
Selesai terapi, Alana hendak mengajak Reno ke sebuah ;pusat perbelanjaan. Sebenarnya, bukan Alana yang mengajak tetapi Reno yang ingin mengajak istrinya untuk healing, karena sejak hamil trimester pertama Alana hanya ingin di rumah.
Alana meninggalkan Reno menuju bagian administrasi untuk melakukan pembayaran. Reno duduk di kursinya di antara kursi di ruang tunggu itu. lalu, ia menangkap sosok orang yang sangat ia kenal.
“Aldo,” gumamnya.
Reno menjalankan kursinya menuju pria yang lama menjadi rekan sejawatnya di kantor.
“Aldo,” panggil Reno lagi.
Jarak Aldo dan Reno saat itu memang tidak dekat. Aldo tengah berbincang dengan perawat di sana. Lalu, pria itu pun menoleh ke suara yang memanggilnya.
“Reno.”
Aldo menatap temannya dan berkata pada suster itu, lalu berlari mendekati Reno. “Ren.”
“Aldo, ngapain kamu di sini?” tanya Reno yang senang bertemu orang yang ia kenal di negara yang sangat jauh dari negaranya.
Aldo menatap Reno. Pria itu tahu kabar tentang kecelakaan yang menimpa temannya itu. “Sorry ya, Ren. Waktu lu kecelakaan, gue belum jenguk.”
“It’s oke,” jawab Reno.
“Jefri juga saat itu ga bisa dateng jenguk karena dia lagi riweh sama pesta pernikahannya,” kata Aldo lagi.
“Wah, akhirnya Jefri nikah?” tanya Reno yag senang dengan kabar itu.
“Ya, tepat dua hari setelah lu kecelakaan.”
Reno tersenyum senang. “Terus lu ngapain di sini? Siapa yang sakit?” tanyanya lagi.
“Dewi.”
Reno terkejut. Ya, ia memang sudah lama melupakan wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu.
“Dewi?”
“Iya, Ren. Sejak kejadian itu, gue selalu nemenin dia buat sembuh. Walau butuh perjalanan panjang. Tapi, sekarang Dewi semakin lebih baik.”
Dewi yang sempat mengalami gangguan kejiwaan akibat trauma dari insiden mengerikan itu, juga mengalami cidera pada otaknya. Dengan kemampuan finansial keluarga serta kedua sang kakak, Dewi pun mendapatkan perawatan maksimal. Kini, ia sudah seperti orang normal pada umumnya. Dan, semua itu berkat Aldo yang tulus berada di sisi Dewi untuk memberi support dan bimbingan.
“Aku ga nyangka cinta kamu sebesar ini sama Dewi,” ucap Reno.
“Kan gue udah bilang. Gue ga main-main, Ren. Dia sebenarnya baik, hanya kurang kasih sayang aja.”
Reno mengangguk.
“By the way, lu ke sini sama Alana kan?” tanya Aldo.
Reno mengangguk. “Alana ada di …”
“Hai.” Alana menghampiri kedua pria itu.
“Wah kamu hamil, Al?” tanya Aldo melihat perut buncit Alana.
Alana tersenyum dan mengangguk.
“Wah, selamat ya, Ren. Doain, gue sama Dewi seperti kalian.”
Reno mengernyit. Alana pun demikina.
“Kalian mau menikah?” tanya Reno.
“Ya, rencananya tiga bulan lagi. Sesi terapi Dewi udah selesai. Minggu depan gue balik buat persiapan pernikahan kita.”
“Terus Dewi nya mana?” tanya Alana.
“Hm … Ada di café bawah.”
“Aku boleh ketemu?” tanya Alana lagi.
Reno menatap Alana dan menggelengkan kepala, mengisyaratkan untuk tidak perlu melakukan itu.
“Hm … tapi sepertinya Dewi belum siap ketemu kalian. Gue tahu sebelum dia mengalami insiden itu, dia sedang dimana dan bersama siapa.”
