
Reno dan Alana sudah siap ke bandara. Rencanaya sore ini oang tua mereka akan tiba. Usia kandungan Alana pun sudah memasuki delapan bulan. Menurut dokter, Alana diperkirakan melahirkan bulan depan.
Alana menunggu suaminya di luar pintu apartemen itu. Reno juga sudah berdiri di sana dan siap untuk menutup pintu itu. Namun, gerakan Reno terhenti saat melihat sang istri yang tidak mengenakan syal.
Bulan ini sudah memasuki musim dingin, mengingat bulan ini sudah masuk akhir tahun dan dua minggu lagi akan ada pergantian tahun. Rencananya, Asih, Bagas, dan Aminah akan ada di sini hingga pergantian tahun itu. Mereka akan merayakan tahun baru bersama di negara orang.
“Kamu tidak mengenakan syal?” tanya Reno pada istrinya.
“Oh, iya. Lupa. Padahal tadi di dalam udah inget. Pas keluar malah lupa. Udah tidak apa, Mas. Mantelku cukup tebal kok.”
Reno menggeleng. “Ngga, Sayang. Diluar itu dingin.”
Reno mengusap lembut wajah sang istri. “Nanti kamu kedinginan. Sebentar ya, Mas ambil lagi ke dalam.”
Reno kembali memasuki flat dan berlari mencari syal untuk istrinya. Tak berapa lama, ia kembali keluar dengan benang panjang yang terbuat dari wol. Lalu, Reno memakaikan bahan itu ke leher sang istri.
Alana tersenyum. “Terima kasih.”
Reno ikut tersenyum. “Sama sama, Sayang.”
Lalu, Reno menutup pintu itu dan menggandeng tangan sang istri menuju lift. Ia sudah menyewa mobil selama satu bulan ke depan untuk berjalan-jalan dengan keluarganya nanti.
Reno begitu perhatian. Ia sangat berhati-hati menjaga Alana dan calon buah hati yang masih berada di perut Alana.
Sesampainya di basement, Reno lebih dulu membuka pintu untuk istrinya dan membantu Alana duduk sempurna di kursi penumpang depan. Lalu, ia berlari mengitari kap mobil dan duduk di kursi kemudi, tepat di samping Alana.
Alana tersenyum melihat sang suami yangkini sudah bisa membawa mobil. Sungguh, ini adalah mukjizat, karena menurut dokter kesembuhan Reno masih beberapa bulan lagi atau bisa satu tahun lebih mereka akan menetap di negara ini. Tapi dalam waktu kurang dari satu tahun, Reno sudah kembali normal.
“Kenapa, Sayang?” tanya Reno sembari melirik ke arah istrinya dan tetap fokus menyetir.
Alana tersenyum dan menggelng. “Ngga apa-apa.”
“Ayo ada apa? Katakan!”
“Aku bersyukur, Mas. Mas sudah bisa kembali seperti dulu.”
Reno langsung mengambil tangan Alana dan menggenggamnya. “Ya, Mas juga sangat bersyukur. Sangat.”
Reno mengendarai mobilnya dengan pelan dan hati-hati, mengingat jalan licin karena hujan dengan kombinasi hujan dan salju. Siang di Pittsburgh saat memasuki bulan Desember, tidak terlihat cahaya matahari bersinar, walau tetap muncul. Awan tertutup dan meredupkan cahaya matahai itu seperti mendung.
“Aku bisa bayangkan ekspresi Mami dan Nenek. Mereka pasti senang,” ucap Alana dengan meluruskan pandangannya sembari tersenyum bahagia.
Reno mengecup punggung tangan Alana berkali-kali. “Ya, mereka pasti senang.”
Setelah menempuh cukup lama perjalanan, akhirnya Reno dan Alana tiba di bandara internasional Pittsburg. Mereka terlambat lima belas menit dari jadwal Bagas, Asih, dan Aminah sampai.
Lalu, Reno memberhentikan mobilnya tepat di pintu kedatangan.
“Mas tunggu di sini ya.” Alana meminta suaminya untuk tetap di dalam mobil.
Lalu, ia keluar dari mobil dan bertemu Asih, Aminah, juga Bagas yang sudah menunggu kedatangannya.
“Alana …” teriak Aminah dan Asih saat melihat Alana keluar dari mobil.
Alana berjalan perlahan menghampiri orang tuanya. Bagas yang masih berjalan gagah, mendorong troli dan mendekati Alana.
“Kamu sama siapa, Al? Supir?” tanya Bagas yang hanya dijawab senyum oleh Alana.
“Loh, kok kamu meninnggalkan Reno di apartemen sendirian, Al. Kasihan,” sahut Aminah.
