
Dewi tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Ngga tahu, kenapa? Tadi pas berangkat dan membeli sarapan di jalan, tiba-tiba aku keinget kamu aja. Feeling mungkin.”
Reno mengangkat dahinya. “Sebegitu kuat feelingmu, Wi?”
Reno menggeleng dan tertawa tipis. Dewi pun ikut tertawa. Wanita itu langsung bernafas lega.
“Kita kan temenan udah lama banget. Kita juga banyak kesamaan, jadi sehati mungkin,” sahut Dewi.
Reno mengangguk dan mulai mengambil sendok dan garpu yang sudah disediakan Dewi. “Mungkin.”
Reno yang cuek dan tidak peka itu pun tidak merasa bahwa ada maksud lain dari sikap Dewi. Mereka pun sarapan bersama. Setelah itu berangkat ke kantor bersama. Sebelum menyalakan mesin mobil, Reno menyempatkan membuka ponselnya dan melihat aplikasi chat. Ia juga membuka chat Alana, tapi di sana tidak ada pesan darinya.
Reno pun melihat profil Alana yang sudah berganti menjadi foto selfie. Padahal terakhir yang ia lihat, foto itu masih menampilkan foto kebersamaan mereka. Foto yang memperlihat kebahagiaan mereka karena keduanya tengah tertawa.
“Kenapa, Ren? Kok belum jalan?” tanya Dewi yang melihat Reno diam dan fokus ada gedgetnya.
“Oh, ngga apa-apa.” Reno menggeleng.
“Ayo berangkat!”
Reno mengangguk. “Ayo.” Lalu, ia menyalakan mesin dan menjalankan kendaraan itu.
****
Reno meraih ponsel yang tergelatk di meja itu. ia membuka dan mengharapkan ada pesan masuk di sana. Namun, tidak ada. Alana tidak memberi kabar apa pun sejak semalam. Bahkan hingga sesiang ini.
Reno selalu membawa ponselnya kemana pun. Bahkan saat ia sedang berada di ruang meeting. Dulu, ia malah sengaja menaruh ponselnya di laci meja kerja agar jika tidak terganggu dari bunyi telepon Alana yang meneleponnya setiap jam.
“Huft.” Reno menghela nafanya sembari mengusap dahi.
Hingga meeting selesai dan ia kembali ke ruangan pun, Alana belum juga memberi kabar. Padahal ini sudah lewat jam makan siang. Biasanya Alana akan meneleponnya di jam itu, tapi hari ini tidak.
Kemudian, Reno melihat lagi ruang chat Alana di sana. Ia melihat info yang tertera di atas ruang chat itu. “Terakhir melihat pukul 22.11.” Itu artinya, Alana terakhir memegan ponselnya semalam dan hingga siang ini ia tak memegang benda itu lagi.
Lalu, Reno langsung mendial nomor Alana dan meneleponnya.
“The number you are calling is switch of, please try again letter.”
Berulang kali, Reno mendial nomor itu dan yang terdengar tetap sama. Hanya ada suara operator dengan perkataan yang sama seperti sebelumnya, bahwa ponsel itu mati dan tidak bisa dihubungi.
“Ren.” Suara Dewi yang baru saja tiba di ruangan Reno pun mengejutkannya.
“Hei, kamu kenapa sih?” tanya Dewi yang langsung duduk di depan Reno. Ia pun membawa jinjingan makanan yang ia pesan online untuk makan siang Rno.
Reno menggeleng. “Tidak apa.” Ia pun meletakkan ponselnya.
“Tadi kan pas makan siang, kamu lagi meeting. Jadi aku inisiatif buat pesen makanan ini.” Dewi menyerahkan makan siang itu pada Reno dan Reno menerimanya.
“Makasih, Wi.”
“Sama sama, Ren.” Dewi tersenyum. Ia senang karena misinya tercapai.
Kini Reno sudah berada di genggaman. Ia berjanji akan mengurus pria ini dan menggantikan posisi Alana dengan baik. Dan lagi-lagi, Reno tidak mengetahui maksud itu.
Di kantor, Alana tetap bersikap profesional. Meski ia sedang dirundung masalah yang cukup besar, tapi ia tetap bekerja dengan maksimal. Alex dapat melihat raut wajah yang sedang bermasalah itu. Namun, ia menunggu waktu yang tepat untuk Alana menceritakannya sendiri.
Tepat di saat makan siang, Alana mencurahkan masalahnya pada Bilqis dan Bilqis mendukung apa yang Alana lakukan.
“Good girl. Kamu memang harus mengambil sikap itu,” ucap Bilqis.
Alana mengangguk. Ya, untuk saat ini ia tidak ingin memikirkan Reno lagi. cukup semalam ia menangis tak berhenti. Lagi pula di sana, belum tentu reno juga sedang memikirkannya, pikir Alana.
