Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Sudah mulai biasa



Untungnya, Reno sakit tepat di hari weekend, sehingga Alana bisa mengurus sang suami. Walau hatinya sakit, tapi sebagai istri ia tetap harus melaksanakan kewajiban.


“Al,” panggil Reno saat sudah tersadar.


“Hmm …” Alana yang tengah duduk di sofa sembari menonton televisi dengan suara pelan itu pun menoleh.


“Jam berapa sekarang? Tanya Reno dengan kepala yang berat, hingga rasanya ia susah untuk bangun.


Alana mendekati suaminya. “Tiduran aja kalau masih pusing, Mas.”


Alana menumpukkan banyak bantal di belakang Reno, agar suaminya dapat tiduran dengan tubuh atas yang tetap tinggi.


“Kepalaku verat sekali,” ucap Reno.


“Iya, Mas masih demam. Ayo bangun! Makan dulu, terus minum obat.”


Reno menggeleng. “Aku ga mau makan.” Lalu, Reno melihat laptopnya. “Mas ingin mengerjakan pekerjaan yang belum selesai kemarin.”


“Makan dulu, Mas! Pekerjaan itu tidak akan ada habisnya. Tapi tubuh Mas butuh istirahat sekarang, kalau tidak Mas ga akan sembuh,” kata Alana tegas, seolah memarahi suaminya.


Reno terlihat lesu.


“Ayo makan!” Alana dengan sabar memberi suapan pada Reno dan Reno akhirnya mau memakan bubur buatan Alana.


Namun, hanya beberapa sendok saja, Reno meminta berhenti.


Alana mengalah. Kemudian, Alana memberikan suaminya obat penurun panas.


“Sekarang jam enam, nanti jam dua belas Mas harus minum obat lagi. setiap enam jam sekali,” ucap Alana yang selalu telaten mengurus orang sakit. Entah itu, Aminah, Asih, bahkan ayah mertuanya.


Baru lima belas menit, makanan dan obat itu masuk ke perut Reno. Tiba-tiba reno mengeluh ingin muntah. Ahasil, semua yang ada di perut itu pun keluar dan tak tersisa.


Reno masih demam tinggi. Padahal Alana sudah memberikan madu, obat, bahkan kompresan.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang, keadaan Reno masih sama. Tidak ada peningkatan yang berarti. Suhu badannya hanya turun sedikit.


“Mas, kalau begini terus kamu harus dirawat,” kata Alana.


Reno menggeleng. “Ngga, Al. Ngga mau."


“Tapi sejak pagi, tidak ada makanan yang masuk ke perut Mas. Bahkan obat saja sedari tadi kamu muntahkan,” sahut Alana. “Kalau sampai sore seperti ini, aku akan bawa Mas ke rumah sakit.”


Reno terdiam. Hal ini terjadi memang karena ia yang terlalu memaksa untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya yabg banyak itu. Waktu istirahat Reno pun tidak lebih dari tiga jam sehari, sejak ditinggal asistennya.


Walau semula Alana kesal bercampur sedih saat Reno menyebut nama Dewi ketika mengigau. Namun, ia tetap tidak tega melihat pria itu dalam keadaan lemah. Reno seperti tidak punya tenaga. Ia begitu lesu. Bulatan hitam di bawah matanya pun terlihat jelas.


“Mas banyak minum air putih ya!” Alana kembali menyodorkan air itu lengkap dengan sedotannya.


“Makasih, Sayang,” ucap Reno melihat istrinya yang penuh perhatian mengurusnya saat sakit.


Reno menatap wajah Alana dan tersenyum.


“Kenapa?” tanya Alana.


“Sejak Mas membuka mata tadi, Mas belum melihat kamu senyum.”


“Siapa yang mesum? Mas cuma ingin lihat senyum manis kamu,” goda Reno pada istrinya.


Lalu, Alana pun tersenyum tipis.


“Itu bukan senyum kamu. Senyum kamu ngga gitu,” sahut Reno.


“Memang begini, Mas. Emang gimana?”


Reno menggeleng. “Mas ingin senyum manis kamu yang biasa. Setelah melihat senyum manis kamu pasti Mas sembuh.”


“Uh, gombal.” Alana mencibir.


Entah mengapa rasanya gombalan Reno kali ini hambar. Biasanya jika diperlakukan seperti ini, Alana akan tersipu malu. Tapi sekarang, biasa saja.


Perlahan, Alana kembali mengajak suaminya untuk makan dan Reno pun meminta puding buatan sang istri.


Alana menyuapi Reno. “Mas kangen sama Dewi sampe sakit,” ledek Alana yang entah dimana ia simpan sakit hatinya itu.


“Bukan kangen, Al. Tapi Mas butuh dia buat ngurusin kerjaan. Kamu tahu kan gimana sibuknya Mas pas dia tinggal. Semua pekerjaan berantakan.”


“Oh.” Alana membulatkan bibirnya. “Tapi tadi pagi, Mas ngigau sebut nama Dewi loh.”


“Masa?” tanya reno tak percaya.


Alana hanya mengangguk. “Beneran. Sampe dua kali lagi.”


Reno terdiam mendengar ledekan Alana. Reno tak melihat kecemburuan di sana. Alana mengatakan hal itu dengan senyum.


Ya, Reno memang sakit karena banyaknya pekerjaan yang ia hendle sendiri. Pekerjaan yang deadline dan seharusnya dikerjakan oleh Dewi, kini menjadi pekerjaannya.


****


Sampai pukul delapan malam, kondisi Reno tak berarti. Panas tingginya masih naik turun. Lambungnya pun belum terisi makanan yang benar karena masih selalu dimuntahkan.


“Mas, ke dokter aja ya! Aku ga bisa kalau sampai malam Mas seperti ini,” ucap Alana yang tetap khawatir pada suaminya.


Reno mengangguk. Ia pun semakin tak berdaya. “Iya. Terserah kamu.”


Alana segera menyalakan mobil dan memasukkan semua barang yang diperlukan karena kemungkinan Reno akan bermalam di rumah sakit.


Reno tersenyum melihat istrinya yang dengan sigap wara wiri membawakan barang yang diperlukan. Sungguh, ia beruntung memiliki istri seperti Alana karena bukan hanya parasnya saja yang cantik tapi hatinya pun cantik.


Setelah semua barang yang diperlukan ada di dalam mobil dan memastikan rumah dapat ditinggal dengan aman, Alana langsung memapah suaminya. Ia pun mendudukkan Reno di kursi penumpang depan. Lalu, Alana memutar dan duduk di kursi kemudi. Alana mengemudikan kendaraan itu dengan lihai. Reno terus menatap istrinya. ia tidak menyangka sang istri selihai ini mengemudikan kendaraan roda empat.


Alana yang sedang fokus menyetir dan tak bersuara pun menyadari tatapan suaminya. Lalu, ia menoleh. “Kenapa, Mas?”


Reno masih tersenyum dan menggeleng. “Ngga apa-apa. Kamu cantik. Mas beruntung memilikimu.”


Lagi-lagi, Alana tak tersipu malu. Ia tampak biasa saja, hanya tersenyum tipis.


Kemudian, Reno menggenggam tangan Alana yang berada di atas perseneling. “Maaf.”


Alana kembali menoleh dan tersenyum tipis tanpa menjawab pernyataan itu.