Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Menebus rasa bersalah



Setelah enam hari mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit, Aminah dibolehkan pulang. Semula Reno ingin mengambil cuti mendadak, tapi tidak bisa karena disaat bersamaan Dewi pun sakit dan tidak bisa masuk kantor. Namun, Reno berusaha untuk tidak berlama-lama di kantor. Ia meluangkan waktu untuk istri dan neneknya. Dan, Alana bersyukur karena sang suami selalu ada disaat seperti ini.


“Alhamdulillah, nenek sudah boleh pulang,” ucap Aminah. “Terima kasih, Ren.”


Reno mengangguk. “Sama-sama, Nek. tidak perlu berterima kasih. Nenek kan Nenek Reno juga.”


Aminah tersenyum dan menggenggam tangan cucu menantunya. “Ren, jaga Alana ya! Mungkin Nenek tidak bisa lama menemaninya.”


“Nenek, ngomong apa sih?” Alana yang sedang merapikan pakaian Aminah ke tas pun kesal mendengar pernyataan itu.


“Ya, kan nenek udah tua, Al. Sudah sakit-sakitan juga. Sedangkan kamu tidak punya siapa-siapa lagi selain Reno dan orang tuanya.”


Alana menghampiri sang nenek. “Nenek sehat. Nenek akan selalu menjaga Alana. Katanya kan nenek ingin melihat cicit nenek lahir. Jadi tetap sehat supaya bisa melihat Alana hamil dan melahirkan cicit buat nenek.”


Aminah tersenyum. “Aamiin.”


Reno pun menepuk punggung tangan nenek istrinya. “Nenek pasti sehat. Diabetes itu bisa ditangani yang penting pola makan dan minum obat teratur. InsyaAllah panjang umur, Nek.”


Aminah tersenyum pada cucu menantunya. “Aamiin.”


Setelah semua siap, Reno menggendong Aminah menuju kursi roda yang disiapkan. Ia pun yang mendorong kursi itu. Reno juga sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit sejak pagi. Pria itu cekatan. Walau saat pertama kali Aminah drop, Reno tak ada. Namun, di keenam hari selama wanita tua itu di rumah sakit, Reno yang sigap membantu.


Reno mendorong Aminah hingga lobby ditemani oleh suster. Pria itu pun menggendong Aminah dari kursi roda dan mendudukkannya ke kursi penumpang belakang. Sedangkan Alana sudah siap menduduki kursi depan tepat di samping kemudi. Ia melihat suaminya yang sibuk memastikan Aminah nyaman berada di dalam mobil itu, lalu ia duduk di kursi kemudi.


“Mas,” panggil Alana sembari memegang tangan Reno.


“Hmm …” Reno pun menoleh ke arah sang istri.


“Makasih ya.” Alana tersenyum manis di depan Reno.


Reno pun membalas senyum manis itu. “Iya.”


Reno menangkup pipi mulus istrinya sebentar, lalu mulai menyalakan mesin mobil. Ia lega, karena bisa menebus rasa bersalah itu. Dan, kejadian malam dimana ia menolong dewi itu pun tidak berbuntut lebar.


****


Reno akui, ia sempat merasakan Empty love syndrome beberapa bulan terakhir. Kekosongan itu mulai muncul karena keposesifan dan kecemburuan Alana yang membuatnya seolah itu adalah beban. Namun, perlahan ia mulai mengatasi rasa itu. Hubungan mereka pun kembali normal setelah bercinta.


Kemudian, hal itu kembali mendera Reno. Tepatnya, saat Alana mulai bekerja dan memiliki kesibukan sendiri. Ia yang juga memiliki kesibukan sendiri pun tak sadar hingga mengabaikan sang istri. Keabsenan Alana untuk tidak meneleponnya saat jam makan siang seolah tidak masalah, hingga akhirnya kebiasaan itu pun terkikis. Alana tidak lagi setiap hari menelepon sang suami saat dikantor dan tidak lagi menelepon berkali-kali saat Reno tak mengangkat teleponnya.


Namun kesalahan Reno saat Aminah masuk rumah sakit, membuat ia harus berubah. Ia tak ingin larut dalam kekosongan hati yang membuat hubungannya dengan Alana semakin berjarak. Ia ingin kembali merajut kebersamaan dengan sang istri.


Begitu pun dengan Alana. Ia sadar bahwa satu bulan terakhir ia terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Belum lagi ia harus latihan menyetir setelah waktu jam pulang kerja, membuat ia selalu pulang malam. Dan, hari ini ia sengaja membuat rendang, makanan kesukaan Reno. Beberapa kali ia latihan membuat masakan ini langsung dari Asih atau Tuti, demi menyenangkan suaminya.


