Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Pergi dan tak akan kembali



"Sir, saya pamit pulang duluan,” ucap Alana setelah mengetuk pintu Alex.


Saat ini waktu menunjukkan pukul tujuh belas lewat dua puluh menit. Alana seharusnya pulang pukul lima sore, tapi ia terlambat dua puluh menit untuk menyelesaikan sedikit lagi pekerjaannya. Kebetulan Reno pun baru sampai di lobby lima menit lalu.


“Oke,” jawab Alex singkat. Kemudian pria itu kembali memanggil Alana. “Al.”


Alana langsung menoleh sebelum kembali menutup pintu. “Yes, Sir.”


“Terima kasih untuk ini.” Alex mengangkat tempat makan hijau milik Alana yang siang tadi ia berikan pada si bos.


Alana tersenyum. “Saya juga terima kasih.” Ia membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai tanda penghormatan pada Alex.


Alex ikut tersenyum dan mengangguk.


"Bye the way, rendang buatanmu enak. Di Singapore, saya tidak menemukan rendang se enak ini,” kata Alex lagi.


Alana tersipu malu. “Oh ya? Kalau begitu lain waktu saya akan akan buatkan lagi untuk Sir Alex.”


“Benarkah?” tanya Alex dengan menaikkan dahinya. “Saya tunggu.”


Alana ikut tersenyum lebar dan mengangguk. Lalu, ia kembali pamit dan Alex pun memberi izin. Alana bergegas turun ke lantai dasar. Sejak tadi, Reno sudah menunggunya di sana.


Tring


Pintu lift tepat terbuka di lantai dasar. Alana keluar dan melangkah cepat menuju lobby. Ia melihat sang suami yang sedang duduk di sana.


“Mas.” Alana melambaikan tangan sembari tersenyum menghampiri suaminya.


Namun, di sana Reno tak membalas senyuman itu. Wajah Reno terlihat datar, malah lebih tepatnya kesal. Alana tidak mengerti kenapa? Wanita itu pun memudarkan senyumnya.


Reno dan Alana berjalan menuju parkiran. Mereka pun membuka pintu mobil masing-masing. Saat di dalam mobil, Reno masih diam. Tak keluar sepatah kata pun dari mulut itu. Sedangkan Alana bingung ingin memulai pembicaraan dari mana. Ia pun ikut diam.


Alana hanya memalingkan wajahnya ke arah jendela yang berada persis di sampingnya. Sesekali Reno pun melirik sang istri. Alana tak berusaha bertanya mengapa sikap Reno demikian? Biasanya jika Reno diam, sang istri tampak banyak bicara dan mengembalikan mood-nya. Tapi kali ini, Alana tak melakukan itu. mereka seperti orang asing.


Sesampainya di rumah, kedua insan ini masih dalam posisinya. Alana langsung ke kamar dan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Reno memilih duduk di ruang televisi. Sedari tadi, di benaknya banyak sekali pertanyaan tentang apa yang disampaikan Dewi tadi. Ia ingin tahu alasan Alana dengan kejam melakukan hal itu pada Dewi.


Ceklek


Akhirnya, Reno memasuki kamar. Ia melihat Alana sudah duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambutnya.


“Mas air hangatmu sudah aku siapkan. Mandi gih!” ucap Alana sembari melihat Reno dari balik cermin.


Reno masih tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ia pun langsung berlalu ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu. sambil menunggu Reno selesai membersihkan diri, Alana menyiapkan makan malam. Ia memesan makanan online dan menyajikannya di meja makan.


Selepas sholat maghrib, Alana mengajak Reno untuk makan malam.


“Mas aku tunggu di meja makan ya!”


Reno tak menjawab. Ia malah memfokuskan untuk melipat sajadahnya.


Alana menunggu suaminya yang tak kunjung keluar. Sepertinya di dalam kamar, Reno menunggu hingga adzan isya berkumandang.


Alana yang sudah kelaparan pun memilih untuk makan lebih dulu dan tak lama kemudian Reno pun keluar dari kamar.


“Mas, ayo makan! Maaf aku makan duluan!”


Lagi-lagi Reno tak menggubris. Ia lebih memilih menarik kursi meja makan itu dan duduk.


“Mas kenapa? Dari tadi kok diam?” tanya Alana.


Reno yang baru saja mengambil makanan itu pun masih diam. Ia hanya menyuapkan makanannya ke mulut.


Alana ikut diam. Memng tidak sopan jika bicara sembari makan. Oleh karena itu, Reno tidak menjawab pertanyaannya.


Alana yang sudah selesai makan pun hanya duduk menemani Reno di meja itu. Reno melirik sang istri yang sibuk dengan gadgetnya. Bahkan Alana terlihat senyam senyum dengan benda pintarnya itu.


“Kamu sekarang berubah, Al,” ucap Reno sambil menelungkupkan alat makan di atas piringnya itu.


“Hmm …” Alana yang tidak mengerti ucapan Reno pun melirik. “Maksudnya?”


“Mas ga nyangka kamu bisa sekejam itu pada orang. Sejak bekerja, kamu berubah. Kamu tidak lagi memikirkan orang lain. Mana kelembutan Alana yang Mas kenal?" tanya Reno.


“Maksud Mas apa sih? Aku ga ngerti.”


Alana yang tak terima pun ikut sedikit sewot. “Hal konyol? Memang kedekatan kalian tidak wajar kan? Apa aku salah melakukan itu? Apa aku salah mempertahankan milikku?”


