Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Tidak mudah jatuh cinta



Reno mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kebetulan saat ini sudah bukan lagi waktu trafic jam, sehingga jalanan pun tampak sedikit lengang.


Reno sampai di hotel tempat terakhir ponsel Alana menyala dan menunkkan lokasinya. Sedangkan sebelum meninggalkan hotel, Alana kembali mematikan ponsel itu. ponsel itu hanya ia gunakan untuk menelepon Nenek.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya resepsionis cantik yang langsung menyambut kedatangan Reno.


“Saya mencari seseorang yang bernama Alana khumairah. Dia ada di kamar berapa?” Reno bertanya dengan nada terburu-buru.


“Sebentar, saya check dulu ya, Pak.” Resepsionis cantik itu mengalihkan arah matanya menuju monitor komputer untuk melihat data customer-nya.


Sedangkan Reno, mengetuk meja resepsionis yang terbuat dari marmer itu dengan ujung jari manis, tengah dan telunjuknya bergantian.


“Bagaimana, Mbak?” tanya Reno lagi. ia tak sabar mendengar informasi tentang istrinya.


“Oh, menurut data, ibu Alana Khumaira aru saja check out, Pak.”


Duarr …


Reno kembali lemas. “Kapan?” tanyanya.


“Dua puluh menit yang lalu,” jawab resepsionis cantik itu.


“Ah, si*l.” Reno mengomel sendiri. “Ini seua gara-gara Dewi. ****.”


Andai saja, tadi ia tidak berdebat dulu dengan Dewi di kantor, pasti ia dan Alana bisa bertemu di sini. Lalu, Reno langsung meninggalkan resepsionis itu dan kembali ke mobilnya. Pikirannya benar-benar kalut. Terik matahari yang menyengat semakin membuat kepalanya panas.


Di dalam mobil, Reno menyandarkan kepalanya pada kursi mobil. Ia meremas rambutnya kasar. Ia tidak menyesali perdebatannya dengan Dewi tadi, karena jika itu tidak terjadi, Reno tidak akan menyadari penyebab kepergian Alana.


Reno memang naif. Ia sangat awam dalam urusan wanita. karakternya yang pendiam dan kaku, memang tidak pernah berdekatan dengan lawan jenis. Hanya Alana satu-satunya wanita yag dekat dengannya. Satu-satunya wanita yang ia suka dan nyaman untuk berteman. Sementara Dewi adalah wanita kedua yang dekat dengan Reno. Kedekatan Dewi dan Reno bermula di detik-detik kelulusan SMA, tepatnya saat begitu banyakm tugas kelompok. Hingga akhirnya mereka pun kuliah di fakultas yang sama.


Kala itu Reno memang bodoh. Ia menyatakan cinta pada gadis berusia dua belas tahun. Gadis yang sedang hendak menjalankan ujian untuk memasuki tingkat SMP. Sedangkan Reno sudah berada di kelas dua belas SMA. Alana bukan menolak Reno karena ia tidak menyukai pria itu, melainkan karena ia merasa masih terlalu kecil untuk berpacaran. Akhirnya, saat Alana mulai masuk SMA, ia mulai dekat lagi dengan Reno. Itu pun atas andil Asih, Mami Reno yang memang menyukai Alana. Hingga akhirnya, Alana menerima cinta itu. sedangkan Dewi terlupakan oleh Reno, padahal kedekatan mereka saat itu sudah lebih dari tiga tahun. Dewi tidak bisa melupakan semua kebersamaannya dengan Reno. Sementara Reno menganggap kedekatan itu hanya selayaknya teman.


“Ah, Bilqis,” gumam Reno mengingat siapa orang terdekat Alana yang bisa ia tanyai.


Kemudian, Reno kembali menjalankan mobilnya menuju kantor Alana.


Di Bandara, Alana, Aurel, dan pengasuhnya sudah berada di tepat pemeriksaan barang. Sementara mereka belum melihat Alex di sini.


“Daddy belum datang, Mi?” tanya Aurel.


“Sebentar lagi. Daddy tadi WA Mimi katanya sudah dekat sini.”


“Daddy pasti ikut, sayang. Karena di sana kan Daddy juga mau ketemu temannya,” ucap Alana lagi.


“Ya, Daddy ikut, sayang.” Suara Alex terdengar dari balik tubuh Alana dan Aurel.


“Daddy …” Aurel memanggil sang ayah dan langsung menubruk tubuh ayahnya yang tegap itu.


Sontak, Alex pun tertawa dan mengambil tubuh sang putri untuk digendong.


“Semua sudah siap, Al?” tanya Alex pada Alana sambil tetap menggendong Aurel.


“Yes, Sir.”


Alex mengangguk dan tersenyum.


“Daddy aku senang sekali,” ujar Aurel sambil melebarkan kedua tangannya sebagai ekpresi kesenangannya.


Alex tersenyum. Pria itu masih menggendong putrinya. Sementara Alana berada di samping dan pengasuh Aurel berjalan di belakangnya. Mereka berjalan santai menuju ruang tunggu pesawat usai dari pemeriksaan barang dan bagasi serta pengambilan tiket.


Alana, Alex, dan Aurel seperti keluarga utuh yang hendak liburan. Padahal Alex ke kota itu mengajak Alana memang ada hubungannya dengan pekerjaan.


“Apa yang membuatmu senang?” tanya Alex pada putrinya.


“Kalena Mimi ikut belsama kita.”


Alex tersenyum mendengar ocehan putrinya.


“Benarkah?” tanya Alex meledek putrinya yang seolah-olah tidak membaca ekspresi bahagia itu.


“Iya, Daddy. Aku senang sekali.”


“Ya … Ya … Daddy juga senang,” jawab Alex sambil mengecup pipi chubby putrinya. Lalu, ia menoleh ke arah Alana yang hanya tersenyum melihat interaksi ayah dan putrinya itu.


“Kamu juga senang, Al?” tanyanya pada Alana.


Alana mengangguk dan tersenyum. “Tentu saja.”


Walau pikirannya masih menjelajah tentang bagaimana nasib rumah tangganya nanti? Namun, di depan Alex dan Aurel, Alana tetap bersikap seolah tak ada masalah. Apalagi kelucuan Aurel mampu menghilangkan masalah itu sejenak.


Tak dipungkiri bahwa kekhawatiran Alana pada Reno masih sering muncul. Bagaimana keadaan Reno? Apa dia sudah makan? Siapa yang menyiapkan air hangat? Pakaian kerja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu hadir di benak Alana. Sebenarnya ia tak tega tapi kekecewaan yang memuncak mengalahkan semua kekhawatiran itu. Namun tetap, hingga saat ini nama Reno masih belum hilang. Alana yang memang tidak mudah jatuh cinta, tak bisa dengan mudah menggantikan nama pria itu dihatinya.