Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Akhir kisah Dewi



Alana dan Reno masuk ke ruang perawatan Dewi. Keadaan Dewi sungguh mengenaskan. Pandangn wanita itu tampak kosong. Ia tak mengenali siapa pun yang berada di sekeliingnya. Bahkan kedua kakaknya yang selalu membiayai hidupnya pun tidak ia kenali. Dewi berbaring dengan mata yang hanya lurus ke depan. Persis seperti mayat hidup.


Psikologinya terguncang. Fisiknya pun terluka. Alana tidak tega melihat wanita itu dan menangis. Ia memeluk Dewi.


“Mbak, cepatlah sembuh. Aku memaafkanmu. Aku mencabut semua doa buruk yang pernah aku ucapkan untukmu,” ucap Alana lirih tepat di telinga Dewi.


Sebagai wanita, ia tidak ingin Dewi seperti ini. Walau wanita itu pernah sangat menyakitkan, tapi tetap saja jiwanya sebagai wanita menolak perilaku kejam itu.


Reno mengusap bahu Alana. Inilah akhir dari kisah Dewi. Wanita yang hasu akan kasih sayang dan cinta. Lalu, saat ia menemukan cinta, ternyata cinta itu tidak menerimanya. Reno hanya menyayanginya sebatas teman dan Dewi tidak terima itu. Dewi yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, terus mencari kesenangan untuk dirinya sendiri. Termasuk sat ia beberapa kali menghancurkan hubungan orang lain, dari mulai pria yang sudah memiliki pacar, tunangan, hingga istri. Motifnya hanya satu, hanya ingin menjadi wanita yang dinomorsatukan atau yang dipilih, atau yang diinginkan. Namun, ketika kembali bertemu Reo, strateginya tidak berhasil. Reno tidak seperti pria-pria yang sudah ia taklukan itu. dan, sekarang ia mendapatkan ganjaran dari buah yang telah ia tanam selama ini. Mungkin dari salah satu doa wanita yang terdzolimi karena sikapnya.


“Saya akan membawa Dewi kembali ke Singapore. Sekalian mendapatkan perawatan intensif di sana dan melupakan kejadian naas itu,” ucap salah satu kakak Dewi.


Dewi hanya tiga bersaudara. Semuanya berjenis kelamin perempuan. Kakak Dewi yang pertama menikah dengan bule dan menetap di Singapura. Sedangkan kakak nomor dua menetap di Dubai dan mendapat pria asli asal negara itu melalui biro jodoh internasional. Kebetulan Kakak nomor dua sedang ada di Bali dan berencana ingin menemui Dewi nanti. Namun, saat semalam mendapat kabar, ia pun langsung terbang ke sini. Begitu pun dengan kakak pertamanya.


****


Di dalam mobil menuju pulang. Alana masih terdiam. Ia masih merinding membayangkan apa yang terjadi pada Dewi. Ia faham betul dengan trauma itu. tidak akan mudah menghapus trauma yang menyakitkan itu.


Reno melirik ke arah istrinya dan menggenggam tangan itu. “Kamu masih memikirkan Dewi?”


“Iya, Mas.” Alana mengangguk dan menoleh ke arah suaminya.


“Mas juga tidak tega melihatnya,” sahut Reno. “Sebenarnya Mas tidak ingin seperti ini.”


Alana ikut mengangguk. “Kita ambil hikmahnya, Mas. Dan semoga Mbak Dewi bisa sembuh dengan cepat. Semoga dia juga mendapat kebahagiaan setelah ini dan mengambil hikmah dari apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.”


“Aamiin.”


Reno mengecup punggung tangan Alana. Sambil tetap menyetir, satu tangannya tetap menggenggam tangan itu.


“Mas, aku ingin ke rumah Mami,” kata Alana tiba-tiba.


Reno langsung mengangguk setuju dan memutar arah. Ia juga sudah rindu dengan kedua orang tuanya.