Brak


Reno menggebrak meja, membuat Alana tersentak kaget. “Sudah berapa kali Mas bilang. Mas ga ada hubungan apa-apa sama Dewi. Kamu ngerti bahasa manusia ga sih?”


Air mata dipelupuk mata Alana mulai menggenang. Ingin rasanya Alana menangis. Namun, ia menahannya.


“Makan siang berdua, membelikan anting yang sama denganku, dan mengigau nama dia. Apa aku ga boleh cemburu?” tanya Alana dengan nada tinggi, seolah menantang Reno.


“Makan siang berdua, itu karena kami memang sedang tugas luar bersama. Anting yang sama, itu dia beli sendiri. Aku tidak membelikannya. Anting itu memang pilihan dia jadi bebas dia mau beli dengan model yang sama atau tidak. Mengigau, itu diluar kendaliku, Al. karena memang saat itu isi kepalaku hanya pekerjaan.” Reno menyanggah semua tudingan Alana.


Alana diam. Ia menutup wajahnya dan mencoba mengatur nafas yang kian naik turun karena kesal.


Reno pun demikian. Pria itu tampak menahan emosi dan nafasnya.


Keduanya diam sesaat, hingga Reno membuka suara kembali.


“Sekarang kamu mau apa? Mau Mas berhenti kerja?"


"Mas bisa kerja di perusahaan Papi," jawab Alana.


Reno tersenyum sinis. "Mas bukan anak yang selalun berlindung diketiak orang tuanya. Mas lebih suka mengekplore diri. Mas rasa kamu tahu itu kan?"


Alana kembali diam dan Reno menatap Alana yang sedang menunduk.


"Kalau kamu seperti ini. Dimana pun Mas kerja, Mas akan selalu dicurigai. Sekalian saja kamu ikat Mas agar tidak bisa kemana mana dan tidak tahu dunia luar.” Reno menggelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar kekanak-kanakan, Al.”


Kemudian, Alana pun menengadahkan kepalanya. Ia menatap Reno. Ia tidak bermaksud seperti itu. Sejak pacaran, Alana selalu mendukung keinginan Reno.


“Lalu, sekarang bagaimana?” tanya Reno. “Mas lelah kamu curigai terus.”


“Aku juga lelah seperti ini, Mas,” ucap Alana dengan suara bergetar. “Aku lelah.”


Alana tak bisa membendung tangisnya. Ia pun menangis. Apa iya perempuan diluar sana tidak bersikap seperti dirinya saat suami mereka didekati lawan jenis? Alana masih mempertanyakan apa ia memang kekanak-kanakan?


Di saat Alana menangis, Reno tak mendekati dan menenangkan seperti biasa ketika ia sedang sedih. Reno tetap duduk di kursinya. Pria itu juga tak lagi memandang sang istri.


Suasana hening, hanya terdengar isakan dari mulut Alana. Lalu, Alana berkata, “sepertinya kita butuh waktu untuk sendiri, Mas.”


Reno mengangguk. “Ya sepertinya begitu. Kita memang butuh waktu untuk intropeksi diri.”


Reno menggeser kursi itu dan bangkit. Ia melangkah menuju kamar hingga Alana melihat suaminya hendak memakai jaket.


“Mas mau kemana?” tanya Alana.


“Aku ingin menenangkan diri di rumah Mami.”


“Tidak perlu,” ucap Alana yang langsung berdiri. “Ini rumahmu, rumah pemberian Papi. Jadi biarkan aku saja yang pergi.”


Reno mematung. Ia memilih duduk di sofa televisi, sedangkan Alana kembali ke kamar dan membereskan pakaian kerjanya saja ke dalam koper kecil.


Reno yang kesal dengan sikap Alana pun tak mencegah istrinya pergi. Menurutnya, sikap Alana terlalu berlebihan. Cemburunya sangat berlebihan dan kekanak-kanakan.


Alana mendorong koper kecilnya keluar kamar. Reno pun tak menoleh saat Alana melakukan itu. hingga Alana membawa koper itu ke dalam mobil h*nda J*zz merah milik Alex pun, Reno tak menahan dan hanya melirik saja. Pria itu membiarkan Alana yang hendak pergi.


“Mas aku pamit.” Ucap Alana tepat di depan pintu.


Reno tak menyahut, ia juga tak melihat ke arah Alana dan malah menatap layar televisi.


Alana membalikkan tubuhnya dan keluar dari rumah itu setelah menutup pintu dengan sempurna. Sambil melangkah menuju mobil, Alana menengok ke belakang. Ia berharap Reno menghadangnya untuk pergi. Namun, tidak pria itu lakukan. Reno tak keluar dari rumah itu hingga Alana memasuki mobil dan menyalakan mesin itu.


“Dah, Mas. Terima kasih sudah menguatkan keputusanku,” gumam Alana sambil tersenyum menatap rumah itu dan menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Reno.


Reno memgizinkan Alana keluar dari rumah. Alana pun tak berharap kembali ke rumah itu.


Setelah cukup lama berkendara, Alana menepikan mobilnya. Ia teringat sesuatu. Alana merogoh ponsel yang berada di dalam tas dan mengetikkan sesuatu di sana.


“Congratulation, kamu menang Mbak. Mulai sekarang, Mas Reno resmi menjadi milikmu. Aku sudah melepasnya. Titip dia!"


Alana menarik nafasnya panjang, saat ibu jarinya menekan tombol kirim. Mulai saat ini, ia harus terbiasa tanpa Reno, pria yang selalu ada untuknya sejak bertahun-tahun silam. Pria yang mengenalkannya akan cinta dan kasih sayang setelah kehilangan kedua orang tua.