Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Kehilangan partner kerja



Keesokan harinya, Dewi fix pindah ke kantor Singapore seperti sebelumnya. Sambil menunggu surat keputusan itu turun, ia mengambil jatah cuti selama satu minggu untuk berlibur. Dewi juga hampir tiga tahun tidak pernah mengambil jatah cutinya. Sehingga, kali ini cutinya pun dirapel. Wanita itu memang dikenal penggila kerja, sama seperti Reno. Oleh karenanya, Reno merasa pas saat dipartnerkan oleh Dewi. Mereka banyak kecocokan saat menuangkan ide dan Dewi selalu menangkap maksud dari ide Reno sehingga hasil pekerjaan mereka pun selalu mendapat applouse.


“Mas ga ke kantor?” tanya Alana saat melihat suaminya masih mengenakan kaos oblong putih dan celana training abu-abu.


Reno menarik kursi meja makan. Ia duduk dengan lemas. Gerakannya pun terlihat lambat.


“Malas. Mas malas ke kantor, Al.”


Alana menoleh ke arah suaminya. “Karena tidak ada Dewi?”


Tanpa berdosa, Reno mengangguk.


Alana memejamkan matanya sejenak sambil mengambil nafas dalam-dalam.


“Ujian apa lagi ini?” tanyanya dalam hati. Harus kah Reno sejujur ini? Bisa kah dia tidak menganggukkan kepala dan mengikrarkan bahwa dirinya tidak mampu berdiri tanpa Dewi?


Namun, pria tidak peka itu tidak melihat ekspresi istrinya. Ia tetap pada rasanya sendiri yang pusing menghadapi pekerjaan dan ditinggal oleh partner kerjanya yang hebat itu.


“Mas kerjain pekerjaan Mas di rumah aja,” ucap Reno lagi.


“Oh.” Alana mecoba mengerti dan hanya membulatkan bibirnya.


Ia pikir semua akan kembali normal dengan berjalannya waktu. Toh dulu tanpa Dewi, Reno tetap diangkat menjadi manajer dalam masa kerja yang tak terlalu lama. Berarti tanpa Dewi, suaminya bisa berprestasi dan menghandle pekerjaannya kan?


****


Dua hari berlalu sepeninggal Dewi di kantor pusat. Selama dua hari itu, Reno terlihat semakin kusut. Ia juga sering mendapat telepon dari Pak Ricard. Terkadang Pak Ricard pun memarahinya.


“Iya, pak. Saya juga lagi mengerjakan pekerjaan itu. tangan saya cuma dua. Dan sekarang saya juga tidak punya asisten jadi mohon mengertilah,” ucap Reno dengan nada tinggi saat ia menerima telepon dari atasannya.


Lalu, Alana melihat Reno membanting ponselnya di sofa. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Reno masih berjibaku dengan pekerjaannya.


“Mas,” panggil Alana lembut.


Namun, Reno tetap fokus pada laptopnya dan tidak mendengar panggilan itu.


“Mas,” panggil Alana dengan suara yang sedikit dikencangkan.


“Apa sih, Al?” bentak Reno seperti tak suka dengan panggilan itu. Di tambah dengan suaranya yang masih meninggi, sama seperti saat bicara di telepon dengan Pak Ricard tadi.


Alana tersentak. Ia diam sejenak dan kembali bicara. “Maaf kalau ganggu. Tapi aku cuma ingin ngingetin kamu makan. Dari tadi, aku ga lihat Mas makan. Nanti Mas sakit.”


Reno melirik punggung istrinya sembari menarik nafasnya kasar. Ia sadar bahwa ia telah membentak Alana tadi. Kemudian, Reno meletakkan laptop yang semula ia taruh di pangkuan itu ke meja. Lalu, ia menghampiri Alana. Reno melihat Alana yang tengah berdiri di depan lemari es yang terbuka dan membelanginya.


Grep


Reno langsung memeluk Alana dari belakang. “Maaf. Mas benar-benar lagi pusing.”


Alana mematung dan kembali menghabiskan minumannya. Lalu, ia membalikkan tubuhnya. Kepalanya mengangguk. Walau hatinya sakit, tapi ia tetap peduli pada sang suami.


“Makan dulu, Mas.”


Reno pun mengangguk. Ia mengikuti keinginan istrinya. Tapi, Reno hanya memakan makanan itu sedikit.


****


Pagi harinya, Alana bangun lebih dulu. Ia dibangunkan oleh suara alarm yang dipasang tepat pukul lima pagi.


Alana sengaja subuh lebih dulu, kemudian baru membangunkan suaminya. ia tahu betul bahwa sang suami baru tidur pukul tiga tadi. Oleh karena itu, Alana membiarkan Reno istirahat lebih lama. Biasanya, Reno yang selalu bangun lebih dulu dibanding dirinya.


“Mas, bangun! Subuh dulu,” ucap Alana.


Namun, Reno tidak bergerak.


“Mas.” Alana mengguncangkan bahu Reno.


“Hmm …” suara Reno terdengar parau. Giginya pun gemeretuk, seperti kedinginan.


“Mas kenapa?” tanya Alana sembari menempelkan punggung tangannya pada kening Reno. “Ya ampun, Mas. Badanmu panas.”


Dengan cepat, Alana berlari ke dapur dan mengambil air hangat. Ia juga mencari kain yang lembut untuk mengompres suaminya.


“Ya ampun, Mas. Kamu terlalu lelah bekerja hingga seperti ini,” kata Alana sambil mengompres dahi suaminya.


Kedua mata Reno masih sayup-sayup tertutup. Ia masih berada di alam bawah sadar.


“Dewi, kenapa kamu tinggalin aku. Aku butuh kamu,” racau Reno membuat Alana sontak menghentikan aktifitasnya.


“Dewi.” Reno kembali menyebut nama wanita lain dalam alam bawah sadarnya itu. padahal saat ini yang sedang merawatnya bukanlah wanita yang disebut itu.


Seketika, air mata Alana menetes. Ia merasa Dewi lebih berarti darinya . Sekilas ia mengingat perkataan Dewi saat pertemuan empat mata itu.