“Mami sudah bilang. Tidak usah di jemput. Biar Papi bayar orang untuk antar kami ke tempatmu,” sambung Asih.
Alana kembali mengulas senyum. “Tidak apa, Mam. Alana dan Mas Reno sudah jauh-jauh hari menyiapkan kedatangan Mami, Papi, dan Nenek.”
Bagas menatap ke arah mobil. “Kamu di antar siapa? Bukannya kalian tidak begitu kenal orang-orangdi sini.”
“Hm … Alana di antar Mas Reno, Pi.”
Reno pun sudah keluar dari mobil dan berdiri di sana. Bagas, Asih, dan Aminah pun terkejut melihat Reno yang berdiri tanpa kursi rodanya.
“Itu Reno?” tanya Asih tak percaya.
“Reno sudah sembuh?” tanya Bagas.
Alana mengangguk. “Iya, Pi.”
“Reno …” panggil Bagas sembari melihat Reno yang langsung menghampiri orang tuanya.
“Papi.” Reno langsung memeluk sang ayah. Pria yang memiliki peran penting dalam hidupnya. Pria yng menjadi panutan serta tauladan untuk diikuti.
“Reno.”
Alana baru melihat Bagas menangis. Pria itu menerima pelukan sang putra seraya meneteskan airmata yang tak bisa terbendung.
"Kamu sembuh, Nak,” ucap Bagas dengan suara sedikit terisak sambil menepuk pelan punggug Reno.
Asih, Aminah, dan Alana juga ikut menangis. Mereka terharu melihat kedua pria beda generasi ini saling melepas rindu.
Reno mengangguk. “Ini berkat doa Papi, Mami, dan Nenek.”
Reno melonggarkan pelukan dan menatap ke arah Asih juga Aminah.
“Ini juga buah dari kesabaran Alana yang selalu setia mengurus dan menemaniku,” ucap Reno lagi sambil menatap Alana dengan penuh cinta.
Alana tersenyum sembari merangkul sang nenek. Aminah pun tersenyum ke arah Alana dan Reno bergantian.
“Nenek senang melihat kalian kembali seperti ini. Seperti Alana dan Reno yang dulu nenek tahu,” sahut Aminah.
Asih tersenyum bahagia dan melebarkan kedua tangannya. Reno pun mengarahkan tubuhnya ke pelukan sang ibu.
“Reno.”
“Mami. Reno kangen banget sama Mami.”
“Sama, Nak. Mami juga kangen banget.”
Pertemuan itu menjadi pertemuan paling mengharukan dan sedikit pusat perhatian. Mereka seperti tidak bertemu puluhan tahun lamanya, padahal mereka tidak bertemu belum genap satu tahun.
“Mami, Papi, dan Nenek akan ada di sini sampai tahun baru?” tanya Alana saat mereka sudah berada di mobil menuju apartemen.
“Iya, Sayang. Malah nenek minta sampai kamu melahirkan,” jawab Asih.
Alana langsung mengembangkan senyum. “Ah, senangnya. Kita akan berkumpul.”
Bagas mengangguk. “Papi tahu di sini kalian kesepian, karena tidak ada saudara dan keluarga lain.”
Alana mengangguk.
“Tapi, Reno ga kesepian kok, Pi, karena sejak hamil, Alana menjadi sangat bawel,” ucap Reno sembari menyetir dan mengarahkan pandangannya ke araha sang istri melalui kaca spion dalam.
“Mas,” rengek Alana dengan menatap suaminya ke kaca yang sama.
Reno tersenyum. “Dan suara Alana bisa lebih dari tiga orang, Nek.”
Sontak, Aminah, Asih, dan Bagas tertawa.
“Mas, ih. Awas ya. Nanti malam jangan ngarep!”
Reno tertawa. “Emang ga bakal bisa karena banyak orang.”
“Bisa, anggap saja kami tidak dengar,” sahut Bagas yang mengerti pembicaraan Alana dan Reno.
“Papi,” panggil Alana malu.
Asih dan Aminah pun kembali tertawa.
Asih, Aminah, dan Alana duduk di kursi penumpang belakang. Sedangkan Bagas duduk di kursi penupang depan menemani putranya yang sedang menyetir. Mereka semua tampak bahagia. Asih yang duduk di tengah antara Alana dan Aminah, menyentuh perut Alana yang bulat dan mengusapnya.
“Cepat lahir ya, Sayang,” ucap Asih.
Asih tak sabar menunggu kelahiran sang cucu. Buah hati Reno dan Alana akan melengkapi kebahagiaan mereka dan meramaikan keluarga itu.