Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Meracuni pikiran



“Hei, dari tadi bengong aja.” Bilqis menepuk punggung Alana yang sedang duduk di pantry.


Alana baru saja mengantar Aurel ke sekolah. Lalu, ia langsung ke kantor dan membuat segelas coklat sachet hangat di sini.


“Hai, Qis.” Alana menoleh ke sahabatnya yang juga membuat minuman sama.


“Kenapa? Ada masalah lagi dengan Mas Reno-mu?” tanya Bilqis.


Setelah berdiri di depan dispenser, Bilaqis ikut duduk di hadapan Alana sembari mengaduk gelasnya. Kemudian, ia mendengar Alana bercerita. Alana menceritakan semua kekesalannya pada Reno, dari mulai Reno yang berbohong ketika Aminah masuk rumah sakit, hingga ucapan menyakitkan Reno di depan kedua temannya.


“Waktu Mas Reno bilang gitu, si Dewi dengar?” tanya Bilqis.


Alana menggeleng. “Ngga. Dia muncul setelah itu.”


“Bagus. Kalau sampai dia dengar. Bisa makin besar kepala dia,” jawab Bilqis kesal. “Sejak awal ketemu cewek itu. Aku emang udah ga suka, Al.”


“Kenapa?” tanya Alana.


Bilqis mengangkat bahunya. “Ngga tahu kenapa? Feeling mungkin. Karena istri ayahku wajahnya mirip-mirip dia. Wajah-wajah pelakor yang sukanya sama pria bersuami.”


“Masa? Emang keliatan?” tanya Alana sembari mengernyitkan dahi.


“Khusus buat aku, keliatan," jawab Bilqis sambil setengah tertawa.


Alana menggelengkan kepala. “Ada-ada aja.”


“Terus menurut kamu, Mas Reno selingkuh?” tanya Bilqis lagi.


“Menurutmu?” Alana malah balik bertanya.


“Hmm …” Bilqis menyeruput coklat hangat sebelum melanjutkan ucapannya. “Mas Reno ga akan melakukan itu. Berdasarkan ceritamu, tidak ada bukti yang mengarah bahwa Mas Reno selingkuh. Kebersamaan mereka memang sering terjadi dalam dunia kerja dan pada kasus saat nenek masuk rumah sakit, aku yakin Mas Reno-mu memang jujur. Dia terpaksa berbohong karena tidak ingin ribut sama kamu. Walau sebenarnya bohong juga bukan solusi.”


Alana menopangkan dagu dan mendengar perkataan Bilqis. Walau sang sahabat tidak pernah menjalin hubungan serius dengan lawan jenis, tapi pengalaman hidup membuat Bilqis dewasa sebelum waktunya.


“Kedua, tentang ucapan itu. Positif thinking, Al. mungkin Mas Reno berkata seperti itu untuk menyemangati temannya yang mengincar Dewi. Semua mungkin kan?”


Alana mengangguk. “Iya, sih.”


“Justru yang aku khawatirkan bukan Mas Reno, tapi wanita itu,” ucap Bilqis.


“Mbak Dewi?”


Bilqis mengangguk. “Kalau menurutmu, si mbak Dewi itu sudah mulai meresahkan dan mengancam hubungan kalian. Temui dia dan minta dia untuk menjauhi suamimu. Dia pindah aja ke divisi lain atau cabang lain, kek. Bisa kan?”


Alana menatap ke kedua bola mata Bilqis.


“Kalau dia perempuan baik-baik. Dia akan menuruti maumu. Apalagi sebelumnya kalian pernah dekat kan?”


Alana mengangguk. Ia menarik nafasnya kasar dan kembali mengangkat gelas lalu meminum cokelat hangat itu. Ia memang harus mengambil keputusan untuk mempertahankan hubungannya dengan Reno dan menjauhkan sang suami dari pihak orang ketiga sebelum terlambat.


****


“Al, siang nanti kamu ikut dengan saya menemui Mr. Luwis.” Ucap Alex saat Alana memberikan berkas yang harus ia tanda tangani.


“Baik, Sir.”


“Sir, boleh saya meminta sesuatu?” tanyanya.


“Tentu.”


Alana kembali menghampiri Alex dan duduk di hadapannya. “Jika saya mengantar jemput Aurel tidak setiap hari, boleh?”


Alex menaikkan dahinya.


“Hmm … sorry, Sir. Bukan saya menolak permintaan anda. Tapi, jika setiap hari saya berangkat terlalu pagi, saya tidak bisa menyiapkan sarapan dan keperluan suami dulu. Mohon pengertiannya.”


Alex bukan marah, malah tersenyum. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. “Good. Saya suka dengan keterusteranganmu.”


Sembari memainkan pulpen, Alex kembali bicara. “It,s oke. Itu bisa diatur. Kamu bisa mengantar Aurel di hari Senin dan Kamis, sedangkan saya Selasa dan Rabu. Oke!”


Alana mengangguk dan tersenyum. “Oke.”


Setelah negosiasi selesai, Alana pun kembali pamit. Sementara Alex masih menatap kepergian Alana. Satu hal yang membuatnya tertarik, Alana adalah wanita yang mengerti akan tanggungjawabnya.


Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Sejak pagi, Alana belum menelepon suaminya. ia juga merasa tak tega saat meninggalkan Reno di rumah nenek. Alana merasa bersalah dan tidak bertanggungjawab.


Tut … Tut … Tut …


Panggilan itu tidak diangkat. Lalu, Alana mencobanya lagi hingga tiga kali dan terdengar suara dari sana.


“Halo, Al.”


Alana mngernyitkan dahi karena suara itu bukan suara suaminya, melainkan suara wanita yang ia yakini adalah Dewi.


“Maaf, Al. Reno lagi nyetir, jadi aku yang angkat teleponnya.”


“Oh, ya.” Alana speechless.


“Sayang, maaf. Mas lagi nyetir, jadi Mas minta tolong Dewi buat angkat teleponmu,” ucap Reno.


Dewi meloudspeaker dan mendekatkan ponsel itu pada mulut Reno.


“Mas lagi diluar?” tanya Alana.


“Ya, Mas sama Dewi lagi ke kantor klien. Ini, kami baru jalan,” jawab Reno seolah biasa saja.


“Oh, gitu. Ya udah. Maaf kalau aku ganggu. Bye, Mas. Assalamualaikum.”


“Wa …”


Alana langsung mematikan telepon itu, sebelu Reno selesai menjawab salamnya.


Di dalam mobil menuju tempat pertemuan antara Reno dengan orang yang akan bekerja sama dengan perusahaannya itu, dewi bertanya, “Alana marah?”


Reno tak menjawab. Ia hanya menerima ponselnya dari tangan Dewi.


“Alana tuh pencemburu ya? Sepertinya dia marah terus kalau kamu lagi sama aku. Kita kan partner kerja, jadi memang sering bareng kan?” tanya Dewi lagi, seolah meracuni pikiran Reno.


“Entahlah,” jawab Reno dengan mengangat bahunya. Ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada istrinya. padahal dahulu Alana tak seposesif dan sepencemburu ini.