Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Mulai tidak bergantung



Alana mengambil ponselnya di laci. Ia melihat waktu yang tertera di ponselnya tengah menunjukkan pukul 12.11.


Di sana juga terlihat beberapa panggilan dari Reno. Lalu, Alana mendial nomor telepon suaminya.


“Al, dari tadi Mas meneleponmu. Kenapa tidak diangkat?”


Baru saja Alana mendengar nada sambung satu kali, langsung terdengar suara sang suami yang memberondong pertanyaan.


“Maaf, Mas. Hari ini sibuk banget. Mungkin karena hari pertama. Jadi aku di training dulu sama sekretaris senior,” jawab Alana.


“Oh gitu. Sekretaris senior itu laki-laki atau perempuan?” tanya Reno lagi.


“Perempuan. Sudah punya dua anak.”


“Oh,” jawab Reno lega.


“Oh ya, Mas. Tadi pagi Mas bareng sama Mbak Dewi lagi?” Kini Alana yang bertanya.


“Iya, tadi pas Mas baru keluar komplek, Dewi telepon minta bareng dan katanya dia sudah ada di halte," jawab Reno jujur.


Memang seperti itu yang terjadi. Sebelumnya, ia memang tidak janjian dengan Dewi untuk berangkat bersama.


“Oh gitu.” Alana mencoba untuk percaya, karena sejauh ini setiap penjelasan Reno memang tidak pernah bohong.


“Sayang, aku tidak melarangmu untuk mengeksplore diri. Tapi tetap ingat batasanmu. Kamu sudah menikah,” ucap Reno.


“Iya, Mas. Kamu juga,” jawab Alana cemberut.


“Mas selalu bisa menjaga hati Mas, Al.”


“Tapi Mas juga jangan terlalu dekat dengan Dewi!” sahut Alana lagi.


“Kedekatan Mas hanya sebatas pekerjaan. Komunikasi Mas dengan dia pun hanya sebatas itu. Kamu bisa cek sendiri.”


Alana tediam. Ia memang sering mengecek ponsel suaminya dan di dalam sana memang tidak ada hal yang aneh.


“Iya,” jawab Alana tersenyum kecil sembari memegang ponsel dan memainkan kakinya di lantai.


Di sana, Reno pun tersenyum. “Kalau deket, udah Mas cium kamu.”


“Ih, dasar mesum,” ledek Alana pada suaminya.


“Biarin, sama kamu ini.”


Keduanya pun tertawa.


“Mas.”


“Hmm …”


“Jangan lupa makan!”


“Kamu juga,” ucap Reno lembut.


“Iya.” Alana mengangguk.


“Pulangnya, Mas jemput.”


Alana kembali mengangguk. “Ya.”


Tak lama kemudian, sambungan telepon itu pun terputus. Alana tersenyum sembari memandangi benda yang baru saja mengeluarkan suara pria yang ia cintai.


“Hei, senyam senyum sendiri. Tadi pagi aja cemberut.” Lagi-lagi, Bilqis mengagetkan Alana yang sedang berdiri menghadap jendela.


“Ih, kamu. Kerjaannya ngagetin orang mulu.”


Bilqis tertawa. “Lagian ya, kamu sama Mas Reno tuh aneh. Berantem, baikan, berantem, baikan lagi. terus aja begitu.”


“Ya … namanya juga suami istri. Pasti ada pasang surutnya,” jawab Alana.


“Ya, ngga gitu juga Qis.”


“Udah ah, ngomong mulu. Ayo ke kantin!” Bilqis langsung menarik lengan Alana. “Aku lapar.”


“Bentar, aku ambil bekalku dulu.” Alana menahan kakinya.


“Udah bekalmu dimakan nanti saja. aku mau traktir makanan yang enak yang ada di kantin. Dijamin nagih.”


Mau tidak mau, Alana mengikuti langkah kaki sahabatnya. Entah ia harus membalas Bilqis dengan cara apa? Wanita itu sangat baik.


Sesampainya di kantin, Bilqis mengenalkan Alana pada teman-teman dan seniornya. Semua orang tampak menerima kehadiran Alana. Mereka pun bercengkerama seperti sudah mengenal lama.


****


Satu minggu Mira mentraining Alana, wanita itu pun mulai memahami tugas dan pekerjaannya. Alana mulai dilepas oleh Mira dan melakukan pekerjaannya sendiri. Namun, ia tetap berkoordinasi atau bertanya pada Mira jika ada hal yang membuatnya ragu atau tidak diketahui.


Alana berdiri di depan Alex. Ia menyatukan telapak tangannya yang dingin. Ini adalah kali pertama, Alana membuat proposal yang akan diajukan untuk perusahaan rekanan.


