
“Al,” panggil Reno untuk meminta penjelasan pada sang istri tentang kertas yang kini ada di tangannya.
Ingin sekali Reno marah atau menendang kursi yang berjejer di sana dan mengobrak abrik benda di sekelilingnya. Namun, Reno menahan amarah itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengedepankan emosi. Ia akan menghadapi segala sesuatu yang tidak menyenangkan itu dengan kepala dingin dan dewasa.
“Aku …”
Alana menarik nafasnya. Ia tak mampu menatap mata Reno yang sedang menatapnya. Sementara Alex kembali ke dalam ruangan Aurel. Pria itu menunggu Alana di dalam sana.
“Aku melakukan itu sehari setelah pergi dari rumahmu. Saat itu aku merasa, kamu sudah tidak mencintaiku lagi.”
Saat itu, Alana mendatangi jasa lawyer itu dan baru berkonsultasi, hingga akhirnya ia mantap mengajukan gugatan ketika Dewi mengirimkan foto seolah wanita itu selesai bercinta dengan Reno.
Reno langsung menggeleng. “Tidak.”
Pria itu memegang kedua tangan Alana yang sedang berada di atas paha Alana sendiri. Mata Reno menggenang. Ia ingat saat ia menjadi pria egois yang membiarkan istrinya pergi.
“Perasaanku tidak pernah berubah. Al. Dari dulu sampai detik ini, aku tetap mencintaimu, sangat mencintaimu.”
Alana meneteskan airmata dengan kepala yang masih menunduk hingga airmata itu jatuh menetes ke tangan Reno.
“Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku, Al. Berjanjilah!”
Alana diam. Ia tidak mengikuti apa yang diminta Reno.
“Al, kamu tidak mau berjanji untukku?”
Alana menengadahkan wajahnya dan menatap Reno. “Aku sudah berjanji pada sesorang dan sekarang aku tidak mau berjanji lagi pada siapa pun.”
“Pada siapa? Alex? Atau anak kecil itu?”
Feeling Reno tepat. Ia seolah sudah menangkap keadaan dan apa yang terjadi pada istrinya. Alana tertekan. Tertekan rasa bersalah pada Aurel yang hampir kehilangan nyawa serta janji itu.
“Ya, saat Aurel hampir kehilangan nyawanya karena kecerobohanku. Aku mengiyakan permintaan anak itu untuk menjadi ibu sambungnya.”
“Apa?” tanya Reno terkejut. “Dan kamu mengiyakan permintaan itu?”
Reno melengis ke arah lain dan menyesali sikap Alana.
“Aku panik, Mas. Aku panik. Setiap orang yang ada di posisiku akan melakukan hal yang sama.”
Brak
Reno menendang kursi itu dengan kencang hingga Alana pun tersentak kaget. Dada Alana berdegup kencang, karena takut. Sedangkan dada Reno naik turun karena kesal.
“Lalu, Alex memanfaatkan keadaan ini?”
Lagi-lagi pertanyaan Reno seolah mengetahui semuanya, padahal Alana belum menceritakan seutuhnya tentang apa yang terjadi.
Alana diam sejenak. Lalu, ia mengangguk.
“Sh*t.” kini Reno memukul kursi itu.
“Mas.” Alana memanggil pria itu agar tidak membuatnya kage dengan memukul atau menendang benda disekitarnya.
“Apa Mas tidak boleh marah?" tanya Reno dengan suara yang sedikit keras, tapi tetap menggema karena ruangan itu begitu sunyi.
Entah mengapa sedari mendapat kabar tentang insiden ini, hatinya seolah mengatakan akan ada yang terjadi pada istrinya nanti. Ia yakin, Alex tidak mungkin membiarkan kesalahan Alana berlalu begitu saja. Ia sudah cukup tahu bagaimana Dewi memanfaatkan kebaikannya. Ia juga khawatir Alex memanfaatkan kebaikan Alana. Dan, kini firasat itu pun terbukti.
