Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Kembali ke rumah



“Mas Reno, sudah.” Alana menarik lengan Reno yang tengah mencekik leher Dewi. “Mas, sudah. Jangan sakiti Dewi. Aku mengerti. Aku mengerti. Aku percaya padamu, Mas. Aku percaya.”


Seketika, otot Reno pun melemas. Cekikan di leher itu melemah dan dilepaskan.


Tiba-tiba, Dewi tertawa. “Kamu bodoh, Al. Mau saja percaya dengan pria bodoh seperti Reno. Pria yang mudah terhasut. Bahkan dia pernah menjelek-jelekanmu dihadapanku. Dia pernah bilang bahwa kamu tidak bisa memasak rendang dan memuji rendang buatanku.”


“Diam kau, j*l*ng!” bentak Reno.


Dewi pun tertawa. Emosi Reno sudah tak bisa terbendung lagi. Rasanya ia ingin mencabik-cabik rubah betina itu. Reno kembali menghampiri Dewi dan ingin mencekiknya lagi. Namun, Alana langsung menahan lengan itu.


“Berhenti, Mas! Kendalikan emosimu. Kamu bisa masuk penjara kalau seperti ini.”


Reno diam di tempatnya.


“Biarkan dia pergi, Mas.” Alana berusaha meredam emosi suaminya.


“Tidak bisa, Al. Mas tidak bisa membebaskan rubah betina ini begitu saja. Dia sudah memproak-prandakan rumah tanga kita. Dia sudah memisahkan kita berbulan-bulan. Dia juga sudah menghancurkan rumah tangga orang lain.”


“Biarkan, Mas. Mbak Dewi berhak untuk berubah.”


Akhirnya, Reno menyuruh dua pria berbadan besar itu untuk melepaskan Dewi. Kini kedua tangan Dewi tak lagi ditahan oleh dua pria itu.


“Keluarlah, Wi! sebelum aku berubah pikiran,” ucap Reno.


Dewi mematung. Walau sebenarnya ia senang bisa bebas dari cengkraman Reno. Ia pikir, Reno tidak akan semudah itu melepasnya.


“Pergi! Atau aku laporkanmu ke polisi dengan kasus pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan,” teriak Reno pada Dewi.


Wanita itu pun lari keluar tanpa memikirkan barang bawaan yang ia bawa saat keluar dari rumah kontrakan.


Alana terduduk lemas di tepi tempat tidur kamar itu. ia memandang lurus ke arah jendela yang menyuguhkan langit gelap dengan taburan bintang-bintang. Kebetulan gedung ini paling tinggi dari tempat-tempat yang ada di sekelilingnya


Reno keluar kamar diikuti oleh kedua pria bertubuh tegap yang ia sewa itu. Mereka mendapat bayaran dari reno dan pergi dari tempat itu. Kini, apartemen sewaan itu hanya diisi oleh Reno dan Alana saja.


Reno melangkah menuju kamar, mendekati Alana yang sedang terduduk di sana. Dan, Alana mendengar jejak langkah kaki yang tengah menghampirinya, walau arah pandangnya masih lurus ke jendela.


“Apa yang terjadi dengan kita, bukan hanya kesalahan Mbak Dewi, Mas. Tapi kesalahanmu, kesalahan aku. Andai kamu tidak mudah terhasut dan andai aku bisa lebih sabar untuk bertahan. Mungkin kehadiran Mbak Dewi tidak akan berpengaruh apa pun.”


Reno terdiam. Ia ikut duduk di samping Alana dan mendengarkan ucapannya. Alana semakin dewasa. Ia melihat sang istri lebih bijaksana. Ia juga tidak pernah melihat Alana emosi membabi buta saat hatinya tersakiti. Reno pun semakin mencintainya, semakin ingin kembali dan merajut cinta yang sempat hampir karam.


“Hari ini aku belajar banyak hal.” Alana menoleh ke arah Reno dan Reno pun menatap Alana.


“Ya, terutama untuk Mas. Masalah ini menyadarkan Mas banyak hal, termasuk keegoisan Mas padamu selama ini. Maaf.”


