
“Sayang, bangun!” Reno menggoyangkan bahu Alana yang berbalut piyama berlengan pendek.
Adzan subuh baru selesai berkumandang lima menit yang lalu. Reno sudah terlihat segar dengan wajah dan rambut yang basah karena air wudhu.
“Bangun, Sayang! Kita sholat subuh berjamaah,” ucap Reno lagi.
Mata Alana mengerjap pelan. Semalam tidurnya benar-benar lelap, mungkin karena aktifitas yang begitu melelahkan kemarin. Lalu, perlahan mata Alana terbuka lebar.
“Sudah subuh?”
Reno mengangguk. “Sudah. Ayo berjamaah! Sudah lama kita tidak sholat bersama.”
Alana ikut mengangguk. Perlahan, ia pun bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Kemudian, Alana menoleh lagi ke arah suaminya yang sedari menatapnya.
“Tungguin ya, Mas.”
Reno kembali menganggukkan kepala. “Tentu.”
Setelah sepuluh menit, Alana keluar dari kamar mandi. Ia melihat dua sajadah yang sudah dibentangkan di depan dan di belakangnya. Reno pun sudah menyiapkan mukena untuk sang istri.
“Sudah siap?” tanya Reno yang sudah berdiri di depan sembari menengok ke belakang.
“Sudah.”
Lalu, Reno merapikan rambut Alana yang masih terlihat saat sudah mengenakan mukena itu. jari Reno bergerak merapikan beberapa helai rambut yang terlihat dan merapikan tali mukena itu hingga ke belakang rambut Alana dengan lembut.
“Sudah rapi,” ucap Reno membuat Alana tersenyum. “Terima kasih.”
Mereka pun memulai sholat subuh berjamaah setelah melakukan dua rakaat shalat sunah sebelumnya.
Alana mengikuti gerakan sang suami hingga berada pada rakaat terakhir.
"Assalamu'alaikum wa rohmatullah wa barokatu," ucap Reno sembari menengok ke kanan dan di ikuti Alana.
"Assalamu'alaikum wa rohmatullah," ucap Reno sembari menengok ke kiri dan di ikuti Alana.
Sumber referensi
Disebutkan dalam Bulughul Maram karya Ibnu Hajar Al-Asqalani hadits berikut ini.
...وَعَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ – رضي الله عنه – قَالَ : – صَلَّيْتُ مَعَ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – فَكَانَ يُسَلِّمُ عَنْ يَمِينِهِ : ” اَلسَّلَام عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ ” وَعَنْ شِمَالِهِ : ” اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اَللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ ....
Dari Wail bin Hujr radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau salam ke kanan sambil mengucapkan ‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH WA BAROKAATUH’ dan ke kiri sambil mengucapkan ‘ASSALAAMU ‘ALAIKUM WA ROHMATULLAH’.” (HR. Abu Daud. Ibnu Hajar menilai sanad hadits ini sahih dalam Bulughul Maram).
Setelah salam, Reno menengadahkan kedua tangannya sambil memanjatkan doa. Doa yang begitu khusuk hingga airmatanya mengalir. Alana pun melakukan hal yang sama, ia juga menangis saat mendengar suara lirih Reno diiringi dengan kata-kata yang menyentuh hati.
“Ya Allah, kuatkanlah kasih sayang diantara kami. Kelilingilah kami dengan orang-orang yang baik yang akan selalu membawa kami ke dalam kebaikan. Rahmatilah kami, dan berilah kami keturunan yang soleh solehah … aamiin.” Reno mengusap wajahnya.
“Aamiin.” Alana pun demikian.
Lalu, Reno membalikkan tubuhnya dan mengulur punggung tangannya untuk Alana cium. Alana mencium punggung tangan itu.
Reno dengan cepat mengambil wajah Alana. “Maafin, Mas ya!”
Alana tersenyum dan mengangguk. “Maafin Alana juga, Mas.”
Reno mencium kening Alana, ujung hidung, kedua pipi, dan menatap bibir ranumnya. “Mas boleh melakukannya?”
Alana masih tersenyum dan ia menganggukkan kepala. Hanya anggukan kepala sebagai isyarat bahwa ia siap untuk bercinta.
Reno membuka mukena Alana. Lalu, ia mengelus ujung kepala Alana hingga ke bawah ujung rambut panjangnya dengan lembut. Kedua telapak tangan Reno menangkup pipi Alana dan kembali mencium kening, ujung hidung, lalu mulai menyentuh bibir ranum itu.
Bibir Reno mulai menyesap bibir bawah dan atas Alana dengan lembut. Alana pun menerima ciuman itu. ia membuka bibirnya agar Reno dapat menelusurinya lebih dalam. Dan, Reno pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pagutan yang semula lembut, kini lebih menuntut dan semakin memburu hingga nafas keduanya tersengal.
“Eum ….” Alana melenguh saat pagutan itu terlepas, tapi hanya dua detik, karena Reno kembali mencium bibir itu.
Tiga kali, Reno melakukan kegiatan itu berulang. Ia tersenyum melihat bibir Alana yang sekarang lebih tebal dari sebelumnya.
“Pasti bengkak,” kata Alana manja.
