Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Meminta kejujuran Dewi



Dewi sengaja pulang lebih awal. Ia sudah merapikan semua pekerjaan dan mendelegasikan pada orang yang berkompeten untuk menggantikannya, seperti yang diminta Richard.


Sore ini, Dewi ingin meninggalkan kota ini. Ia tidak ingin bertemu dengan Reno, apalagi Alana. Ia juga tidak berniat untuk mengklarifikasi atas kebohongan foto yang telah ia berikan pada istri Reno. Kemungkinan terburuk, Reno melaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Dan, sebelum itu terjadi ia ingin kembali ke Singapura.


Dewi sudah keluar dari rumah kontrakan itu lengkap sembari menarik kopernya yang besar. ia juga sudah memberikan kunci rumah kontrakan itu kepada pemiliknya. Sejak awal Dewi memang aneh. Ia memilih tinggal di kontrakan, padahal ia mampu untuk membeli apartemen. Itu pun kontrakan yang jaraknya tidak jauh dari komplek perumahan Reno. Ternyata modus itu sudah ia rencanakan sejak awal.


Dewi melenggang ke jalan untuk menunggu pesanan taksi online yang sudah ia pesan sejak tiga puluh menit lalu. Di dalam chat aplikasi itu, si sopir mengatakan bahwa ia sudah sampai di titik penjemputan. Namun, Dewi belum melihat mobil dengan plat yang tertera di aplikasi itu muncul.


“Mbak,” panggil seorang pria pada Dewi.


Dewi menoleh. Ia memesan taksi untuk membawanya ke bandara.


“Dengan Mbak Dewi Anggraini?” tanya pria itu lagi.


“Ya, betul.”


Pria asing itu pura-pura mengajak Dewi berbincang seolah dirinya adalah si sopir yang mengambil orderan taksi online itu. lalu, pria itu memberi kode pada pria yang berdiri di belakang Dewi.


Dengan cepat pria yang berada di belakang Dewi pun beraksi dan membekap hidup Dewi dengan sapu tangan yang sudah ia taburkan obat bius.


“Eum … Eum …” Dewi meronta beberapa detik dan langsung tak sadarkan diri.


Ini adalah perintah Reno. Kedua pria itu adalah orang suruhan Reno untuk mengintai gerak gerik Dewi agar wanita itu tidak kabur sebelum waktunya. Dan benar saja, Dewi memang ingin meninggalkan kegaduhan ini dengan lenggang. Ia ingin lepas tangan atas apa yang sudah diperbuat.


Namun, Reno mencuri kelicikan Dewi. Ia pun bermain yang sama. Dewi dibawa ke apartemen sewaan yang sudah Reno siapkan.


****


Reno mengantar Alana hingga depan rumah Aminah. Ia belum bisa membujuk Alana untuk kembali. Mungkin memang masih perlu waktu dan tidak bisa buru-buru dan Reno memahami itu. Kesabarannya kini sedang diuji.


“Oke, gue ke sana. kasih dia makan!” ucap Reno saat menerima telepon dari orang suruhannya.


Lalu, ia menahan tangan Alana yang hendak keluar dari mobil. “Al, ikutlah denganku. Dewi ingin bicara.”


Alana menoleh ke arah Reno dan Reno mengajaknya lewat isyarat kepala.


Alana menarik nafasnya kasar. Ia kembali menutup pintu mobil itu dan duduk sempurnah di samping Reno. Ia menuruti permintaan Reno, karena ia memang ingin mendengar dari mulut Dewi tentang foto itu.


“Buka … Buka pintunya!” Di dalam kamar, Dewi menggedor-gedor pintu itu. ia juga menendang-nendang pintu itu agar terbuka.


Namun, dua pria yang menjaga di ruang tamu, hanya diam. Ia membiarkan hal itu terjadi sampai Reno datang.


Dua jam kemudian, Reno pun tiba di apartemen yang tidak terkenal itu.


Alana mengernyitkan dahi. “Dewi memang tinggal di sini?” tanyanya saat berjalan menuju flat yang Reno sewa.


Reno menggeleng. “Tidak. Aku sengaja menahannya di sini, karena dia ingin kabur sebelum menjelaskan ulahnya ke kamu.”


Alana terdiam. Perjuangan Reno mmang patut diacungi jempol. Ia cukup percaya dengan apa yang telah Reno lakukan. Ia pun memaafkan Reno, jauh sebelum pria itu meminta, tapi untuk kembali bersama, Alana masih berpikir.


