Empty Love Syndrome

Empty Love Syndrome
Bertemu empat mata



"Sayang, pulang kerja Mas jemput ya?” tanya Reno melalui telepon pada istrinya.


“Ngga usah Mas. Kebetulan pulang kerja, Bilqis minta temenin beli baju buat presentasi besok. Katanya baju kerjanya itu-itu aja.”


“Oh, gitu. Ya udah kalau begitu. Mas mampir ke rumah Mami aja ya.”


Alana mengangguk. “Iya, Mas. Nanti aku juga pulangnya ke sana.”


“Oke.”


“Dah, Mas. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Sambungan telepon itu pun terputus. Malam nanti, Alana bukan ingin menemani Bilqis melainkan bertemu empat mata dengan Dewi. Tanggal dan tempat sudah mereka tentukan. Alana juga sudah menyiapkan banyak kata saat bertemu dengan wanita perusak suasana itu.


Sore pun tiba. Ia hendak bersiap untuk ke tempat pertemuannya dengan Dewi. Namun, baru saja Alana merapikan meja kerjanya, tiba-tiba terdengar pesan masuk.


Tring.


“Al, maaf ya aku telat. Mungkin aku akan tiba sehabis maghrib.”


Alana membaca pesan yang dikirimkan oleh Dewi. Entah mengapa pikirannya kembali negatif. Ia berpikir keterlambatan ini karena Dewi masih bersama dengan suaminya.


Lalu, Alana memberi pesan pada Reno.


“Mas lembur?”


Tring


Tak lama kemudian, Reno membalas pesan Alana.


“Ngga. Ini Mas udah mau pulang lagi di parkiran.”


Alana membaca pesan balasan itu sembari menarik nafasnya kasar. Terkadang ia lelah menjadi seperti ini. Namun ia juga tidak bisa cuek dan membiarkan hal ini terjadi. Sebelum nasi menjadi bubur, ia akan berusaha untuk tetap menjadi nasi. Kecuali jika Reno terang-terangan menyukai Dewi, maka ia pun akan mundur. Ia tidak suka berbagi, apalagi berbagi cinta.


Langit sudah berubah warna. Kini, matahari tak lagi tampak. Awan pun berubah menjadi gelap. Alana masih berada di kantor. Sedangkan karyawan yang lain sudah pulang sejak pukul lima sore, termasuk Bilqis.


Sebelum pulang, Bilqis menawarkan diri untuk menemani Alana, tapi Alana tidak bersedia karena ia yakin bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.


“Hei, Al. kamu belum pulang?” tanya Alex saat berpapasan dengan Alana di lorong.


“Ini saya baru mau pulang. Saya kira Bapak juga sudah pulang.”


Alex menggeleng. “Pantas saya belum melihatmu pamit dari tadi, ternyata kamu masih di sini. Menunggu jemputan?”


Alana menggeleng. “Tidak, Sir. Saya janjian sama teman di café dekat sini.”


“Oh.” Alex membulatkan bibirnya.


Lalu, Alex menaiki lift saat pintu lift itu terbuka. Kemudian, ia tetap menekan tombol agar pintu lift itu tetap terbuka dan membiarkan Alana ikut masuk. Namun, Alana masih mematung. Ia merasa tidak berhak menaiki lift yang tertulis khusus CEO.


“Ayo masuk, Al!” Alex menatap ke arah Alana.


Alana tersenyum dan menggeleng. “TIdak, Sir. Terima kasih. Itu lift khusus bapak. Saya menunggu yang ini saja.” Alana menunjuk pada lift khusus karyawan yang ada di seberang lift Alex yang terbuka.


“Sekarang sudah sepi, Al. kamu akan berdiri sendirian di sana. Mau? tempat ini berpenghui loh. Kadang pengharum ruangan yang ada di atas itu sering jatuh sendiri.”


Dengan cepat Alana masuk ke dalam lift yang terbuka itu dan Alex pun tersenyum. Kemudian ia menekan tombol tutup.


Alex dan Alana pulang dengan kendaraan masing-masing. Alana sangat menghormati Alex, karena pria itu memang pantas untuk dihormati. Kebijaksanaan dan kewibawaannya membuat seluruh karyawan enggan padanya.


Setengah jam kemudian, Alana sampai d café. Ia melihat Dewi yang sudah duduk di sana. Ia sengaja datang terlambat agar Dewi yang lebih dulu menunggu.


