
Di Bali, Alana memang tidak lama. Hanya tiga hari empat malam. Namun, menurut Reno, itu sangat lama. Hari pertama sudah Alana lewati dengan seharian menemani sang bos menyelesaikan pekerjaan. Di saat itu, Aurel pun bersama dengan pengasuh.
Aurel yang bawel pun sering menelepon sang ayah dan meminta untuk segera pulang. Namun, tidak bisa karena memang agenda mereka terjadwal seperti ini.
“Sir, ingin beli apa?” tanya Alana pada Alex saat di jalan. Alex tengah berpikir untuk membeli sesuatu pada Aurel yang sedang merajuk.
“Entahlah, menurutmu apa?”
Alana ikut berpikir. Mereka duduk di kursi penumpang belakang dengan sopir yang mengendarai. Selama di Bali, Alex menggunakan jasa itu dari hotel tempatnya mengunap untuk mengantar kesana kemari.
Alana pun bingung, pasalnya Aurel sudah memiliki banyak boneka bagus, mainan pun berbagai jenis dari negara-negara berbeda.
“Kita ampir ke sana saja!” Alana menunjuk toko buku.
Alex mengernyitkan dahi. Aurel baru akan genap berusia lima tahun, besok. Saat pertunjukkan piano sebenarnya ia masih diluar kategori tapi karena kemampuannya memungkinkan akhirnya juri membolehkan.
“Aurel belum lancar membaca,” ucap Alex. “Hmm … tapi bagus sih agar dia terlatih.”
“Saya ingin membelikan buku cerita untuk nanti malam,” sahut Alana.
Mereka pun tiba di depan toko buku. Alana dan Alex keluar dari mobil itu.
“Ya, saya akan bacakan buku cerita itu menjelang tidur,” kata Alana lagi.
“Itu merepotkan, Al. kita lelah seharian berada di luar. Dan nanti malam kamu harus membacakan dongeng untuk Aurel? Tidak usah.”
“Tidak apa, Pak. Saya senang melakukannya. Ayo!” Alana mengajak Alex untuk masuk ke toko buku itu.
Lalu, ia membeli satu bacaan cerita dan sepaket aksesoris untuk menghiasai rambut dan kepala Aurel agar terlihat lebih lucu dan cantik.
Siapa ayah yang tidak meleleh melihat sikap Alana yang begitu baik pada putrinya. Rasa itu pun sedikit demi sedikit muncul. Walau Alex berusaha untuk menekan rasa itu karena Alana masih berstatus istri orang. Alex bukan tipe pria pebinor.
Benar saja, sesampainya di hotel, Alana langsung memberikan hadiah itu pada Aurel. Gadis kecil itu tampak senang. Dia tak lagi merajuk. Benda sederhana yang Alana beli mampu meluluhkan hati putrinya yang menurut Alex cukup keras, karena sang putri dominan mengambil sifat dirinya.
Alex pun tersenyum.
Sejak sampai di Bali, Alana sudah mengaktifkan ponsel utamanya. Di sana banyak pesan dari Reno yang masuk. Pesan yang di awali dengan kata maaf berulang, lalu pertanyaan tentang cincin yang ditinggalkan Alana di laci hingga mempertanyakan keadaan Alana di sana, dan bersama siapa?
Pesan itu hanya ceklis dua. Alana belum ingin membacanya sama sekali. Sayangnya, di sana Reno tidak bisa menemukan lokasi Alana karena Alana menonaktifkan lokasinya.
****
Pagi ini adalah hari kedua Alana berada di Bali. Hari ini adalah hari ulang tahun Aurel. Alex sengaja menyelesaikan semua urusannya kemarin agar hari ini hari untuk putrinya. Dan, keesokan harinya mereka bebas sambil menunggu untuk berangkat pulang.
Aurel tengah bersama pengasuhnya di kamar yang lain. Sementara Alana baru saja selesai membersihkan diri.
Dret … Dret … Dret …
Ponsel Alana berdering di ponsel kedua yang Alex berikan. Alana mengambil ponsel itu dan melihat nama Bilqis di sana.
“Al,” suara Bilqis langsung terdengar setelah Alana mengangkatnya.
“Bilqiiis …” teriak Alana yang rindu dengan sahabatnya itu.
“Hei, gimana kabarnya di sana? Ampe ga telepon-telepon sih,” ucap Bilqis.
“Sorry, Qis. Kemarin acara benar-benar padet. Sampe ga pegang-pegang handphone tau.”
“Al, Mas Reno dua hari lalu ke kantor,” ucap Bilqis lagi, membuat Alana terdiam.
“Terus, kamu jawab apa?”
