Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Bonus Chapter 6



Satu bulan lebih dua minggu, akhirnya Reno dan Alana kembali ke tanah air. Bagas sudah lebih dulu berada di tanah air yang kemudian di susul Asih setelah beberapa minggu kemudian, sedangkan Aminah masih menemani Alana dan Reno.


Reno, Alana, Aminah, dan Reyna, putri kecil mereka tiba di bandara Sokarno Hatta. Di sana, Bagas dan Asih sudah menanti kehadiran mereka.


“Reno … Alana …” panggil Asih saat melihat putra dan menantunya.


“Bu Aminah.” Asih juga memanggil besannya yang sedang mendorong stroler yang berisi cucunya.


“Mami … Papi …” Alana langsung menghambur pelukan pada Asih dan bergantian kepada Bagas, di susul oleh Reno.


“Akhirnya, kalian kembali ke tanah air. Rasanya sudah lama sekali,” ucap Bagas setelah memeluk putranya.


“Ya, sudah lama sekali. Reno rindu negeri ini, Pi.”


Bagas mengangguk. “Papi juga rindu bekerja bareng denganmu lagi.”


Reno pun tersenyum.


“Aaa … cucu Oma.” Asih langsung mengangkat Reyna dari stroler dan menggendongnya. Tak lupa sebelumnya wanita paruh baya itu menciumi seluruh wajah sang cucu yang menggemaskan.


“Lama banget Mami ga lihat Reyna, kangen!” ujar Asih.


Bagas pun mendekati istri dan cucunya, lalu mencium sang cucu. “Opa juga kengen.”


“Pi, mana mobilnya?” tanya Reno.


“Di sana!”


Reno mengikuti arah tangan sang ayah dan melihat asisten sang ayah berdiri di mobil itu. “Dimas.”


Dimas pun berlari menghampiri Reno. “Mas Reno. Senang bisa melihat sesehat ini.”


Kedua pria itu berpelukan.


“Ya, alhamdulillah, Dim. Kau juga semakin sehat. Lihat saja, perutmu semakin bulat.”


Dimas tertawa dan tersipu malu. Ia memang tidak sempat berolahraga sehingga perutnya kini terliha semakin buncit. “Ah, jadi malu saya.”


Sontak semua keluarga tertawa.


“Ayo, Sayang! Kita pulang!” ajak Asih pada keluargnya.


Mereka pun memasuki mobil mini bus mewah itu.


“Jadi kapan rencananya aqiqah Reyna di gelar?” tanya Asih pada Reno.


“Terserah Mami,” jawab Reno yang duduk di paling belakang bersama sang istri. Sedangkan Asih dan Aminah duduk di kursi tengah bersama Reyna dan Bagas di depan menemani Dimas.


Alana mengangguk. “Ya, terserah Mami saja.”


“Bener ya terserah Mami?” tanya Asih memastikan.


Alana dan Reno mengangguk.


“Mami atur saja, kami berdua ikut.”


“Baiklah kalau begitu. Nanti Mami akan persiapkan aqiqah unuk Reyna. Oke!” ucap Asih sembari membuat bayi mungil itu tertawa.


“Nanti aku bantu, Jeng.” Aminah menambahkan.


Asih tersenyum dan mengangguk. “OKe, Bu.”


Mobil itu melaju ke rumah minimalis milik Reno yang dihadiahkan dari Bagas sebagai hadiah pernikahan Reno dan istrinya. Rumah itu tampak berbeda dengan sebelumnya. Kini, rumah itu di cat dengan warna kesukaan Alana. Barang-barang di dalam rumah itu pun banyak yang diganti. Barang-barang di sana di dominasi dengan warna kesukaan Alana, yaitu putih. Rumha minimalis itu tampak bersih dan elegan, seperti gaya rumah eropa.


Dimas memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Reno. Semua orang yang ada di dalam mobil itu pun keluar.


“Ah, akhirnya sampai juga,” ucap Aminah.


“Ya, perjalanan panjang pasti melelahkan ya, Bu,” ucap Asih yang di angguki Aminah.


Rencananya Aminah memang akan tinggal di rumah ini. Lagi pula sekarang Bi Tuti juga akan dipekerjakan di rumah ini untuk menemani Alana mengurus Reyna. Rumah ini tidak lagi sepi dan hanya dihuni Alana beserta Reno saja.


Alana menurunkan kakinya ke aspal. Ia pun menatap rumah itu sembari tersenyum dan menganga hingga ia menutup mulutnya.


Dahulu ia harus berdebat dengan Reno, ketika hendak mendesign rumah itu menjadi yang ia inginkan. Tapi kini, tanpa diminta, Reno sudah mengubah rumah ini menjadi rumah yang seperti Alana inginkan.


“Welcome to dream house,” ucap Reno pada istrinya. “Rumah impianmu, Sayang,” bisiknya lagi di telinga sang istri.


“Rumah impian kamu juga kan, Mas?”


Reno mengangguk. “Ya, rumah impian kita.”


Alana memeluk suaminya sembari mengulas senyum lebar. “Makasih ya.”


Reno mengecup kening sang istri. “Ini untuk kamu.”


Alana kembali melebarkan senyum.


