
Alana berdiri mematung saat Alex dan Aurel masuk ke dalam mobil. Pertunjukan selesai tepat pukul tujuh tiga puluh malam. Ia mengantar bos dan putrinya hingga parkiran. Alana tidak membawa mobilnya sendiri, karena saat datang ke tempat ini ia bersama Alex dan Alex yang mengemudikan sendiri mobil mewah itu.
“Loh, kamu kenapa berdiri di situ?” tanya Alex saat melihat Alana yang masih di luar dan tidak masuk ke dalam mobil bersamanya.
Alana menggeleng. “Biar saya naik taksi saja, Sir.”
“Tidak.” Alex menggelngkan kepalanya. Mereka berbincang dari kaca jendela Aurel yang terbuka. Aurel sudah duduk di samping sang ayah.
“Kita datang bersama, maka aku bertanggung jawab untuk memulangkanmu,” ucap Alex.
Alana kembali menolak. “Tidak apa, Sir. Saya bisa naik taksi.”
“Tidak bisa. Ayo masuk! Lagi pula ini sudah malam,” jawab Alex dengan nada memaksa.
Aurel menoleh ke arah Alana dan sang ayah bergantian sambil duduk dan memegangi piala yang telah ia dapati dari pertunjukan itu. Walau Aurel belum mendapat juara pertama, tapi Aurel menang dengan kategori pilihan favorit pilihan juri. Aurel yang belum genap berusia lima tahun tetap diikut sertakan oleh pembimbingnya agar gadis kecil itu memiliki keberanian sejak dini.
“Mimi, Ayo! Aulel juga ingin mengantal Mimi pulang,” sambung gadis imut itu.
Alana tersenyum dan menunduk ke jendela. Ia sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Aurel. “Kalau antar Mimi dulu, nanti Aurel kemaleman sampai rumah. Terus, itirahatnya nanti akan lebih malam, sedangkan besok kan harus bangun pagi lagi untuk sekolah.”
Alana mengusap lembut wajah mungil itu. “Mimi tidak apa-apa, nanti diantar sama abang taksi. Oke!”
“No,” jawab Alex dan Aurel bersamaan. Kedua kepala merekapun menggelng.
Alana tertawa melihat kekompakan ayah dan anak itu sambil melirik ke arah Alex.
“Ayolah, Al! Naik. Kamu justru akan memperlambat kami untuk pulang,” ucap Alex membuat Alana tak bisa menolak.
Lalu, Alana mendekati pintu penumpang belakang dan hendak membukanya.
“Mimi, No! jangan duduk di situ! Duduk sama Aulel di sini." Gadis itu menepuk kursinya.
Anak kecil itu pun sudah membuka pintunya agar Alana segera naik. “Aku ingin dipangku Mimi.”
Alana kembali tak bisa menolak. Ia pun duduk di samping Alex dengan Aurel yang berada dalam pangkuan. Aurel duduk menghadap Alana. Ia membiarkan pialanya berada di kursi belakang dan bermain bersama Alana.
Alex terus melirik ke samping dan melihat putrinya begitu dekat dengan sekretarisnya itu. sungguh keajaiban melihat Aurel bisa dekat dengan orang lain selain ibunya.
“Mimi tahu lagu twinkle twinkle little stal?”
“Tahu,” Alana mengangguk.
“Aku menyukainya, Mimi.”
“Mimi juga menyukai lagu itu.”
“Mau dengar, Mimi. Ayo nyanyikan untukku!”
Aurel dan Alana bercengkerama. Sedangkan Alex hanya melihat dan mendengar keakraban itu. bibirnya mengulum senyum sembari tetap fokus menyetir.
Lalu, Alana mulai menyanyikan lagu yang Aurel minta. Suara Alana begitu lembut dan enak di dengar.
“Yeay … Mimi sualanya bagus,” kata Aurel sambil bertepuk tangan.
Gadis itu tampak ceria, sehingga menularkan aura ceria pada Alana yang sedang mendung hatinya.
“Bagus, Mimi.”
“Jelek.” Alana tertawa dan menyangkal suara merdunya itu.
“Bagus. Benar kan, Daddy?” Aurel menoleh ke arah sang ayah untuk bertanya.
Alex langsung menganggukkan kepala. “Bagus.”
Alana tersenyum malu.
Perjalanan yang cukup jauh itu pun sampai tak terasa. Kini, Alex memberhentikan mobilnya tepat di lobby hotel.
“Mengapa kamu bermalam di sini?” tanya Alex.
Alana bingung untuk menjelaskan. “Hmm … sedang ingin sendiri saja.”
“Lalu, suamimu?” tanya Alex lagi.
Alana menggeleng. “Entahlah. Mungkin kami akan berpisah.”
Mendengar pernyataan itu hati Alex tiba-tiba senang. Ia tak mengerti dengan dirinya. Ia pun merutuki perasaannya. Seharusnya ia turut sedih dengan keadaan yang menimpa Alana, tapi entah kemana larinya empati itu. Apa ia berharap Alana berpisah dari suaminya? Tidak. Itu tidak benar.
Di tempat berbeda. Reno lemas. Ia kebali ke rumah dalam keadaan tak karuan. Berulang kali, Reno mencoba menelepon Alana tapi masih sama, hanya ada opertor saja yang menjawab.
Reno memasuki rumah dengan langkah gontai. Ia terlihat sangat kusut. Rambutnya berantakan, dasinya sudah terlepas sejak berada di mobil. Ia pun melepas sepatunya asal. Kaos kakinya pun berada entah dimana.
Reno langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. “Alana.” Ia terus menyebut nama istrinya. “Kamu di mana? Maafkan Mas. Mas tidak bisa tanpamu.”
Reno bangkit dan beralih ke kamar, berharap Alana ada d rumah ini tiba-tiba. Namun, nihil. Lalu, ia kembali ke dapur dengan harapan yang sama tapi Alana tak ada. Kemudian, ia kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Reno berdering. Dengan cepat, ia mengambilnya, berharap itu adalah panggilan dari sang istri. Namun, yang tertera di sana ternyata nama Dewi.
“Iya, Wi.” Reno mengangkat panggilan itu dengan malas.
“Kamu sudah makan, Ren?” tanya Dewi khawatir.
Reno diam dan belum menjawab. Ia tidak lapar. Bahkan ia lupa kapan terakhir makan.
“Ren,” panggil Dewi lagi.
“Belum,” jawab Reno.
“Aku ke sana ya. Aku bawakan makan malam untukmu.”
“Tidak perlu, Wi. Aku ingin istirahat. Night!”
Reno langsung menutup sambungan telepon itu sepihak, membuat Dewi bingung. Reno memang ingin istirahat. ia sangat lelah, lelah hati dan pikiran juga tenaga karena sepanjang hari mencari-cari keberadaan sang istri.
Sebelumnya, Alana tidak pernah seperti ini. Baru kali ini ia ditinggalkan oleh sang istri tanpa kabar. Reno lupa, padahal dirinya yang membiarkan Alana untuk pergi. Pikir Reno, mereka hanya terpisah sebentar untuk intropeksi diri. Bukan benar-benar berpisah seperti ini.