Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Mengalah untuk menang



Reno meninggalkan restoran siap saji yang di dalamnya terdapat Alana bersama Alex dan putrinya. Ia melangkahkan kaki cepat menuju kamar mandi mall, dadanya serasa sesak menyaksikan wanita yang sedang ia perjuangkan bersama dengan pria lain.


Reno mengguyur tangannya yang berluur darah akibat duri pada tangkai bunga mawar yang hendak ia berikan untuk Alana. Namun sayang, bunga itu sudah tak terbentuk, sama seperti hatinya yang kni remuk redam.


Reno juga mengguyur wajahnya untuk menenangkan hatinya yang memanas melihat pemandangan itu. lalu, ia juga menghentikan darah yang mengalir di tangannya dengan kain kassa dan obat luka yang ia beli sebelum sampai di kamar mandi mall itu.


Setelah lama di tempat itu, akhirnya Reno keluar dan kembali mencari Alana. Telapak tangannya sudah ia balut rapi menggunakan kassa. Hatinya pun sudah ia netralkan sedemikian rupa, karena keinginannya bertemu dengan Alana dan berbicara padanya lebih besar dari apa yang saat ini ia rasakan.


Reno berjalan menelusuri pusat perbelanjaan itu. ia memasang kedua matanya untuk mencari sosok Alana. Setelah berputar lebih dari lima belas menit, Reno pun menemukan sosok itu. Sosok wanita yang ingin ia peluk sedang memeluk gadis kecil di pangkuannya dan duduk bersama orang-orang yang mengantri di restoran yang menyediakan makanan khas Itali itu untuk dibawa pulang.


Alana memang sedang menunggu Alex yang menanyakan pesanan pizzanya untuk Aurel. Sementara, gadis kecil yang selalu ceria itu sudah tertidur di pangkuan Alana.


Alana memeluk tubuh Aurel dan membiarkan kepala gadis kecil itu bersandar di dadanya. Aurel tampak pulas tidur di pelukan Alana. Dan, Reno melihat kedekatan itu. Sungguh, pria itu menyesal karena telah mengabaikan Alana demi Dewi hingga akhirnya kini sang istri dekat dan nyaman bersama keluarga yang lain.


“Al, kamu kecapean. Biar Aurel sama aku,” ucap Alex yang langsung menghampiri tempat duduk Alana.


Padahal dari kejauhan, Reno pun hendak menghampiri Alana.


“Tidak apa, Sir. Kalau dipindahkan, dia malah nangis.”


“tapi sekaranga Aurel berat, Al.”


Aurel tertawa. “Ya, lumayan berat.”


Lagi-lagi, hati Reno terkoyak melihat Alana tersenyum manis di depan Alex. Namun, ia tetap menghampiri Alana dengan langkah pelan.


"Pizzanya udah jadi?" tanya Alana pada Alex.


"Ya, ini!" Alex menunjuk bungkusan besar yang sudah berada di tangannya.


“Kalau begitu, ayo pulang!”


“Ayo!”


Alana dan Alex berdiri. Alana menggendong Aurel dalam pelukan, sedangkan Alex membawa banyak jinjingan, termasuk pesanana pizza tadi juga belanjaan Alana sebelumnya.


Alex melihat Alana yang kesusahan untuk membawa tasnya. “Sini, biar tasmu aku bawakan.”


Alex sudah mengambi tali tas Alana.


“Jangan, Sir!” Alana menahan tali itu. “Tidak apa, biar saya yang membawanya.”


“Come on, Al. kamu sudah membawa Aurel dan itu cukup berat. Biar tas ini, saya yang bawa.”


Hati Reno benar-benar terkoyak melihat Alana sedekat ini dengan Alex. Semula, ia membolehkan Alana kerja dengan bos yang sudah menikah dan memiliki anak. Tapi nyatanya, pria itu adalah duda yang ditinggal meninggal istrinya tiga tahun lalu.


“Al,” panggil Reno tepat di depan Alana dan Alex yang sedang sibuk berbagi beban saat hendak berjalan menuju keluar pusat perbelanjaan ini.


Alana dan Alex pun langsung menoleh ke sumber suara itu.


“Mas Reno!” Alana terkejut, sedangkan Alex hanya diam.


“Kita harus bicara,” ucap Reno.


Alana menggeleng. “Tidak sekarang, Mas. Besok saja, kita bertemu.”


“Sekarang, Al. Mas ingin masalah kita selesai.”


