Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Pengalaman berharga



Sebenarnya tubuh Reno benar benar lelah, tapi ia menghiraukan kelelahan itu Nasib rumah tangganya sedang diujung tanduk. Dahulu, Alana yang memperjuangkan, kini Reno yang memperjuangkannya. Perjuangan Reno berkali lipat karena dia yang menyebabkan kekacauan ini. Andai ia menuruti sang istri, mungkin fase ini tak akan terjadi. Namun, semua sudah terjadi. Tidak bisa disesali, yang ada adalah memperbaiki. Dan, kini Reno sedang melakukan itu.


Reno sampai di rumah Dewi. Sudah beberapa hari ini ia tak ke kantor, ia juga tidak pernah lagi bertemu dengan wanita itu, setelah waktu itu terang-terangan menolak pernyataan cinta Dewi.


Tok … Tok … Tok …


Reno mengetuk pintu itu dengan keras.


“Dewi, keluar kamu.”


Dug … Dug … Dug …


“Dewi,” teriak Reno. “Aku tahu kamu di dalam. Keluar!”


Reno yakin wanita itu sudah sampai di rumah. Dewi jarang lembur. Jika ada pekerjaan yang belum selesai dikantor, maka dia akan membawa pulang ke rumah yang penting dia tidak berada di jalan larut malam.


“Dewi, dasar wanita gila. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”


Aksi Reno sontak, membuat tetangga Dewi pun keluar. Mereka menyaksikan adegan itu. Reno seperti debkolektor yang menagih hutang pada Dewi.


Dewi memang berada di dalam rumah. Ia diam tak bersuara di sana. Ia tahu bahwa Reno akan mendatanginya di sini. Rencananya, Dewi memang ingin pindah dari kota ini. Setelah mengirim foto itu pada Alana, ia memang ingin pergi jauh dari kehidupan Reno. Setidaknya baik ia maupun Alana, sama sama tidak mendapatkan Reno.


“Dewi. Keluar! Aku tidak menyangka kamu sejahat ini. Aku menyesal. Aku benar-benar salah telah memilihmu sebagai teman.”


Reno terus mengoceh dan memaki Dewi. Sungguh, ia sangat menyesal karena telah mengagumi dan membela wanita itu.


“Dewi,” teriak Reno.


Dewi tak bergeming. Ia hanya berdiri di depan jendela yang tertutup gorden. Jendela kamar yang tidak jauh dari pintu yang digedor Reno. Suara gedoran dan suara Reno terdengar jelas olehnya, bahkan oleh tetangga kiri dan kanan rumah itu.


“Mas, mungkin orangnya ga ada di dalam,” ucap tetangga Dewi yang tidak melihat Dewi pulang, kepada Reno.


Rumah itu memang masih terlihat gelap. Namun, Reno yakin bahwa Dewi ada di dalam. Kemudian, Reno menghentikan aksinya dan mendengar ucapan orang itu. ia kembali mengerang kesal dan menendang pintu itu lagi sebelum pergi.


Brak


Di dalam sana, Dewi pun terkejut dan memegang dadanya. Sungguh ia juga tidak menginginkan ini terjadi, tapi penolakan Reno begitu menyakitkan.


Dewi tak lagi mendengar gedoran di pintu itu. ia juga tak lagi mendengar teriakan Reno. Yang ia dengar hanya suara mobil Reno yang semakin lama menjaduh.


Dewi duduk di tepi tempat tidur sambil menangis. “Maaf, Ren. Ini sangat menyakitka untukku. Asal kamu tahu, cintaku lebih besar dari Alana, tapi kenapa kamu tidak pernah melihat itu?”


Dewi memang seperti orang gila yang dibalut dengan pakaian formal nan elegan. Wanita itu tampak sempurna dan tak ada celah buruk. Parasnya ayu, walau tidak begitu cantik karena cantik itu relatif. Dia juga pintar, komuniatif, humoris, dan suka menolong rekan kerjanya yang lain. namun siapa sangka bahwa Dewi memiliki obsesi yang besar terhadap Reno. Obsesi yang membuat kehilangan akal sehat dan mampu menyakiti orang lain karena merasa dirinya tersakiti.


Di jalan, Reno hanya memutar-mutar kendaraannya. Ia tak tahu mau kemana. Walau ujung-ujungnya nanti dia tetap pulang. Tapi malam ini rasanya semua semakin berat. Pasalnya, Alana sudah terang-terangan meminta berpisah.


Reno melajukan mobilnya ke sebuah pantai. Ia ingin merehatkan pikirannya sejenak di tempat yang luas itu. Sesampainya di sana, ia berdiri di depan hamparan air biru yang tak berujung. Ketika melihat luasnya laut, sebenarnya membuktikan bahwa masalahnya lebih kecil dari itu. Hanya saja ia kurang mendekatkan diri pada sang khalik. Selama ini, ia terlalu disibukkan dengan dunia, pekerjaan yang tak ada habisnya dan mengikis surganya sendiri.


Reno bersimpuh di sana di atas pasir pantai. Ia menangis. “Ampuni aku ya, Allah. Maaf karena selama ini, hambamu terlalu sombong.”


Reno mengingat segala perangainya dulu. Ia pernah memaki office boy saat hampir terpeleset ketika pria itu tengah membersihkan lantai yang belum kering. Reno juga pernah menjatuhkan bawahannya di rapat saat dia banyak melakukan kesalahan kerja hingga akhirnya mendapat SP dua dan dikeluarkan dengan status indisipliner.


Kini, ia mendapat ujian yang lain dari sikap arogan, kaku, dan merasa benar sendiri. Di balik kesuksesannya di kantor, ternyata tidak diimbangi dengan kesuksesannya di rumah. Tapi ketidaksuksesannya di rumah, justru lebih kosong dibanding ketika dia belum sukses di kantor. Dan, Reno baru menyadari itu. Ini adalah pengalaman paling berharga untuk Reno dan untuk Alana juga.


Di rumah Aminah. Alana membuka sebuah kotak kecil berwarna cokelat yang terbuat dari rotan. Kotak itu pemberian Reno saat tahun pertama mereka berpacaran. Semua adalah barang-barang saat Reno mendekati Alana. Dari mulai tiket nonton pertama kali, boneka kecil yang ia dapatkan dari mesin capit sebuah tempat bermain di mall, hingga permen karet. Permen itu mereka beli sebelum mulai berciuman. Ciuman pertama yang direncanakan hingga dua minggu sebelumnya. Lucu, bukan?