Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Korban terakhir



“Apa kau sudah bertemu Alana?”


Reno memberi pesan pada Dewi untuk ke sekian kalinya. Namun, Dewi tidak membalas pesan itu. sebenarnya sudah dari kemarin Dewi ingin pergi dari kota ini, atau bahkan kembali ke Singapura. Namun, keterikatan pekerjaan di sini, membuat aksi kaburnya tertunda. Di tambah, Richard memberinya banyak ancaman.


“Wi, kamu yakin mau resign?” tanya Aldo yang tidak ingin kehilangan Dewi.


“Aku sudah tidak punya keinginan di sini, Do.”


“Kamu tidak perlu mendengarkan apa kata orang. Yang penting kita bekerja,” kata Aldo.


“Tidak bisa begitu, Do.”


“Apa karena tidak ada Reno lagi di sini?” tanya Aldo membuat Dewi yang semula menunduk karena fokus di depan layar laptopnya, kini menatap wajah Aldo.


“Justru karena dia, aku jadi seperti ini. Bahkan aku terjebak oleh pekerjaannya. Padahal aku sudah ingin pergi dari sini.”


Aldo menatap wajah Dewi lekat. “Aku tahu bahwa kamu menyimpan rasa pada Reno. Aku sudah merasakannya sejak dulu.”


Dewi menghiraukan perkataan Aldo dan kembali berfokus pada laptopnya.


“Aku mencintaimu, Wi. Dan cara mencintaiku berbeda dengan caramu mencintai Reno.”


Seketika Dewi menatap tajam Aldo. “Tau apa kamu tentang urusan pribadiku?”


“Memang aku tidak begitu tahu tentangmu. Tapi apa yang terjadi antara kamu dan Reno waktu itu, cukup bagiku untuk membuat kesimpulan.”


“Kalau sudah tidak ada urusan. Silahkan kamu pergi dari ruanganku, Do,” ucap Dewi.


“Cinta tidak bisa dipaksakan, Wi. Semakin kamu menginginkannya, maka akan semakin dia jauh darimu. Apa pun itu,” kata Aldo lagi sebelum meninggalkan ruangan Dewi.


Dewi membuang pulpennya. Ia juga mengacak-acak dokumen yang berserak di samping laptop itu. Ia kesal karena semua berjalan tidak seperti yang ia inginkan. Semula ia pikir mampu dengan mudah menyingkirkan Alana. Ya, itu memang terjadi karena Alana sudah menyerahkan Reno dengan sukarela dan mengibarkan bendera putih untuk mengaku kalah. Sama seperti yang dilakukan Olivia dua tahun silam. Namun sayang, ternyata Reno tidak seperti mantan suami Olivia dulu. Pria itu sulit ditakluki. Reno memang bukan pria yang mudah. Oleh sebab itu, Dewi semakin tertantang untuk memilikinya. Ia berjanji jika Reno menjadi miliknya, maka ia akan berubah, tidak akan bermain pria lagi dan akan menjadi istri yang baik untuk Reno.


Tapi semua hanya angan-angan. Perahu yang Dewi gunakan untuk sampai ke pelabuhan terakhir ternyata karam sebelum sampai, sehingga ia harus berenang untuk berusaha menggapai pelabuhan itu. Namun, pelabuhan itu masih jauh untuk dijangkau. Akankah ia kuat berenang sejauh itu?


Di sisi lain, Reno tersenyum karena sudah mengantongi banyak bukti akurat untuk menekan Dewi. Hari ini sudah hari ketiga, tapi wanita itu belum juga menemui Alana. Padahal ia sudah mengancamnya.


“Dim, kita balik ke Jakarta sore siang ini,” ujar Reno yang mulai berkemas karena apa yang diinginkan dalam perjalanan ini sudah tercapai.


“Ya, Mas.” Dimas mengangguk dan kembali ke kamarnya sendiri setelah memberikan beberapa hasil dari apa yang ia selidiki.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, bibir Reno terus tersenyum. Hatinya pun lega karena dengan ini ia bisa meyakinkan Alana untuk kembali.


Rencananya, sesampainya di Jakarta, Reno akan langsung meluncur ke kantor Alana dan memberikan bukti-butki ini padanya. Nanti, bukti itu akan diperkuat oleh penjelasan dari mulut Dewi sendiri.


Reno sudah memegang hasil print dan rekaman CCTV tempat ia, Dewi, dan Jefri menginap pada waktu itu. Di rekaman itu terlihat tanggal dan waktu ketika Dewi menyambangi kama Reno. Selama menginap satu hari dua malam, hanya terlihat satu kali Dewi memasuki kamar itu. kamar yang dekorasinya seratus persen menjadi latar dari foto yang terkirim ke ponsel Alana.


Di rekaman itu juga menjelaskan bahwa durasi Dewi berada di kamar Reno tidak lebih dari sepuluh menit. Di sana pun terlihat bahwa Dewi berdiri di depan resepsionis, lalu resepsionis itu memberikan kunci kamar Reno dan Di sana Dewi bisa masuk ke kamar itu.


Penjelasan Reno pada Alana memang benar, tidak ada yang dilebihkan dan tidak ada yang dikurangkan. Saat ini, ia memang sangat lelah, sehingga ketika Dewi mengetuk pintunya untuk membangunkan, Reno sama sekali tidak mendengar. Dewi cukup lama berdiri di depan pinu Reno hingga ia berinisiatif untuk meminta kunci cadangan paa resepsionis dengan memberi penjelasan yang masuk akal. Resepsionis itu pun memberikan. Ketika masuk, Reno memang hanya memakai boxer dan bertelanjang dada dengan keadaan tidur tengkurap. Pria itu memang sering tidur dalam keadaan seperti itu.


Lalu, Dewi memanfaatkan keadaan. Dia membuka kemejanya dan menanggalkan kain dalam yang menutup gunung kembarnya. Kemudian, ia tutup dengan selimat dan berpose tepat di samping Reno yang sedang tengkurap. Kejadiannya sangat cepat. Dewi memang profesional. Saat Reno bangun, Dewi sudah dalam keadaan berpakaian lengkap seperti semula.


“Kebusukanmu akan terungkap, Wi. Cukup aku menjadi korban terakhirmu,” ujar Reno dalam hati sembari tersenyum saat duduk di dalam pesawat menuju Jakarta.