Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Lebih manja dan cengeng



“Hei, kenapa masih nangis?” tanya Alana sambil mengusap pipi suaminya.


“Entahlah. Akhir-akhir ini Mas memang cengeng.”


Alana tersenyum. “Iya, Mas memang cengeng. Padahal kan itu kebiasaanku. Bahkan Mas lebih manja dari aku sekarang.”


Reno menatap wajah istrinya dan tertawa.


Ya, memang semua hal yang telah mereka lewati, kini membuat keadaan berbalik. Sikap manja, mudah menangis, sensitif, dan sedikit ke kanak-kanakan itu biasanya milik Alana. Sedangkan Reno menjadi sosok yang dewasa dan mencoba mengerti istrinya. Tapi kini, Reno yang menjadi manja, sensitif, dan mudah menangis. Sedangkan Alana berperan menjadi Reno dulu, dewasa dan selalu mengikuti apa yang pria itu mau.


“Ini tangis bahagia, Sayang.” Reno mengecup tangan Alana yang berada di pipinya.


“Aku juga bahagia, Mas. Dia hadir untuk memberi semangat padamu.”


Reno mengangguk. “Ya, aku semangat untuk sembuh, demi kalian. Demi kamu dan calon bayi kita.”


Alana ikut mengangguk. Lalu, keduanya saling tersenyum dan bertatapan penuh cinta. Reno mengelus pucuk kepala itu dengan sayang sembari satu tangannya mengelus perut Alana yang masih rata.


Alana berbaring di tempat tidur pasien dengan selang infus di tangannya. Dokter memberikan obat penguat untuk janin Alana melalui cairan infus itu lengkap dengan vitamin dan penguat daya tahan tubuh. Sedangkan, Reno dengan setia berada di samping Alana dan duduk dikursinya.


Tiba-tiba Alana tertawa.


“Kenapa?” tanya Reno yang ikut menyungging senyum.


“Hm … ini hasil dari kamu menggempurku waktu itu? Saat habis subuh?”


Reno menangkan arah pembicaraan sang istri. “Sepertinya begitu. Mungkin karena efek lama terpendam. Akhirnya, jadi.”


Keduanya tertawa. “Karena kamu terlalu bersemangat.”


“Ya, gimana ga semangat. Kamu ninggalin Mas berbulan-bulan.”


“Cuma satu bulan, Mas.”


“Satu bulan Apa? Tiga bulan, Al,” sanggah Reno.


“Dua bulan.” Alana mengangkat dua jarinya.


“Tiga. Mas Reno sampai hampir gila tau.”


Alana tertawa. “MaaF.”


Reno menempelkan keningnya pada kening sang istri. “Apa pun yang terjadi kemarin. Mas tetap bersyukur karena kita tetap bersama, di tambah ada dia yang akan melengkapi kebahagiaan kita.”


Alana menganggukkan kepalanya pelan. “Benar sekali.”


“Oh ya Mas. Kita belum mengabarkan Mami, Papi, dan Nenek,” ucap Alana.


Reno menatap jam dinding. Di sini waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Di jakarta waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Kemungkinan saat ini Asih dan Bagas sedang menikmati sarapan, begitu juga Aminah.


Reno langsung meraih ponselnya. Ia menelepon Asih yang disambut dengan teriakan nyaring dari wanita paruh baya yang akan menyandang gelar Oma.


“Papi … Alana hamil, Papi …” teriak Asih di telepon membuat Reno merenggangkan ponsel dan telinganya.


Lalu, Reno me-loudspeaker panggilan itu.


“Mami heboh banget,” ucap Reno pada Alana.


Alana tersenyum sungguh mereka sangat bahagia. “Ini baru Mami. Nenek pasti lebih heboh lagi.”


Reno tersenyum. Kemudian, sambungan telepon itu pun kembali berlanjut.


****


Waktu terus berjalan, empat bulan mereka berada di negera paman sam itu. Bayi yang dikandung Alana sangat pengertian. Morning sickness yang Alana alami tidak berlangsung lama. Ibu hamil itu -juga tidak pernah ngidam yang macam-macam. Bayi itu seolah tahu kondisi orang tuanya yang tidak dalam keadaan sehat. Alana begitu happy menikmati hari-hari menjadi wanita yang tengah hamil muda. Hampir tidak pernah Reno mendengar Alana mengeluh. Wanita itu tetap mengurus suaminya di saat tubuhnya sedang berbadan dua.


Rencananya Asih, Bagas, dan Aminah akan datang untuk menjenguk mereka. Aminah juga berencana akan menemani sang cucu hingga melahirkan, karena kemungkinan Alana akan melahirkan di kota ini, sambil menunggu Reno hingga sembuh total.


“Ayo, Mas! Kamu bisa.”


Seperti biasa, Alana menyemangati Reno yang tengah berlatih jalan di atas matras. Langkah Reno semakin panjang. Sedikit demi sedikit kedua kaki itu sudah bisa menoopang tubuhnya untuk melangkah, walau masih dengan memegang pagar busa di sisi kanan dan kiri yang disediakan. Tapi secara signifikan, Reno semakin mengalami banyak kemajuan.


Menurut dokter saraf dan otot-otot di kaki itu semakin berfungsi baik. Prediksi mereka dalam satu atau dua bulan lagi, Reno bisa jalan walau masih dengan menggunakan alat bantu tongkat. Tapi paling tidak, ia tidak harus duduk di kursi roda saja. itu lebih baik.


“Mas,” panggil Alana mendekati suaminya yang penuh dengan peluh.


“Mas sudah bisa menggerakkan kaki Mas, Sayang.” Wajah Reno tampak berbinar.


Alana mengangguk sambil mengusap peluh itu dengan handuk kecil. “Ya, sedikit lagi perjuanganmu membuahkan hasil Mas.”


“Bukan perjuanganku, Sayang. Tapi perjanganmu.”


Alana mendelik dan Reno menganggukkan kepalanya.


“Terima kasih, Sayang. Sungguh Mas sangat bersyukur memiliki istri sepertimu.”


Reno memajukan wajahnya dan hendak mencium bibir Alana. Namun, Alana langsung menahan wajah itu.


“Malu Mas, Ada Samantha dan dokter Wilson.” Alana menyebut nama perawat dan terapis yang masih ada bersama mereka.


Reno nyengir dan menatap wajah dokter dan perawat itu yang juga tengah tersenyum.