“Do, sorry. Aku ga bermaksud ingin mencelakai Dewi saat itu,” ucap Reno dengan memegang punggung tangan Aldo yang berada di atas kursinya. “Aku udah biarin Dewi pergi saat itu, tapi aku ga nyangka dia malah dapet pelecehan di jalan.”
Aldo tersenyum dan memegang punggung tangan Reno. “Dewi sudah menerima takdirnya, Ren. Itu bukan salah lu, memang semesta menghukum apa yang udah dia lakukan. Mungkin jika itu tidak terjadi, Dewi tidak jadi seperti sekarang.”
“Kamu memang bijak, Do. Beruntung Dewi medapatkan pria sepertimu.”
Aldo tersenyum. ia menatap ke arah Reno dan Alana, lalu pamit. “Kalau Dewi sudah siap bertemu kalian. Gue akan bawa dia menemui kalian. Gue pamit ya.”
Reno mengangguk. kedua pria itu pun berpelukan.
“Cepat sembuh, Ren,” kata Aldo sambil membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Reno.
“Thank you, Bro.”
“Sekali lagi, selamat ya Al.” Aldo menatap Alana dan bergantian ke arah Reno. “Lu beruntung punya Alana, Bro.”
Reno mengangguk sambil menatap istrinya dengan tatapan memuja. “Sangat, Do. Aku memang pria beruntung.”
Aldo tersenyum dan pamit, lalu meninggalkan Reno dan Alana. Reno dan Alana menatap kepergian Aldo yang bergegas menemui Dewi di lobby.
“Aku senang mendengar kabar ini, Mas. Akhirnya, Mba Dewi bisa melewati masa sulitnya,” ucap Alana.
“Ya, Mas juga senang mendengar berita ini. Tuhan itu maha baik, selalu mengirimkan malaikatnya untuk menemani manusia bodoh, seperti aku.” Reno menatap istrinya.
Alana tersenyum. “Jangan gombal! Nanti tiba-tiba malemnya minta sesuatu.”
****
Satu minggu lagi, Asih, Bagas, dan Aminah akan terbang ke kota ini. Tiket dan akomodasi pun telah mereka siapkan. Asih yang paling ingin bertemu. Aminah pun demikian. Walau kondisinya sudah cukup renta, tapi ia berusaha untuk membugarkan tubuhnya untuk mampu melakukan perjalanan jauh itu.
Reno duduk di sofa bersama Alana di sampingnya. Pria itu menempel di belakang tubuh sang istri yang tengah menikmati tayangan hollywood movie sambil memakan popcorn di tangan Alana.
“Mas.”
Alana menggoyangkan bahunya, karena sedari tadi bibir Reno menelusuri bagian itu. Apalagi saat film itu tengah menayangkan adegan dua puluh satu plus.
Reno semakin bergairah dan ingin melakukan hal yang sama pada istrinya.
“Lagian, filmnya ngedukung banget sih.”
Bibir Reno masih menelusuri bahu daan punggung Alana yang terbuka karena hanya menggunakan bra kemben dan celana hot pants pendek.
“Kamu juga ngedukung buat digerayangin.”
Alana menoleh ke arah suaminya dan cemberut.
Reno tertawa. “Lah emang iya. Dari kemarin pakaiannya sexy terus, gimana Mas ga kepengen coba.”
“Ish, otak mas aja yang belom di sapu.” Alana menepuk jidat Reno dan berdiri hendak meninggalkan pria itu.
“Hei, mau kemana?” Reno langsung menahan tangan Alana.
“Mau seduh mie. Popcornnya ga nampol.”
Reno menggeleng. Nafs* makan Alana meningkat sejak hamil. Tubuhnya pun kian padat dan berisi, membuat Reno semakin senang menggerayanginya.
“Mas, mau?” tanya Alana yang sudah berdiri di depan kitchen set yang tidak jauh dari sofa tempat Reno duduk.
Reno menggeleng. “Ngga. Mas makan dari mulut kamu aja.”
