
Tiga hari Reno mendapat perawatan intensif di rumah sakit. Hampir setiap sore, rekan kerjanya datang menengok termasuk Pak Richard.
Dewi juga sudah kembali ke kantor dan kembali menjadi asisten Reno. Surat keputusan pemindahannya pun ditangguhkan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan Reno selama pria itu sakit.
Hari keempat, Reno diperbolehkan pulang. Ia hanya membutuhkan istirahat yang cukup di rumah untuk pemulihan. Hari kepulangan Reno dari rumah sakit, tepat hari ini. Pagi tadi Reno diantar oleh Alana, Asih, dan Aminah. Sedangkan sorenya, Bagas ayah Reno datang langsung ke rumah Reno untuk menjemput istri dan nenek Alana.
Alana menyiapkan pakaian untuk suaminya yang tengah membersihkan diri dengan air hangat setelah orang tua Reno dan nenek Alana pulang.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Alana pun langsung menoleh ke arah suaminya yang baru saja keluar dari ruangan itu.
“Ini, bajunya ya Mas. Aku akan siapkan makanan dulu,” ucap Alana dan hendak meninggalkan Reno menuju dapur.
Hampir satu minggu Alana tidak datang ke kantor. Alex begitu pengertian. Bos Alana itu mengizinkannya untuk bekerja dari rumah. Alana hanya mengirimkan tugas-tugasnya melalui email atau ada kurir yang mengirim berkas ke rumah sakit. Alana sungguh berterima kasih atas pengertian Alex.
Sebelum Alana meninggalkan kamar, Reno menangkap pergelangan tangannya.
“Terima kasih,” kata Reno tersenyum dengan nada lembut.
Alana membalas senyum itu dan mengangguk. “Sama-sama.”
Lalu, Reno melepaskan cekalan tangannya dan membiarkan Alana pergi ke dapur. Di sana, Alana menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.
Kesehatan Reno jauh lebih baik dari sebelumnya. Bahkan kini tenaga Reno sudah sangat kuat. Wajahnya pun tak lagi pucat. Setelah memakai pakaian yang disiapkan Alana, ia pun keluar dari kamar itu dan bergabung dengan sang istri di meja makan.
Reno menarik kursi dan duduk tepat di samping Alana. Ia langsung mengambil piring dan menuangkan nasi serta lauk pauk itu. Lalu, memberikannya pada sang istri.
“Loh, kok kamu malah ambil buat aku?” tanya Alana bingung.
“Dari kemarin, kamu kan selalu melayaniku. Sekarang gantian, Mas yang layani kamu.”
Alana tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Ngga usah, Mas. Aku bisa ambil sendiri kok. Aku ga mau ketergantungan sama kamu.”
Reno melirik ke arah Alana. Ia tidak suka dengan kata-kata itu. “Tapi Mas suka kalau kamu ketergantungan sama Mas.”
Alana diam. Lalu, ia mengalihkan pembicaraan lain. “Oh ya, denger-denger Mbak Dewi udah balik lagi ke kantor?”
Reno mengangguk. “Ya. Selama aku sakit, dia yang mengerjakan pekerjaanku.”
“Oh.” Alana hanya membulatkan bibir. “Berarti Mas udah ngga males lagi ke kantor dong.”
Kata-kata Alana terus bernada sindiran.
“Mas malas ke kantor bukan karena kehadiran Dewi, Al. tapi karena pekerjaan Mas, ga ada yang bantu. Jadi bawaannya udah males aja buat ngerjain sendiri.”
“Oh.” Alana kembali membulatkan bibirnya.
Mungkin itu adalah penjelasan Reno yang sebenarnya, tapi entah mengapa Alana sudah tidak ingin mendengar penjelasan itu lagi.
Mereka melanjutkan makan malam itu dengan khidmat. Reno makan dengan lahap. Nafsu makannya bertambah berkali lipat. Mungkin efek dari obat untuk merecovery tubuh itu.
“Uhuk … Uhuk …” Reno tersedak, karena ia terlalu bersemangat saat makan.