“Hai, Mbak. Maaf saya terlambat, pekerjaan lagi banyak banget,” ucap Alana bohong ketika menghampiri Dewi dan duduk di depannya.


Padahal sejak sore tadi, pekerjaannya telah selesai. Justru ia hanya menghabiskan waktu dengan bermain internet saja di sana dan melihat-lihat apa saja yang Dewi posting di sosial medianya.


“It’s oke. Ngga apa-apa kok. Aku juga baru sampe,” jawab Dewi tersenyum. “By the way, ada apa ya kita ketemu? Kok tumben banget.”


Sebelum menjawab pertanyaan Dewi, Alana memanggil pelayan dan memesan minuman terlebih dahulu.


“Mbak udah pesan minum?” tanyanya pada Dewi.


Dewi mengangguk. “Udah.”


Alana ikut mengangguk dan memesan minuman itu pada pelayan. Lalu, Alana menegakkan bahunya sembari menempelkan kedua tangannya pada meja.


“Begini mbak. Kita sama-sama wanita. Entah mengapa kedekatan mbak Dewi sama Mas Reno itu tidak biasa. Walau Mas Reno selalu bilang tidak ada apa-apa di antara kalian dan hubungan kalian hanya sebatas rekan kerja, tapi rasanya aku belum puas dengan jawaban itu.”


Dewi menatap Alana serius. “Kamu mau tahu ada hubungan apa antara aku dan Reno?”


Alana mengangguk. “Aku siap mendengarnya.”


Kemudian, Dewi menceritakan kedekatannya dengan Reno pada masa SMA dulu. Ia juga menceritakan bagaimana Reno terpuruk saat Alana menolak cintanya. Ia juga bercerita bagaimana Reno bisa kembali tertawa bersamanya dan move on dari Alana.


“Tapi sayangnya, setelah kami merasakan rasa itu, kamu datang lagi. Dan, Reno ninggalin aku,” ujar Dewi sinis.


“Jadi, sekarang Mbak mau membalas itu? Mbak ingin mengambil Mas Reno dari aku?”


“Kenapa tidak? Aku yakin Reno juga cinta sama aku. Sebenarnya sejak SMA, dia ingin mengatakan itu, tapi kamu keburu datang.”


Alana tertawa. “Kalau Mas Reno memang mencintaimu, dia tidak akan kembali padaku kalau pun aku kembali. Tapi Mas Reno tetap memilihku karena memang aku adalah cintanya.”


“Sombong,” sahut Dewi.


Di mata Dewi, Alana memang terkesan sombong dan angkuh. Mungkin ia merasa secara paras, kecantikan Alana jauh diatasnya.


Alana kembali tertawa. “Biar bagaimana pun aku lebih unggul darimu, Mbak. Aku cantik, pintar dan punya daya tarik. Mas Reno tahu kemana dia pulang. Dia akan tetap memilihku. Dan, mulai sekarang Mbak jangan mimpi bisa mengambil Mas Reno. Jauhi dia! Atau aku akan menyebarkan foto mbak dengan caption pe … la …kor.”


Dewi geram. Ia tidak bisa berkutik saat Alana menyodorkan foto-foto dirinya bersama Reno di jewelery Singapore.


“Mbak tau bagaimana pembully-an masyarakat jika sudah menyangkut pelakor? Sadis!”


“Kamu …” kata-kata Dewi tertahan. Ia kesal, sangat kesal.


Lalu, Dewi bangkit. Ia berusaha meninggalkan tempat ini dengan terus menatap Alana sinis. “Lihat saja, Reno akan kembali padaku dengan kemauannya sendiri. Dia akan kehilanganku jika aku pergi.”


Alana tertawa. “Jangan mimpi ketinggian! Nanti kalau jatuh, sakit.”


Dewi pergi dengan kemarahannya. Ia langsung mengambil tas dan berlalu dari hadapan Alana sambil menghentakkan kedua kakinya.


Alana dapat melihat amarah di wajah itu. Namun, setidaknya ia lega. Ia tak harus hidup dengan rasa was-was lagi.


Alana menarik nafasnya kasar sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Lalu, ia meminum minuman yang baru saja diberikan pelayan. Entahlah, yang ia lakukan benar atau salah, tapi paling tidak ia sudah berusaha untuk mempertahankan miliknya.