Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Kembali satu ranjang



Reno menyetir mobil sambil mengulum senyum. Perjalanan mereka cukup panjang, karena apartemen yang Reno sewa tadi ada di pinggiran kota yang belum berkembang.


“Kenapa Mas senyum-senyum?” tanya Alana menoleh ke arah suaminya.


“Ngga apa-apa. Mas seneng aja. Akhirnya, kamu mau pulang.”


“Bukan karena Mas, tapi karena Papi dan Mami.”


“Loh kok gitu?” tanya Reno tak terima.


“Ya, karena aku menyayangi mereka.”


“Jadi kamu udah ga sayang sama Mas?” tanya Reno lagi.


Alana mengangkat bahunya. Ia sengaja meledek Reno. “Ngga, tahu. Abis nyebelin.”


Reno langsung menoleh ke arah sang istri. “Jangan gitu, Sayang!”


“Mas, fokus nyetirnya,” kata Alana memperingatkan agar arah mata Reno tetap ke jalan.


“Abis kata-kata kamu bikin Mas patah hati,” sahut Reno. “Mas takut kamubenar-benar kepincut bos kamu itu.”


Alana tertawa. “Memangnya aku bisa semudah itu menyukai orang.”


Reno tersenyum. Ya, Alana memang tidak mudah suka pada lawan jenis, karena saat mereka belum menikah. Ada pria kaya menyukai Alana. Pria itu setipe dengan Alex tapi belum duda. Pria itu mengenal Alana di tempat Alana magang satu bulan. Namun, Alana tetap memilih Reno.


“Berarti nama Mas masih tetap ada di sini kan?” Reno menyentuh dada Alana dengan telunjuknya.


“Ish, jangan modus!”


“Siapa modus?” tanya Reno tersenyum.


“Itu pegang-pegang.”


Reno tertawa dan langsung menekan gas untuk mempercepat laju kendaraannya.


“Mas, jangan ngebut-ngebut!” kata Alana saat mereka sudah berada di dalam jalur bebas hambatan.


“Mas mau cepet-cepet sampe rumah. Mas kangen kamu.”


“Ish, mulai deh. Aku masih marah,” sahut Alana.


“Biarin.”


Alana membulatkan matanya. Sementara Reno tertawa dengan tetap melajukan mobilnya dalam kecepatan yang cukup tinggi karena kebetulan jalanan lebar itu hanya berisi beberapa mobil saja.


****


Masih di area yang tidak jauh dari apartemen yang Reno sewa tadi, Dewi terus berlari. Kini, ia berada di jalanan di tengah malam yang kian sepi. Dewi bingung harus berbuat apa karena ia tidak membawa apa pun. Uang, dompet, ponsel, semua ada di kamar apartemen yang ia tinggalkan saat Reno menyuruhnya pergi. Saat berlari keluar, ia tidak berpikir itu. yang ada di otaknya hanya kabur dari Reno. Kemarahan Reno cukup membuatnya takut.


Dewi berjalan sendirian di tepi jalan.


“Hei,” panggil salah satu orang suruhan Reno yang menyuruh untuk mencari Dewi dan memberikan barang-barangnya.


Dewi menoleh ke sumber suara yang ia kenal itu. ia pun kembali berlari.


“Hei, tunggu. Ini barang-barangmu,” teriak salah satu pria bertubuh besar yang Reno sewa untuk mengintai Dewi sejak kemarin, tapi malam ini tugas kedua orang itu selesai.


Kedua pria itu mengejar Dewi menggunakan mobil.


“Hei, wanita gila. Berhenti!” panggil pria itu, sama seperti panggilan Reno padanya, karena yang mereka dengar seperti itu.


Namun, Dewi tetap berlari. Hingga langkahnya mau tidak mau terhenti karena mobil itu sudah menghadang. Lalu, pria di dalam sana keluar dari mobil.


“Jangan, tolong. Jangan apa-apakan saya!” ujar Dewi.


Kedua pria itu mngernyitkan dahi. Sepertinya wanita ini memang gila. Kemudian, mereka mengeluarkan koper dan tas Dewi dari dalam mobilnya.


“Ini punyamu.” Mereka melempar barang itu dan pergi.


Dewi ditinggalkan sendiri di tempat yang sunyi. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Suasana sunyi tempat ini lebih menakutkan dibanding saat ia merebut rumah tangga orang lain.


“Ah, si*l.”


Dewi frustrasi. Ia terus berjalan. Apartemen yang Reno sewa benar-benar berada di tempat yang jauh dari kota. Bahkan, Dewi tidak tahu di tempat mana ia berada sekarang.