“Mas, pelankan suaramu. Aurel sedang istirahat di dalam.”
“Aku tidak peduli dengan anak itu.”
“Mas,” panggil Alana lagi. kali ini Alana benar-benar memperingatkan suaminya.
Alex yang sedang duduk tepat di samping Aurel pun bangkit karena mendengar suara Reno yang cukup keras dari luar sana. suara Reno sedikit membangunkan putrinya yang sedang istirahat dengan pulas.
“Hei, bisa pelankan suaramu!” kata Alex pada Reno saat sudah berada di luar ruangan itu. “Atau aku akan panggil sekuriti untuk membawamu keluar.”
Reno menatap tajam ke arah Alex yang berdiri di depan pintu ruangan Aurel. Cukup jauh dari tempat Alana dan Reno berada. Reno pun ikut berdiri. Arah pandangnya beralih pada Alana.
“Jadi sekarang kamu ingin menggantikanku dengan dia?” Reno menunjuk Alex. “Dengan anak kecil itu?”
Alana diam. Ia bingung.
Kemudian, Reno menghampiri Alex. Mata pria itu menatap tajam bak seekor elang yang tengah mengintai mangsanya.
“Kau mengacamnya?” tanya Reno yang berdiri tepat di depan Alex.
Kedua pria itu berdiri behadapan. Reno terlihat lebih tinggi dari Alex. Kedua pria itu pun sama-sama memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sedangkan Alana hanya bisa menatap dua pria yang sedang memperebutkannya itu. Namun, Alana tidak bangga akan hal itu. ia hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Satu isi ia bahagia dengan Reno, pria yang merupakan cinta pertamanya. Tapi, ia juga tidak ingin melihat Aurel sedih, sosok anak kecil yang membuatnya terhibur saat terluka dan hidup tanpa sosok ibu, sama seperti dirinya dulu.
Alex ikut menatap tajam ke arah Reno. Pria itu seolah menantang. “Aku hanya menagih janji. Tidak mengancam.”
“Ah, bulsh*t. kamu pasti menekan atas kesalahan yang Alana lakukan pada putrimu.”
Alex tersenyum remeh. “Memang pernikahan kalian sudah tidak baik-baik saja kan?”
Pria itu memajukan tubuhnya mendekat pada Reno hingga wajah keduanya sangat dekat. “Aku akan lebih bisa menjaga Alana dibandingmu. Aku tidak akan pernah mengecewakannya.”
“Si*l.” tangan Reno terkepal dan hendak memukul Alex, tapi suara Alana menahannya.
“Mas.”
Reno menoleh ke arah Alana. Wanita itu berlari menghampirinya dan Alex. Lalu, tubuhnya menempel pada Reno dan memberi jarak pada kedua pria yang hampir adu jotos itu.
“Mas, pulanglah,” ucap Alana.
“Kamu tidak akan pulang?” tanya Reno sedih.
“Aku harus bertanggung jawab pada Aurel, Mas. Karena aku, dia jadi seperti ini.”
Reno sudah kehilangan kata-kata. Ia tak tahu harus bagaimana lagi. Arah matanya menatap kertas gugatan yang Alana tinggalkan di kursi ruang tunggu yang mereka duduki tadi. Alana tidak memberikan kertas itu padanya. Wanita itu juga tidak meminta Reno untuk membubuhkan tanda tangannya di sana. Ia merasa masih ada peluang bahwa Alana tidak melanjutkan keputusannya. Ia berpikir Alana hanya butuh waktu untuk mengurus anak itu hingga sembuh saja.
“Baiklah. Mas akan beri waktu padamu untuk mengurus anak itu sampai sembuh. Dan, setelah itu Mas menunggumu di rumah.”
Reno langsung pergi setelah mengucap kalimat panjang itu. Pria itu meninggalkan Alana tanpa menoleh ke belakang lagi.
Alex melihat Alana menangis sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.