Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Melihatnya dengan pria lain



“Bos, wanita itu sepertinya akan pergi. Dia sudah menyerahkan kunci kontrakan pada pemiliknya,” ucap seorang pria melalui telepon dengan Reno yang baru saja sampai di Jakarta dan sedang berdiri di lobby kedatangan untuk menunggu mobil jemputan.


“Pantau terus!” perintah Reno pada orang suruhan yang sedang meneleponnya itu. “Kalau dia pergi, lu tahu harus berbuat apa.”


Pria di sana mengangguk patuh sambil mengucapkan kata siap. Reno pun menutup sambungan telepon itu, tepat saat mobil sedan berhenti di depannya.


“Ayo, Mas!” ajak Dimas pada Reno untuk memasuki mobil.


Pria itu juga sudah memasukkan koper mereka ke dalam mobil.


Langit mulai menguning, sebentar lagi matahari akan terbenam dan berganti malam. Reno mulai mengecek keberadaan Alana, apa wanita yang ia rindukan itu masih berada di kantor atau sudah pulang ke ruma Aminah. Sungguh, Reno sangat merindukan istrinya. Sudah hampir satu bulan mereka terpisah, terpisah karena kebodohannya yang membiarkan Alana pergi.


Reno duduk di kursi penumpang belakang. Sedangkan Dimas berada di kursi penumpang depan di samping sopir operasional Bagas di kantor.


Reno menyandarkan kepalanya di kepala kursi mobil itu. ia menarik nafasnya kasar sambil memijit pelan pelipisnya. Mata Reno terpejam. Dalam pejaman matanya, hadir sosok Alana dengan senyum manis yang ia sukai itu. Senyum manis yang selalu ia lihat saat ia membuka mata di pagi hari. Namun, senyum manis itu tak lagi ia dapatkan hingga ini. Rasanya ia sangat merindukan itu.


Reno membuka kembali matanya. “Al, Mas rindu sekali padamu,” ucapnya dalam hati dengan pandangan ke samping dan melihat ke jalan dari jendela.


Lalu, Reno melewati toko bunga. “Stop, Pak. Stop!” ia memberhentikan si sopir.


“Pak Wisnu, berhenti,” ucap Dimas dan sopir itu pun langsung menepi.


“Saay ingin ke toko bunga tadi,” kata Reno.


“Iya, Pak.” Si sopir langsung mundur sedikit karena toko itu sudah terlewat.


Reno keluar dan melihat rangkaian bunga-bunga yang indah di sana. ia tahu bunga pa yang disukai Alana dan ia tahu cara untuk membuat wanita itu tersenyum. Reno pun tersenyum dan mengambil setangkai bunga yang Alana sukai. Ia mencium wangi bunga segar itu dan membelinya.


Reno kembali ke mobil dengan wajah ebrseri. Dimas pun dapat melihat itu.


“Setelah ini, Mbak Alana pasti akan kembali, Mas,” ucap Dimas.


Reno masih tersenyum dan mengangguk. “Tentu. Dengan bukti-bukti ini, tidak ada alasan Alana tidak mempercayaiku.”


Dimas menoleh ke belakang dan tersenyum tanda setuju dengan apa yang diucapkan Reno.


****


Reno melihat lokasi Alana yang sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Salah satu puat perelanjaan terbesar di kota ini. Kebetulan hari ini memang hari kerja terakhir menjelang weekend. Ia berpikir kemungkinan Alana berada di pusat perbelanjaan itu bersama Bilqis, karena biasanya memang seperti itu. dua wanita yang bersahabat sejak kuliah itu sering menghabiskan waktu di sana setiap kali pulang kerja di hari Jumat.


“Mas akan menemuimu, Sayang.” Reno tersenyum setelah ucapan itu terucap dalam hatinya.


Arah matanya tertuju pada layar ponsel yang menunjukkan lokasi Alana. Lalu ia menekan back untuk kembali pada menu depan ponsel itu. Di sana terpampang wajah Alana yang Reno jadikan sebagai walpaper gadget-nya. Kemudian, ia mengelus layar ponsel itu, tepat pada pipi di gambar itu, seolah ia sedang mengelus pipi Alana.


Reno dan Dimas masih dalam perjalanan. Mereka masih berada di jalur bebas hambatan.


