Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Bonus Chapter 1



Reno membuka matanya lebih dulu. Perlahan kedua mata itu terbuka sempurna. Di laur sana, hari memang masih gelap, tapi tiba-tiba Reno terbangun.


Ia menatap lekat wajah cantik Alana yang masih tertidur pulas. Tangannya terangkat untuk menyentuh pipi mulus itu dan mengelusnya. Perlahan punggung tangan Reno yang semula berada di pipi berjalan menelusrui bahu Alana yang terbuka. Bibirnya menyungging senyum saat melihat tanda di bahu, leher, dan belahan dada Alana. Ia menginghat lagi pergulatan panas mereka semalam. Malam panjang yang Reno lakukan dengan penuh cinta dan kehati-hatian, mengingat saat ini sang istri sedang mengandung buah cinta yang lama mereka tunggu.


Tanda merah keunguan itu bukan hanya di bahu, leher, dan belahan dada saja. Reno bahkan menggigit paha dan b*k*ng Alana. Semalam ia benar-benar buas dan tidak pernah puas.


Reno kembali menarik tubuh Alana ke dalam pelukannya.


“Mas,” panggil Alana lirih dengan mata yang masih terpejam.


“Hm,” jawab Reno sembari memeluk tubuh itu.


“Udah, aku capek.”


Reno tertawa. “Iya, Sayang. Mas ga ngapa-ngapain kamu. Cuma mau peluk aja. Tidur lagi ya.”


Alana pun mengangguk. Kedua matanya masih terpejam. Lalu, Reno kembali mencium punggung itu.


“Maaf ya, Sayang. Mas tidak pernah puas dengan tubuhmu.”


Alana kembali menganggukkan kepalanya. Anggukan itu dibawah alam sadarnya. Entah ia dengar atau tidak perkataan Reno tadi.


Reno kembali tersenyum lebar. Alana semakin membuatnya gemas. Kemudian, gerakan tangan Reno pindah ke perut bulat itu. Ia mengelus perut itu lembut.


“Kamu suka kan kalau Papa jenguk setiap hari,” ujar Reno, sendirian. Lalu, ia tersenyum. “Suka. Pasti kamu suka. Karena Papa juga suka menjengukmu, baby.”


“Mas, berisik. Jangan ngomong sendiri!”


Reno kembali tertawa. Ternyata istrinya mendengar sedari tadi apa yang ia katakan.


“Baiklah, Mas ga berisik. Ayo tidur lagi!” Reno kembali mengelus punggung Alana hingga wanita itu kembali terlelap.


****


Pagi harinya, Reno kembali bangun lebih dulu. Ia mencium kening Alana dan memindahkan kepala itu ke atas bantal. Reno juga memindahkan perlahan tubuh Alana yang semula menindihnya.


Lalu, Reno beralih ke dapur. keadaan di dapur masih berantakan. Semalam mereka memang sengaja tidak membersihkan botol botol yang jatuh itu. Reno terlalu senang akan kesembuhannya. Dan hal pertama yang ingin ia lakukan ketika sembuh memang bercinta. Ia rindu membolak-balikkan tubuh itu dan memimpin, membuat Alana tak bisa berkutik dan hanya melenguh dengan mata yang begitu sayu.


“Ah sangat sexy,” gumam Reno membayangkan ekspresi sang istri saat meraih kenikmatan itu.


Kemudian, Reno berjongkok mengambil serpihan pecahan botol botol yang jatuh semalam.


“Terima kasih, ya Allah, melalui benda ini Kau sembuhkan hamba,” ucapnya bersyukur.sabil memejamkan matanya sejenak mengingat lagi reaksinya yang spontan saat melihat Alana dalam bahaya.


“Mas.” Alana keluar dari kamar dan langsung menghampiri Reno.


“Stop! Diam di situ, Sayang. Di sini banyak pecahan botol.”


Sontak, Alana menghentikan langkah kakinya. “Biar aku saja yang bersihkan, Mas.”


Reno menggeleng dengan posisi yang masih berjongkok dan membersihkan lantai itu. “No, biar Mas saja yang bersihkan. Kamu balik lagi ke kamar dan tidur. Nanti kalau sarapan sudah matang, Mas bangunin lagi.”


“Ish, orang udah bangun disuruh tidur.”


Reno menatap istrinya yang berantakan. Rambutnya, serta pakaian yang Alana pakai pun asal-asalan. Terlihat jelas p*t*ng itu tercetak karena Alana tak menggunakan bra.


“Sayang, kamu godain Mas lagi?” tanya Reno.


Alana langsung menggeleng. “Nggak.”


Reno berdiri dan mencuci tangannya. Lalu, mendekati sang istri. “Ini kenapa nantangin?”


