I Love Everything In You

I Love Everything In You
Episode 46



Malam berlalu,di pagi harinya datang segerombol tim medis yang memasuki ruangan ICU dengan segala perlengkapan yang mereka bawa.Tentu mereka bertiga sangat terkejut saat melihat kondisi tersebut.Mereka tahu apa yang terjadi dengan Aneska di dalam sana.


Beberapa dokter melakukan segala upaya tindakan untuk menyelamatkan nyawa Aneska.Arkana tidak tahu dengan apa yang sedang mereka bicarakan karena ruangan itu di desain sedemikian rupa agar siapapun tidak bisa mendengar pembicaraan mereka dari luar.


"Mereka lagi ngomong apaan si?" tanya Arkana yang mulai panik.


"Mana gue tau,gak kedengeran"


Sementara didalam sana dokter dan tim medis yang lainnya sedang sibuk mengatasi detak jantung Aneska yang mulai melemah,padahal ia belum sempat sadarkan diri sejak malam tadi.


"Apa separah itu kondisi Aneska?" tanya Divia dengan mata sembab nya.


"Gimana,orang tua Anes udah bisa dihubungi?" tanya Rafael.


"Belum juga El,gue juga bingung disaat kondisi Aneska lagi kayak gini kenapa keluarga nya gak ada yang bisa dihubungi"


Mereka bertiga hanya bisa berdoa dan berpasrah.Perasaan Arkana sudah tidak karuan,ia terus menerus mengusap kasar wajahnya yang mulai terlihat lusuh itu.


Sampai akhirnya mereka melihat para dokter tersebut mulai berhenti bertindak dengan wajahnya yang terlihat menyerah.Mereka saling menatap satu sama lain lalu menggeleng kan kepalanya tanda tidak bisa dipaksakan lagi.


Salah satu tim medis melambaikan tangan kearah mereka bertiga lalu menyilangkan kedua tangannya tanda bahwa Aneska sudah tidak bisa untuk diselamatkan.


"Dokter,apa maksudnya???!!!" teriak Arkana dari luar sana.


"Anes..." Divia langsung jatuh tersungkur dengan kesedihan yang sangat mendalam.


Salah satu dokter yang menangani Aneska langsung berjalan keluar ruangan untuk menemui Arkana.Laki-laki itu terlihat sangat marah dan kecewa.Tetapi ia tidak bisa menyalahkan siapapun.


"Sabar Ka" ucap Rafael.


"Aneska!!bangun!!!" Teriaknya. "Dok,Anes baik-baik aja kan?" tanya Arkana.


Dokter itu terdiam sejenak lalu menundukkan kepalanya.Hal itu membuat emosional Arkana meledak-ledak.Ia mencengkram erat baju kedokteran tersebut dengan wajah sangar nya. "Kenapa?Kenapa!!!"


"Kondisi jantung pasien melemah,Kami sudah ber-" belum selesai dokter itu mengatakan penyebabnya,Arkana langsung berjalan untuk menerobos masuk ke dalam ruangan


"Maaf mas,anda tidak bole mema-"


"Minggir Lo anjing!!!Gue mau masuk!!!" teriak Arkana memberontak.


"Ka udah Ka" ucap Rafael yang berusaha menenangkan.


"Lo pikir gue bisa nyerah gitu aja?Aneska masih hidup!!!!"


BUUGGGHHH!!!


Tidak sengaja Arkana memukul wajah dokter tersebut hingga meninggalkan luka memar di bagian tulang pipinya. "Udah saya bilang minggir!" dengan cepat Arkana dan Rafael langsung masuk kedalam untuk melihat kondisi Aneska.


"Nes,bangun Nes.Lo gak akan pergi kan?" bisik Arkana dengan matanya yang mulai berair.


"Aneska" Divia benar-benar tidak bisa menahan rasa kesedihannya lagi.


"Lo tega banget,Lo tega sumpah!!" ucap Arkana. "Lo baru aja cinta sama gue,tapi Lo udah pergi tinggalin gue duluan"


"Gue gak tau lagi harus ngapain kalau Lo beneran pergi.Gue gak tau bakal jadi manusia lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya" Arkana terus mengoceh di hadapan Aneska yang masih memejamkan matanya.


"Plis bangun,bantu gue buat jadi manusia lebih baik.Gue mau nikah sama Lo,gue mau jadi suami Lo kelak,gue mau punya anak lucu dari Lo,anak kembar" lanjutnya.


