
“Mas, maaf aku baru sempat memberi kabar. Aku menginap di rumah nenek ya.”
Alana memberi pesan pada Reno, setelah sampai di rumah Aminah sekitar pukul sembilan malam. Entah kemana perginya perhatian Alana untuk Reno. Biasanya ia sangat khawatir jika sang suami pulang dan makanan belum tersedia.
Alana mengusap wajahnya kasar, setelah ia memasukkan kembali ponselnya di tas.
“Mbak, dari siang Mas Reno telepon. Katanya ponsel Mbak Al ga aktif,” ucap Tuti.
“Sekarang udah aktif kok, Mbak,” sahut Alana yang kemudian bangkit dari sofa setelah baru saja tiba dan mendudukkan diri di sana.
“Nenek sudah tidur, Mbak?” tanya Alana pada Tuti.
“Sudah.” Tuti mengangguk.
Alana tetap melangkahkan kakinya ke kamar Aminah. Ia duduk di samping sang nenek dan mengusap rambutnya. Lalu, Alana mengecup pucuk kepala wanita yang selama ini mengasuhnya dengan penuh kasih sayang.
“Mbak Al, mau makan?” tanya Tuti pada Alana.
Alana bangkit dari tepi tempat tidur Aminah dan hendak menuju kamarnya. “Ngga, Mbak. Aku mau langsung tidur aja. Capek.”
Tuti mengangguk. “Iya, Mbak. Istirahat gih! Tampang Mbak Al kusut banget.’
Alana tersenyum dan menepuk bahu Tuti. “Night, Mbak.”
Tuti kembali menganggukkan kepalanya.
Di tengah jalan, Reno sedang menuju rumah Aminah. Setelah pesan Alana masuk ke ponselnya, ia langsung membaca dan tanpa membalas ia segera meraih kunci mobil, lalu mengendarai kendaraan itu menuju tempat istrinya berada.
Di rumah Aminah, Alana langsung membersihkan diri. Ia menyalakan shower dan membasuh seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki. Hari ini rasanya begitu lelah. Bukan hanya lelah fisik tapi juga hati. Ucapan Reno ketika bersama dua teman prianya di dalam ruangan itu masih terngiang di kepala Alana.
“Dewi itu perfect. Dia pintar, jago masak, dan dewasa. Kurang apalagi, Do? Kamu beruntung kalau mendapatkannya. Aku aja kalau belum nikah, mau sama dia.”
Alana memejamkan mata. Ia merasakan air yang membasahi tubuhnya itu.
“Kalau kamu ingin Mbak Dewi jadi istrimu, mengapa mengejarku?” tanya Alana dalam hati, hingga ia pun kembali menangis.
Sejak pacaran, Alana selalu bilang jika ia tak suka dibohongi. Dan, ia meminta Reno untuk tidak pernah berbohong. Lebih baik jujur, walau menyakitkan. itu prinsipnya.
Usai membersihkan diri, Alana melilitkan handuk yang hanya sebatas pangkal pahanya saja. ia keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
Rumah nenek Alana cukup besar. Namun, rumah itu tidak semua dibangun. Aminah yang menyukai tanaman, sengaja memberi taman pada bagian depan dan belakang rumah, hingga sedikit di sisi samping kanan dan kirinya. Rumah itu pun hanya satu lantai.
Alana menghampiri lemari. Ia membuka dan berdiri lama di sana. Sesekali ia juga menekan tengkuknya yang terasa berat.
Grep
Tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Pelukan itu terasa erat.
“Kamu kemana aja, Al. Mas nyariin kamu. Pesan dan telepon Mas ga kamu balas. Kenapa?”
Alana tak menoleh ke sumber suara itu. wajahnya masih tertuju pada tumpukan baju yang hendak ia pilih untuk dipakai malam ini.
“Al,” panggil Reno lirih.
Reno memeluk dan mencium punggung Alana yang terbuka. Harum tubuh Alana yang baru selesai dibersihkan pun membuat Reno nyaman dan menempelkan kepalanya di sana.
Cukup lama, Reno dalam posisi itu.
“Mas, aku mau pakai baju,” ucap Alana yang tak menjawab pertanyaan Reno tadi.
Tak lama kemudian, Alana kembali keluar dari kamar mandi dengan memakai piyama lengan pendek dan celana panjang.
Reno terus menatap istrinya yang terus menunduk. Lalu, ia mendekati Alana yang duduk di meja rias sembari mengeringkan rambutnya.
“Kamu kenapa? Marah? Seharusnya Mas yang marah karena kamu ga kasih kabar seharian,” ucap Reno yang berdiri di belakang Alana.