Alana kembali mengerucutkan bibirnya kepada Reno, membuat pria itu tertawa. Lalu, Reno mengamati gerak gerik sang istri. Alana terlihat kesulitan untuk mengambil mie yang terbungkus di dalam cup itu. Cup mie itu berada di atas kepala Alana dengan jejeran beberapa botol di samping dan depannya.
Arah mata Reno tetap pada Alana di sana. Ia khawatir botol itu akan menimpa sang istri saat Alana menarik cup mie instan itu. Reno ingin sekali menggerakkan kakinya dan menghampiri sang istri untuk menolong. Namun, rasanya kaki ini sulit untuk diajak berlari.
Dan, benar saja. Reno melihat Alana yang kesulitan meraih sesuatu yang hendak ia ambil hingga berjinjit itu dan langsung menarik benda itu.
“Al, Awas.”
Reflek, Reno berdiri dan berjalan cepat ke arah Alana, lalu langsung menarik tubuh itu agar menyingkir dari tempatnya berdiri.
Prank
Dua botol yang berjejer di samping bungkusan mie yang Alana ambil pun jatuh. Reno langsung mengungkung tubuh sang istri agar tidk terkena serpihan botol itu.
Sontak Alana pun menutup matanya ketika botol-botol itu terjatuh dan mengeluarkan bunyi nyaring. Alana ceroboh. Ia langsung mengambil saja benda itu tanpa melihat benda lain di sisinya.
Lalu, Alana membuka mata. Ia melihat Reno yang berdiri dan memeluk tubuhnya. Ia melirik ke arah sofa. Semula, pria itu duduk di sana.
“Mas, kamu sudah bisa jalan?”
Reno baru menyadari. Ia melonggarakan pelukan dan menatap tubuhnya sendiri yang sudah berdiri. Bahkan berada di tempat yang cukup jauh dari tempat duduknya tadi.
“Ah, iya Al. Mas sudah bisa jalan,” ucapnya senang.
“Mas, bisa jalan. Ya, Allah. Alhamdlillah,” sahut Alana sambil mengusap wajahnya.
Reno melangkahkan kakinya lagi ke arah sofa dan balik ke Alana dengan wajah berbinar. “Mas bisa jalan, Sayang. Mas bisa.”
Alana mengangguk sambil mengankup wajahnya. Sungguh, ia tidak percaya Reno akan pulih secepat ini.
“Mas ….” Alana tertawa bahagia.
“Al.” Reno menghampiri Alana dan memeluknya. “Mas sudah bisa menjaga dan mengurus kalian.”
“Alhamdulillah.”
“Alhamdulillah.”
Keduanya mengucap syukur.
“Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, Mas.”
“Ini juga karena perjuanganmu, Sayang.” Reno memeluk dan menciumi seluruh wajah Alana. “Mas, sangat mencintaimu. Sangat.”
Alana tertawa sembari menahan geli karena bulu bulu halus di dagu Reno yang menyentuh wajahnya. “Mas geli.”
“Mas, sayang kamu.” Reno masih mendominasi tubuh itu hingga ia angkat ke atas.
Mereka mengabaikan botol-botol yang pecah tadi.
“Mas, turunin!” teriak Alana sambil tertawa.
Reno tertawa dan begitu bahagia. “Ga akan, Mas ingin memakanmu malam ini.”
Reno membawa tubuh itu hingga ke kamar dan membaringkannya lembut. Stamina Reno kini kembali seperti dulu. Walau sebelumnya mereka tetap bercinta dengan hasrat Reno yang menggebu, tapi selama ia sakit, ia merasa tidak terlalu bisa memuaskan sang istri.
“Mas, pelan!” pinta Alana pada suaminya yang mulai beringas seperti dulu.
“Mas ingin memuaskanmu, Sayang.”
“Mas Reno,” teriak Alana dengan suara sensual dan penuh gairah.
Alana terus memanggil nama suaminya di sela aktifitas yang pria itu lakukan. Reno benar-benar memenuhi janjinya. Untuk sekarang dan selamanya, ia akan selalu membuat Alana tertawa, memberinya banyak cinta dan tidak akan membiarkan satu airmata pun jatuh di pipi mulus itu lagi.