“Pak, nanti antarkan Dimas dulu sampai rumah,” ucapnya.


Dimas menoleh ke belakang. “Mas Reno saja dulu. Biar saya belakangan.”


“Tidak apa, Dim. Saya mau bawa mobil ini sendiri, setelah mengantarmu. Nanti Pak Wisnu naik taksi aja ya.”


“Oke kalau begitu,” jawab Reno mengangguk.


Setelah melewati perjalanan hampir satu jam, mobil yang membawa tiga orang itu pun sampai di depan rumah Dimas. Ketiga pria di dalam mobil itu pun turun.


Brak … Brak …


Mereka menutup pintu mobil bersamaan.


“Terima kasih, Mas reno.” Dimas menjabat tangan Reno.


“Saya yang terima kasih padamu, Dim.” Reno mengeluarkan amplo dari saku celananya dan ia tempelkan pada tangan Dimas.


“Apa ini, Mas?” tanya Dimas yang memang berniat ikhlas mmbantu anak bosnya yang sedang mengalami masalah dalam rumah tangganya.


“Berikan ini untuk istrimu. Maaf saya tidak masuk ke dalam rumahmu.”


“Terima kaih, Mas,” ucap Dimas yang akhirnya menerima amplop putih dengan isi yang cukup tebal.


Reno memang sudah menyiapkan uang ini untuk Dimas, karena pria itu sudah bekerja diluar dari jam kerjanya.


“Dan, ini untuk Pak Wisnu.” Reno juga memberikan amplop pada sopir yang menjemputnya tadi di bandara.


“Wah, terima kasih, Pak,” jawab Wisnu senang dan langsung menerima amplo itu dengan senang hati.


Reno mengangguk dan tersenyum. Lalu, Dimas dan Wisnu kembali bersalaman dengan Reno dan Reno pun kembali ke mobilnya, ini memang bukan mobil pribadi yang Reno miliki, tapi mobil dinas perusahaan sang ayah yang selalu terparkir di kantor Bagas.


Reno mengendarai meobilnya menuju loasi pusat perbelanjaan itu. ia melihat di ponselnya bahwa Alana masih berada di sana. Dengan wajah berseri dan senyum sumringah, ia mengemudi mobil dan membelah jalan untuk segera sampai di tempat itu.


“Hihihih … Mimi bibirnya penuh saus,” ucap Aurel tertawa pada Alana.


“Masa sih?” Alana tak percaya sembari meraba bibirnya.


“Bukan di situ, tapi di sini!” Aurel menunjuk bawah bibirnya sendiri agar Alana mengikuti gerakannya.


Alex yang melihat itu pun tertawa. Pasalnya Alana memang makan seperti anak kecil, bahkan hampir mirip dengan Aurel.


Ternyata, di pusat perbelanjaan itu, Alana tidak jalan-jala dengan Bilqis, melainkan dengan Alex dan Aurel. Mereka makan malam di sebuah restoran siap saji yang menyediakan ayam krispi khas Amerika.


Gadis kecil kesayangan Alex sudah jauh hari menginginkan makan seperti ini. Di luar rumah dan bersama Alana. Kebetulan Alana tidak sedang ada kegiatan setelah pulang kerja tadi, sehingga ia menerima ajakan itu. Lagi pula, Alana memang tidak bisa menolak permintaan Aurel.


Alana masih belum bisa membersihkan saus yang menempel di bawah bbir dan dagunya itu dengan sempurna. Alhasil, Alex pun turun tangan. Ia mengambil tisu dan mengelap langsung bagian itu, membuat Alana mematung.


Aksi Alex tak luput dari pandangan Reno yang baru saja sampai dan berdiri tepat di depan restoran itu. Ia dapat melihat dengan jelas apa yang Alex lakukan pada wanita yang ia rindukan ini, pada wanita yang masih sah sebagai istrinya.


“Oh, biar saya saja, Sir.” Alana langsung mengambil tisu itu dan mengelapnya sendiri. Sebenarnya ia juga tidak menginginkan Alex melakukan itu.


Reno meremas bunga dari balik tubuhnya. Setangkai bunga mawar putih yang ternyata menyisakan satu duri yang terlewat saat si penjual bunga itu memotongnya sebelum dipajang. Tangan Reno pun berdarah, tapi rasanya tidak seperih hatinya.