Reno menyentuh gunung kembar yang bulat sempurna itu.


“Ish, Mas aja yang mesum.”


“Jangan-jangan kamu juga sengaja ga pake celana!” Tangan Reno menyentuh lagi di bagian yang paling sensitif.


“Mas, ih!” Alana langsung menyingkirkan tangan Reno yang berada di dada dan dibawah tubuhnya.


Reno tertawa. “Lagian nantangin. Mas makan lagi, nanti.”


Alana hanya mengerucutkan bibirnya. Walau ia kesal dengan kemesuman itu, tapi ia senang karena suaminya sudah sehat seperti sedia kala.


“Sekarang, duduk yang manis di sofa!” pinta Reno sambil menggiring sang istri ke sofa. “Nanti kalau sarapan sudah matang, Mas bawakan ke sini.”


“Mas, aku bukan anak kecil. Aku juga mau masakin kamu seperti biasa.”


“Siapa yang bilang kamu anak kecil? Orang jago gitu semalam.”


“Selama Mas sakit, kamu kan yang selalu melayani Mas. Sekarang gantian. Oke!”


Alana tersenyum, senyum manis yang sangat Reno sukai.


“Akhirnya, senyum ini cuma buat Mas,” ucap Reno sambil mengelus bibir ranum Alana.


“Memang buat Mas, emang buat siapa lagi?”


“Ada. Waktu di seminar J-Pro. Kamu senyum seperti ini buat orang lain. saat itu rasanya Mas sakit hati sekali.”


“Kalau gitu satu sama. Aku juga pernah merasakan yang sama waktu Mas dan Mbak Dewi makan siang bareng di restoran xxx.”


Reno tertawa. “Kalau begitu lupakan semua itu.”


“Lupakan.” Alana mengikuti ucapan Reno.


“Tidak ada lagi orang ketiga di antara kita.”


“Ya.” Alana mengangguk, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak ada lagi orang ketiga di antara kita.”


“Yang ada hanya kita dan anak-anak kita.”


Alana kembali mengangguk. “Setuju.”


Reno tersenyum, lalu mencubit ujung hidung Alana. “Gemes. Kenapa ngikutin Mas ngomong?”


“Ya, karena Mas imamnya. Jadi aku ikuti,” jawab Alana. “Jadi kalo Mas selingkuh aku juga ikut selingkuh.”


“Eh, minta di smak*down,” sahut Reno gemas dan menggeltiki Alana.


“Mas.” Alana tertawa.


“Mau Mas pakai lagi.”


“Apanya yang dipakai?” tanya Alana yang senang menantang, padahal ia tahu bahwa suaminya mesum.


“Kamu lah.”


“Apanya?” tanya Alana lagi.


“Kamu nya.”


“Apanya?”


“Fix, kamu emang minta dijadiin sarapan.” Reno pun menggendong tubuh Alana dan membawanya ke kamar.


“Mas, ampun. Jangan!”


Reno tertawa dan kembali mendudukkan Alana ke sofa. “Makanya jangan macem-macem. Duduk yang manis. Mas buatkan sarapan.”


Lalu, Reno beralih ke perut Alana. “Pasti kamu juga sudah lapar kan? Papa buatkan sarapan ya.”


“Iya, Papa.” Alana bersuara seperti anak kecil.


Reno pun tersenyum dan meninggalkan Alana menuju dapur. ruangan yang dapat terlihat dari tempat yang Alanan duduki.


Tak berapa lama, Reno kembali menghampiri Alana dengan membawa satu gelas susu hamil. “Minum ini dulu, Sayang.”


“He um.” Alana mengangguk. “Terima kasih.”


“Sama sama, tuan puteri.”


Alana tersenyum. ia kembali ingat saat mereka baru menjadi pasangan suami istri. Reno begitu manis.


“Mas, nanti kamu tetap kontrol ke rumah sakit kan?” tanya Alana dari tempat duduknya.


“Tentu dong.”


“Terus, lusa Mami Papi dan Nenek mau ke sini. Mas bisa bawa mobil?” tanya Alana lagi.


“Kita coba nanti.”


Alana mengangguk dan tersenyum. Reno pun melakukan hal yang sama. Ia membayangkan ekspresi Asih, Bagas, dan Aminah. Para orang tua itu pasti senang melihat anak mereka kembali sehat dan bahagia. Di tambah kehadiran satu anggota baru yang akan datang ke dunia beberapa bulan lagi.


Reno sangat bersyukur. Benar, setelah hujan pasti ada pelangi. Setelah kesedihan pasti ada kesenangan. Dan, mereka pun merasakan itu.