulillah" dengan santainya Rizan langsung memakan buah apel tersebut dan pergi berjalan menghampiri Rafael.


Tak lama Arkana dan Gio datang, ekspresi wajah laki-laki itu sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang terlihat sedikit menjaga jarak agar Aneska tidak merasa risih.


"Darimana?" tanya Aneska.


"Habis dari pengadilan,mereka dapat hukuman yang setimpal" kata Arkana.


"Berapa tahun mereka dipenjara?Sepuluh atau dua puluh tahun?" tanya Rizan penasaran.


"Nyokap nya divonis hukuman seumur hidup,sedangkan Aditya divonis hukuman mati" kata Gio.


"HUKUMAN MATI?" teriak Rizan terkejut.


"Gue rasa setimpal sama perbuatannya terhadap para korban yang udah dia lecehin,dibunuh.Gue rasa jauh lebih setimpal"


"Ya tapi,ngeri juga ya"


"Jangan khawatir,dia gak akan datang lagi" ucap Arkana kepada Aneska dan wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.