
“Mimi …” teriak Aurel saat melihat Alana keluar dari mobil.
Alana menunggu di parkiran itu selama sepuluh menit, hingga melihat Aurel keluar dan ia pun keluar dari mobil.
“Sayang.” Alana melambaikan tangan kanannya ke atas sambil berjalan menuju gadis kecil yang lucu itu.
Lalu, Alana menggendongnya.
“Sudah lama menungguku?” tanya Aurel.
“Hmm … tidak.”
“Tidak lama?” tanya Aurel lagi.
Alana tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sayang. Tapi lumayan membuat perut Mimi berbunyi.”
“Mimi lapar?” tanya Aurel lagi.
Alana membawa Aurel menuju mobilnya dengan menggendong anak itu. ia juga mengngguk. Lalu mendudukkan gadis kecil itu di kursi penumpang depan, tepat di sampingnya.
“Aurel tidak lapar?” tanya Alana.
“Lapar.” Gadis kecil itu mengangguk. “Perutku juga berbunyi saat aku main piano tadi,” ucapnya nyengir sambil menutup mulutnya.
“Kalau begitu kita sama.”
Aurel mengangguk. “Iya.” Gadis kecil itu pun tertawa.
Kemudian, Alana membawa Aurel pulang. Namun, sebelum itu ia mengajak putri Alex mampir ke sebuah restoran. “Aurel mau makan apa? Ayam krispi?”
“No. Aku bisan makan itu.”
“So?” tanya Alana dengan menoleh ke arah Aurel dan kembali fokus ke jalan.
Selama di kantor, ia dan Reno selalu berkomunikasi. Walau Reno tidak menelepon langsung, tapi pria itu sering mengirim pesan. Alana juga langsung membalas pesan itu dan menanyakan hari pertama bergabung di perusahaan sang ayah.
Aurel berpikir sambil megetuk-ngetuk kepalanya. Anak ini terlihat dewasa sebelum waktunya. Gayanya seperti anak yang sudah berusia sepuluh tahun. Dan, itu membuat Alana gemas.
“Aurel ingin nasi goreng,” jawab gadis yang dikuncir dua itu.
“Kebetulan, Mimi juga lagi ingin nasi goreng. Mimi tahu tempat nasi goreng yang enak,” jawab Alana antusias. “Let’ go!”
“Go!” kata Aurel semangat.
Setelah lima belas menit, mereka pun tiba di restoran yang menyajikan makanan laut. Menurut Alana, restoran ini terkenal dengan nasi goreng ranjungan yang lezat tiada tara. Ia pun langsung memesan dua.
“Ini nasi goreng kesukaan Mimi. Enaaaak banget. Pasti Aurel suka,” ucap Alana.
Aurel mengangguk. “Ya, pasti Aurel suka.”
Anak itu memang sering mengulang perkataan orang.
“Mimi,” panggil Aurel saat Alana sedang membalas pesan Reno.
“Ya.” Alana menatap wajah Aurel.
“Eum … kalau Mimi tinggal di rumah Aurel, memang tidak boleh?” tanya gadis kceil itu polos.
“Hmm …” Alana bingung untuk menjawab.
“Kata Daddy, ga boleh. Karena Mimi punya suami. kata Daddy, Daddy harus menikahi Mimi dulu baru Mimi boleh tinggal sama Aurel. Memang kalau Mimi sudah punya suami, tidak boleh menikahi Daddy?”
Alana ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Tapi, seketika dia diam dan bingung menata kata untuk menjawab pertanyaan kritis itu.
“Hmm …” Alana masih merangkai kata yang tepat agar dipahami oleh gadis kecil yang sedang menatapnya intens ini. “Tidak boleh, karena mempunyai suami itu hanya satu. Kalau Mimi nikah sama Daddy berarti suami Mimi dua dong?”
“Oh, iya. Hihihi …” Gadis kecil itu ikut tertawa.
“Menikah itu untuk orang yang masih sendiri, seperti Daddy. Eum … seperti Bibi An, Aunty Bilqis.” Alana menyebut orang-orang yang Aurel kenal. Kebetulan Aurel sudah pernah bertemu dengan Bilqis saat satu waktu ia makan siang bersama di kantor.
