
Setelah dua jam, Alana merampungkan kegiatan memasak makanan kesukaan sang suami. ia juga telah memasukkan makana itu ke dalam wadah yang cukup besar.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Ia siap berangkat. Selain membawakan makanan itu untuk Reno dan teman-temannya, ia juga membawakan lagi sisanya untuk dirinya sendiri dan teman-temannya di kantor, terutama Bilqis.
Dengan langkah riang, Alana meninggalkan rumah dan menaiki taksi. Mulai besok, ia akan menerima tawaran Alex untuk membawa mobil operasional, karena saat Aminah di rumah sakit, Alana sering bolak balik dari kantor ke rumah sakit itu saat jam makan siang dengan mengendarai mobil sendiri. Dan, kini ia siap untuk membawa mobil itu pulang.
Sesampainya di kantor Reno, Alana langsung menaiki lift. Sesampainya di lantai itu, ia tak melihat keberadaan Dewi. Entah dimana wanita yang kerap mendekati suaminya itu.
Alana berjalan sendiri di lorong yang tampak sepi. Sepertinya, semua orang sedang sibuk dan berada di ruangan masing-masing. Langkah Alana semakin dekat dengan ruangan Reno. Ruangan yang sepertinya tengah penuh diisi oleh teman-teman Reno, karena suara tawa mereka terdengar hingga lorong.
“Gue juga pengennya cepet nikah, supaya ada yang nemenin, ada yang masakin,” ucap Aldo, teman Reno yang saat ini berada di dalam ruangan. Di samping Aldi juga ada Jefri.
“Ya udah nikah. Di sini juga banyak cewek oke. Dewi misalnya.” Alana mendengar suara Reno dari dalam sana.
“Pengennya sih gitu. Tapi gimana? Dewi-nya aja biasa sama gue. Padahal gue udah kasih sinyal kalo gue suka dia,”
Alana berdiri sejenak di luar pintu ruangan itu. Ia tak ingin tiba-tiba menghentikan percakapan mereka yang seru.
“Kamu kurang ngedeketinnya, Do,” jawab Reno.
“Nanti gue ajarin deh, cara mepet cewek sampe dapet,” sahut Jefri. “Nih buktinya, Anna sekarang mau balikan lagi sama gue.”
Ketiga pria itu tertawa.
“Ajib,” kata Aldo.
Reno pun memberi applause pada Jefri. “Keren.”
“Dewi itu perfect. Dia pintar, jago masak, dan dewasa. Kurang apalagi, Do? Kamu beruntung kalau mendapatkannya. Aku aja kalau belum nikah, mau sama dia,” ujar Reno sengaja mengompori Aldo, agar pria itu segera menyatakan cinta pada Dewi.
Namun, perkataan Reno malah menyayat hati wanita yang ia cintai.
Deg
Alana mendengar penuturan kata yang terlontar dari suara yang ia yakini adalah suara suaminya. Jantung Alana, tiba-tiba terhenti sejenak saat mendengar hal itu. Hatinya tersayat ketika Reno membanggakan dan menginginkan wanita lain. Walau Reno tak bermaksud seperti itu.
Alana menongolkan sedikit kepalanya di sela-sela pintu yang sedikit terbuka itu. ia hendak mengetuk dan ingin masuk. Namun, langkahnya terhenti oleh tepukan tangan seseorang dibahunya.
Alana kembali memberi jarak pada ruangan itu. “Aku mau kasih ini ke Mas Reno,” ucapnya sembari menunjuk bekal yang ia bawa.
“Oh, ya udah masuk aja. Lagian Reno paling cuma lagi berbincang santai sama teman-temannya.”
Alana mengangguk. Namun, baru saja tangan Alana memegang handel pintu itu, Dewi kembali berkata, “oh ya, aku juga mau terima kasih sama kamu, Al. Makasih karena membolehkan Reno menungguku hingga siuman malam itu.”
Alana kembali mengurungkan niatnya untuk memasuki ruangan Reno. “Maksudnya?” Ia lebih memilih mendengarkan pernyataan Dewi yang ingin menceritakan sesuatu.
“Sekitar selasa malam, satu minggu yang lalu, bersamaan dengan nenekmu masuk rumah sakit sepertinya. Reno menungguku di kontrakan hingga aku siuman.”
Alana mengernyitkan dahi sembari serius mendengarkan. Pasalnya apa yang diucapkan Dewi berebda dengan penjelasan Reno saat itu.
“Malam itu Reno mengantarku pulang. Dia ga tega ngeliat aku yang lagi ga enak badan. Terus benar saja. aku pingsan pas baru keluar dari mobil Reno. Terus kata tetangga, aku digendong Reno dan Reno menungguku sampai aku siuman.”
Jedar.
Lengkap sudah sakit hati Alana. Pertama, ia mendengar langsung dari mulut suaminya yang memuji wanita yang tengah berdiri di depannya itu. Kedua, ditambah lagi kebohongan dari penjelasan Reno saat ia sedang menantinya malam itu.
“Makasih ya Al.” Dewi menggenggam tangan Alana. Ia berterima kasih karena Alana mengerti saat Reno pulang larut malam yang disebabkan oleh dirinya.
Alana mengangguk dengan wajah datar. Bibirnya terpaksa harus tersenyum walau sedikit. “Ya.”
Keinginan Alana untuk masuk ke ruangan itu pun pupus sudah. Kakinya ingin sekali segera meninggalkan tempat ini.
“Oh ya, aku titip makanan ini ke Mas Reno ya,” ucap Alana sembari melihat jam di tangan kirinya. “Aku udah telat banget soalnya. Bye …”
“loh, Al.” Dewi bingung. Ia dipaksa untuk menerima makanan yang semula berada dalam tangan Alana.
Alana pun melenggang pergi tanpa menoleh lagi ke arah Dewi yang memanggilnya.
Selama bersama Alana, baru kali itu Reno berbohong. Itu pun dengan penuh keterpaksaan agar Alana tidak marah dan memicu pertengkaran. Ternyata, kebohongan Reno tak berlangsung lama.
Sungguh Alana kecewa mendengar kebenaran ini. Ia kecewa karena Reno lebih mementingkan wanita lain dari pada dirinya.
Alana terus mengusap pipinya yang basah sambil berjalan keluar gedung.