Reno masuk ke flat yang cukup layak itu. flat dengan pintu tanpa passcode. Alan melihat dua pria bertubuh tegap yang berdiri di depan pintu kamar Dewi.


“Dia ada di dalam?” tanya Reno pada salah satu orang suruhannya itu.


“Ada, Bos.”


“Kamu menyewa mereka?” tanya Alana pada Reno.


Lalu, Reno membuka kamar yang di dalamnya tengah berada sosok wanita yang sudah menghancurkan beberapa rumah tangga orang.


“Hai, j*l*ng,” sapa Reno pada Dewi.


Dewi langsung menoleh. “S*al. ternyata ini ulahmu.”


“Tentu. Aku kan sudah memepringatkanmu untuk menemui Alana dalam waktu tiga hari. Tapi sampai waktu yang ditentukan kamu tidak melakukan dan malah ingin pergi. Untung aku lebih licik darimu.”


Dewi kesal. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal.


“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, sebelum kamu jelaskan ke Alana tentang foto ini. Katakan padanya kalau itu tidak benar,’ kata reno tegas pada Dewi.


“Tidak.” Dewi menggeleng.


“Katakan yang jujur, Wi. bilang ke Alana bahwa foto itu tidak benar,” bentak Reno yang mulai emosi karena Dewi tidak bisa diajak kompromi.


“Tidak.” Dewi masih dengan pendiriannya dan Alana hanya mematung.


Alana melihat Dewi tidak lagi seperti yang ia kenal dulu. Wanita itu mirip seperti orang gila.


“Dia gila, Al. dia sudah seeprti ini sebelumnya. Bahkan aku menemui keluarga yang sudah dia hancurkan,” ucap Reno pada Alana.


Alana justru miris melihat Dewi. Ia tak menyangka wanita seelegan dan sepintar Dewi bisa terobsesi dengan suamianya sedalam ini.


“Ini semua karena kamu, Alana, karena kamu. Aku benci kamu. Aku ingin kamu menderita, sama sepertiku. Kamu sudah mengambil Reno dariku.”


Dewi menghampiri Alana dan mencoba meraih rambutnya. Namun, Reno dengan cepat menahan Dewi. Ia juga memanggil dua orang suruhannya itu untuk menahan tubuh Dewi dan menjauh dari Alana.


“Al, kamu tidak apa-apa?” tanya Reno khawatir.


Alana menggeleng. “Tidak, aku tidak apa-apa.”


Alana masih syok dengan apa yang ia lihat malam ini.


“Hei, wanita gila,” panggil reno pada Dewi sembari menghampirinya.


“Jangan pnggil aku seperti itu! Aku mencintaimu, Ren. Bisakah kamu menghargaiku?”


Reno tertawa. “Dulu iya. Aku sangat menghargaimu karena kita teman baik. Tapi ketika kamu menusukku dari belakang dan menghancurkan kebahagiaanku. Semua selesai.”


“Sekarang, katakan kalau foto itu tidak benar. Alana ingin mendengar itu dari mulutmu,” ucap Reno lagi.


Dewi diam. Alana pun mematung. Kedua tangan Dewi tak bisa bergerak karena di kunci oleh dua pria bertubuh tegap itu.


“Katakan, Wi! sebelum kesabaranku habis,” teriak Reno. “Aku tidak main-main. Akan aku panggil lima orang preman ke sini untuk memaksamu melayani mereka. Apa itu maumu, huh?”


“Mas Reno.” Alana menatap Reno tak percaya sembari menggelengkan kepalanya. Sungguh, ia tak percaya bahwa Reno bisa sesadis ini.


Mata Reno merah. Ia benar-benar marah dengan Dewi.


“Lebih baik aku melayani lima orang preman dari pada melihat kalian bahagia,” ucap Dewi.


“Sakit jiwa.”


Alana melihat kedua orang yang dulu begitu dekat, begitu saling melengkapi, dan saling mengagumi, bahkan Reno pernah merasa kehilangan. Kini bertikai habis-habisan. Di sini ia belajar mengenal karakter orang, seperti Alex yang sering melatihnya untuk mengenal banyak karakter orang saat mereka bekerja. Dan di sini, ia pun belajar menjadi dewasa untuk bisa memahami dari sudut pandang kondisi orang lain. Karena selama ini ia terjebak dalam kenyamanan bersama Reno tanpa tahu bagaimana nasib orang di luar sana.