
Pagi ini, Reno masih tampak lelah. Tubuhnya pun sedikit demam. Namun, ia memaksakan diri untuk tetap bugar. Ia meminum vitamin setelah menyelesaikan sarapan pagi yang sebenarnya malas ia lakukan. Mengingat masih banyak hal yang ingin ia kerjakan untuk membersihkan nama baiknya di depan Alana, maka ia harus berjuang.
Perjuangan pun dimulai. Reno sudah banyak mengumpulkan informasi. Hanya saja ia belum mendapatkan bukti konkrit.
Reno bersiap untuk pergi. Namun, sebelum itu, ia membersihkan dapur dan piring serta peralatan masak yang tadi ia gunakan. Reno ingin tetap menjaga rumah ini dan menjaga kebersihannya, karena Alana telah merapikan dan membersihkan rumah ini saat mereka akan bertemu. Tapi sayang, pertemuan itu kembali terganjal oleh ulah Dewi.
Reno sudah tidak memperdulikan urusan kantor. Ia juga sudah mengirim surat pengunduran diri melalui email langsung ke Pak Richard dan manager HRD. Ia tidak peduli jika tidak mendapatkan apa pun dari perusahaan itu karena memang ia keluar secara tidak baik-baik.
Reno masuk ke sebuha gedung yang cukup besar. Ia datang ke perusahaan travel sang ayah yang menjadi travel perjalanan nomor satu di negeri ini. Bahkan Bagas memiliki cabang di beberapa kota besar.
“Mas Reno,” panggil asisten bagas yang bernama Dimas.
“Hai, Dim. Apa kabar?” tanya Reno yang lebih dulu mengulurkan tangan.
“Baik, Mas. Tumben Mas ke sini. Udah lama sekali Mas tidak datang ke kantor Bapak.”
“Ya, saya sibuk,” jawab Reno.
“Ya, Bapak sering mengeluh katanya Mas Reno memilih bekerja pada orang lain dibanding mengurus perusahaannya sendiri.”
Reno tersenyum tipis. “Bukan ngga mau ngurusin perusahaan Papi, tapi memang belum waktunya aja. Saya masih mau mengeksplore diri. Tapi sepertinya dalam waktu dekat, saya juga akan bantuin Papi.”
“Wah, kabar baik kalau begitu,” sahut Dimas senang.
Mereka berjalan beriringan menuju lift.
“Papi ada kan, Dim?” tanya Reno saat mereka memasuki lift.
“Ada, Mas.”
“Oh, ya. Kemarin katanya istrimu baru melahirkan?” tanya Reno lagi.
“Iya,” jawab Dimas mengangguk.
“Anak ke berapa?”
“Tiga, Mas.”
“Wuih, cepet banget. Perasaan saya duluan yang nikah.”
Dimas nyengir. “Ya gitu deh, Mas.”
Reno tersenyum.
Tring
Lift pun terbuka dan mereka kembali keluar dari ruangan itu bersama-sama.
“Saya ke ruangan Papi, ya.”
“Silahkan, Mas!” Dimas membentangkan tangan kanannya untuk mempersilahkan Reno jalan lebih dulu.
Reno berdiri di depan pintu ruangan sang ayah. Lalu, ia mengetuk pintu itu.
“Masuk.”
Reno pun membuka pintu. Bagas langsung melihat ke arah itu.
“Reno! Tumben kamu ke sini?” tanyanya.
Reno tersenyum dan menghampiri sang ayah. Ia mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangan itu.
“Ada apa?”
Reno tersenyum dengan pertanyaan sang ayah. Ia pun duduk di hadapan pria yang selalu menjadi panutannya.
Bagas tersenyum. “Loh, iya. Soalnya kamu kan jarang ke sini. Kalau kesini pasti ada urusan serius. Benar kan?”