Alana menatap suaminya dari balik cermin. “Aku juga mengalami hal yang sama, saat menunggu kabar dari Mas ketika nenek demam dan masuk rumah sakit.”
Seketika, Reno terdiam.
“Ditambah, aku baru tahu tadi saat membawakanmu bekal.” Alana membalikkan tubuhnya. “Ternyata malam itu, Mas tidak lembur. Mas sedang berada di kontrakan Dewi dan menunggunya hingga siuman. Iya kan?”
Alana menatap wajah Reno yang kini menunduk. Lalu, Reno menatap wajah Alana dan berjongkok dihadapannya.
“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Al. baterai ponselku memang sudah mati sejak dari kantor. Semula Mas ingin berkata jujur, tapi takut kamu cemburu dan marah.” Reno memegang kedua lutut Alana.
“Kalian pulang bareng?” tanya Alana.
“Dewi pucat, Al. Hari itu dia memang sedang tidak enak badan tapi dia tetap paksakan masuk karena aku presentasi di kantor klien.”
“Apa kalian memiliki hubungan?” tanya Alana lagi. ia sengaja menatap tajam kedua mata Reno.
Reno pun melakukan hal yang sama. Ia menatap ke kedua bola mata indah istrinya. “Kamu masih mencurigai Mas?”
“Apa tidak boleh?” Alana balik bertanya.
Reno menggeleng. “TIdak. Karena hubungan Mas dan Dewi memang hanya rekan kerja. Tidak lebih.”
Alana masih menatap suaminya. Tidak ada kebohongan di kedua bola mata itu. Reno bekata sungguh-sungguh dan itu membuatnya bingung.
“Baiklah,” ucap Alana dengan senyum tipis, lalu berdiri. “Ayo tidur!”
Alana tidak ingin memperpanjang perdebatan ini, karena Reno selalu memiliki argumen untuk mematahkan asumsinya. Kemudian, ia melangkah menuju tempat tidur. Hari ini terlalu melelahkan dan ia ingin segera istirahat.
Namun dengan cepat, Reno menahan lengan Alana. Ia langsung memeluk tubuh itu. “Mas minta maaf.”
Dari awal berbohong pun, ia sadar dan merasa bersalah. Oleh karena itu, setelahnya ia berusaha untuk menebus rasa bersalah itu. Walau tanpa di sadari, Reno kembali berbuat salah dengan mengucapkan kata-kata yang menyakitkan di depan kedua temannya.
Alana menganggukkan kepalanya. Tak terasa air mata itu pun kembali jatuh dan Reno menyadari hal itu. Reno melonggarkan pelukan, lalu mengusap pipi Alana.
“Maaf, Mas selalu membuatmu menangis.”
Alana kembali mengangguk. Hatinya mudah luluh. Apalagi dengan Reno, pria yang selalu memberi banyak kebaikan padanya, ditambah kedua orang tua Reno yang juga selalu peduli pada dirinya dan nenek. Rasanya tidak adil jika kesalahan ini membuat Reno terhakimi dan melupakan begitu banyak kebaikan lain yang pernah dia lakukan.
“Ayo tidur!” ajak Alana.
Reno langsung mengikuti langkah Alana. Tangannya masih menggenggam tangan sang istri. Alana naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana. Reno pun melakukan hal yang sama.
Reno membelikan tempat tidur ini dari hasil gaji pertamanya, saat mereka akan menikah. Kamar ini adalah saksi percintaan pertama mereka. Ranjang ini juga saksi bahwa Reno, pria pertama yang menggauli dan berhasil mengambil mahkota Alana. Saat itu, Reno sangat bangga.
Reno memeluk erat istrinya. semula ia berharap malam ini akan menjadi malam panjangnya. Namun sayang, ekpektasinya salah. Padahal ia sudah sangat merindukan tubuh itu, tapi lagi-lagi ada saja ujian yang datang.
“Aku selalu mencintaimu, Al.” Reno mengecup bahu Alana yang berbaring membelakanginya. “Selalu.”
Lalu, Reno mengintip ke wajah sang istri karena Alana belum membalas pernyataan cintanya. Biasanya saat Reno mengatakan cinta, Alana langsung membalas dengan mengulang pernyataan Reno.
Reno menarik nafasnya kasar saat melihat kedua mata Alana sudah terpejam. Padahal sebenarnya, Alana belum tidur. Ia bingung dengan sikap Reno yang berbanding terbalik dengan perkataannya. Dan, semua terjadi setelah kehadiran Dewi.