Mereka pun berjalan menuju rumah Bagas dan Asih. Setelah dari sana, mereka akan mampir ke rumah Aminah.


Butuh waktu dua jam untuk sampai ke rumah orang tua Reno, karena jarak dari rumah sakit tempat kejadian Dewi menuju rumah Bagas sangat jauh.


Sesampainya di rumah itu, Reno langsung memarkirkan mobilnya dengan benar dan menahan tubuh Alana saat wanita itu hendak membuka pintu mobil.


“Kenapa, Mas?” tanya Alana bingung saat tubuhnya ditahan.


“Mas ingin membukakan pintu untukmu.” Reno langsung membuka pintu mobilnya dan keluar, lalu berlari menuju pintu Alana.


Alana mengernyitkan dahi dan tersenyum.


“Ya ampun, Mas. Ga usah gitu juga kali,” kata Alana saat pintu itu sudah dibukakan Reno.


Reno tersenyum. “Mas suka melayanimu.”


Reno tertawa. “Kalau itu, udah pasti.”


“Mass …” rengek Alana.


Di dalam sana, Asih melihat putranya bercanda gurau oleh sang istri. Ternyata di dalam sana juga ada Aminah yang sedang bertandang. Aminah menceritakan kekhawatiran kondisi rumah tangganya pada Asih. Bagas pun mendengarkan keluh kesah Aminah. Namun, Bagas tidak menanggapi, ia cukup percaya pada putranya. Ia yakin ahwa Reno akan mampu menyelesaikan masalah itu. Dan terbukti, kini mereka menyaksikan keromantisan itu lagi sekarang.


“Al, Reno,” panggil Asih yang langsung melangkah menuju pintu untuk menyambut anak dan menantunya.


"Mami." Alana pun langsung memeluk ibu mertuanya. “Kangen Mami.”


“Mami juga kangen kamu, Sayang. Lama sekali kamu tidak ke sini.”


Alana melepaskan pelukan itu dan tersenyum. “Maaf, Mam. Alana dan Mas Reno sibuk.”


Asih mengangguk. “Ya, ya. Mami tahu kalian sibuk,” ledeknya. Padahal ia sudah tahu apa yang terjadi.


“Alana,” panggil Aminah.


“Nenek,” seru Alana yang langsung berlari ke arah sang nenek dan memeluknya. “Nenek juga lagi ada di sini?”


“Ya, nenek bosan di rumah dan ingin bergosip dengan Jeng Asih.”


“Ya, bergosip sampai Mami lupa membuatkan Papi makan,” sahut Bagas.


Reno langsung menghampiri sang ayah dan memeluknya, setelah tadi mencium punggung tangan Asih.


Bagas menerima pelukan itu dan memukul bahu Reno cukup keras. “Papi tahu, kamu pasti bisa menyelesaikan urusanmu.”


Reno tersenyum.


“Sini, ren. Nenek juga ingin memelukmu” Aminah melambaikan tangannya pada Reno yang masih berdiri di depan Bagas.


Reno pun menghampiri Aminah. Aminah langsung memeluk Reno dengan Alana yang masih ia peluk juga.


“Nenek senang, akhirnya kalian kembali bersama. Nenek selalu mendoakan kalian.”


“Terima kasih, Nek,” jawab Alana dan reno bersamaan.


“Ini semua berkat doa nenek,” sambung Reno.


Alana dan Reno kembali memeluk wania tua itu.


“Setelah ini, kalian harus bericnta setiap malam. Agar cicit nenek disini cepat tumbuh,” ucap Aminah sembari mengelus perut Alana.


“Reno sih ga keberatan, Nek.” reno melirik ke arah Alana dengan menaikturunkan alisnya.


“Ish, itu sih maunya kamu, Mas. Yang ada aku masuk angin karena keramas setiap subuh," sahut Alana, membuat para tetua itu tertawa.