
Di dalam mobil, Alana bingung ingin ke mana? Ia tidak ingin membuat sang nenek syok dan terkejut dengan kehadirannya yang pulang dan membawa koper malam-malam. Walau cepat atau lambat Aminah akan tahu nantinya, tapi tidak sekarang.
Alana kembali mengemudikan kendaraannya setelah berhasil mengirim pesan pada Dewi. Sebelum memasukkan lagi ponsel itu, ia pun melihat ceklis dua pada pesan yang ia kirim ke Dewi tadi sudah berubah warna, artinya Dewi sudah membaca pesan itu dan tidak dibalas.
Lalu, Alana memutar otak. Ia butuh tempat untuk menenangkan dirinya saat ini. Tidak mudah melepaskan orang yang telah bersama dalam waktu cukup lama. Reno sudah menjadi bagian dalam hidup Alana, mungkin sudah menjadi satu kesatuan dalam tubuhnya, sehingga jika bagian tubuh itu harus dilepas, maka harus butuh banyak waktu untuk merelakan. Dan, kondisinya nanti tidak akan sama seperti dulu.
Akhirnya, Alana mengambil keputusan untuk bermalam di hotel. Untungnya, sekarang ia memiliki uang yang cukup untuk menghidupi dirinya saat ini. Kelak nanti, jika ia berpisah dari Reno, ia pun bisa menghidupi sang nenek dengan gaji yang lebih dari cukup.
Saat pergi, Alana meninggalkan ATM yang diberikan Reno, tepat di laci kecil yang ada di dalam lemari. Alana meletakkan tiga ATM berupa dua debit card dan satu credit card. Tiga benda itu sudah lama berada di dalam dompet Alana dan senantiasa ia bawa kemana pun. Ia juga melepaskan cincin pernikahannya dan meletakkan bersamaan dengan ketiga ATM tadi.
Reno belum menyadari apa yang ada di laci lemari itu.
Di sela perjalanan menuju hotel, Alana menyalakan audio touchscreen yang ada di dalam mobil itu. Ia menekan asal frekeunsi radio yang sedang online. Lalu, tangannya terhenti saat radio itu memutar lagu Tulus, hati hati di jalan.
Perjalanan membawamu
Bertemu denganku, ku bertemu kamu
Sepertimu yang kucari
Konon aku juga s'perti yang kaucari
Kukira kita Asam dan Garam
Dan kita bertemu di Belanga
Kisah yang ternyata tak seindah itu
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kasih sayangmu membekas
Redam kini sudah pijar istimewa
Entah apa maksud dunia
Tentang ujung cerita, kita tak bersama
Semoga rindu ini menghilang
Konon katanya waktu sembuhkan
Akan adakah lagi yang sepertimu?
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Alana menangis sembari kedua tangannya tetap berada di kemudi setir. Lagu ini seolah menggambarkan kisahnya dengan Reno.
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Ku melanjutkan perjalananku
Uh-uh, uh-uh
Kukira kita akan bersama
Begitu banyak yang sama
Latarmu dan latarku
Kukira takkan ada kendala
Kukira ini 'kan mudah
Kau-aku jadi kita
Kukira kita akan bersama
Hati-hati di jalan
Tangis Alana semakin terisak. Ia menyetir sambil mengusap pipinya yang tak kunjung kering.
Setelah cukup lama di perjalanan, Alana menepikan mobilnya tepat di parkiran hotel bintang empat Ia sengaja mencari hotel yang tidak jauh dari rumah Alex karena besok pagi adalah jadwalnya mengantar Aurel sekolah.
“Ini, Bu kunci kamarnya. Di 102 ya,” ucap resepsionis wanita itu pada Alana.
Alana mengangguk dan menerima benda yang diserahkan si resepsionis tadi. “Terima kasih.”
Resepsionis wanita itu tersenyum dan membungkukkan sedikit tubuhnya. “Sama-sama, Bu.”
Alana melangkahkan kaki mengkuti petugas yang membawanya untuk menunjukkan kamar yang akan ia gunakan. Alana sudah membayar penginapan ini selama dua malam, karena di hari ketiga setelah malam ini, ia akan menemani Alex dan putrinya ke Bali.
Sementara di tempat berbeda, Reno menatap kosong ke arah jendela. Entah ia yang lakukan benar atau salah, tapi pada saat di meja makan tadi, ia memang sangat kesal dengan Alana, hingga emosinya pun tak terkendali. Kemudian, Reno menatap foto mereka yang terpajang di dinding kamar. Tidak pernah terbesit dalam hati dan kepala Reno bahwa ia akan berpisah dari sang istri. Untuk saat ini, ia hanya ingin saling menenangkan diri dan intropeksi.
Namun, berbeda dengan Alana. Wanita itu sudah menganggap kepergiannya dari rumah itu diibaratkan selesai. Dan, ia merasa ini adalah akhir dari kisahnya bersama Reno.
Alana kembali terisak saat berada di dalam kamar. Ia tak kuasa menangis hingga suara tangis itu pecah. Untungnya kamar hotel ini kedap suara. Alana pun berteriak sekencang-kencangnya di sini. Mungkin ia akan menangis semalam untuk meluapkan apa yang ia rasakan sekarang.
****
Kring … Kring … Kring …
Alarm berbunyi, tepat pukul setengah lima pagi. Alarm itu memang sengaja terpasang setiap hari untuk membangunkan Reno dan Alana ketika subuh.
Semalam Reno pun tidak bisa tidur. Lalu, ia menyibukkan diri dengan kembali membuka laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai saat dikantor. Namun, ia pun tak berkonsentrasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Alhasil ia menutup kembali laptopnya dan tidur. Saat di atas tempat tidur pun ia masih gelisah dan tak bisa memejamkan mata. Reno terus membalok-balikan tubuhnya hingga ia akhirnya terlelap pukul tiga.
“Sayang, alarmnya bunyi,” teriak Reno, meminta Alana untuk mematikan alarm itu.
Namun, bunyi itu tetap terdengar kencang, padahal mata Reno masih mengantuk karena ia baru terlelap belum sampai dua jam.
“Al, kamu bangun duluan. Mas, masih ngantuk,” ucap Reno seorang dir. Ia lupa bahwa di sisinya saat ini tidak ada wanita yamg biasa tidur bersamanya.
Kring … Kring … Kring ….
Alarm itu tepat berbunyi hingga Reno meraba bagian samping tubuhnya. Ia baru menyadari bahwa di sampingnya saat ini tidak ada sang istri. Sedari malam, ia tidur seorang diri.
Mata Reno terbuka. Ia pun bangkit sedikit dan mengambil alarm yang berada di atas meja kecil, tepat disampingnya. Lalu, ia mendengus sembari melirik ke samping dan mengusap wajahnya kasar. Ia lupa jika di sana tidak ada Alana.
Kemudian, Reno bangun dan duduk sebentar di tepi ranjang. Ia kembali mengusap wajah dan rambutnya ke belakang. Baru satu malam tak ada Alana, rasanya ia sudah merasa ada yang kurang. Sepertinya, ia tidak bisa lama-lama ditinggal Alana. Walau semalam ia mengiyakan keinginan Alana untuk saling memberi ruang sementara waktu, tapi sepertinya justru ia sendiri yang tidak bisa.
Nanti malam, sepulang kerja, Reno akan menjemput Alana di rumah nenek dan membawa kembali istrinya pulang.