Tempat ini masih seperti desa, tetapi ada apartemen menjulang tinggi di sana. ya, hanya apartemen yang disewa Reno tadi, satu-satu gedung yang tinggi di antara tempat yang lain.


Tiba-tiba lima orang pria berjalan di seberang yang cukup jauh dari Dewi berjalan.


“Ssstt … ada cewek tuh,’ ucap salah satu pria dari kelima pria yang berkumpul di sana.


Dewi tidak menyadari itu, hingga pria-pria itu mendekat.


“Hei, cewek mau kemana?” tanya salah satu pria tadi sambil memegang tangan Dewi.


“Lepas!” Dewi menarik lengnnya dan berlari.


Tetapi pria itu lebih banyak, hingga akhirnya Dewi terkepung di sebuah jalan buntu.


“Kalian mau apa?” tanya Dewi.


“Wah hape-nya bagus.” Salah satu pria itu mengambil paksa ponsel yang sedang Dewi pegang.


“Kalian mau itu. silahkan, tapi biarkan saya pergi,” ucap Dewi.


“Punya apa lagi lu.” Salah satu pria yang lain mengambil paksa tas Dewi dan mengambil dompetnya, lalu membuka isinya. “Wah duitnya banyak. Nih cewek pasti orang kaya.”


Keempat temannya pun berkerumun untuk melihat isi dompet Dewi.


“Bodinya juga bagus, Bos,” kata salah satu pria itu lagi.


Kelimanya ikut andil bicara.


“Sikat, Bos.”


“Sikat.”


Mereka mendekati Dewi yang sudah menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak. Jangan! Kalian boleh ambil apa pun milik saya, tas, uang, ponsel, koper, terserah. Asal kalian jangan macam-macam.”


Kelima pria dengan berbeda usia itu, menghiraukan perkataan Dewi. Otak mereka sudah dipenuhi oleh hal-hal yang kotor, karena sebelum Dewi melintas, mereka memang sedang asyik menonton film p*rn* dengan ditemani minuman keras.


“Tolong! Tolong!” Dewi terus berteriak. Tapi keadaan di sana tampak sepi dan mereka langsung membawa Dewi ke tempat yang lebih sepi.


“Lepas! Tolong!” Dewi terisak.


Kini tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya.


“Siap-siap, cantik! Kami akan memberikan sesuatu yang tidak terlupakan.”


“Tidak … tidak. Jangan mendekat! Jangan!” sebisa mungkin, Dewi memberontak dan berusaha kabur. Tapi tidak berhasil, hingga akhirnya malam naas itu terjadi.


Semesta mengaminkan perkataannya yang lebih memilih melayani lima orang preman dari pada melihat Alana dan Reno bahagia. Ia memang belum sempat melihat Alana dan Reno bahagia. Dewi meninggalkan Alana dan Reno saat mereka masih dalam keadaan bertengkar. Dan, kini ia pun harus melayani kebengisan lima orang preman itu.


Setelah puas digunakan, kelima orang preman itu meninggalkan Dewi dalam keadaan menyedihkan. Mereka juga membawa ponsel, isi dompat Dewi termasuk ATM dan kartu kredit, hingga Akhirnya Dewi tak sadarkan diri.


****


Di tempat berbeda, Reno dan Alana tidur dalam satu ranjang. Setelah sekian lama terpisah, akhirnya mereka kembali tidur bersama. Catat, hanya tidur bersama. Reno yang sangat menginginkan sang istri hanya bisa memendam hasratnya. Ia tak ingin langsung menerkam Alana dan membuat wanita itu kembali ilfiil. Reno mencintai Alana bukan hanya karena parasnya yang cantik dan raganya yang mempesona banyak pria. Ia juga memperistri Alana bukan untuk pemuas n*fs* saja, tapi memang karena ia mencintai wanita itu dan ingin selalu bersama.


Reno memeluk Alana dari belakang. Nafas Reno terdengar memburu. Alana tahu apa yang sedang ditahan oleh suaminya.


Kemudian, Alana pun membalikkan tubuhnya. “Mas menginginkanku?”


Reno hanya menjawab dengan senyum. “Tidurlah! Kamu capek.”


“Beneran, Mas?”


Reno mengangguk. “Benar, Sayang.” Reno mengusap lembut rambut Alana. “Tidurlah! Mas akan memelukmu.”


Reno memeluk erat tubuh Alana dari belakang, seperti malam-malam sebelumnya saat prahara itu datang. Kini, ia dapat bernafas lega dan merasakan kembali kehangatan tubuh itu.