Alana pun langsung menuangkan air minum dan memberikannya pada Reno. “Pelan-pelan dong, Mas.”
Kemudian Reno menelan seluruh makanan yang tersisa di tenggorokan. “Masakanmu semakin lama semakin enak, Al. Mas kangen banget sama masakanmu."
“Udah, jangan nggombal terus. Ayo minum lagi!”
Reno mengikuti perintah istrinya sembari tersenyum.
****
Setelah masa recovery selesai, Reno pun kembali beraktifitas. Ia sudah kembali datang ke kantor. Pagi ini, ia sengaja meminta Alana untuk tidak membawa mobilnya sendiri, karena ia ingin mengantarkan sang istri.
“Mas kalau buru-buru, berangkat duluan aja. Kebetulan hari ini aku ga harus pagi-pagi banget ke kantor,” kata Alana sambil merapikan bekal untuk suaminya.
“Tapi, Mas ingin mengantarmu. Tidak apa. Mas juga sedang tidak harus pagi-pagi ke kantor. Mas sudah minta tolong Dewi untuk menghandle pekerjaan sebelum Mas datang.”
Alana tersenyum menoleh ke wajah suaminya yang kini sedang memeluknya dari belakang. Reno hendak mencium pipi Alana. Namun, Alana langsung meluruskan wajahnya lagi ke depan, seolah ia melengos dan tidak ingin di cium.
Saat, Reno ingin mencium leher Alana, wanita itu pun mengangkat bahunya. “Jangan Mas, nanti Mas pas gigit dan ada tanda merah di sana.”
Alana membalikkan tubuhnya. “Nanti sampai kantor, aku bisa jadi bahan ledekan tau.”
“Biarin. Emang kenapa? Toh memang kamu sudah punya suami.”
Alana melepaskan kedua tangan Reno yang melingakr di perutnya tadi. “Iya, tapi tetap saja malu.”
Reno kembali mendekati istrinya dan memeluk tubuh itu. “Tapi, Mas kangen kamu.”
“Mas,” rengek Alana yang berusaha untuk terlepas dari pelukan itu. “Udah ah. Ayo siap-siap berangkat!”
Reno pun mengalah. Ia merasa ada yang berubah dari sikap sang istri. Ia merasa, Alana lebih dingin. Rasanya susah sekali mencium Alana, karena wanita itu sering menghindar saat Reno ingin melakukannya.
Ketika di dalam mobil, Reno kembali menatap istrinya yang hendak duduk di sampingnya. Mereka baru saja akan berangkat ke kantor bersama. Lalu, Alana merasakan tatapan itu. ia pun melirik ke arah Reno sembari memasangkan sabuk pengaman. Dengan cepat, Reno membantu istrinya memasangkan benda itu.
“Kenapa sih dari tadi Mas liatin aku?” tanya Alana.
Reno tersenyum dan menggeleng. “Tidak apa.” Padahal ia ingin sekali menanyakan tentang perubahan itu.
“Oh iya, Mas. Ini bekal kamu. Aku letakkan di kursi belakang ya,” ucap Alana sebelum Reno menjalankan mobilnya.
Reno melirik dan mengangguk. Ia melihat Alana memegang lebih dari satu bekal makanan.
“Yang itu untuk siapa?” tanya Reno dengan mata yang mengarah pada bekal makanan yang kini sedang berada di pangkuan Alana dan terbungkus oleh plastik transparan.
“Oh, ini untuk Bilqis,” jawab Alana.
“Yang satu lagi?” tanya Reno lagi.
“Untuk Sir Alex. Aku ingin berterima kasih karena saat kamu sakit, aku diperbolehkan bekerja di rumah.”
Reno menganggukkan kepalanya sembari mulai menyalakan mesin mobil itu dan mengendarainya.
Sebenarnya, ia cemburu karena Alana begitu perhatian pada Alex. Namun, ia juga harus berterima kasih pada pria itu karena dengan kebijakan itu, sang istri bisa mengurusnya saat sakit.