“Terus, Dia ada hubungin kamu ngga?” tanya Alana dengan menyebut dia itu Reno.
Alana mengangkat bahunya. “Ngga tahu. Soalnya dari semalam, aku nonaktifkan handphone.”
Tring
Alana pun mengirim nomor barunya dengan ponsel baru keluaran merk apel separuh terbaru.
“Wuih, hape baru nih!” ledek Bilqis yang ingin meraih benda yang sedang dalam pegangan Alana.
Sontak Alana menyingkirkan benda itu agar tak di raih sahabatnya. Ia pun tertawa. “Ini udah lama, tapi baru aku pakai.”
“Dari Mas Reno?” tanya Bilqis.
Alana menggeleng. “Ngga lah. Ngapain? Semua barang dari dia ga ada yang aku bawa.”
“Terus ini dari mana? Beli sendiri?” Bilqis masih keypoh dan terus bertanya.
“Dari Sir Alex.”
“Ciyeee ….” Sontak, Bilqis pun heboh, membuat Alana harus membekap mulutnya.
“Diam. Volume suaranya bisa dikecilin ga ih?”
Bilqis tertawa dan Alana membuka bekapan itu. “Bukan gitu, Al. masalahnya tuh bos aneh banget. Perasaan sama sekretarisnya yang lain ga seperhatian itu deh.”
“Ngga tahu, pokoknya seminggu yang lalu, dia kasih ini ke aku katanya supaya anaknya bisa komunikasi sama aku. Gitu.”
“Ciye …” Bilqis masih meledek sahabatnya.
“Apa sih?” tanya Alana sambil menggeleng kepala. Ia tak terima dengan ledekan itu.
Di tempat berbeda, Reno terus melihat arloji. Ia tak sabar menanti jam pulang kerja, karena ia ingin segera ke kantor Alana dan menjemputnya.
Satu jam kemudian, tepat pukul empat sore. Reno bergegas merapikan mejanya dan menutup laptop. Padahal pekerjaannya belum selesai. Namun, ia tak ingin melewatkan waktu pulang kerja Alana.
Alana keluar kantor tepat pukul lima. Namun sejak pukul tiga, Alana keluar bersama Alex. Sejak pagi, saat mengantar Aurel sekolah, gadis kecil itu meminta Alana untuk hadir pada pertunjukan piano yang akan diadakan pukul empat ini.
Sekarang, Alana duduk di samping Alex sembari memperhatikan anak-anak usia lima sampai dua belas tahun sedang menunjukkan talentanya. Aurel adalah peserta paling kecil di sana. Namun, kemampuan Aurel tak diragukan. Alana dibuat takjub oleh kepintaran anak kecil itu. ia menopang dagu dan menatap lurus ke arah Aurel yang saat ini sedang beraksi.
Aurel menjadi peserta pertama dengan usia paling kecil.
“Putri Sir Alex, hebat,” ujar Alana dengan mata yang masih memandang Aurel di sana.
Alex tersenyum sembari memandang wajah cantik Alaan tepat di depannya. “Ya, dia menurunkan bakat ibunya.”
Alana mengangguk dengan posisi sama. Jika saja Alana menengok ke arah Alex, mungkin kedua wajah mereka akan bertemu tanpa jarak, atau mungkin kedua hidung mereka bersentuhan. Tapi untung saja Alana tidak menengok dan kini Alex masih setia memandang pipi mulus itu hingga beberapa menit lalu, Alex meluruskan lagi pandangannya ke arah sang putri.
Di tempat berbeda, Reno menunggu sang istri di kantor. Reno menunggu dari jam lima kurang hingga adzan maghrib akan berkumandang. Namun, ia tak melihat Alana keluar dari lift. Ia juga tak melihat Bilqis keluar dari sana. Entah kemana dua wanita yang ia kenal itu hingga akhirnya Reno ditegur oleh resepsionis, mengingat semua karyawan sudah tak ada lagi di atas.
“Bapak menunggu siapa?” tanya resepsionis yang kali ini adalah laki-laki.
“Alana. Alana Khumairah, sekretaris CEO,” jawab Reno.
“Oh, mbak Alana sudah keluar kantor dengan Pak CEO dari jam dua, Pak.”
“Oh gitu?” tanya Reno yang sudah mulai gelisah.
“Waduh udah lama banget ya Bapak nunggu. Memang tidak teleponan sama Mbak Alananya?” tanya resepsionis itu lagi.
“Ponsel Alana tidak aktif.”
“Oh. Mungkin sekarang Mbak Alana sudah pulang, Pak.”
“Oh iya, kalau begitu terima kasih,” jawab Reno yang langsung bergegas pergi.
Reno langsung menekan pedal gas menuju rumah Aminah untuk menjemput istrinya. Ia tak sabar ingin bertemu Alana.