Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Pindah tugas



Satu hari, dua hari terlewati. Malam ini Reno terlihat kusut. Ia pulang cukup larut, sementara Alana sudah sejak sore sampai di rumah. Bahkan Alana sudah selesai menyiapkan makan malam.


“Kenapa Mas, kok kusut banget?” tanya Alana yang melihat suaminya datang dengan dasi kendur dan kemeja yang sebelah dimasukkan sementara sebelah lagi tidak.


Reno melempar tas berisi berkas-berkasnya ke sofa. Lalu ia juga menjauhkan tubuhnya di sana.


“Dewi ngundurin diri. Dia minta dipindahtugaskan, kalau Pak Ricard tidak memberi izin, dia milih untuk mengundurkan diri.”


Sontak Alana menghentikan aktifitasnya yang sedang meletakkan makanan hasil masakannya ke meja makan. Kemudian, Alana menghampiri suaminya.


“Kenapa Mbak Dewi mengundurkan diri?” tanya Alana pura-pura tidak tahu.


Reno mengangkat bahunya. “Ngga tahu. Jawabannya ga jelas. Katanya mau balik ke kota asalnya, padahal aku tahu di sana juga dia udah ga punya saudara. Dewi itu yatim piatu. Kakak-kakaknya juga udah nikah semua dan tinggal di beda-beda kota.”


Alana terdiam. Sebegitu dekatnya Reno dengan Dewi sehingga Reno tahu betul tentang keluarga Dewi?


“Memang kamu ga bisa tanpa Mbak Dewi, Mas?” tanya Alana membuat Reno menatapnya.


“Sekarang lagi ada projeck baru, Al. dan kita udah merancang bersama sebelumnya. Terus tiba-tiba dia ngilang? Gimana coba? Bikin pusing kan?”


Alana terdiam lagi. Jujur, ia tak menyangka bahwa Dewi akan pergi begitu cepat. Tapi sepertinya itu lebih baik untuk Alana.


“Kalau Mbak Dewi pindah, nanti kamu juga dapet partner yang baru Mas. Yang bisa membantu kamu. Bukannya gitu ya?” Alana berusaha menenangkan suaminya.


“Kamu tahu kan, Al. Aku itu susah kerjasama ama orang, susah dekat dengan orang. Gilirn sekarang udah dapet partner kerja yang sepemikiran, tiba-tiba dia pergi di saat yang urgent seperti ini lagi.” Reno tampak frustrasi.


Alana mengelus punggung suaminya. “Tenang, Mas. Semua pasti bisa dilewati.”


Reno menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Ia menarik nafasnya kasar. “Entahlah, Al. Perasaanku campur aduk, antara kesal, sedih, dan pusing.”


Reno bangkit dari duduknya dan meninggalkan Alana yang masih duduk di ruang televisi. Reno berjalan menuju kamar.


“Mas, makan malam dulu,” ucap Alana.


Reno menggeleng tanpa melihat ke arah Alana. Ia tetap berjalan menuju kamar. “Mas ga lapar.”


Alana menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa sembari menarik nafasnya kasar dan mengusap wajahnya. Sebesar itu kah pengaruh Dewi pada suaminya? Sebesar itu kah peran Dewi untuk Reno? Apa selama ini ia tidak mempunyai peran untuk suaminya? tidak mempunyai pengaruh? Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran dibenaknya. Alana hanya bisa tertunduk lesu.


****


Tring


Ponsel Alana berbunyi. Ia melihat sebuah pesan dari nama Dewi di sana.


“Aku sudah menuruti apa yang kamu mau. Puas!”


Alana membaca pesan itu dan ia enggan untuk membalasnya. Alana kembali meletakkan ponsel itu di meja kerjanya. Ia tak mau menanggapi pesan itu. Baginya hal itu sudah cukup. Seharusnya sebagai wanita, Dewi memang harus mengerti.


Alana kembali mengingat pertemuan mereka malam itu. ia juga menghitung hari. Ternyata hari ini tepat satu minggu setelah mereka bertemu empat mata di kafe. Waktu yang cukup cepat menurut Alana. Ia pikir, Dewi akan sulit dijauhkan dari suaminya. ia bersyukur karena ternyata Dewi tidak sejahat yang ia pikirkan. Walau sebenarnya menginginkan pria yang sudah berlabel termasuk sebuah kejahatan.


“Eh iya.” Alana menoleh ke arah Bimo yang membuka pintu ruang Alana sedikit.


“Bos nanyain proposal kemarin. Udah selesai kan?”


Alana mengangguk. “Udah.”


“Ya udah langsung ke ruang Sir Alex gih!”


Alana mengangguk dan berdiri. “Oke.”


Untung saja saat ini Alana sudah bekerja. Jika tidak, mungkin pikirannya akan buntu karena terus berasumsi sendiri dan berpikiran negatif. Di sini, ia bisa bertukar pikiran dengan Bilqis juga dengan Mbak Mira, sekretaris senior yang ramah dan baik itu. Mbak Mira sering memberi wejangan tentang pernikahan dan cerita dirinya di saat masa-masa sulit mempertahankan pernikahan. Kini, Mbak Mira sudah menjalani usia pernikahan selama lima belas tahun. Dan, hal itu cukup memberi Alana banyak ilmu. Juga kehadiran Aurel yang menggemaskan. Walau pun hanya bertemu Aurel dua kali dalam satu minggu, hal it cukup membuat Alana tertawa.


“Good,” ucap Alex sembari melihat isi proposal yang dibuat Alana. “Kamu memang cepat belajar, Al.” Alex meletakkan proposal itu.


“Semua isi proposalnya oke. Tidak ada revisi. Kamu bisa serahkan langsung ke OPS. Biar mereka yang melanjutkan ke bagian design dan marketing.”


Alana mengangguk. “Baik, Sir.”


Alana hendak pergi dari ruangan itu. namun, Alex memanggilnya.


“Al.”


Alana langsung menoleh. “Yes, Sir.”


“Hmm … minggu depan Aurel ulang tahun.”


“Oh ya?” Alana tampak antusias.


“Sepertinya, dia ingin kamu ada di pesta ulang tahunnya.”


“Saya akan datang, Sir. Pasti,” sahut Alana senang.


“Tapi, saya akan merayakan ulang tahun Aurel di Bali. Kebetulan jadwal minggu depan, saya ada pertemuan dengan Mr. Juan kan?”


Alana mengangguk. “Iya, Tiga hari di Bali.”


“Nah, rencananya saya akan membawa Aurel dan merayakan ulang tahunnya di sana. Kamu bisa ikut kan? Semakin banyak tim yang hadir saat bertemu Mr. Juan, justru akan semakin terlihat bahwa kita serius memegang projectnya. Bukan begitu?”


Alana diam sebentar.


“Kamu bisa minta izin suamimu dari sekarang,” kata Alex sembari mengusap pipinya yang tak gatal. Sebenarnya ia ragu ingin mengatakan ini, tapi ia juga tidak ingin menerima penolakan dari Alana.


“Saya akan minta izin pada suami saya, Sir.”


“Good.” Alex mengangguk. “Oke.”


Lalu, Alana kembali pamit keluar dari ruangan itu.