Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Alana tidak mungkin sekejam itu



“Ayo Wi, ikut makan!” kata Reno pada asistennya, saat ia sedang bersama Jefri.


Reno membawa bekal makanan yang dibuat Alana ke kantin. Kini, ia duduk bersama rekannya itu.


Dewi memgiyakan ajakan itu dan duduk di samping Reno. “Kok makan rendang, Ren? Kamu kan baru sembuh. Makanan ini terlalu tajam untuk lambungmu.”


Jefri mengernyitkan dahi. Ia melihat Dewi begitu berlebihan pada Reno yang jelas-jelas sudah berstatus suami orang.


“Iya, awalnya Alana juga ga ngizinin, tapi aku lagi pengen banget makan ini. Ngga pedes kok. Cobain deh! Lagian Alana juga buat bumbunya tidak terlalu kental, jadi aman.”


“Alana pinter banget ngurus suami,” sahut Jefri yang memuja istri Reno.


“Iya, dong. Istri siapa dulu.”


Dewi semakin terlihat kesal saat Reno memuji istrinya di depan Jefri.


“Eh, lagi pada ngumpul nih?” tanya Aldo tiba-tiba.


“Gabung, Do!” ajak Reno.


Aldo melihat ke arah meja yang tersaji banyak makanan. Dewi pun membawa banyak makanan hari ini.


“Wah, makan besar nih,” ucap Aldo lagi sembari menggosok kedua telapak tangannya dan duduk di samping Jefri.


“Ya, siang ini kita makan besar. Yang ini buatan istriku dan yang ini buatan calon istrimu.” Reno menunjuk pada lauk yang dibuat Alana dan dibuat Dewi.


“Ekhem.” Jefri meledek Aldo dan Dewi dengan deheman.


Reno pun tersenyum sembari menaikturunkan alisnya pada Aldo dan Dewi.


“Kalian tuh apaan sih?” tanya Dewi tak suka. “Tau gini mending aku makan di meja lain aja.”


Dewi hendak membawa beberapa makanannya untuk pindah meja. Sontak, Reno menahan tangan Dewi. “Ih kok ngambek.” Reno tertawa. “Sorry, Dew. Oke aku ga akan ngeledekin kamu dan Aldo lagi.”


Lalu, Dewi kembali pada kursinya. Sedangkan, Aldo dan Jefri saling melirik. Aldo menyadari bahwa Dewi memang menyukai Reno, hanya saja Reno tidak merasakan itu.


Setelah makan siang, Reno kembali ke ruangannya. Ia manaiki lift bersama Dewi. Di kator, setiap ada Reno pasti ada Dewi. Terkadang Reno pun sering digosipkan memiliki hubungan dengan asistennya itu. Namun, Reno selalu menyanggah karena ia memang tidak memiliki hubungan apa pun selain teman dekat sejak sekolah sekaligus rekan kerja sekarang.


“Ren,” panggil Dewi saat ia dan Reno berada di dalam lift.


“Ya.” Reno yang sedang mengetikkan pesan untuk Alana pun menoleh.


Dewi menatap pria pujaannya. “Aku minta maaf. Karena kepergianku, kamu jadi masuk rumah sakit kemarin.”


Pintu lift terbuka tepat di lantai yang Reno tekan. Lalu, keduanya pun keluar dari lift itu dan berjalan beriringan.


“Iya, kamu memang tega, membiarkan aku sendirian mengerjakan semua projeck baru kita.”


Dewi nyengir. “Sorry. Itu semua bukan keinginan aku, tapi Alana.”


Sontak, Reno menghentikan langkahnya saat mereka tiba di lorong tepat di antara ruang Reno dan Dewi.


“Maksudmu?” tanya Reno tak mengerti.


“Alana cemburu padaku. Dia tidak suka dengan kedekatan kita. Oleh karena itu, dia memintaku untuk bertemu di sebuah café dan dia juga memintaku untuk menjauhimu.”


“TIdak mungkin.” Reno menggelengkan kepala. Ia tidak percaya Alana melakukan hal itu.


Di mata Reno, Alana adalah wanita lembut, tidak suka menghardik orang apalagi menekan orang hanya untuk kepentingannya.


“Kamu tidak percaya? Aku juga tidak menyangka Alana seperti itu. Bahkan dia mengancam ingin memviralkan fotoku dengan caption pelakor.”


Reno serius mendengar pernyataan Dewi yang memang benar. Namun, pernyataan itu hanya penggalan dari pihak Dewi saja.


“Alana tidak mungkin berbuat seperti itu, Dew,” ujar Reno.


“Bisa. Buktinya dia melakukan itu padaku. Makanya aku mundur waktu itu. Aku tidak ingin merusak hubungan kalian. Dan, aku tidak ingin di cap pelakor.”


“Kapan kalian bertemu?” tanya Reno.


“Di café xxx, hari Jumat tanggal enam pukul tujuh,” jawab Dewi.


Reno mengingat lagi hari dan jam itu. waktu itu Alana memang izin pulang malam karena ingin mengantar Bilqis yang hendak membeli pakaian kerja untuk presentasi. Ternyata, Alana bohong.


Reno geram. Selain geram karena kebohongan Alana, ia juga tak menyangka sang istri bisa sekejam ini. Padahal ia tahu bahwa Dewi adalah anak yatim piatu, yang hidup seorang diri. Tapi mengapa Alana tega menyusahkan Dewi?


Dewi memegang lengan Reno. “Ren, jangan kasih tahu Alana kalau aku bilang ini ke kamu! Aku tahu perasaan Alana. Dia melakukan itu pasti karena takut kehilanganmu.”


Reno mematung.


“Aku ke ruanganku ya, Ren.” Dewi pamit. Ia sengaja memberitahu hal ini untuk melihat reaksi Reno.


Akankah Reno membelanya?