Reno terdiam sejenak. Ia menarik nafasnya kasar. Hanya sang ayah yang bisa membantunya, walau setelah ia menceritakan tentang rumah tangganya nanti, pasti Bagas akan memarahinya habis-habisan. Namun, ia akan menerima karena semua kekacauan ini memang berawal darinya.
“Begini Pi, Reno ingin menceritakan sesuatu tapi Papi dengarkan dulu dan jangan berkomentar. Setelah selesai baru Papi komentar,” ucap Reno.
Kemudian, Reno mulai bercerita tentang awal pertemuannya dengan Dewi. Ia juga bercerita tentang kedekatannya dengan wanita itu saat SMA, saat di mana cintanya ditolak oleh Alana dan dekat dengan wanita itu. Reno juga menceritakan tentang sikapnya pada Alana, tentang dirinya yang tidak percaya dengan ucapan sang istri hingga akhirnya terbukti. ia menceritakan semua dengan gamblang dan detail tanpa dilebihkan atau dikurangkan.
“Jadi, Alana sekarang sudah tidak tinggal denganmu?” tanya Bagas.
Reno menggeleng.
“Bodoh. Mengapa kamu membiarkan Alana pergi, huh? Oh putrinPapi kasihan." Bagas lebih membela menantunya.
"Dasar anak bodoh," umpatnya pada sang putra.
Reno menunduk. “Ya, saat itu Reno memang bodoh, Pi. Reno kalah dengan emosi.”
Bagas kesal. Ia memijat pelipisnya dan menatap wajah sang putra. “Apa kamu mencintai wanita itu?”
“Tentu tidak,” jawab Reno tegas.
Lalu, ia juga menceritakan paska dirinya menolak Dewi. Wanita itu makin menjadi dan semakin membuat rumah tangganya diambang perpisahan.
“Bodoh.” Bagas kembali mengumpat putranya.
“Ya, Papi. Reno memang bodoh. Tapi sekarang Reno ingin memperbaikinya.”
Reno menceritakan tentang informasi Dewi dan latar be;akang wanita itu juga gaya hidupnya selama di Singapore.
“Pa, Reno butuh Dimas untuk ke Singapore siang ini.”
“Siang ini?” tanyanya
“Ya.” Reno mengangguk. "Semakin cepat lebih baik. Reno ingin mengumpulkan bukti konkrit di sana. Reno ingin menyambangi rumah sakit yang dijadikan Dewi untuk abosi juga keluarga korban keegoisan wanita itu.”
Bagas masih diam.
“Reno butuh Dimas, karena dia bisa diandalkan. Reno pinjam dia sampai besok Pi. Tidak apa kan?” tanya Reno.
“Ya, mau bagaimana lagi.” Bagas mengangkat bahunya.
Reno pun tersenyum. “Setelah urusan Reno dan Alana selesai, Reno janji akan membantu perusahaan Papi.”
Bagas mencibir. “Sudah begini saja, kamu mau membantu Papi.”
“Maaf, Pi.”
Lalu, Reno pun bergegas ke ruangan Dimas. Ia juga hendak memesan tiket untuk langsung terbang ke negeri yang dikenal dengan simbol patung singa dan ikan yang digabungkan itu.
“Oh ya, Pi. Tolong rahasiakan hal ini dari Mami. Reno tidak ingin Mami banyak pikiran,” kata Reno lagi sesaat sebelum meninggalkan ruangan itu.
Bagas mengangguk.
“Oh ya Pi, satu lagi,” ucap Reno lagi. “Tolong sering-sering ke rumah Nenek dan jaga Alana buat Reno.”
“Kau menyuruh Papimu?”
Reno nyengir. “Minta tolong, Pi.”
“Dasar, anak bodoh,” kesal Bagas pada putranya yang sudah menyia-nyiakan istri sebaik dan secantik Alana.
Reno nyengir dan menutup kembali pintu ruangan itu. ia yakin sudah mendapat kartu As untuk menekan Dewi. Memang untuk menghadapi orang yang licik, terkadang harus menggunakan cara yang licik juga.