“Aku bilang kamu ke Bali sama Sir Alex, tapi aku ga sebut dimana dan menginap di hotel apa. Al, aku bener-bener kasihan sama Mas Reno.”
Alana mulai goyah. Seperti itu kah keadaan Mas reno sepeninggalnya? Ia pikir, pria itu dalam keadaan baik-baik saja, karen ia pikir, Reno lebih membutuhkan Dewi dibanding dirinya.
“Al, sepertinya seteah sampai Jakarta, kalian harus bicara. Kalau kamu bisa memaafkan Mas Reno, maafkanlah. Tapi kalau ga bisa, ya terserah.” Bilqis kembali memberi saran.
Alana pun mengangguk. “Terima kasih, Qis. Aku akan memikirkannya.”
”Mimi,” panggil Aurel tiba-tiba.
Untung saja pembicaraan Alana dan Bilqis sudah selesai dan Alana sudah menutup sambungan telepon itu.
“Ayo, Mimi! Kita harus berangkat.”
Ternyata Alex memiliki adik di Bali. Adik Alex seorang perempuan yang menikah dengan warga Bali Asli. Dan ternyata, adik kandung Alex itu seorang dokter. Dia sudah mempersiapkan ulang tahun Aurel di sebuah restoran mewah. Selain adik kandung Alex, di sana juga ada dua orang sepupu Alex yang juga sudah berkeluarga, sehingga acara ini cukup ramai.
Semua keluarga dan kerabat Alex yang datang di acara itu menanyakan Alana. Alex, Alana, dan Aurel tampak serasi. Mereka bagaikan keluarga utuh. Keluarga dan kerabat Alex pun menyukai Alana. Namun, mereka tahu status Alana dari Alex. Andai Alana lajang, mungkin mereka sudah langsung membuat pesta pernikahan untuk kakak tercintanya. Sayangnya, Alana bukan single.
Acara itu pun berlangsung cukup lama. Dari siang hingga menjelang malam. Aurel pun tampak sudah mengantuk dan kelelahan. Alhasil, Aurel dibawa pulang oleh pengasuh dan soprinya, sementara Alana dan Alex ditahan oleh para keluarga dan sahabat yang saling berpasangan itu.
“Kita lanjut ke café xxx, Lex,” ujar sepupu Alex yang bernama Damian.
“Kasihan Alana, Dam. Dia kelelahan dan pasti ingin istirahat.”
“Al, kamu lelah?” tanya Damian pada Alana.
Alana yang tak enak pun hanya menggeleng.
“Tuh Alana tidak apa. Ayo lah, Lex! Kita sudah lama tidak jumpa.”
“Oke.” Alex pun mengiyakan ajakan itu.
Alana hanya mengikuti. Ia tidak enak, tapi sulit untuk menolak. Yang penting bukan ke club malam, Alana setuju.
Alex, pria yang sangat menghargai wanita. ia sama sekali tidak pernah meminta Alana yang aneh-aneh atau menyentuhnya walau dalam keadaan tidak sengaja. Hubungan mereka murni antara bos dan sekretaris. Alana pun bukan wanita yang centil. Dia tetap bisa menjaga sikap, apalagi pada lawan jenis.
Di café, Alana hanya mendengarkan live musik akustik yang dibawakan oleh grup band lawas D’cinamons. Mereka grup yang cukup terkenal dizamannya dan pantas saja café ini terlihat ramai. Grup band akustik itu membawakan lagu hits mereka pada waktu itu yang berjudul selamanya cinta. Lagu yang dirilis ulang dari penyannyi sebelumnya.
Alana bengong. Ia meresapi setiap bait yang ada dalam lagu itu. Lagu yang pernah Reno berikan untuknya saat pria itu memainkan gitar. Kata orang, biasanya orang yang bisa memainkan keyboard pasti bisa memainkan gitar. Dan buktinya adalah Reno. Banyak hal yang Alana sukai dari pria itu.
Arah mata Alana fokus pada penyanyi yang duduk di panggung itu sambil menopang dagu, pikirannya berkelana mengenang masa itu. masa-masa kedekatannya dengan Reno.
“Al,” panggil Alex berkali-kali. Namun, Alana masih melamun hingga akhirnya ia pun tersadar.
“Ah, iya?” Alana menoleh.
“Sepertinya kamu menyukai lagu itu?” tanya adik Alex.
“Ya,” jawab Alana tersenyum.
Mereka pun berbincang sejenak. Dan, sembari mendengarkan obrolan yang terkadang nyambung terkadang tidak, Alana mengaktifkan lokasi di ponsel utamanya.
Entahlah, apa yang Alana harapkan, hanya saja Alana ingin melihat sejauh mana sang suami berjuang untuk mendapatkannya kembali. Akankah Reno langsung menyusulnya ke tempat ini?