Alana tersenyum. Akhirnya, senyum manis yang ia rindukan itu untuknya.


Reno ikut mengembang senyum. Bibirnya menyungging lebar. “Boleh Mas peluk?”


Alana menggeleng. “Ngga boleh.” Tapi kepalanya ia sandarkan pada bahu Reno.


“Bisa kita pulang?” tanya Reno lembut pada istrinya.


Alana menggeleng. “Masih ingin di sini melihat bintang,” ucapnya sembari melihat ke arah jendela besar yang terbuka itu.


Flat unit Apartemen yang Reno sewa ini memang berada di paling atas, sehingga dapat dengan jelas terlihat taburan bintang yang menyinari langit gelap.


Alana melepaskan kepala yang semula menempel di bahu tegap itu. lalu, ia menatap wajah Reno. “Gombal.”


Reno ikut menatap istrinya dan tersenyum. “Serius. Tanpamu, hidupku terasa gelap. Dan itu angat menyiksa.”


Alana meluruskan pandangannya ke arah jendela. Ia tak mau menatap Reno, apalagi dengan kata-kata Reno yang membuatnya terbang sambil menahan senyum. Reno pun tersenyum dengan sikap malu-malu Alana.


Reno mulai berani menyentuh tangan Alana dan mengambil telapak tangannya untuk digenggam. “Semoga setelah ini, cinta kita akan semakin kuat.”


Alana kembali menoleh ke arah Reno. “Memangnya, aku sudah memaafkanmu?” tanyanya dengan merengutkan bibir.


“Memangnya belum?” tanya Reno sambil mengecup punggung tangan Alana yang sudah dalam genggamannya.


Alana menggeleng dengan bibir mengerucut.


Reno tertawa. Sungguh ia gemas dengan wajah itu. wajah ke kanak-kanakan yang ternyata ia rinduka. Sikap kekanak\=kanakan Alana yang sering menggangunya saat kerja pun, sangat ia rindukan.


“Kalau belum memaafkan kenapa mau aja dicium?” tanya Reno yang terus mencium punggung tangan Alana hingga ke lengannya.


“Kalau begitu, jangan dicium!” Alana hendak menarik lengannya.


Lalu, Reno kembali menarik lengan itu dan memaksa Alana untuk masuk ke dalam pelukannya. “Mas, sangat mencintaimu, Sayang. Jangan tinggalkan Mas seperti kemarin!”


“Mas kan yang meminta aku pergi. Mas juga ga menoleh ke arahku sama sekali waktu aku pergi.”


Reno menatap wajah Alana dan menutup bibirnya dengan jari telunjuk. “Ssstt … Jangan bicara itu lagi!”


“Jadi bukan salahku, kalau aku pergi.”


“Ssstt … jangan bicara itu lagi!” kata Reno memperingatkan. Ia ingin menutup kisah tidak mengenakkan ini dan tidak ingin membukanya lagi.


“Aku kan masih kekanak-kanakan,” ledek Alana menyindir suaminya.


“Alana, kalau kamu masih ngomong terus, Mas cium sampe bibirmu bengkak.”


Alana langsung berdiri dan pergi dari kamar itu. “Ish, takut.”


Reno tertawa. “Ngeledek ya.” Ia pun mengejar Alana yang sudah keluar kamar.


Reno ingin memeluk lagi tubuh itu dari belakang. Namun, Alana langsung membalikkan tubuhnya. “Eits, mau ngapain?”


“Peluk kamu.”


“Aku masih marah. Ayo pulang!”


Reno tersenyum. Masih marah, tapi mengajak pulang. “Pulang ke mana?” tanyanya. “Ke rumah kita atau ke rumah Nenek?”


“Ke rumahku,” jawab Alana.


Reno mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti maksud Alana.


“Ke rumah kita. Itu juga rumahku kan?” tanya Alana dengan cuek dan kembali membalikkan tubuhnya untuk berjalan lebih dulu keluar dari apartemen ini.


Reno kembali tersenyum dan mengikuti Alana dari belakang.