Reno tertawa dan mengusap bibir yang sudah terlihat bengkak itu. Ia mengusap sisa saliva yang menempel di bibir sang istri. “Habis Mas kangen.”
Alana mengerucutkan bibirnya. Kemudian, Reno mengajak Alana untuk berdiri. Reno merapikan alat sholat tadi dan ia membantu Alana untuk melepas kain yang melekat ditubuhnya.
Reno membaringkan Alana dengan lembut. Lalu, ia mulai dengan pemanasan, karena Alana menyukai itu. Gairah Alana akan lebih menggelora jika dimulai dengan pemanasan dan menyentuhnya lama di titik-titik yangia sukai.
“Boleh Mas mulai?” tanya Reno.
Alana mengangguk.
Lampu hijau yang diberikan sang istri membuat Reno tidak berbasa basi lagi. ia pun menerobos lorong itu dengan sedikit kesulitan, padahal jalannya sudah licin. Namun masih sedikit sulit karena sudah lama mereka tidak melakukan ini.
“Sempit, Sayang.”
Mata Reno sayu. Ia begitu menikmati percintaan ini. Alana pun demikian. Ia begitu menikmati permainn Reno yang lembut dan terkadang agak cepat. Mereka terus bergerak dan saling memberi nikmat, nikmat yang tidak bisa digambarkan oleh apa pun. Nikmat yang konon kata orang adalah surga dunia.
Reno terus menyungging senyum saat melihat wanita di depannya tampak semakin sexy. Rambut Alana berantakan, keringat pun mulai mengucur di dahinya saat ia memegang kendali. Gerakan erotis Alana menambah kenikmatan yang Reno rasakan. Reno memeluk tubuh yang sedang bergerak di atasnmya itu.
“Love you, Sayang.”
“Love you too, Mas.” Alana tersenyum sambil meneruskan aksinya.
Percintaan yang mereka lakukan kali ini sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Mereka pun melakukan itu hingga matahari muncul dan bersinar terang. Baik Reno maupun Alana merasa puas. Keduanya pun berpelukan erat setelah saling melepaskan sisa-sisa terakhir dari kegiatan itu.
Nafas mereka masih memburu dan kembali menetralkan dengan pelukan. Reno pun membiarkan Alana tidur di dadanya. Mengecup berulang kening dan ujung kepala Alana smebari mengelus rambutnya. Sungguh, ia sangat bahagia karena telah mendapatkan kembali cintanya.
Tiga puluh menit kemudian, Reno menggeser tubuh Alana pelan hingga wanita itu terbaring sempurna di atas tempat tidur. Lalu, Reno beralih ke dapur. Ia ingin membuatkan Alana sarapan. Mulai hari ini Reno akan menjadi pria yang diinginkan Alana.
Satu jam kemudian, Alana mengerjapkan kedua matanya. Gerakan Alana diringi oleh langkah Reno menuju kamar.
Ceklek
Reno membuka pintu itu dengan membawa nampan yang berisi dua sandwich telur dan dua gelas susu cokelat. “Sudah bangun!”
Alana tersenyum manis dan mengangguk. Ia melihat Reno dengan kedua tangannya yang membawa makanan ke arahnya.
“Sarapan dulu. Pasti kamu lapar.”
“Kamu tidak tidur lagi?” tanya Alana.
Reno menggeleng. “Mas ingin melayanimu, karena tadi kamu sudah melayani Mas.”
Alana tertawa. “Oh, begitu.”
“Ya, bukankah suami istri itu harus saling melayani?”
Alana mengernyitkan dahinya. “Tumben.”
“Jangan bilang tumben, sayang!” rengek Reno membuat Alana tertawa. “Mas janji, mulai hari ini Mas akan lebih perhatian dan pengertian.”
“Janji.” Alana mengankat jari kelingkingnya, sementara satu tangannya ia gunakan untuk menutup dadanya yang polos dengan selimut tebal itu.
“Janji.” Reno mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Alana.
Keduanya pun tertawa.
Reno dan Alana menikmati sarapan spesial yang dibuatkan Reno. Pria itu pun meraih remot dan menyalakan televisi yang ada di depan tempat tidur besar itu.
Televisi itu menampilkan berita terkini pagi.
“Ditemukan seorang wanita pingsan di jalan xxx tanpa busana. Di duga wanita itu adalah korban pencurian dan pemerk*s**n oleh beberapa preman yang ada di lingkungan ini.”
Sontak Alana dan Reno menghentikan aktifitas makan mereka. arah mata keduanya tertuju pada layar televisi yang tengah memperlihatkan korban pencurian dan pemerk*s**n itu.
“Kini, korban tengah dirawat intensif di rumah sakit xxx karena mengalami syok berat dan depresi.”
Alana menoleh ke arah suaminya saat melihat dengan jelas korban itu dari layar televisi. “Mas, itu Mbak Dewi kan?”
Reno pun menoleh ke arah Alana dan mengangguk. Ia pastikan itu adalah Dewi karena lokasinya pun tidak jauh dari apartemen tempat semalam mereka bertengkar.
“Mas, kita harus ke sana,” ucap Alana. “Aku ingin melihat kondisi Mbak Dewi.”
Reno mengangguk. “Ya kita akan ke sana.”