“Good.” Alex mengaungguk-anggukan kepalanya sembari membolak balikkan kertas yang diberikan Alana tadi.


Hari ini, Alana terhitung sudah dua minggu bekerja.


“Ini kamu buat sendiri?” tanya Alex.


Ini adalah kali pertama Alex menatap wajah Alana secara langsung, dalam keadaan Alana yang juga menatap bos tampannya itu. Biasanya, Alex menatap Alana saat wanita itu tidak fokus padanya.


Alana mengangguk. “Iya, Sir. Banyak yang salah ya?”


Alex menatap datar wajah Alana yang takut berbuat kesalahan. Padahal ia ingin sekali menertawai ekspresi lucu itu. “Tidak. Tidak ada kesalahan. Semua oke.”


Alex menyerahkan kembali proposal itu pada Alana agar dilanjutkan ke bagian yang bersangkutan.


“Baik, Sir. Terima kasih. Saya permisi.”


Walau sudah dua minggu menjadi sekretaris Alex, Alana tetap saja masih kaku jika berada di ruangan itu. Mereka tidak banyak bicara. Komunikasi mereka hanya sebatas pekerjaan. Alex pun hanya memanggil Alana jika menyangkut pekerjaan saja.


Di luar dari itu, Alex tak pernah memulai untuk berkomunikasi melalui telepon dengan sekretarisnya. Bahkan hingga saat ini, Alex belum menyimpan nomor telepon Alana. Saat Alana sedang berada di rumah atau dihari libur, Alex praktis tak pernah menanyakan soal pekerjaan.


Berbeda dengan Reno yang sering menerima telepon atau pesan ketika libur dan saat berada di rumah. Entah itu pesan dari Dewi atau Jefri atau Pak Richard, bosnya.


Alana bersyukur, selama dua minggu ini ia tetap bisa berperan sebagai istri sekaligus wanita karir. Ia tetap bisa meluangkan waktu untuk memasak sebelum berangkat kerja dan sepulang kerja. Walau setelah itu, Alana sangat lelah dan langsung tidur. Reno yang ingin sekali bercinta pun terpaksa harus mengurungkan niat setelah mendengar dengkuran halus sang istri yang begitu tenang.


Weekend pun tiba. Sabtu ini, Alana ingin mengunjungi neneknya lagi. Hampir setiap weekend Alana dan Reno menginap di rumah nenek Alana atau di rumah orang tua Reno, karena kebetulan rumah sang nenek dan orang tua Reno tidak jauh. Jarak itu mampu ditempuh hanya dengan berjalan kaki.


“Mas, kita ke rumah nenek lagi kan?” tanya Alana saat mereka sarapan.


“Weekend ini Mas ga bisa, Al. Ada pekerjaan yang deadline. Nanti siang Mas juga harus memimpin zoom meeting," jawab Reno.


“Oh. Kalau aku sendiri yang ke rumah nenek, tidak apa kan?”


Reno menatap wajah istrinya. Alana tidak bisa mengendarai motor apalagi mobil. Reno selalu mengantar Alana kemana pun ia pergi dan menjemput saat pulang.


“Naik apa?”


“Taksi online. Motor juga ga apa-apa. Sekarang gampang, Mas,” jawab Alana. Ia ingin sedikit mandiri dan tidak terus bergantung pada Reno.


Reno diam sejenak sembari menyuapkan makanannya ke mulut. “Benar tidak apa berangkat sendiri?” tanyanya yang kini menatap Alana.


“Bener, Mas. Lagian aku juga sering menggunakan aplikasi itu kalau berangkat kerja. Atau pulang kerja, kalau Mas pas lagi ga bisa jemput.”


Ya, itu memang benar. Reno yang penggila kerja, secara tidak langsung membuka jalan istrinya untuk tidak lagi bergantung. Kemandirian Alana perlahan justru membuat mereka sedikit menjauh, karena Alana bisa mengatasi kondisi tanpa Reno.


“Ya sudah, kalau begitu.” Reno mengizinkan Alana pergi sendiri ke rumah neneknya.


Perlahan tapi pasti, kesibukan keduanya membuat hubungan suami istri itu tak seharmonis dulu. Terkadang, walau Alana dan Reno berada di ruangan yang sama dan duduk bersebelahan, tapi mereka asyik dengan gadget masing-masing. Komunikasi mereka sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan dan keadaan.


Di saat weekend pun Alana mengurus neneknya yang sakit. Sehingga di saat waktu berkualitas untuk berdua dengan pasangan pun hilang. Dan, mereka belum menyadari itu.