“Ayo masuk!” reno mengajak istrinya untuk memasuki rumah sebagai saksi suka duka pernikahan itu.


“Sealamat datang …” teriak Bi Tuti menyambut kepulangan majikannya.


“Mbak Al.” Tuti langsung menghambur peluk ke arah Alana.


Alana pun melepaskan pelukan pada suaminya dan menerima pelukan dari Tuti.


“Akhirnya, Mbak Al pulang.” Tuti tampak menangis.


“Kok nangis sih, Bi?” tanya Alana terharu.


“Bibi selalu doain mbak Al supaya cepat pulang. Rasanya sepi hanya tinggal di rumah ini sendiri.”


“Ya, karena setelah ini akan ada tangis bayi lagi,” sahut Reno.


“Alana hamil lagi?” tanya Bagas spontan.


Asih dan Aminah pun melirik ke arah pasangan muda itu. Sedangkan Alana mnggeleng. “Ngga. Mas Reno emang ngaa-ngada, Reyna aja baru empat puluh hari kok.”


Reno tertawa. “Ya, belum sekarang. Tapi sebentar lagi.”


“Mas,” rengek Alana, membuat Reno tertawa sembari merangkul bahu istrinya.


“Nakal ya kamu, Ren,” ucap Bagas yang juga tertawa. Sedangkan Aminah dan Asih hanya menggelengkan kepala.


Aminah langsung istirahat di kamar yang sudah di sediakan. Tubuh wanita tua itu sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Sedangkan Alana dan Reno di ajak oleh Bagas dan Asih menuju kamar Reyna.


“Ini kamar untuk cucu Oma,” ucap Asih menunjukkan kamar yang bernuansa pink.


“Wah, Mami mendesaign ini semua?” tanya Alana.


Asih pun mengangguk. “Supaya Reyna betah ya.” Wanita paruh baya itu tampak bahagia. sang cucu masih dalam gendongannya.


Alana menarik nafasnya kasar. Ia sungguh terharu dan bahagia.


“Terima kasih, Mami.” Alana memeluk ibu mertuanya.


“Sama-sama, Sayang. Terima kasih juga karena telah memberi kebahagiaan buat Reno, Mami, dan Papi,” jawab Asih sembari memegang bahu Alana.


Bagas pun merangkul bahu menantu kesayangannya. “Sudah, kalian istirahat. Biar Reyna sama Mami dan Papi di sini.”


Reno pun melirik ke arah istrinya. “Yuk, Sayang. Istirahat dulu.”


Alana pun mengangguk.


“Papi, Mami,” panggil reno pada kedua orang tuanya.


Bagas dan Asih pun menoleh. “Ya.”


“Terima kasih untuk semuanya. Reno sangat menyayangi kalian.”


Bagas dan Asih tersenyum. “Kami juga.”


Reno dan Alana kembali tersenyum dan meninggalkan kamar itu. mereka menuju kamar mereka sendiri.


Alana memasuki kamar itu dan langsung duduk di atas ranjang mereka. ranjang tempat mereka memadu kasih, bahkan bertengkar. Alana mengusap tempat tidur itu.


“Kangen ya tidur di sini?” tanya Reno yang ikut duduk di samping istrinya.


Alana mengangguk. “Iya,” jawabnya polos.


“Nanti malam kita akan malam pertama lagi di sini.”


Alan menyipitkan mata. “Malam pertama?”


“Iya, setelah sekian lama kamu nifas. Maka nanti malam akan menjadi malam pertama kita di tempat yang sama.”


“Mas,” panggil Alana manja pada suaminya.


Reno pun tertawa dan merangkul tubuh sang istri.


****


“Bilqis,” teriak Alana saat melihat sahabatnya berada di depan gerbang.


“Alana …” Bilqis membentangkan kedua tangannya untuk memeluk sang sahabat.


“Bilqis.”


“Alana.”


Keduanya saling berpelukan dan berciuman pipi.


“Kamu datang sama siapa?” tanya Alana.


“Hmm …” Bilqis ragu untuk menjawab hingga seseorang keluar dari mobil mewah itu.


“Mimi …” teriak seorang anak kecil dan berlari menghampiri Alana.


“Aurel.” Alana pun menyambut pelukan anak kecil itu dengan membentangkan kedua tangannya.


Reno berada di belakang Alana sembari tersenyum dan melihat seorang pria yang juga kelaur dari mobil mewah itu.


“Hai, Reno. Hai Alana,” sapa Alex.


Reno pun menyambut kedatangan mantan bos istrinya. kedua pria yang pernah berseteru itu, kini berpelukan.


“Hm. Keliatan makin deket nih,” ledek Alana pada Bilqis dan Alex yang terlihat sangat dekat.


Aurel pun semakin dekat dengan sekretaris ayahnya.


“Siapa bilang?” jawab Bilqis ketus, membuat Alana tertawa.


“Lama-lama juga dinikahin sama Sir Alex kamu, Qis,” bisik Alana yang terus meledek sahabatnya.


“Ish, amit-amit.” Bilqis mengerdikkan bahunya.


“Awas loh, amit-amit malah jadi.” Alana pun tertawa.


Kedua wanita itu berjalan di belakang para pria yang berjalan lebih dulu memasuki rumah itu.