“Hmm … kamu masak apa, Sayang. Wangi sekali,” ujar Reno yang baru saja keluar dari kamar dan mendekati Alana yang berdiri di atas tungku.


Reno berjalan menghampiri Alana, sembari mencoba memasang dasinya sendiri. Alana pun menoleh ke arah suaminya. Ia ikut menghampiri sang suami yang kerepotan memasang dasi itu.


Alana langsung mengambil alih tangan Reno. “Sini, aku yang pasangkan.”


Sejak Alana bekerja, Reno memang lebih sering memasang dasi itu sendiri. Ia tidak meminta bantuan Alana yang sedang serius dan sibuk menyiapkan sarapan.


“Kamu tidak ke kantor?” tanya Reno pada istrinya yang masih berpakaian daster.


“Aku sudah izin untuk datang siang,” jawab Alana sembari memasangkan dasi.


Senyum Reno pun merekah.


“Aku sengaja datang siang karena memasak makanan kesukaanmu,” kata Alana lagi.


Lalu, Alana menepuk dada bidang Reno setelah selesai memasangkan dasi itu sempurna. “Sudah.”


Reno menahan pinggang Alana ketika wanita itu hendak meninggalkannya untuk kembali ke dapur.


Alana tersenyum dan memajukan wajahnya. Ia mengecup sekilas bibir itu.


“Hmm … tidak sepeti itu, Bee.”


Alana mengernyitkan dahi. “Bee?”


Reno tertawa. “Itu panggilan Jefri pada pacarnya. Lucu juga.”


Alana tertawa dan mengangguk. Tubuhnya masih dalam kungkungan sang suami.


Kedua tangan Reno melilit erat di pinggang Alana. Kemudian, ia memajukan wajahnya dan mulai menempelkan bibirnya pada bibir tebal Alana yang mungil. Ia mulai menyesap benda kenyal itu. sudah lama mereka tak melakukan hubungan suami istri. Rasanya Reno rindu sekali tubuh itu.


“Eum … Mas,” lenguh Alana mengisyaratkan bahwa ia mulai kehabisan oksigen.


Reno pun melepas pagutan itu dan kembali menyesapnya hingga Alana harus menahan dada bidang itu karena khawatir dengan masakan yang ada di dapur.


“Mmpphh … Mas u .. dah.”


Reno menggeleng. “Belum.”


“Tapi rendangku nanti gosong kalau tidak diaduk.”


Reno pun melepas sang istri dengan cemberut, membuat Alana tertawa. Alana langsung berlari ke dapur dan mengaduk masakan yang tengah mendidih hingga kuahnya mengental.


“Hmm … pantas saja wangi.” Tiba-tiba kedua tangan Reno sudah melingkar di pinggang Alana dari belakang.


Alana menoleh sekilas. “Spesial buat kamu, Mas.”


Reno meciumi bahu dan leher Alana.


“Tapi masih belum bisa dibawa sekarang.”


“Yah,” jawab Reno lemas. “Terus Mas makannya kapan?”


Alana tersenyum. “Minggu depan.”


“Aww …” Alana menjerit karena Reno menggigit lehernya. “Mas.”


“Lagian ngeledek aja,” sahut Reno.


Alana tertawa. “Mas sekarang berangkat aja dulu. Nanti akan aku bawakan makanan ini ke kanto, sekalian aku bawakan yang banyak buat teman-teman kamu di sana. Oke!”


Reno mengangguk. “Oke.”


“Ya udah, gih sana berangkat. Sarapan roti dan susu aja dulu ya,” ucap Alana.


“Sarapan kamu juga ngga apa-apa,” ledek Reno yang masih menelusuri bahu istrinya.


Alana menepuk punggung tangan Reno yang melingakar di perutnya. “Ish kamu. Udah jam berapa ini? Nanti kesiangan.”


Reno melepas pelukan itu dan Alana membalikkan tubuhnya.


“Oke, tidak apa pagi ini gagal. Tapi nanti malam harus,” ucap Reno genit sembari mencubit ujung hidung Alana.


“Ih, aku belum setuju ya,” ledek Alana yang pura-pura jual mahal.


“Mas ga minta persetujuan.”


“Dasar!” Alana memukul lagi dada itu pelan hingga si pemilik tubuh itu pun tertawa.


Reno berjalan menuju meja makan dan memakan sarapan yang Alana siapkan di meja itu. Alana menatap punggung suaminya sembari menggelengkan kepala. Setelah satu bulan sibuk dengan urusan masing-masing dan merasa dingin, akhirnya mereka bisa kembali hangat seperti dulu.