Reno melihat sebesar apa kepedulian Alana pada gadis kecil yang sekarang tengah tertidur dipelukannya.


“Berikan dia pada Alex. Anak ini putrinya, bukan?”


Alex dan Reno memang seumur. Oleh karena itu, Reno hanya memanggil Alex dengan panggilan nama tanpa embel-embel penghormatan di depannya.


Mata Reno menyilang menatap tajam ke arah Alex.


“Ya, Al. berikan Aurel padaku.” Alex yang mengerti maksud Reno pun segera bertindak.


“TIdak, Sir. Aurel pasti akan nangis jika dipindahkan. Kecuali dia langsung dtidurkan di tempat tidurnya,” sahut Alana yang tetap ingin membawa Aurel sampai di rumah dan menidurkannya sendiri ditempat tidurnya.


“Kemarin pernah seperti ini dan akhirnya Aurel menangis sepanjang malam, bukan?” ucap Alana lagi pada Alex.


“Tapi suamimu mengajakmu pulang,” jawab Alex.


Reno hanya mendengarkan kedua orang itu berargumen layaknya pasangan suami istri yang sedang saling memberi pendapat.


Lalu, arah mata Alana tertuju pada Reno. “Mas, maaf malam ini aku tidak bisa. Aku harus membawa Aurel sampai di rumahnya.”


Reno mengalah, ia tidak memaksa Alana dan membuat wanita itu semakin ilfiil padanya. “Baiklah, aku akan ikut bersama kalian.”


Alex mengernyitkan dahi, begitu pun dengan Alana.


“Ngapain, Mas. Tidak usah. Biasa juga Sir Alex menyuruh supirnya untuk mengantarku pulang kalau ku sedang tidak membawa mobil,” jawab Alana yang kebetulan memang sedang tidak membawa mobil operasional yang Alex berikan padanya.


“Tapi untuk saat ini dan seterusnya, aku akan menjemput dan mengantarmu pulang,” sahut Reno.


Alana menarik nafasnya. “Terserah kamu, Mas.” Lalu, ia mengajak Alex untuk berjalan menuju parkiran khusus dengan tulisan valet.


Reno menepati janjinya. Pria itu benar-benar mengikuti mobil Alex, karena Alana berada di mobil itu bersama Aurel yang masih tetap berada di pangkuannya dalam keadaan tidur.


“Dia pasti tidak akan melepasmu.”


Tiba-tiba Alex mengeluarkan suara di tengah keheningan suasana di dalam mobil itu. Alex dan Alana berkelana dengan pikirannya masing-masing.


Alana terdiam dengan ucapan itu. pandangannya masih lurus ke depan. Sedangkan Alex berulang melihat ke arah spion dalam untuk melihat mobil Reno yang berada tepat dbelakangnya tanpa ada jarak dari mobil yang lain.


“Al, apa kamu benar-benar akan berpisah dengannya?” tanya Alex lagi.


Alana masih diam. Ia memang sudah mendatangi pengacara perceraian untuk mengajukan gugatan cerai. Alana memang lembut dan baik, tapi jika tersakiti rasanya hati itu sulit sekali untuk luluh.


Alana mengangguk.


“Tapi suamimu tidak akan terima itu. Dia sangat mencintaimu,” ucap Alex sembari menoleh ke arah Alana dan ke arah jalan bergantian.


“Dia akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali,” ucap Alex lagi.


Ya, itu memang benar. Saat ini Reno sedang berjuang untuk mendapatkan Alana kembali dan untuk mendapatkan kepercayaan Alana lagi. ia ingin memulai kembali rumah tangganya dari awal, ari saat mereka baru mengucapkan janji suci di depan orang tua dan pemuka agama yang menikahkan mereka.


Alana menoleh ke arah Alex dengan diam. Ia tak mampu menjawab kembali ucapan Alex, karena ia juga tidak mengerti dengan hatinya. Satu sisi kepercayaan untuk Reno sudah hilang, walau rasa masih ada. Namun sisi yang lain, ia berat untuk berpisah dari Aurel, karena jika mereka kembali bersama maka kemungkinan hubungannya dengan Alex dan Aurel tidak lagi sama. Bisa jadi, Reno meminta Alana untuk berhenti kerja.


Di mobil belakang, Reno geram, kesal, mendidih. Namun, ia berusaha tenang, berusaha sabar, berusaha untuk menetralkan gejolak dihatinya. Anggap saja ini seperti pepatah, mengalah untuk menang.