“Oh. Jadi, Mimi tidak bisa menikah dengan Daddy?”
Alana menggeleng. Kemudian mengangguk. “Bisa, kalau Mimi berpisah dari suami Mimi.”
Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang.
“Ayo makan!” ucap Alana saat pelayan meletakkan makanan dan minuman itu.
“Hmm … harum,” seru Aurel. “Ayo makan!” lagi-lagi gadis kecil itu menirukan gaya bicara Alana.
Aurel memakan makanan itu dengan lahap. Alana pun tersenyum. ternyata ia tidak salah memilih menu makanan ini. Kesukaan mereka sepertinya sama.
“Enak kan?” tanya Alana.
Aurel mengangguk. “Enak, Mi. Enak sekali.” Dengan semangat Aurel menyuapkan makanan itu ke mulut, hingga tiba-tiba ia tersedak.
“Aurel, hati-hati!” Alana panik dan segera memberi minum pada Aurel.
Namun, gadis kecil itu semakin tercekat. Ia seperti kehabisan nafas.
“Aurel, kamu kenapa?” tanya Alana yang benar-benar panik. “Tolong … Tolong …”
Aulana dengan cekatan, langsung membawa Aurel ke rumah sakit. Ia sengaja meminta pelayan restoran untuk mengantarnya dengan menggunakan motor ke rumah sakit terdekat dan membiarkan mobilnya berada di tempat itu.
Lima menit, motor yang membawa Alana tiba di rumah sakit. Alana pun langsung berlari ke bagian IGD dan berteriak, “Suster … Suster … tolong!”
Aurel langsung ditangani. Suster itu pun langsung mendorong tempat tidur dan Aurel di letakkan di sana untuk dibawa ke ruang perawatan IGD yang tersedia alat oksigen. Tangan Aurel mengenggam erat tangan Alana.
“Mimi …” panggilnya lirih.
“Ya, Mimi bersamamu, Sayang.” Alana berjalan cepat mengikuti tempat tidur pasien yang mendorong Aurel.
“Jang … an … tingga .. lin Aurel.”
“Iya, Mimi di sini. Mimi akan menemani Aurel,” jawab Alana.
“Jadi Mimi Aurel seperti Mommy?”
“Ya, jadi Mimi Aurel seperti Mommy.” Tanpa berpikir Alana mengiyakan perkataan gadis kecil yang tengah sekarat itu.
“Jan … Ji.” Dengan susah payah, Aurel mengangkat jari kelingkingnya.
“Janji.” Alana menautkan jari kelingkingnya pada jari Aurel.
Sesampainya di ruang IGD, tangan Aurel masih menggenggam erat tangan Alana dan suster yang seharusnya akan menahan Alana untuk tidak masuk ke dalam pun tidak tega.
“Ibu masuk saja, sepertinya anak ibu tidak mau ditinggalkan,” ucap suster itu.
Alana pun mengangguk senang. Ia ikut ke dalam ruangan itu dan menemani putri kesayangan Alex. Hati Alana cmpur aduk melihat Aurel yang tiba-tiba seperti orang kena serangan jantung. Gadis itu kesulitan bernafas, jantungnya pun berdetak cepat, dan hampir kehilangan kesadaran jika Alana tidak terus menyadarkannya.
Di dalam, Aurel langsung diberi tindakan. Gadis itu pun tertidur saat nafasnya mulai teratur.
Alana langsung memberi kabar pada Alex. Ternyata, penyebab Aurel seperti ini adalah ranjungan. Aurel memiliki alergi terhadap makanan laut. Dan, Alana baru mengetahui hal itu. Ia sangat merasa bersalah. Apalagi saat dokter mengatakan, jika Alana tidak cepat membawa Aurel ke sini, maka nyawa gadis itu akan melayang.
Alana terisak. Dadanya bergemuruh, naik turun. Antara cemas dan takut menjadi satu. Aurel adalah putri kesayangan bos-nya. Apa yang akan terjadi jika saat itu Aurel tidak tertolong, mungkin Alana bisa gila karena menanggung rasa bersalah.
Alana terduduk lemas di kursi tunggu tepat di depan ruang IGD.