Rafael langsung menangis sesenggukan saat mendengar perkataan Arkana,ia benar-benar tidak bisa jika harus berada di posisi sahabat nya saat ini. "Mama gue suka banget sama Lo,bokap juga.Plis bangun,gue mohon"


Arkana meletakkan wajah nya di tangan Aneska yang sudah terlihat sangat pucat,namun tiba-tiba tangisan mereka terhenti saat mendengar suara monitor grafis yang kembali berbunyi seirama dengan detak jantung Aneska.


Dokter pun sangat terkejut dengan peristiwa itu,mereka langsung bertindak cepat untuk menyelamatkan Aneska dari masa kritisnya.


"Cepat,periksa seluruh kondisi tubuh pasien"


"Baik dok"


"Sebaiknya kalian kembali menunggu di luar agar tindakan bisa berjalan dengan lancar,kami akan menangani pasien semaksimal mungkin"


"Janji ya sus" ucap Divia.


"Iya.Insyaallah"


"Anes masih hidup kan dok?" tanya Arkana yang terlihat sangat tidak percaya akan hal tersebut.


"Detak jantung nya sudah kembali"


"Nes,Lo denger perkataan gue tadi kan?Ayo bangun"


"Udah Ka ayo kita tunggu diluar" Rafael langsung membawa Arkana dan Divia keluar ruangan agar tim medis bisa bertindak dengan cepat.


Dua jam kemudian para tim medis tersebut telah selesai melaksanakan tugasnya dan keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sangat bahagia karena telah berhasil mengatasi detak jantung Aneska yang melemah.


"Dok gimana keadaan Aneska sekarang?Dia masih hidup kan?" tanya Arkana yang sangat penasaran.


"Alhamdulillah,detak jantungnya kembali normal.Mungkin belum saat nya pasien berpulang hari ini,ia masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi" kata salah satu dokter.


Arkana tidak kuasa menahan haru nya,secara tidak sadar Arkana melakukan sujud syukur dihadapan banyak orang sambil menangis sesenggukan.Rafael hanya bisa ikut menangis saat sahabat nya juga menangis,begitupun dengan Divia.


"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruangan inap untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut". kata Dokter.


"Tapi sekarang Aneska udah sadar belum dok?" tanya Divia.


"Pasien sudah berhasil melewati masa kritis nya,namun sampai saat ini belum terbangun dari tidur nya.Kita bersabar saja untuk menunggu hingga beberapa jam kedepan"


"Makasih ya dok,sekali lagi makasih banyak" ucap Arkana.


"Iya sama-sama,kalau begitu saya permisi"


Tidak biasanya Arkana mengucapkan kata terimakasih meskipun profesi orang tersebut jauh lebih tinggi darinya.Saat ini ia tidak memperdulikan harga dirinya,yang terpenting adalah Aneska masih bernafas sampai terbangun nanti.


...•••...


Aneska masih tertidur saat telah dipindahkan ke ruang rawat inap.Suasana disana sangat sunyi,yang terdengar hanyalah suara monitor yang mengontrol perkembangan kondisi tubuh Aneska.


Divia sudah pulang ke rumahnya diantara oleh Rafael,hal itu Arkana yang meminta.Laki-laki itu tidak melewatkan waktunya sedetikpun untuk mengalihkan pandangan dari wajah Aneska.Mata nya terus mengeluarkan air dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Aneska.


Menurutnya,Wanita itu masih terlihat cantik meskipun alat bantu oksigen masih menempel di wajah pucat nya.


"Aneska perempuan kuat" ucap Arkana tiba-tiba. "Arka bangga sama kamu"


"Aku janji kalau kamu udah sehat lagi,aku gak akan biarin kamu pergi sendirian.Kemanapun kamu pergi,aku harus ikut.Aku gak bakal biarin satu jari laki-laki lain sentuh anggota tubuh kamu,aku gak akan biarin siapapun itu maki-maki kamu karena alasan kamu cinta sama aku"


"Terus jadi wanita baik yang gak pernah cinta sama laki-laki karena alasan harta dan jabatan.Aku jahat tapi kamu cinta,kenyataan itu nusuk banget sih buat aku.Tapi kamu baik, sederhana,makanya aku suka.Cinta lebih tepatnya"


Arkana terus mengoceh seolah-olah ocehannya itu bisa membantu Aneska untuk cepat terbangun dari tidurnya.


"Aku cinta sama kamu karena kamu berani apa adanya,kamu berani traktir aku dengan uang yang pas-pasan.Aku tau kamu berada,tapi sifat sederhana itu yang aku cari.Aku suka sama kamu,karena kamu gak suka sama aku"